Pameran Batik
METAMORFOSA
Akulturasi Batik Peranakan (Jakarta, Lasem, Cirebon, Pekalongan)
Kurator: Efix Mulyadi & Frans Sartono
Penulis: Sri Rejeki
Seniman Batik: Dave Tjoa, Dr. Sulistyono, M.Sc (Batik Nyah Kiok), Giok/Indrawati (Batik Kanoman), Lim Po Hien (Batik Lim Ping Wie), Purwati Katrin (Batik Katrin Bee), Renny Ong (Batik Maranatha), Valentina Ekawati Ningsih (Batik Lumintu), Widianti Widjaja (Batik Oey Soe Tjoen).
Peresmian pameran: 9 April 2026 pukul 16.00 WIB oleh Ibu Ni Luh Enik Ermawati (Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia)
Pameran berlangsung: 10 April-5 Mei 2026 pukul 10.00-17.00 WIB
Tempat: Bentara Budaya Art Gallery, Menara Kompas Lt.8, Jl. Palmerah Selatan No. 21, Jakarta
Rangkaian acara:
Bazaar Batik
9-11 April 2026
Talkshow “Merayakan Batik Peranakan di Indonesia”
Sabtu, 11 April 2026 pukul 15.30-17.00 WIB
Narasumber: Dave Tjoa (Seniman Batik Jakarta), Sulistyono (Pembatik Lasem), Giok (Pembatik Cirebon)
Moderator: Sri Rejeki
Talkshow & Trunk Show Bersama Maya Ratih
Selasa, 22 April 2026 pukul 15.00-17.00 WIB
Bazaar Kartini
22-24 April 2026
Tempat: Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmeran Selatan No. 17, Jakarta
-------
Batik Peranakan, Merawat Kekuatan dalam Keragaman
Jejak batik telah terekam sejak berabad-abad lalu. Temuan arca di Candi Ngrimbi dekat Jombang, Jawa Timur, menggambarkan sosok pria mengenakan kain berhias motif kawung yang diperkirakan adalah Raden Wijaya (1293-1309), raja pertama Majapahit (Kompas.id, 2/10/2019).
Penjelajah Portugis, Tome Pires, juga mencatat jejak “kain jawa” yang diduga adalah batik. Dalam Suma Oriental, laporan perjalanannya dari Laut Merah ke Jepang (1512-1515), Pires menyebutkan, kain-kain produksi dari wilayah Jawa Tengah, Timur, dan wilayah Sunda, menjadi salah satu komoditas penting yang diperdagangkan ke Malaka. Di tanah Jawa sendiri, kain-kain ini menjadi simbol status, terutama di kalangan perempuan dan bangsawan.
Memasuki masa kolonial, batik tetap ada bersama perubahan zaman. Dalam perjalanannya, batik mulai menyerap pengaruh dari budaya lain yang semakin memperkaya ragam motif dan maknanya, termasuk budaya yang dibawa pendatang dari China.
Peristiwa Geger Pacinan (1740) yang memicu pembatasan pergerakan masyarakat Tionghoa oleh pemerintah kolonial Belanda melalui passen stelsel (surat jalan) dan wijken stelsel (sistem kampung), tak mampu menghalangi dua budaya saling berinteraksi. Terjadilah percampuran budaya, dan batik menjadi salah satu medium yang merekam percampuran itu.
Selembar kain batik menjadi bukti kedua pihak saling menerima dan memengaruhi. Burung phoenix yang dalam mitologi China melambangkan keabadian dan keharmonisan, berdampingan dengan motif pesisir Jawa dalam warna-warna yang cerah dan kontras.
Pembatik seperti Oey Soe Tjoen, Lim Ping Wie, Ong Yok Thay, dan lainnya, bukan sekadar perajin melainkan penoreh sejarah. Mereka menjadikan kain batik sebagai pertemuan dua dunia. Burung hong (phoenix) dan qilin pun menemukan ‘rumah baru’-nya di kain batik jawa bersama motif-motif seperti kawung dan ukel.
Pameran Batik “Metamorfosa,” Merayakan Akulturasi Batik Peranakan Jakarta, Lasem, Cirebon, Pekalongan" pada 9 April-5 Mei 2026 di Bentara Budaya Jakarta, menjadi semacam benang yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.
Keturunan pembatik peranakan yang sekarang sudah masuk generasi kedua hingga keenam ini bukan sekadar meneruskan tradisi tetapi juga mengembangkannya. Mereka mereinterpretasi batik dan menjadikannya medium beraktualisasi dan berkisah. Meskipun sebagian berangkat dari keterpaksaan harus meneruskan usaha keluarga, mereka tetap bertahan di “jalan batik”. Meski tidak mulus, ketekunan dan kegigihan telah membawa batik peranakan melewati dua abad lorong waktu hingga akhirnya menapaki era modern.
Pameran ini bukan sekadar nostalgia melainkan pengingat bahwa kita sudah biasa mengalami percampuran budaya yang melampaui sekat sosial dan politik. Pada akhirnya, keragaman seperti dalam batik peranakan, bukan memisahkan melainkan untuk saling menguatkan.
Sri Rejeki
(Salah satu koordinator Ekspedisi Selisik Batik)
Baca juga: Persaudaraan dalam Selembar Batik
Baca juga: Akulturasi Indonesia dalam Batik Peranakan