Persaudaraan dalam Selembar Batik
Bentara Budaya beberapa kali menggelar pameran tentang budaya peranakan, termasuk Batik Peranakan. Dan kali ini digelar pameran Metamorfosa: Merayakan akulturasi Batik Peranakan Jakarta, Lasem, Cirebon, Pekalongan. Seperti halnya pameran budaya Peranakan sebelumnya, semangat pameran Metamorfosa tetap sama yaitu merayakan dan mensyukuri keragaman budaya di Indonesia, dalam hal ini batik.
Bentara Budaya sebagai penyampai visi budaya Kompas Gramedia memang tak henti menyuarakan tentang keragaman budaya, kebhinekaan, termasuk keragaman batik, yang salah satunya adalah Batik Peranakan. Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama (1931-2020) pada pembukaan pameran tentang budaya Peranakan di Bentara Budaya Jakarta tahun 2009 mengatakan bahwa benda yang dipamerkan dalam pameran tersebut merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Dikatakan beliau, kekayaan budaya yang beragam itu sekaligus menegaskan bahwa Bhinneka Tunggal Ika tetap aktual dalam perubahan zaman. Ditegaskan, Indonesia akan tetap Bhinneka Tunggal Ika. Pameran Metamorfosa ini sekaligus menjadi penegasan kembali semangat tersebut.
Budaya Peranakan
Sebutan Peranakan Tionghoa, dan budaya Peranakan, kadang masih mengundang tanda tanya. Sejarawan Ong Hok Ham dalam Anti Cina, Kapitalisme Cina, dan Gerakan Cina, menuliskan istilah "peranakan" pada masa kolonial diartikan Belanda sebagai Tionghoa Muslim atau orang Tionghoa yang sudah mencukur kuncir (tauchang). Pada abad ke-18, simbol utama orang Tionghoa ialah tauchang, sehingga Belanda mengharuskan orang Tionghoa yang memeluk agama Islam memotong kuncir.
Istilah peranakan kemudian berkembang. Peranakan merujuk pada orang Tionghoa kelahiran setempat. Istilah peranakan ini digunakan untuk membedakan mereka yang lahir setempat dengan totok atau singkeh (di berbagai daerah dilafalkan sebagai singkek atau pendatang baru). Sebutan peranakan juga termasuk anak hasil pernikahan lelaki Tionghoa totok dengan perempuan Tionghoa kelahiran setempat. Bung Karno menyebut Tionghoa Peranakan sebagai salah satu suku di Indonesia.
Tionghoa Peranakan berada di berbagai daerah di Nusantara. Kemudian mereka mempertemukan kebudayaan yang mereka bawa dengan kebudayaan di tempat mereka berada. Maka lahirlah berbagai jenis kultur “baru” dari kuliner, musik, sastra, seni pertunjukan, dan juga budaya wastra.
Budaya masyarakat Tionghoa Peranakan bisa dikatakan sebagai hibrida dari budaya China yang dibawa orang-orang Tionghoa yang datang ke Indonesia dan budaya lokal dimana orang-orang China tersebut menetap. Di masyarakat penutur bahasa Jawa, misalnya, lakon Sie Djin Koei populer sebagai cerita ketoprak. Tokoh sentral Sie Djien Koei menjelma sebagai tokoh Joko Sudiro.
Begitu pula kisah Sampek Engtay begitu merakyat sebagai cerita dalam seri ketoprak di Jawa. Bahkan pelawak Basiyo pun menjadikan Sampek Engtay sebagai dagelan yang banyak digemari. Kisah cinta Sampek dan Engtay tersebut bahkan hidup di tengah masyarakat modern perkotaan lewat pentas Teater Koma.
Batik Peranakan, dengan demikian, sebenarnya hanya merupakan salah satu aspek kehidupan, di mana pengaruh Tionghoa diterima secara terbuka dan membuahkan jenis batik baru. Batik Peranakan merupakan perpaduan antara berbagai elemen budaya tempat di mana batik tersebut tumbuh seperti di Lasem, Cirebon, Pekalongan dan tempat lainnya.
Yang menarik dari pertemuan budaya yang kemudian disebut budaya peranakan adalah kompleksitas keragaman yang membentuknya. Masyarakat Tionghoa yang datang ke Indonesia sejak berabad-abad silam berasal dari suku, bahasa, dan budaya yang beragam. Mereka datang ke wilayah Nusantara yang juga amat sangat beragam. Pergaulan bertambah luas karena ada persinggungan dengan budaya Barat dan Budaya Timur lain seperti Arab dan India. Sikap terbuka, dan kelenturan budayalah yang memungkinkan kompleksitas tersebut luluh menjadi budaya ke tiga, budaya baru.
Persaudaraan Budaya
Pertemuan dan pergaulan budaya memang suatu keniscayaan. Seperti digambarkan Denys Lombart dalam buku "Nusa Jawa: Silang Budaya". Dia memperlihatkan bagaimana persinggungan berbagai budaya dari Barat dan Timur dengan masyarakat asli selama berabad-abad membentuk Jawa. Proses saling mempengaruhi itu tentu bukan hanya di Jawa, tetapi juga pulau¬pulau lain di Nusantara dari Sabang hingga Merauke. Pergaulan budaya kemudian membentuk persaudaraan budaya yang menghasilkan produk budaya yang digunakan oleh semua, termasuk dalam hal ini Batik Peranakan.
Dalam pameran Metamorfosa ini, pertemuan dan pergaulan serta persaudaraan budaya terentang dalam selembar kain batik. Di selembar kain, dari sisi desain tampak budaya peranakan bergaul dan berpadu dengan beragam budaya lain yang ada di sekitarnya termasuk budaya Jawa, Arab, India. Desain itu berupa campuran dengan tanaman lokal, pola-pola dan warna. Motif Naga, burung Hong, Kilin atau Singa, dan lainnya. Motif tersebut dikombinasikan dengan motif pada batik Jawa pedalaman, seperti motif Parang, Kawung, dan Ceplok.
Elemen-elemen lokal turut mempengaruhi lahirnya motif-motif baru. Para pembatik Lasem misalnya membuat motif yang terinspirasi dari ayam jago. Mengapa ayam jago? Buku Motif Baru: Batik Tulis Lasem karya Vera Jenny Basiroen menulis, para perajin yang tinggal di Lasem sudah lazim memelihara ayam, termasuk ayam Jantan. Hewan kesayangan tersebut kemudian menjadi sumber inspirasi motif baru pada batik Lasem.
Di sisi lain, pada masyarakat China kuno ada kepercayaan, suara kokok ayam Jantan merupakan penanda akan terbitnya Matahari, pengganti suasana gelap menuju terang. Orang China kuno percaya bahwa ayam Jantan memiliki kekuatan spiritual yang akan melindungi manusia dari kejahatan. Ayam Jantan juga menjadi lambang kerajinan dalam mencari penghidupan.
Bukan hanya ayam jago, satwa yang hidup di berbagai wilayah di Indonesia juga dikembangkan sebagai motif dalam batik Lasem, misalnya burung Cendrawasih dari Papua. Begitu padatnya pesan dan harapan yang terkandung dalam setiap motif batik. Semua luruh berpadu dalam keindahan batik, dan ia menjadi bagian dari wajah Indonesia.
Waktu berlalu dan zaman berubah, tetapi warisan itu telah dan akan ikut membentuk wajah Indonesia. Batik Peranakan telah menjadi bagian dari jenis batik. Sejak dilahirkan sebagai anak kandung budaya Indonesia, Batik Peranakan terus tumbuh, berproses menyambut waktu yang berjalan dan membentuk zaman. Batik peranakan tidak hanya meneruskan pakem lama, akan tetapi berdialog dengan zaman. Dalam pameran Metamorfosa ini kita akan menikmati karya pembatik dari berbagai daerah seperti Dave Tjoa dari Jakarta, Lim Po Hien (Batik Lim Ping Wie), dan Widianti Widjaja (batik Oey Soe Tjoen) dari Pekalongan; Giok/Indrawati (Batik Kanoman) dari Cirebon; Renny Ong (Batik Maranatha), Valentina Ekawatiningsih (Batik Lumintu), Dr. Sulistyono, M.Sc (Batik Nyah Kiok), Purwati Katrin (Batik Katrin Bee) dari Lasem.
Frans Sartono
Efix Mulyadi
Kurator Bentara Budaya