Akulturasi Indonesia dalam Batik Peranakan
Akulturasi merupakan karakter penting kebudayaan Indonesia. Terdiri dari banyak suku, budaya, ras, dan golongan. Bangsa ini sejak semula sudah berdenyut dengan semangat perbauran budaya. Satu-dua budaya berbeda dengan mudah bertemu, bersentuhan, lantas berpadu sehingga menghasilkan bentuk budaya baru yang unik.
Semangat akulturasi terlihat nyata dalam hampir semua aspek kebudayaan di Indonesia. Mulai dari arsitektur, kuliner, bahasa, seni pertunjukan, musik, hingga busana sehari-hari masyarakat, semua menunjukkan proses akulturasi itu berjalan secara alamiah sehingga membentuk ramuan yang menarik. Jejak beberapa budaya lama masih terasa, sekaligus muncul nuansa baru yang khas.
Salah satu bentuk akulturasi itu berupa Batik Peranakan, yang merupakan perkembangan lanjut dari Batik di Indonesia. Kita tahu, batik sudah lama hidup dalam sejarah di Nusantara. Merujuk catatan Kementerian Kebudayaan RI, batik berasal dari bahasa Jawa, yaitu "amba" (lebar) dan "titik" (membuat titik). Tradisi ini berupa menggambar pola dari stilasi gambar flora fauna di atas kain. Tekniknya mengandalkan lilin melalui proses pencelupan warna secara manual (dengan tangan).
Sejarah batik terlacak sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Satu versi menyebut, beberapa motif batik sudah populer pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-13 hingga 16 Masehi). Tradisi ini kian berkembang pada Kerajaan Mataram Islam (berdiri pada abad ke-16 M), yang kemudian terpecah pada menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan bertahan sampai sekarang.
Mulanya batik cenderung dikenakan para bangsawan di Istana Kerajaan. Ada motif-motif tertentu yang hanya dikenakan oleh kalangan priyayi di Istana, seperti motif Parang, Semen, Rujak Senthe, Kawung, dan Huk. Seiring perubahan zaman, muncul banyak motif batik yang leluasa dikenakan masyarakat umum, terutama untuk anjangsana, pernikahan, pertemuan formal, atau upacara adat. Motifnya terus tumbuh. Persentuhan dengan budaya berbeda memperkaya ekspresi Batik.
Salah satu corak batik hasil akulturasi itu adalah Batik Peranakan. Batik ini merupakan perpaduan antara tradisi batik Jawa yang bersentuhan dengan budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Geger Pecinan atau “Chinezenmoord” di Batavia pada 1740 mendorong sebagian keturunan Tionghoa di kota itu hijrah ke pesisir utara di Jawa, seperti di Cirebon, Pekalongan, dan Lasem. Seiring adaptasi dalam kehidupan baru, para pelarian itu juga menyerap tradisi membatik.
Warga keturunan Tionghoa itu menekuni teknik membatik tradisional, mulai dari menyiapkan kain, membuat pola, melekatkan lilin malam dengan canting, mewarnai, melepaskan malam, sampai menjadi batik dengan motif yang indah. Lebih dari itu, mereka juga memasukkan unsur-unsur budaya leluhurnya dalam motif dan pewarnaan batik. Mitologi China, seperti kilin, naga, burung phoenix (hong), serta dewa-dewa atau tanaman khas negeri Tirai Bambu seperti bunga Teratai atau bunga Peony, diolah dan dimasukkan dalam motif batik. Pewarnaan yang lebih cerah, seperti merah, biru, hijau, dan emas juga disisipkan dalam warna Batik yang cenderung monokrom dan berat.
Melalui proses panjang, akhirnya Batik Peranakan tampil sebagai perwujudan proses akulturasi yang memesona. Menerapkan seluruh teknik tradisional batik Jawa, dan secara bersamaan mengadaptasi motif serta pewarnaan ala China yang lebih "ngejreng". Tradisi Jawa berpadu secara asyik dengan nuansa China. Semangat akulturasi mencerminkan "local wisdom", semangat untuk saling menghargai.
Hingga kini, masih ada sejumlah pembatik keturunan Tionghoa di pesisir Jawa, seperti di Lasem, Cirebon, Pekalongan, dan Jakarta yang masih aktif memproduksi batik yang khas. Setelah para pembatik senior tiada, tradisi ini dilanjutkan para pembatik junior. Budaya ini hidup secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tak hanya meneruskan pakem lama, sebagian pembatik juga menggamit pendekatan baru yang bersemangat kekinian.
Ide motif batik bisa berangkat kehidupan sehari-hari, katakanlah semisal perayaan Imlek, Cap Gomeh, atau Ceng Beng. Eksekusinya pun lebih luwes dengan pola gambar yang cair, termasuk memasukkan gaya hidup urban zaman sekarang. Pewarnaan juga bisa lebih segar. Pengayaan pola, warna, dan teknik batik ini terus berjalan hingga sekarang.
Dari sisi fungsi, batik Peranakan beredar luas ke berbagai kalangan. Tak hanya untuk busana sehari-hari atau saat bekerja, produk ini juga dikenakan untuk acara-acara khusus, terutama saat perkawinan atau acara formal lain. Lebih dari itu, batik jenis ini juga naik panggung sebagai "fashion design" yang diperagakan para model di atas "catwalk".
Semua itu menunjukkan metamorfose batik Peranakan sebagai perwujudan akulturasi (perbauran budaya) di Indonesia. Melampaui berbagai tantangan dari zaman ke zaman, batik Peranakan terbukti punya daya tahan kuat. Bermula dari abad ke-18, batik ini masih lestari hingga abad ke-21 atau melintasi empat abad. Batik Peranakan masih relevan hingga sekarang.
Batik Peranakan menjadi bagian dari Batik Indonesia yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober tahun 2009. Pemerintah Indonesia lantas menjadikan momen itu, 2 Oktober, sebagai hari Batik Nasional dan selalu diperingati bersama masyarakat.
Dalam konteks ini, Bentara Budaya menggelar Pameran "Metamorfosa: Akulturasi Batik Peranakan Jakarta, Cirebon, Pekalongan, Lasem" di Bentara Budaya Art Gallery di Menara Kompas, Jakarta, pada 9 April - 5 Mei 2026. Pameran menampilkan puluhan kain Batik Peranakan karya delapan seniman batik keturunan Tionghoa dari beberapa sentra batik di Indonesia.
Dari Jakarta, ada Dave Tjoa. Dari Cirebon, Jawa Barat, hadir Giok/Indrawati (Batik Kanoman). Pekalongan, Jawa Tengah, diwakili Lim Po Hien (Batik Lim Ping Wie) dan Widianti Widjaja (Batik Oey Soe Tjoen). Dari Lasem, Jawa Tengah, ada Sulistyono (Batik Nyah Kiok), Purwanti Katrin (Batik Katrin Bee), Valentina Ekawatiningsih (Batik Lumintu), dan Renny Ong (Batik Maranata Ong's Art).
Tiap seniman mengembangkan "brand" batik dengan teknik andalan, pola atau motif, serta gaya pewarnaan yang khas. Semua itu tumbuh dalam "ground" masing-masing. Dalam keberagaman itu, karya mereka sama-sama mencerminkan gairah untuk mengekspresikan kreativitas dan imajinasi dalam ruang budaya majemuk yang saling menghargai. Dari karya-karya Batik Peranakan, kita menemukan spirit keindonesiaan.
Melengkapi pameran, digelar juga Bazaar di Bentara Budaya Jakarta yang melibatkan puluhan Usaha Kecil Menengah (UMKM) dari berbagai kota di Indonesia. Kebetulan, Sebagian besar pembatiknya adalah perempuan. Tak hanya berupa lembaran kain, bazaar juga menampilkan bermacam produk turunan batik, seperti pakaian jadi, kipas, ikat kepala, selendang, jarit, dan syal. Dengan harga bervariasi, produk ini lebih terjangkau berbagai kalangan.
Selamat untuk para seniman Batik Peranakan dari Jakarta, Lasem, Pekalongan, dan Cirebon yang menyajikan karya-karya menarik kepada publik di Jakarta. Terima kasih untuk Frans Sartono dan Efix Mulyadi (kurator Bentara Budaya) dan Sri Rejeki (salah satu Koordinator Ekspedisi Selisik Batik Kompas) yang menuliskan pengantar pameran. Salut buat seluruh peserta Bazaar serta Maya Ratih yang menyiapkan “trunk show” dan “fashion show”. Penghargaan untuk Tim Bentara Budaya dan Corporate Communication Kompas Gramedia yang menyiapkan pergelaran ini, dan secara khusus atas support Corporate Communication Director Glory Oyong.
Rangkaian pameran, bazaar, trunk show, serta talkshow terkait Batik Peranakan di Bentara Budaya diharapkan semakin memperkuat penghargaan kita pada wastra Nusantara yang kental dengan spirit akulturasi. Semangat keindonesiaan bukan lagi wacana, melainkan telah berdenyut hidup dalam kreativitas seniman batik. Dengan memanggungkan karya mereka, kita turut serta menjaga identitas budaya Indonesia.
Palmerah, 4 April 2026
Ilham Khoiri
General Manager Bentara Budaya & Communication Management,
Corporate Communication Kompas Gramedia