Pameran Seni Rupa
“Ruang Tafakur”
Merayakan Spirtulitas Islam dalam Seni Rupa
Pembukaan pameran
Jumat, 27 Februari 2026 pukul 16.00 WIB oleh Dr. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si. (Gubernur Lemhanas RI)
Talkshow “Mencari Seni Rupa Islam”
Sabtu, 7 Maret 2026 pukul 16.00 WIB
Pembicara: Didin Sirojuddin, Ilham Khoiri, Merwan Yusuf
Modereator: Hilmi Faiq
Pameran berlangsung
27 Februari – 13 Maret 2026 pukul 10.00-18.00 WIB
Tempat: Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Sealtan No. 17 Jakarta Pusat
Ruang Tafakur
Ramadhan datang sebagai cahaya yang merambat perlahan, menghadirkan hening fajar dan senja. Lapar dan dahaga adalah jalan untuk mengenali diri sebagai peziarah waktu yang rapuh sekaligus mulia. Dalam suasana inilah pameran Ruang Tafakur: Merayakan Spiritualitas Islam dalam Seni Rupa tumbuh. Ia menghadirkan spiritualitas Islam melalui bahasa rupa yang lembut dan reflektif. Pameran ini menjadi ruang tafakur yang mengajak setiap orang menepi sejenak dari riuh keseharian.
Seperti kita pahami, tradisi pesantren menanamkan kepekaan terhadap huruf, bunyi, dan makna. Ayat-ayat kitab suci dilantunkan dengan penuh penghayatan dan kesadaran. Ayat-ayat atau sekumpulan kata-kata itu kemudian menjadi pemahaman yang melekat di dalam tubuh dan ingatan. Dalam diri seniman, proses tersebut melahirkan bahasa batin yang kemudian hari mewujud dalam warna, garis, dan ruang. Setiap karya menjadi pintu tafakur, membuka jalan menuju kesadaran yang lebih jernih.
Pameran ini menampilkan beragam wajah. Mulai dari lukisan dan kaligrafi, hingga instalasi, karya video, dan komposisi suara yang imersif. Setiap bentuk karya menghadirkan pengalaman visual dan audial yang memperluas ruang tafakur melalui eksplorasi teks, warna, tubuh, bunyi, dan ruang.
Ramadhan mengajarkan bahwa perjalanan batin selalu berlapis. Ada permukaan terlihat serta kedalaman tersembunyi. Seni rupa memiliki kemampuan untuk menjelajahi lapisan-lapisan itu. Ia menyentuh wilayah rasa dan makna. Dalam pameran ini, setiap karya menghadirkan lapisan tersebut sebagai pengalaman yang dapat dirasakan, diendapkan, dan dibawa pulang sebagai benih perenungan.
Identitas santri dalam konteks ini hadir sebagai mata air yang terus mengalir. Ia tidak terikat pada satu bentuk, ia tidak dibatasi oleh satu gaya. Ia hidup dalam keberagaman tafsir dan pendekatan. Dari mata air itu mengalir kesadaran bahwa tradisi adalah sumber energi kreatif yang selalu relevan. Tradisi memberi akar yang kokoh, sementara zaman menghadirkan ruang untuk tumbuh dan menjelajah. Perpaduan keduanya melahirkan karya-karya yang memancarkan cahaya refleksi di tengah dunia yang bergerak cepat.
Jakarta, 20 Februari 2026
Hilmi Faiq (Kurator Bentara Budaya)