Ruang Tafakur
Setiap Ramadan datang seperti cahaya yang merambat perlahan. Ia tidak tergesa, ia tidak gaduh. Ia menyentuh tubuh melalui lapar dan dahaga, menyapa batin melalui keheningan yang memanjang dari fajar hingga senja.
Dalam momen yang penuh pengendapan ini, manusia belajar kembali mengenali dirinya sebagai makhluk yang rapuh sekaligus mulia, sebagai peziarah waktu yang meniti hari-hari dengan harap dan doa. Di ruang inilah pameran “Ruang Tafakur: Merayakan Spiritualitas Islam dalam Seni Rupa” tumbuh sebagai wadah untuk menghadirkan spiritualitas Islam dalam bahasa rupa yang lembut, reflektif, dan mengundang kedekatan.
Kita tahu, tradisi santri mewariskan kepekaan semacam itu. Di ruang-ruang yang dipenuhi lantunan ayat, di sela- sela kitab yang dibaca dengan sabar, di lingkaran-lingkaran kecil musyawarah yang hangat, terbentuk cara memandang dunia yang sarat makna. Huruf-huruf dibunyikan dan dihayati. Kata-kata menjelma pemahaman.
Dalam pengalaman panjang tersebut, spiritualitas meresap ke dalam tubuh dan ingatan, membentuk bahasa batin yang kelak menemukan ekspresinya dalam warna, garis, bunyi, dan ruang.
Pameran ini mengajak kita memasuki bahasa batin tersebut. Setiap karya menjadi pintu yang terbuka pelan, memberi kesempatan bagi siapa saja untuk melangkah masuk dengan tenang. Di dalamnya, cahaya dan bayang- bayang berdialog, tekstur dan kekosongan saling menguatkan, suara dan sunyi berkelindan membentuk lanskap rasa. Semua elemen tersebut seolah menyimak detak waktu Ramadan yang mengalir perlahan, membawa kita pada kesadaran yang lebih jernih.
Karya-karya yang ditampilkan bergerak dari kaligrafi, lukisan, instalasi, hingga karya video.
Jumaldi Alfi memamerkan “Digital Spiritualism Series - Slavery of Spiritual #01”. Dalam konteks “Ruang Tafakur”, karya ini hadir sebagai medan kontemplasi tentang manusia kontemporer yang hidup di antara kepadatan teks dan kefanaan tubuh. Latar kanvas yang dipenuhi lapisan aksara membentuk lanskap visual yang riuh, menyerupai arus data dan banjir makna di era digital.
Di atasnya, kerangka seekor kambing berdiri sunyi. Ini sebuah citra yang mengingatkan pada kefanaan, pada tubuh yang memiliki batas, sekaligus pada simbol pengorbanan dalam tradisi spiritual Islam. Dalam suasana Ramadan, visual ini beresonansi dengan pengalaman puasa sebagai latihan melepaskan keterikatan, menjernihkan niat, dan mengendapkan ego hingga tersisa inti kesadaran yang lebih hening.
Frasa “Slavery of Spiritual” membuka refleksi tentang posisi spiritualitas di tengah sistem representasi modern, ketika simbol dan ekspresi keagamaan beredar luas dalam ruang digital. Skala karya yang besar (150 cm x 200 cm) menciptakan pengalaman immersive, seolah kita memasuki hamparan teks yang terus bergerak. Lalu, berhadapan dengan tubuh yang telah menjadi jejak. Kontras antara latar yang padat dan figur yang sunyi menjadi ajakan
untuk menciptakan jeda, untuk menimbang kembali tentang yang esensial di tengah kelimpahan tanda. Karya ini menghidupkan spiritualitas sebagai proses yang dinamis, yakni perjalanan batin yang terus mencari kejernihan di antara lapisan-lapisan zaman.
Itu juga terasa dalam lukisan kaligrafi karya Ujang Badrussalam. Ayat-ayat Al-Quran hadir dalam komposisi warna hijau, biru, dan kecokelatan yang bertekstur seperti bongkahan karang. Ayat QS. Fushshilat 53 dan QS. Ali Imran 103 diolah dalam huruf maghribi yang dimodifikasi, menghadirkan kesan tenang sekaligus kokoh. Tekstur kasar pada bidang kanvas berpadu dengan cahaya keemasan yang menyiratkan kedalaman makna. Kaligrafi di sini menjadi ruang tafakur visual ketika ayat dibaca dan dirasakan melalui lapisan warna dan materialitasnya.
Dalam karya “Doa Selamat” yang merujuk QS. Al-Baqarah 201, nuansa biru toska menghadirkan atmosfer damai dan optimis. Komposisi vertikal dengan garis emas di sisi kanvas menghadirkan kesan perjalanan spiritual yang terus bergerak. Doa tentang kebaikan dunia dan akhirat diterjemahkan sebagai permohonan yang intim dan personal, sekaligus sebagai harapan kolektif. Warna, tekstur, dan huruf membentuk ruang hening yang menyapa batin penonton, mengajak untuk mengendapkan makna dalam suasana Ramadan yang penuh refleksi.
Ada pula energi yang menyala, seperti bara kecil yang terus dijaga agar tetap hangat. Arahmaiani menghadirkan instalasi dengan dominasi warna kuning, merah, dan hijau yang kuat dan ekspresif. Warna-warna tersebut membangun energi ruang yang dinamis, menyiratkan semangat, keberanian, dan kesuburan.
Dalam karya yang menampilkan huruf Arab Pegon bertuliskan “Kasih” ini, spiritualitas diterjemahkan sebagai cinta yang membumi dalam tradisi lokal. Pegon sebagai warisan literasi pesantren menjadi penanda bahwa Islam Indonesia tumbuh melalui dialog dengan budaya setempat. Karya itu mengingatkan bahwa spiritualitas adalah daya hidup yang aktif. Ia mendorong manusia untuk terus menumbuhkan kebaikan dalam tindakan sehari-hari, untuk menghadirkan rahmat dalam relasi sosial, untuk merawat bumi sebagai amanah.
Ramadan mengajarkan bahwa perjalanan batin selalu berlapis. Ada permukaan terlihat serta kedalaman tersembunyi. Seni rupa memiliki kemampuan untuk menjelajahi lapisan-lapisan itu. Ia menyentuh wilayah rasa dan makna. Dalam pameran ini, setiap karya menghadirkan lapisan tersebut sebagai pengalaman yang dapat dirasakan, diendapkan, dan dibawa pulang sebagai benih perenungan.
Identitas santri dalam konteks ini hadir sebagai mata air yang terus mengalir. Ia tidak terikat pada satu bentuk, ia tidak dibatasi oleh satu gaya. Ia hidup dalam keberagaman tafsir dan pendekatan. Dari mata air itu mengalir kesadaran bahwa tradisi adalah sumber energi kreatif yang selalu relevan. Tradisi memberi akar yang kokoh, sementara zaman menghadirkan ruang untuk tumbuh dan menjelajah. Perpaduan keduanya melahirkan karya- karya yang memancarkan cahaya refleksi di tengah dunia yang bergerak cepat.
Di ruang Bentara Budaya Jakarta selama Ramadan, 27 Februari-13 Maret, pameran yang diikuti 20 seniman ini menjadi semacam jeda. Mereka adalah Acep Zamzam Noor, Agus Baqul, Anis Affandi, Arahmaiani, Didin Sirojuddin, Fadriah Syuaib, Faisal Kamandobat, Fatwa Amalia, Hanafi, Ilham Khoiri, Jumaldi Alfi, Muna Diannur, Nasirun, Qonita Farah Dian, Robert Nasrullah, Said Akram, Syaiful Adnan, Tamar Saraseh, Ujang Badrussalam, dan Umar Farq.
Para seniman itu menawarkan kesempatan untuk memperlambat langkah, untuk menyimak kembali suara hati yang sering tertutup riuhnya rutinitas. Ia mengajak kita menatap warna dengan lebih seksama, mendengarkan bunyi dengan lebih penuh perhatian, merasakan ruang dengan kesadaran utuh. Dalam pengalaman tersebut, seni dan puasa bertemu sebagai dua jalan yang saling menguatkan, menuntun pada kejernihan, dan menumbuhkan kepekaan.
Jakarta, 21-23 Februari 2026
Hilmi Faiq
Kurator Bentara Budaya