Memanggungkan Dimensi Estetik Islam dalam Seni Rupa
Indonesia masih tercatat sebagai negara dengan populasi penduduk Muslim terbesar di dunia. Namun, wacana seni Islam terutama seni rupa masih tenggelam oleh dominasi wacana politik (siyasah), hukum (fiqh), dan ritual (ibadah). Padahal, dimensi estetik (seni) memiliki sisi keindahan dan keramahan Islam yang lebih mudah menyentuh khalayak luas.
Total populasi penduduk Indonesia tahun 2025 mencapai 281.279.031 jiwa. Mengacu data Global Muslim Population dari timesprayer.com tahun 2025, dari total populasi itu, sebanyak 244.712.757 orang (87%) adalah umat Muslim. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, disusul Pakistan (239.671.886 jiwa), India (223.353.809 jiwa), Bangladesh (159.675.563 jiwa), dan Nigeria (118.937.264 jiwa).
Populasi itu berakar dari sejarah syiar Islam yang panjang di Nusantara. Banyak literatur menyebutkan, dakwah Islam masuk bersamaan dengan kedatangan pedagang dari Arab, Persia, dan India sejak abad ke-7 Masehi.
Buya Hamka dalam buku “Sejarah Umat Islam” (1997), menyitir satu naskah klasik yang menerangkan adanya pemukiman Arab di Pantai Barat Sumatera pada 625 Masehi. Asumsi itu diperkuat catatan perjalanan Dinasti Tang China yang pernah mengungkap eksistensi komunitas Muslim di Barus di pantai barat Sumatera sekitar tahun 674 Masehi. Makam Syekh Rukunuddin di Barus bertuliskan tahun wafat 672 Masehi.
Kemunculan Islam di Nusantara tampak lebih jelas dari lahirnya sejumlah kerajaan Islam sejak abad ke-13 Masehi. Mulanya adalah Kerajaan Samudra Pasai (1267-1521) di pesisir utara Aceh dan Kesultanan Aceh Darussalam (1514- 1941). Di Jawa, muncul Kesultanan Demak (1478-1554), Pajang (1568-1586), dan Mataram Islam (berdiri tahun 1586) yang kemudian sejak perjanjian Giyanti 1755 terpecah menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta Kesultanan Ngayogyakarta (sampai sekarang). Tercatat juga sejumlah kerajaan Islam lain, seperti Kerajaan Ternate (1257 dan menjadi Kesultanan pada 1486-2015), Tidore (1495-sekarang), Buton (1332 dan menjadi Kesultanan sejak 1541- 1960), Kesultanan Makassar/Gowa-Tallo (1565-1957), Banjar (1522-1905), Cirebon (1522-sekarang), Banten (1552-1809), Tanjungpura (1665-1786), dan Palembang Darussalam (1659-1823).
Pada masa kolonialisme, kerajaan-kerajaan Islam itu menjadi bagian penting dari pergerakan menentang penjajahan Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris, dan Jepang. Dua pemberontakan besar di Nusantara, yaitu Perang Diponegoro (1825-1830) di Jawa dan Perang Padri di Sumatera Barat (1803-1838), merujuk spirit keislaman sebagai ideologi yang mengobarkan semangat perlawanan. Dalam pergerakan jelang Proklamasi Kemerdekaan 1945, Islam juga menjadi spirit perjuangan.
Hari Santri Nasional yang diperingati tiap 22 Oktober sejak tahun 2015 juga mengacu pada komitmen para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Pada 22 Oktober 1945, pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari, mengeluarkan fatwa resolusi jihad yang menyerukan umat Islam di Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dari serangan pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. Resolusi itu turut memberi semangat para pemuda Surabaya untuk memerangi Sekutu, terutama Inggris, pada pertempuran 10 November 1945. Hari itu kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan Nasional.
Sebagian kerajaan Islam di Nusantara itu masih eksis hingga sekarang. Saat Proklamasi Kemerdekaan 1945, banyak kerajaan Islam yang menyatakan bergabung dan mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beberapa kerajaan yang masih eksis hingga kini lebih fokus sebagai sumber rujukan budaya ketimbang kekuatan politik. Satu catatan khusus, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat diakui kekuasaan politiknya dalam Undang- undang Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan Sultan ditetapkan menjadi Gubernur yang memimpin Provinsi DIY, tanpa proses pemilihan kepala daerah.
Berakar pada sejarah panjang itu, wajar jika Islam kemudian menjadi bagian penting dalam peradaban Indonesia. Dalam bidang politik, pengaruh Islam terlihat dari munculnya sejumlah kerajaan Islam di berbagai daerah di Nusantara serta dorongan kemerdekaan Indonesia. Dalam bidang kebudayaan, Islam juga menjadi napas keseharian sebagian besar masyarakat. Penampakannya terasa dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari arsitektur (masjid dan pesantren), pakaian (busana Muslim), bahasa (penyerapan bahasa Arab), kuliner (makanan tradisional terkait ibadah), undang-undang (perkawinan dan waris), birokrasi (Kementerian Agama, Kementerian Haji, dan Badan Amil Zakat), hingga pendidikan (pesantren).
Dalam seni rupa, sebenarnya pengaruh Islam juga terlihat dari akulturasi spirit keislaman dalam bentuk ornamentasi wastra, ukiran, desain interior, dan seni kaligrafi Arab, termasuk kaligrafi Jawi/Melayu Pegon. Namun, tradisi itu kurang teradopsi dalam ekspresi seni rupa modern. Para seniman visual berlatar belakang santri kurang getol mengungkapkan spirit keislaman secara terang-terangan dalam karya rupa modern. Mereka lebih banyak menggumuli tema-tema atau pendekatan visual yang lebih sekuler.
Pengaruh Islam dalam kebudayaan Nusantara pernah dipanggungkan dalam bentuk Festival Istiqlal 1 (1991) dan 2 (1995). Khusus terkait seni rupa, festival ini menampilkannya dalam bentuk pameran di Masjid Istiqlal dan Galeri Nasional. Meski merangkum tema yang luas, banyak pelukis yang menampilkan karya yang terkait dengan ekspresi keislaman, khususnya kaligrafi.
Bisa dibilang, Festival Istiqlal menjadi pentas seni bernapaskan Islam paling sukses di Indonesia. Festival I ditonton enam juta pengunjung, sementara Festival II dengan sebelas juta pengunjung. Pencapaian itu tak terlepas dari dukungan Presiden Soeharto yang saat itu berusaha merangkul kekuatan politik Islam sebagai penyokong kelanggengan posisi politiknya. Pemimpin Orde Baru itu menulis kalimat “basmalah” untuk menandai peresmian festival.
Hingga kini, belum terselenggara festival besar semacam itu. Ekspresi keislaman dalam seni rupa hanya diwakili sejumlah pameran dengan jangkauan terbatas dan bersifat sporadis, terutama digelar saat Ramadan. Itu pun umumnya perwujudan seni rupa Islami masih didominasi oleh lukisan kaligrafi Arab.
Pada mulanya, lukisan kaligrafi Arab sebagai ekspresi seni rupa modern menguat sejak tahun 1970-an. Ahmad Sadali dan AD Pirous (dua seniman sekaligus dosen pengajar Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung), memasukkan teks aksara Arab dalam lukisannya. Di antara banyak lukisan abstrak bertekstur, Sadali kadang menorehkan catatan ayat Alquran atau hadis Nabi Muhammad SAW. Pirous lebih frontal dengan menempatkan kaligrafi sebagai tema sentral lukisannya.
Semangat serupa tumbuh Yogyakarta melalui Amri Yahya, pelukis dan dosen pengajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), yang memadukan kaligrafi Arab dan batik yang ekspresif. Di Surabaya, Amang Rahman menyajikan lukisan surealis yang menggamit renungan sufistik dan kaligrafi Arab bergaya timbul-tenggelam. Seorang pelukis muda dari Yogyakarta, Syaiful Adnan, memilih mengembangkan gaya kaligrafi khas “Syaifulliy” dalam lukisannya yang rancak.
Gelombang lukisan kaligrafi kian menguat seiring sukses Festival Istiqlal I dan II. Beberapa seniman berbasis kaligrafi Arab, semisal Didin Sirojuddin AR dari Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, juga menjajal lukisan kaligrafi. Begitu pula sejumlah kaligrafer dari komunitas Musabaqah Khattil Quran (MKQ) juga masuk meramaikan seni lukis kaligrafi, seperti Ujang Badrussalam, Robert Nasrullah, dan Muna Diannur. Muncul pula pengajar Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta Anis Affandi dengan utak-atik aksara Arab dalam lukisannya. Dari lulusan Institut Seni Indonesia (ISI), muncul nama-nama seperti Agus Baqul dan Umar Farq.
Hanya saja, selepas Festival Istiqlal, ekspresi seni bernafaskan Islam kurang mendapatkan panggung. Akibatnya, dimensi estetik Islam pun tenggelam di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Kenyataan itu berbanding terbalik dengan dimensi keislaman lain yang sangat kuat, katakanlah seperti politik (siyasah), hukum (fiqh, seperti halal-haram), teologi (keimanan), dan ibadah (puasa, salat, zakat, atau haji).
Dalam kondisi ini, patut dihargai semua upaya untuk kembali memanggungkan ekspresi estetik keislaman dalam ruang seni rupa. Penting mendorong kembali tampilnya dimensi seni Islam yang indah, ramah, dan lebih mudah menyentuh khalayak luas. Dalam olah seni visual, seniman mudah menerima pengaruh kebudayaan lain dan mengolahnya menjadi adonan baru yang segar. Akulturasi terjadi dengan semangat saling menghargai berbagai anasir kebudayaan global.
Dalam konteks ini, Bentara Budaya Jakarta menggelar pameran bersama “Ruang Tafakur: Merayakan Spiritualitas Islam dalam Seni Rupa” pada 27 Februari-13 Maret 2026. Ada 20 seniman yang berpartisipasi, yaitu Acep Zamzam Noor, Agus Baqul, Anis Affandi, Arahmaiani, Didin Sirojuddin, Fadriah Syuaib, Faisal Kamandobat, Fatwa Amalia, Hanafi, Ilham Khoiri, Jumaldi Alfi, Muna Diannur, Nasirun, Qonita Farah Dian, Robert Nasrullah, Said Akram, Syaiful Adnan, Tamar Saraseh, Ujang Badrussalam, dan Umar Farq. Kurasi ditangani Hilmi Faiq.
Karya-karya dalam pameran ini beragam. Kaligrafi Arab masih menjadi primadona bagi sejumlah seniman, tetapi digarap dengan pendekatan yang bervariasi. Ada khat Arab dengan kaidah klasik, dekoratif, aksara Arab yang lebih luwes, kaligrafi pegon, kaligrafi hasil adaptasi digital, serta kaligrafi dengan pendekatan kontemporer yang lebih bebas. Sebagian karya mengulik “human interest” sebagai perwujudan nilai kemanusiaan dalam agama. Abstrak masih memikat beberapa seniman. Ada juga karya berbasis video.
Keberagaman itu mencerminkan latar belakang seniman dalam pameran ini yang memang bermacam-macam. Beberapa seniman merupakan lulusan sekolah seni, seperti ISI Yogyakarta, FSRD ITB, dan IKJ. Sebagian seniman berasal dari perguruan tinggi Islam, seperti Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta atau UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beberapa seniman tumbuh dalam lingkungan pesantren. Sebagian lain dari latar belakang yang berbeda.
Hasil karya mereka menunjukkan luasnya spektrum ekspresi spiritualitas Islam dalam seni rupa. Terbaca hasrat para seniman untuk menjelajahi berbagai kemungkinan dalam mengeksplorasi semangat keagamaan, kemudian diungkapkan dalam wujud karya seni. Ketika semangat keagamaan yang mendalam bertemu dengan imajinasi seni yang terbuka, ada potensi muncul eksperimentasi yang tak terbatas.
Pameran ini diharapkan dapat menampilkan wajah Islam di Indonesia yang lebih indah, ramah, dan dapat menyentuh hati dan pikiran publik luas. Ini selaras dengan hadits yang terkenal, “Innaallah jamilun yuhibbu al- jamal” (Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan). Estetika bisa menjadi celah yang asyik untuk memupuk semangat toleransi, akulturasi, dan saling menghormati dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.
Melihat karya-karya yang dipamerkan, kita bakal menemukan sisi lembut keislaman yang selama ini agak tenggelam di tengah sebagian ekspresi keagamaan yang lebih ingar-bingar, keras, serba hitam-putih, dan merasa benar sendiri seraya menegasikan kelompok berbeda. Kebetulan, pameran ini digelar saat Ramadan 1447 Hijriah. Momen ketika umat Muslim melaksanakan ibadah puasa yang identik dengan upaya menahan diri (imsak) demi menyucikan diri dari berbagai hawa nafsu yang negatif dan destruktif.
Selamat kepada semua seniman yang ambil bagian dalam pameran ini. Terima kasih untuk Hilmi Faiq sebagai kurator dan Merwan Yusuf sebagai salah satu narasumber diskusi. Penghargaan untuk pimpinan Kompas Gramedia, khususnya Corporate Communication Director Glory Oyong, yang senantiasa memberi support program Bentara Budaya. Apresiasi untuk seluruh tim Bentara Budaya serta semua pihak yang menyokong pameran ini.
Palmerah, 24 Februari 2026
Ilham Khoiri
General Manager Bentara Budaya & Communication Management, Corporate Communication Kompas Gramedia