STILL: Silent/World
I. Prolog Sunyi
Dalam kehidupan seorang perupa, rasanya ada momen saat karya bukan sekadar benda visual. Ini seperti cerminan jiwa. Sebuah lelaku ziarah yang perlahan memasuki gerbang sarat pertanyaan terdalam tentang makna seni, kehidupan dan keberadaan itu sendiri.
Bagi saya, perjalanan itu tak hanya berlangsung panjang, tetapi juga berliku, dan sarat persimpangan. Salah satu tapak awalnya hadir melalui Wayang Monyong—figur satir yang lahir pada 2002 dan “bernafas” hingga 2006. Ia memuat kritik sosial sekaligus kejenakaan dunia seni rupa.

AC Andre Tanama, Untitled (2002), color woodcut print on paper, 40 x 30 cm. Karakter Wayang Monyong pertama kali muncul di karya Untitled ini. Mendapatkan Penghargaan Karya Seni Grafis Terbaik Dies Natalies ISI Yogyakarta tahun 2002. AC Andre Tanama, Monyong Muni Aduh (2007), woodcut print on canvas. Karakter Wayang Monyong terakhir dimunculkan di karya ini. Karya dipamerkan dalam Pameran Young Arrows di Jogja Gallery (2 Desember 2006 - 5 Januari 2007).

AC Andre Tanama, Monyong Muni Aduh (2007), woodcut print on canvas. Karakter Wayang Monyong terakhir dimunculkan di karya ini. Karya dipamerkan dalam Pameran Young Arrows di Jogja Gallery (2 Desember 2006 - 5 Januari 2007).
Figur Wayang Monyong saya sepi-kan sejak Monyong Muni Aduh (2006). Lalu ia bangkit kembali pada 31 Desember 2012, di Miracle Corner, sebuah kafe kecil yang menyatu dengan Heru Tattoo Studio di Jalan Tirtodipuran 56, Jogja. Pameran tunggal itu, bertajuk Wayang Monyong. Berlangsung di malam pergantian tahun menuju 2013. Hampir tak terdengar publik luas. Saya ingat, memang itu yang saya pilih secara sadar. Kesunyian pun bisa menjadi panggung.

Poster Pameran Tunggal AC Andre Tanama bertajuk Wayang Monyong
Poster berukuran A4 dicetak fotocopy
Pameran berlangsung 31 Desember 2012 – 15 Januari 2013
Namun sebelum itu, sekitar delapan bulan sebelumnya, pada 5 April 2012, saya menapaki tonggak penting melalui pameran tunggal Agathos di Langgeng Gallery, Magelang. Kali pertama digarap pada 2010, Agathos—figur anak laki-laki bermata lebar, tanpa mulut, bertelinga panjang, dengan naga yang mengalir di tubuhnya—menandai momen Gwen Silent, figur yang lahir pada 2007, sejenak tersimpan. Agathos bukan sekadar karakter baru setelah Gwen; simbol peralihan, bukti bahwa seni bagi saya tak pernah berhenti pada satu bentuk, melainkan selalu bermetamorfosis.

Karya pertama saya yang memunculkan karakter bernama Agathos (2010)

Salah satu sketsa pensil pada kertas yang menggambarkan figur Agathos (2011)
Di antara dua titik itu—Wayang Monyong dan Agathos—terbentang pertanyaan yang terus menggugat: apakah seni masih penting? Haruskah ia dicari? Atau justru dibiarkan hadir sebagai sesuatu yang tak terdefinisi? Alih-alih berhenti pada kepuasan, lonjakan itu justru membuka pintu bagi pertanyaan batin yang lebih dalam terhadap seni. Pun menantang hubungan saya dengan seni.
II. Jejak yang Menyepi
Selepas 2012–2013, secara sadar saya memilih jalan berbeda dari hiruk-pikuk seni rupa mainstream. Dunia seni rupa mainstream seolah melihat saya “hilang”, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah sebuah laku penyepian. Saya tetap berkarya, tetap berpameran, bahkan dalam konteks prestisius—tetapi di luar radar pasar dan sorotan galeri arus utama.
Masa 2013–2023 sering dianggap sebagai hiatus, padahal justru di situlah berlangsung ziarah panjang. Saya masuk kembali ke dunia buku, dunia masa kecil saya. Dimulai dari membeli ulang komik-komik yang dulu pernah saya miliki, merambah ke buku sastra, hingga menulis dan menerbitkan buku. Saya membuat cerpen, mendesain sampul buku, menggambar ilustrasi buku, meluncurkan penerbitan mandiri (Penerbit SAE), membuat kegiatan perpustakaan keliling non profit (bernama Helo Book) bagi anak-anak usia SD. Saya berinteraksi dengan penulis, pemulung kertas, pedagang buku bekas, hingga para pembaca baru. Saat itu saya suka menggambar wajah-wajah pedagang buku dan memberikannya secara cuma-cuma—sebuah laku kecil yang menghadirkan kebahagiaan.
Itu semua adalah seni, meski pasar tak menyebutnya demikian. Lelaku itu adalah karya, meski galeri tak menafsirkannya sebagai karya. Dunia melihat saya vacuum ketika saya justru menyelam dalam, menimbang ulang hakikat berkesenian.
Di titik ini, lahirlah sebuah kesadaran baru—sebagai perupa sekaligus dosen seni—bahwa berkarya adalah melayani, bukan memerintah. Sejak April 2006 saya menjadi dosen tetap yang mengajar di ISI Yogyakarta, dan pada 2016—satu dekade setelahnya—pertanyaan menggugat itu kembali menyeruak: sudahkah saya memberi sesuatu pada mahasiswa? Sudahkah kontribusi nyata diberikan kepada institusi? Dari perenungan itu, saya semakin mantap: seorang dosen adalah pelayan, bukan bos apalagi big boss.
Pada saat yang sama, hidup pun menuntut keseimbangan. Menjadi tukang pijat panggilan (pada saat liburan tahun ajaran baru di tahun 2016), menjadi bapak rumah tangga penuh ketika istri menjalani studi S-2 di Jepang—semua pengalaman “sepele” itu, bagi saya, adalah laku spiritual yang memperkaya makna kesenian.
III. Figur-figur yang Mengunjungi
Di sepanjang perjalanan itu, figur-figur visual tetap hadir sebagai penanda. Wayang Monyong yang sempat disepikan, Agathos yang membawa peralihan, hingga sosok kelinci pendoa dalam karya berjudul After Beuys (kali pertama dibuat dalam karya gambar tahun 2012, pada tahun selanjutnya dibuat versi patung besar). Kelinci dengan tudung kepala berhiaskan cranium, gaun sederhana, mata terpejam, tanpa mulut, dan tangan terkatup dalam doa, seakan menjadi mediator yang mempertemukan semua figur ciptaannya.
Di balik kelinci itu tersimpan harapan: suatu saat Wayang Monyong, Gwen Silent, dan Agathos akan hadir dalam satu kanvas, satu dunia, satu lelaku. Hingga kini pertemuan itu belum terjadi sepenuhnya. Ada impian dalam diri saya untuk menyatukan fragmen-fragmen diri dalam satu kesatuan yang utuh.
Bahkan eksperimen Gwen bermata terbuka—pertama kali saya garap dalam karya patung tahun 2011 (dipamerkan di Galeri Semarang), dan sekali lagi pada karya drawing berukuran kecil (pameran di Mo Sapce, Filipina tahun 2014, dikuratori oleh Tony Godfrey)—menjadi tanda bahwa Gwen tidak pernah betul-betul berhenti. Ia hanya tidur sejenak, menunggu momen reborn.
IV. Gwen Silent Reborn: Dunia Sunyi yang Hidup
Awal 2024 menjadi titik balik Gwen Silent—figur gadis mungil tanpa mulut, bermata besar, yang pertama muncul pada 2007—kembali. Namun, ia bukan lagi Gwen yang dulu. Ia lahir kembali, reborn, dengan kedalaman batin baru.

Kini, Gwen Silent membawa dunia: Silent/World. Bisa saja hadir di dirinya berbagai elemen: api, air, matahari, bulan, tanah, hewan, tumbuhan, dan sebagainya. Setiap elemen bukan sekadar simbol, melainkan kosmos sunyi. Cermin keterhubungan manusia, alam, dan spiritualitas. Gwen menjadi altar kecil tempat syukur dipanjatkan, kasih dirasakan, dan perenungan berlangsung.
Reborn ini bukan nostalgia. Saya tak mengulang Gwen masa lalu, melainkan membuka lembar baru: Gwen sebagai figur kontemplatif yang mengajarkan diri untuk berhenti sejenak, diam, lalu mendengar bisikan yang lebih dalam.
V. Sunyi sebagai Bahasa
Maurice Merleau-Ponty pernah menulis, “Bahasa diam adalah bahasa paling kuat, karena ia menyingkap apa yang tak bisa diucapkan.” Diam Gwen Silent adalah bahasa itu. Gugatan lembut terhadap dunia seni yang hiruk-pikuk. Ia adalah kesaksian bahwa seniman bisa memilih jalan berbeda tanpa kehilangan esensi.
Diam bukan ketiadaan, melainkan kehadiran yang utuh. Gwen Silent World membuktikan bahwa kesunyian bisa lebih nyaring daripada riuh.
VI. Epilog: STILL
Judul STILL: Silent/World mengandung paradoks sekaligus afirmasi. Still berarti tetap—bahwa Gwen tetap ada meski sempat dianggap hilang. Still juga berarti diam—bahwa diam itu bukan kekosongan, melainkan dunia penuh kemungkinan.
Pameran ini adalah ungkapan syukur atas kelahiran kembali Gwen Silent. Sekaligus undangan untuk masuk ke dunia sunyi. Dunia di mana pertanyaan tak harus dijawab, dunia di mana keraguan menjadi pintu masuk, dunia di mana seni adalah perjalanan, bukan tujuan.
Apakah Gwen Silent World adalah jawaban atas gugatan pertanyaan itu?—Saya tak ingin buru-buru menyimpulkannya. Yang kini saya maknai adalah sebuah dunia sunyi yang lahir kembali, bukan untuk mengulang, tetapi untuk menyingkap lapisan terdalam dari bahasa diam. Berkah Dalem.
Sewon, 12 September 2025
AC Andre Tanama