Berkontemplasi Bersama Gwen
Kehidupan dunia saat ini semakin hiruk-pikuk dengan berbagai kesibukan manusia. Di beberapa kawasan, manusia malah mengumbar kekerasan dengan bertikai, bahkan berperang untuk saling memusnahkan satu sama lain. Di tengah situasi bising ini, kita sesekali perlu ambil jeda, menepi, lantas berdiam diri, dan berkontemplasi merenungankan apa yang sesungguhnya terjadi.
Dalam kaitan ini, ada satu karya musik yang asyik. Judulnya, 4'33" (four minutes, thirty-three seconds). Komposisi ini dirilis tahun 1952 oleh seorang komposer musik Amerika Serikat, John Milton Cage Jr (1912–1992). Ini karya yang mengguncang, bahkan hingga sekarang.
Saat dipentaskan, seorang penampil berpakaian tuksedo naik ke panggung, lalu membungkuk. Penonton bertepuk tangan. Penampil duduk di depan piano, membuka penutupnya, menatap lembar partitur di depannya, dan menghidupkan "stopwatch" dengan ditandai bunyi "klik".
Dia kemudian duduk diam, tak bergerak. Hening memenuhi ruangan. Saat menunjukkan angka 4 menit 33 detik, "stopwatch" tadi itu dimatikan dengan bunyi "klik". Penampil bangkit, membungkuk pada penonton, dan pergi. Penonton pun bertepuk tangan. Itu saja.
Lantas, apa wujud musiknya? Musiknya adalah keheningan selama 4 menit 33 detik tadi. Saat penampil diam dan panggung hening, penonton bisa mendengarkan musik alami: desah nafas, batuk, decit kursi, atau dengung halus pendingin udara. Segala bebunyian yang dianggap lumrah, kini muncul dan menarik perhatian.
Banyak pengamat bilang, karya John Cage ini adalah ajakan untuk mendengarkan suara dari dalam diri sendiri, yang sangat intim dan personal.
Dalam seni rupa, "provokasi" untuk berkontemplasi sering kita dapatkan dari lukisan abstrak. Ambil satu contoh, lukisan karya Mark Rothko (1903–1970), seniman Amerika Serikat keturunan Rusia yang menjadi dedengkot abstrak ekspresionisme. Lukisannya yang berukuran besar dipenuhi blok-blok warna yang sekilas tampak sederhana (meskipun dikerjakan melalui proses yang njelimet). Judulnya juga simpel sesuai warna dominan, seperti hitam, merah, jingga, biru, atau ungu.
Saat berdiri menatap lukisan Rothko yang terkesan bersahaja itu, kita menghadapi bidang-bidang besar warna yang disapukan secara lembut. Kita cenderung akan terdiam. Dalam diam, kita tanpa sengaja terdorong untuk merenung, berbicara dengan diri sendiri. Tetiba menyeruak kembali pengalaman batin yang selama ini tertimbun oleh berbagai rutinitas sehari-hari. Bisa juga muncul kilasan-kilasan memori kita tentang sesuatu yang pernah menggetarkan sehingga menggoreskan sentuhan khusus dalam hati.
Di Indonesia, semangat semacam itu coba diusung oleh AC Andre Tanama, seorang pegrafis, pelukis, dan pengajar Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, melalui pameran tunggal berjudul "STILL: Silent/World" di Bentara Budaya Art Gallery di Menara Kompas, Jakarta, 12 Februari-12 Maret 2026. Ada 41 karya yang ditampilkan dalam pameran ini, meliputi lukisan, grafis litografi, patung karakter, dan animasi. Secara teknis, karya-karya ini menunjukkan etos seniman ini dalam menjelajahi beragam material, teknis pengerjaan, dan pendekatan visual.
Semua karya memusat pada karakter Gwen Silent, seorang gadis imut. Andre mulai membuat karakter ini sejak 2007. Awalnya, sosok Gwen ditampilkan tanpa mulut dan mata selalu terpejam. Tidak melihat dan tidak berbicara, hanya mendengar dan mencium bebauan, sosok ini mewakili keheningan total. Sejak 2024, Gwen tampil berbeda. Masih tanpa mulut, tapi kali ini dia sudah membuka matanya. Mata itu besar, bulat, jernih, dan indah.
Dalam pameran, sosok Gwen ditampilkan dalam berbagai pose dan riasan. Ada Gwen dengan rambut panjang tergerai, pakai helm trasparan mirip astronot, berambut pendek, pakai baju Cheongsam China, atau Gwen pakai pita. Lantaran masih tidak memiliki mulut, maka ekspresinya tertangkap lewat matanya. Saat terbuka, matanya yang bulat besar dan jernih itu berbinar tajam. Sorot dua bola matanya mengajak siapa pun untuk berkomuniasi dalam diam. Tanpa kata-kata.
Merujuk catatan Andre, Gwen adalah figur kontemplatif yang mengajarkan kita
untuk berhenti sejenak, diam, lalu mendengar bisikan yang lebih dalam. Kita diundang untuk masuk ke dunia sunyi. "Sebuah dunia sunyi yang lahir kembali, bukan untuk mengulang, tetapi untuk menyingkap lapisan terdalam dari bahasa diam. Diam bukan ketiadaan, melainkan kehadiran yang utuh," katanya dalam catatan itu.
Memang, mengamati satu per satu ekspresi Gwen, kita terseret memasuki keheningan. Hening yang memberi kita jeda sejenak dari kesibukan sehari-hari yang riuh rendah. Dalam hening, kita bisa merenungkan berbagai hal yang berkecamuk dalam hati dan pikiran, yang mungkin selama ini kerap terabaikan.
Kenapa kita memerlukan momen hening? Coba kita tengok pandangan filsuf asal Denmark Soren Kierkegaard (1813–1855). Menurut dia, keheningan merupakan ruang perjumpaan manusia dengan dirinya sendiri. Dalam keheningan, individu mengalami “kegelisahan eksistensial” yang mengantar pada kesadaran akan kebebasan dan tanggung jawab. Ini momen reflektif untuk mengembangkan eksistensi manusia.
Filsuf asal Austria Ludwig Wittgenstein (1889–1951) melihat keheningan sebagai ruang untuk merasakan segala hal yang melampaui bahasa. Keheningan mengungkapkan realitas yang tidak lagi dapat dijelaskan melalui konsep dan bahasa. Lewat keheningan, kita membuka ruang untuk mengembangkan kesadaran yang lebih mendalam.
Selaras dengan pandangan filosofis itu, Zen Budhisme dan tasawuf Islam memiliki perspektif menarik. Bagi Zen-Buddhisme, hening yang dikembangkan lewat meditasi menjadi latihan bagi manusia untuk membebaskan diri dari ikatan ego dan ilusi material dunia. Ketika mampu memurnikan jiwa, kita berpeluang untuk mempertautkan diri pada spirit pencerahan (satori).
Kajian tasawuf Islam menjadikan perenungan diri sebagai jalan (thariqah) untuk menemukan eksistensi Tuhan. Ada riwayat menarik: "Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu". Barangsiapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya. Ibnu Athaillah dalam kitab "Lathaiful Minan" kasih penjelasan, bahwa pengenalan diri adalah langkah penting yang mengantarkan manusia untuk mengenal Tuhan (Allah). Dalam pengenalan diri itu, seseorang juga didorong untuk melakukan "muhasabah" (introspeksi): betapa terbatas manusia di tengah ketidakterbatasan Tuhan.
Perpektif filosofis itu bisa menjadi acuan ideal saat mengunjungi pameran Andre Tanama di Bentara Budaya. Jika pun tidak mencapai taraf itu, setidaknya kita bisa menikmati pesona visual dari katrakter Gowen dalam berbagai pose yang "menggemaskan". Itu hiburan yang menyenangkan.
Selamat untuk Andre Tanama yang kembali berpameran tunggal. Apresiasi untuk Frans Sartono (kurator Bentara Budaya) dan Seno Gumira Ajidarma (sastrawan) yang menulis pengantar pameran. Penghargaan untuk seluruh kru Bentara yang menyiapkan pergelaran. Terima kasih untuk Miero Gallery dan Hotel Santika yang memberikan support untuk program ini.
Palmerah, 9 Februari 2026
Ilham Khoiri
General Manager Bentara Budaya & Communication Management,
Corporate Communication Kompas Gramedia