Gwen: Suara Sang Sunyi
Gwen bisa tampak sebagai sosok perempuan kecil tanpa indera mulut, dengan mata terkatup. Akan tetapi pada perjalanan selanjutnya Gwen tampak dengan mata melek, bahkan terbuka lebar. Akan tetapi masih tanpa mulut.
Gwen Silent, nama lengkapnya, bagi Andre Tanama adalah fragmen keheningan. Pada setiap karya tersimpan ingatan, bukan sekadar kenangan selintas. Ia bisa ingatan rasa; Ingatan pengalaman hidup, termasuk dalam tumpukan kenangan tersebut mungkin adalah perlakukan orang atas dirinya, persepsi dan sikap orang atas dirinya; Ingatan pada pergulatan hidup dari bocah hingga dewasa. Gwen juga memuat kepingan-kepingan refleksi batin yang muncul dari proses perenungan.
Andre ingin karya-karyanya dalam pameran ini dialami sebagai ruang untuk diam sejenak. Mungkin orang bisa merasakan, mengalami, tinggal bersama karya dengan tidak perlu buru-buru untuk menyimpulkan. Judul: Still: Silent/ World dan Silent, atau less word, merupakan penegasan atau penguatan bahwa Gwenn masih ada, karena pernah dikira hilang. Silent/ World juga berupa sikap memilih untuk tidak tergesa. Silent ia maknai bukan sebagai sestau yang kosong, suwung, empty. Silent adalah ruang tempat makna tumbuh perlahan.
Proses berkarya Andre biasanya berawal dengan mendengarkan. Ia mendengarkan mediumnya, mendengarkan rasa, dan memberi ruang bagi apa yang barangkali ingin muncul. Bagi Dia, proses itu bukan cepat atau lambat, tetapi lebih soal hadir sepenuhnya. Andre suka menggunakan kata “sreg” untuk menandai bahwa ia telah hadir sepenuhnya, dengan totalitasnya dalam karya.
Jelang kelahiran
Embrio lahirnya Gwen terbentuk mendekati akhir 2007. Ketika itu Andre ingin membuat karya tentang kondisi Bumi. Alasannya sederhana, Andre merasa saat itu hawa di tempat tinggalnya sumuk, atau gerah sekali. Untuk meyakinkan apa yang ia rasakan, Ia sampai merasa perlu menanyakan pada kawan yang tinggal di kaki gunung Merapi. Di lereng Merapi pun ternyata hawa terasa gerah. Ia berpikir, kondisi Bumi memang berubah. Ia, berpikir, merenung, dan prihatin pada kondisi Bumi yang ia rasakan saat itu.
Sekali peristiwa ia menyalurkan pergumulan pikiran dan permenungan tentang kondisi Bumi itu pada coretan di atas papan MDF atau Medium Density Fiberboard. Dalam niatnya, ia tak hendak membuat gambar Bumi, atau Gunung. Ia membuat coretan kepala, wajah anak perempuan. Ia gambarkan kepala anak Perempuan mungil itu menunduk, dan mata terpejam. Bocah itu juga ia gambarkan tanpa indra atau organ wicara mulut.
Ketika hendak menggambar bagian tubuh bocah tersebut, kebetulan istri Andre sedang lewat di samping ia membuat sket itu. Istrinya yang kala itu sedang hamil, mengenakan daster. Peristiwa “domestik” keseharian yang sederhana itu menyusup ke gagasan Andre dan mewujud dalam coretan. Maka bocah Perempuan itu diberi kostum semacam daster. Ketika itu juga tebersit harapan Andra: anak dalam kandungan istrinya itu berjenis kelamin Perempuan.
Ia lalu meneruskan membuat coretan figur perempuan tersebut dengan menambahkan bayangan. Bayangan tersebut tumbuh menjadi obyek yang ambigu: bisa dianggap siluet pohon, dan bisa dianggap sebagai siluet cerobong asap.
Coretan sudah selesai, lalu berlanjut ke tahap mencukil, lalu tahap mencetak ke kanvas. Karya menjadi kombinasi cetak cungkil, dan pewarnaan cat akrilik. Ia merasa sreg, dan karya itu ia beri judul “Gloom”. Sosok anak perempuan kecil itu menjadi metafora mengenai kondisi Bumi saat itu. Bumi yang hanya bisa diam menarima segala kelakuan manusia. Saat itu sosok mungil dengan maya merem itu belum bernama.
Dan Gwen adalah namanya
Mengapa perempuan, dan mengapa anak kecil? Andre mengakui mungkin juga karena stimulus keinginan mempunyai anak perempuan. Akan tetapi, dalam pemikirannya, pada berbagai kebudayaan Bumi dipersonifikasikan sebagai perempuan. Jika orang bicara Bumi, tanah, kesuburan, orang menyebut Mother Earth, Bundo Kanduang, Dewi Sri. Bumi, dan lainnya. Andre membayangkan Bumi yang semakin rentan itu seperti halnya anak kecil yang menurut Andre adalah sosok yang rentan. Ketika berada di lingkungan orang dewasa, anak bagaikan kertas putih polos, orang memberi coretan merah makan jadilah merah.
Mengapa Bernama Gwen? Secara kebetulan saat itu Andre sedang mencari-cari nama baptis untuk anaknya, dan ia memilih nama Gwen. Santa Gwenfrewi yang ia baca di berbagai sumber adalah seorang Martir yang meninggal karena mengalami penganiayaan karena keteguhan iman. Santa Gwen kemudian dipenggal kepalanya, dan ketika kepalanya jatuh, maka tanah tempat jatuhnya kepala tadi menjadi sumber air. Itu mengapa Gwen pada awalnya berfokus pada kepala. Badan bisa bisa berupa apa saja seperti sosok anak kecil, remaja, berjubah, atau apa saja. Akan tetapi, yang pokok adalah bagian kepala.
Kembali ke soal nama, ada banyak nama depan Gwen dan itu bisa siapa saja, termasuk Gwen Stephani, dan Gwen-Gwen yang lain. Gwen, karya Andre adalah perempuan kecil yang selalu di gambarkan tanpa indera mulut. Gwen yang mengisahkan kesunyian itu lalu dinamai Gwen Silent. Ia menjadi metafora kelembutan, dan kediaman yang dalam , serta tajam makna. Sosok kediaman Gwen mengingatkan kita pada lagu dari Paul Simon dan Art Garfunkle, The “Sound of Silence” : Suara sang senyap yang dapat kita ajak bicara..
Getaran spiritual?
Sebenarnya, Andre bisa saja menggambar Gwen dengan mata melek, akan tetapi untuk melakukannya ia merasa berat. Selam aini, Andre hanya pernah sekali membuat Gwen dalam posisi mata melek. Ia menggambarnya pada keras ukuran A4 berupa drawing. Gwen digambarkan bersosok remaja, bermahkota duri, dan bersayap. Karya ini dipamerkan yang bertajuk “Do You Believe in Angel?” tahun 2014 di Filipina dengan kurator Tony Godfrey.
Tahun 2008 Gwen diangkat sebagai proyek tugas akhir, ketika Andre kuliah S2 jurusan Penciptaan Seni. Tugas akhir itu diberi judul “Gwen Silent: Pemanasan Global dalam Perspektif Filsafat Perenial”. Ketika mengokonsultasikan karya umtuk tugas akhir S2 itu, sorang dosen menilai bahwa karya Andre tidak bicara tentang pemanasan global; Tidak pula bicara tentang persoalan yang dihadapi Bumi dan lingkungan. Sang dosen menilai karya Andre lebih cenderung bernuansa spiritual. Pada kesempatan berbeda, beberapa pengamat seni rupa juga menilai karya Andre bermuatan spiritualitas di luar frame agama. Sementara bagi Andre, karyanya itu bicara tentang persoalan Bumi, dan bukan menganai hal spiritual. Diduga, yang kemudian mewarnai karya muncul dari alam bawah sadar dalam diri Andre.
Andre sebenarnya sempat takut juga jika muncul anggapan bahwa karya saya bernuansa religius. Lebih jauh lagi, ia membayangkan jangan-jangan orang melihat dirinya sebagai Gwen. Kemungkinan persamaan semacam itu, Andre mengakui mungkin ada. Akan tetapi, Gwen yang kalem dikatakan Andre tidak mewakili dirinya. Sebagai penyeimbang karakter, Andre pada 2012 membuat sosok yang ia namai Agathos . Karakter ini adalah cowok dengan mata tajam terbuka, lengannya Panjang, di dadanya keluar naga. Naga adalah sisi emosi, watak yang mudah tersulut, meledak emosinya.
Masa hibernasi
Penggambaran sosok tanpa mulut sebenarnya sudah dibuat Andre dalam karya yang ia namai Wayang Monyong. Sosok ini tampak sebagai manusia yang tidak punya mulut. Ia tidak bisa berbicara verbal, dan bekerja dalam senyap. Karakter Wayang Monyong yang silent, tidak bicara ini seperti mewujud dalam sosok Gwen, bocah berwajahnya polos, tanpa mulut, dan mengatupkan mata pula.
Meski dibuat sejak masa awal kuliah hingga setelah lulus, akan tetapi Andre membuat karakter Wayang Monyong tidak dimaksud sebagai ciri khas. Wayang Monyong bukan upaya untuk mem-branding keseninaman Andre. Prinsipnya, selama karakter Wayang Monyong masih sreg sebagai medium ungkap, Andra akan terus membikin. Andre akan berkarya sesuai denga napa yang melintas di rasa dan pikiran
Suatu kali pada 2006 ada pameran di Jogja Gallery. Untuk menerjemahkan tema kuratorial pameran, Andre merasa tidak sreg untuk menampilkan Wayang Monyong. Sementara itu kurator pameran justru menginginkan Andre menampilkan Wayang Monyong karena dianggap sebagai ciri khas, atau brand kesenimanan seorang Andre Tanama. Bahkan, jika ia mengubah Wayang Monyong ia bisa dianggap mencla-mencle atau berubah-ubah sebagi seniman.
Akhirnya ia menuruti permintaan kurator, dan dengan agak terpaksa, ia membuat karya cukil wajah Wayang Monyong, dengan balon kata yang berisi ungakan “Aduh”. Ungkapan “Aduh” adalah representasi yang sebenarnya saat itu sedang tidak ingin membuat (lagi) karakter Wayang Monyong. Karya itu lalu diberinya judul “Monyong Muni Aduh”. Karya ini ternyata disukai kurator pameran.
Laku Menyepi
Setelah itu Andre mengalami apa yang ia sebut sebagai “Gangguan pikiran”. Setelah 12 tahun aktif di lungkungan berkesenian, termasuk berkuliah di ISI sejak tahun 2000, menjadi dosen ISI sejak 2006, dan aktif berkarya, tiba-tiba tebersit pertanyaan mendasar: Seni itu apa; Berkesian itu apa; Karya itu apa. Masa bertapa ini berlangsung sepuluh tahun dari 2013 hingga 2024.
Andre mempertanyakan diri: Apakah selama ini telah berkarya di seni rupa. Meski aktif menlukis, membuat patung, membuat desain, Andre menggugat diri, apakah benar selama ini sudah berkarya; Dan apakah karyanya bicara tentang berbagai aspek kehidupan. Ia menyangsikan diri sendiri, bahwa jangan-jangan karyanya tidak membicarakan apapun…
Andre lalu merunut-balik apa saja yang pernah ia lakukan sebagai seniman. Kemudian ia runut balik ke masa kecil hingga remaja. Ia teringat dunia lamanya yaitu sebagai petualang di jagat baca, di jagat perbukuan. Pada masa itu segala jenis bacaan ia baca, termasuk komik. Dari titik tersebut, terpikir oleh Andre untuk menarik mundur dari jagat seni rupa. Mundur tidak terlalu jauh, supaya ia tidak berada terlalu di dalamnya . Dalam posisi itu, ia akan dapat cukup obyektif mengamati. Pada masa itu, Andre masih berkarya, masih berpameran akan tetapi menghilang dari galeri komersial. Dalam situasi seperti itu, ia praktis tidak dapat pemasukan dari karya.
Pada masa menjelajah rimba raya perbukuan itu, ia berjarak dengan seni rupa komersial. Ia memulai dengan mencari komik-komik yang ia lahap pada masa kecil, meskipun sebagian besar sudah diloakan. Dari komik, pelacakannya merembet ke buku-buku teks, lalu buku sastra . Ia memburu buku ke para kolektor, ke lapak-lapak buku bekas, bahkan hingga ke pemulung buku bekas. Ia juga membuat perpustakaan keliling. Andre juga menulis cerpen, merancang sampul buku, dan membuat penerbitan.
Ia sering membarter lukisan dengan buku; Bagi Andre itu juga cara dia berkesenian. Di luar itu ia sedang tidak merasa menikmati aktivitas melukis yang mengarah ke pasar; Yang gampang laku. Ia tidak sedang bersentuhan dengan pasar kesenian, dengan segala dampak finansialnya. Ia tetap berkarya dengan menggambar di kertas. Ia juga membuat karya di atas kanvas, tapi jumlah tidak seberapa. Pada suatu titik, ia pernah tidak membuat karya sama sekali. Kawan seniman, kolektor, pemilik galeri menganggap Andre sudah berhenti berkarya. Seorang seniman senior sampai menegur Andre tentang menyurutnya dari karya. Ketika orang menganggapnya turun panggung senirupa itu, sesungguhnya ia justru sedang menyelam dalam. Ia sedang menimbang ulang hakikat berkesenian. Dari laku penyepian itu lahir pula kesadaran baru tentang diri saya sebagai perupa sekaligus dosen. Seluruh perjalanan hidup di masa lalu, dan penghayatan hidup dalam laku nyepi dari gemuruh sekitar itu bagi Andre adalah laku spiritual yang memperkaya makna kesenian, yang semakin membuka matanya.
Mata Terbuka
Gwen Silent bagi bukan sesuatu yang utuh, melainkan fragmen keheningan. Andra hanya bisa menemukan di dunia idea, di dalam karya. Di dunia nyata, di tengah hiruk pikuk kehidupan, ia mengaku susah mencari dan menemukannya.
Fragmen keheningan itu bermuatan rasa yang ia alami. Karya Andre tersebut adalah ruang yang boleh dimasuki siapa saja. Ada dinamika yang terus berubah , termasuk masa hiatus selama sepuluh tahun. Apa yang semula merupakan jawaban, ternyata masih berkembang, dan menjadi sesuatu yang bisa dipertanyakan lagi.
Rasa-rasa tersebut bagi Andre yang pasti adalah rasa bersyukur. Rasa itulah yang selalu dicoba untuk dituangkan Andre. Apapun latar belakangnya, juga bermuara di rasa syukur. Begitu pula maknanya juga berupa rasa syukur. Apa yang dulu ia rasakan sebagai kepahitan, rasa yang menyiksa, bertumbuh sebagai rasa syukur.
Pada satu karya, Gwen mengenakan cheongsam, kostum tradisional Tionghoa. Karya ini mucul dibayangi pengalaman hidup, pergulatan rasa dan batin sebaga orang yang tumbuh dengan latar belakang etnis yang berbeda. Ia bersyukur mengalami masa seperti itu, karena pergulatan hidup yang ia endapkan itu telah membentuk dirinya seperti hari ini. Ia menyadari pesan dan makna rasa bersukur itu, sepahit apapun situasinya dulu.
Seiring dengan perubahan tersebut, berakhirnyalah masa hiatus sepuluh tahun itu. Andre mulai berkarya lagi pada 2024, dan mata Gwen mulai terbuka. Logo pun berganti menjadi Gwen Silent World. Pengalaman sepahit apapun yang ia maknaimembuat Andre lebih terbuka pada dunia, terhadap realitas.
Andre mengakui pada masa Gwen Silent dulu, mungkin ia lebih ke dunia dalam, inner world, dunia spiritual. Gwen kemudian membuka mata, melihat ke luar, berani melihat ke luar. Gwen Silent yang mengatupkan mata adalah Gwen yang takut melihat ke luar. Ia melihat ke dalam. Andre teringhat ada masa ketika ia membenci orang-orang tertentu. Gwen yang membuka mata adalah Gwen yang telah bisa menerima, mamafkan, memaknai yang dulu pahit dan menyakitkan: Gwen dengan kedalaman baru.
Dikatakannya, hitam tidak sepenuhnya hitam, dan putih tidak semuanya putih. Ia mamahami, ada hal-hal yang tidak bisa terjawab segera. Itu mengapa ada penambahan kata World. Meskipun Andre sudah membuat Gwen dengan mata terbuka, ia juga membuat Gwen dengan mata merem tapi dengan rasa berbeda. Mungkin karena Andre juga sudah berubah. Ia yakin karyanya tidak mungkin akan berubah, kalau ia sendiri tidak berubah.
Frans Sartono
Kurator Bentara Budaya