Seni untuk Memperkuat Solidaritas
Seni sejatinya tak melulu terkait dengan ekspresi personal seniman yang berasyik-masyuk dengan keindahan. Lebih luas dari itu, seni juga bisa menjadi sarana untuk menyokong gerakan solidaritas sosial. Ketika sebagian warga sedang terkena musibah, para seniman dapat turun tangan membantu dengan menghibahkan karyanya.
Semangat itu yang mendasari penyelenggaraan "Dari Seniman untuk Sumatera: Pameran dan Lelang untuk Pemulihan Sumetara" di Bentara Budaya Jakarta, 20-31 Januari 2026. Ada 15 seniman yang menyajikan lukisan dalam pergelaran ini. Jika karya-karya itu terkoleksi oleh donatur, seluruh hasilnya akan disumbangkan melalui Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) untuk membantu pemulihan Sumatera pasca banjir dan tanah longsor akhir November 2025.
Kelima belas seniman itu mencakup Afriani, Asmo Adji, Emmy Go, Eko Hand, Ilham Khoiri, Ika W. Burhan, Kusdianti, Laiqa Twins (Niki & Rubi), Nissan Kristiyanto, Putu Fajar Arcana, Saskia Gita Sakanti, Supantono, Tri Suharyanto, Setiyoko Hadi, dan Wiwik Oratmangun. Masing-masing seniman menampilkan satu karya. Kurasi ditangani oleh Frans Sartono dan Efix Mulyadi.
Para seniman menawarkan karya dengan gagasan, obyek, dan pendekatan visual sesuai kecenderungan masing-masing. Sebagian lukisan mengulik kekayaan alam di Indonesia, seperti keasrian hutan atau landscape yang elok. Ada juga yang memotret aktivitas sehari-hari warga, seperti berkebun, panen raya, atau keunikan budaya lokal. Sebagian lagi mendalami pengalaman spiritual yang lebih personal atau mengangkat sosok inspiratif.
Keragaman visual dalam pameran ini menawarkan keluasan untuk melihat kenyataan hidup. Kehidupan memiliki banyak sisi yang menarik untuk diulik. Tak semua menyenangkan, meski tak semua juga suram. Pada akhirnya semua kembali kepada pilihan sudut pandang masing-masing.
Melampaui telaah seni rupa atau hal-hal yang bersifat artistik, pameran ini menunjukkan gairah para seniman untuk membantu sesama. Ketika warga di Sumatera tengah ditempa bencana, para pelukis menghibahkan lukisanya untuk menyokong proses "recovery" pasca bencana. Niat baik ini patut diapresiasi di tengah kebutuhan kawasan itu untuk memulihkan diri.
Masih teringat, akhir November 2025 lalu, banjir bandang dan tanah longsor menghantam Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Kerusakan yang ditimbulkan demikian dahsyat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sabtu (17/1/2026) lalu, mencatat sebanyak 1.198 orang meninggal, 144 orang hilang, dan 166.579 orang masih mengungsi.
Infrastruktur juga rusak parah akibat banjir dan longsor. Masih mengacu data BNPB, sebanyak 158.000 rumah warga rusak. Begitu pula 581 unit fasilitas pendidikan, 145 jembatan, 1.200 fasilitas umum, 434 tempat ibadah, serta 290 gedung perkantoran. Akibat lanjutannya, mobilitas warga dan layanan untuk masyarakat pun menjadi terhambat.
Untuk membenahi semua kerusakan itu, diperlukan dana besar. Kementerian Pekerjaan Umum RI memperkirakan, biaya pemulihan Sumatera mencapai Rp 74 triliun. Proses pengerjaan juga makan waktu hingga dua tahun. Selain oleh pemerintah, tentu proses pemulihan itu membutuhkan support dari semua pihak.
Dalam konteks ini, penggalangan donasi melalui pameran dan lelang lukisan masih relevan. Publik masih perlu mengulurkan tangan untuk membantu, berapa pun sesuai kerelaan masing-masing. Dalam rangkaian ini, digelar juga “Konser Amal Gitaris untuk Negeri: Donasi untuk Pemulihan Sumatera” di Studio 1 KompasTV di Jakarta, Senin (26/1/2026) malam. Konser bakal disiarkan saluran telebisi di KompasTV serta di kanal Youtube di akun-akun media di Kompas Gramedia.
Puluhan gitaris dan penyanyi akan berkolaborasi dalam pertunjukan itu. Dari gitaris, antara lain Andre Dinuth, BAIM, Denny Chasmala, Dewa Budjana, Edi Kemput, Endah Widiastuti, Eet Sjahranie, Eross Candra, Ezra Simanjuntak, Gugun Blues Shelter, Ian Antono, Jubing Kristianto, Kin The Fly, Kongko Cadillac, Ramadhista Akbar, Ridho Hafiedz, Stanly Bactian, dan Tohpati. Dari penyanyi, ada Arda Hatna, Dira Sugandi, Ipang Lazuardi, Lea Simanjuntak, Nadhif Basalamah, Nyak Ina Raseuki (Ubiet), Sandy Canester, Tanti Sjalindri, dan Uap Widya.
Konser tersebut nanti juga bakal tersambung dengan lelang lukisan. Para musisi yang tampil dalam konser akan membubuhkan tanda tangan pada satu gitar. Gitar tersebut lantas dilelang kepada khalayak. Terjual dengan harga berarapun, hasilnya juga didonasikan untuk membantu pemulihan Sumatera, melalui Dana Kemanusiaan Kompas (DKK).
Konser amal dan lelang kali ini adalah kegiatan kelima yang dihelat Kompas Gramedia, Bentara Budaya, dan komunitas Gitaris, untuk menggalang donasi untuk membantu korban bencana. Tahun 2010, digelar konser “Dari Gitaris untuk Indonesia” untuk korban bencana alam Gunung Merapi dan Mentawai. Tahun 2014, konser “Dari Gitaris untuk Indonesia” untuk korban bencana letusan Gunung Sinabung, banjir Jakarta, dan banjir Manado. Tahun 2018, “Gitaris Indonesia Peduli Negeri” untuk korban bencana gempa di Palu. Tahun 2022, Konser Amal “Gitaris untuk Negeri: Donasi Gempa Cianjur”.
Terima kasih untuk para seniman yang ambil bagian dalam pameran dan lelang, juga para musisi yang tampil dalam konser amal. Apresiasi untuk Frans Sartono dan Efix Mulyadi sebagai kurator, seluruh kru Bentara Budaya, KompasTV, Corporate Communication, dan semua unit Kompas Gramedia yang bahu-membahu untuk menangani berbagai persiapan tenkis. Penghargaan untuk para donatur yang memberikan sumbangan. Salut untuk semua pihak yang menyokong program ini.
Palmerah, 20 Januari 2026
Ilham Khoiri
General Manager Bentara Budaya & Communication Management Corporate Communication Kompas Gramedia