Dari Seniman untuk Sumatera
Pameran lukisan Dari Seniman untuk Sumatera ini menjadi satu kesatuan dengan pergelaran amal Dari Gitaris untuk Negeri berlangsung pada 26 Januari 2026. Adapun pameran digelar di Bentara Budaya Jakarta, pada 20-31 Januari. Perhelatan tersebut merupakan upaya penggalangan dana untuk pemulian Sumatera. Lukisan pada pameran ini akan ditawarkan kepada para donatur, dan hasilnya akan menjadi bagian dari donasi yang diberikan untuk pemulihan Sumatera, yang beberapa waktu lalu sebagian wilayahnya dilanda, banjir dan tanah longsor.
Sebanyak 15 seniman dalam ikut dalam pameran ini adalah Afriani, Asmo Adji, Eko Hand, Emmy Go, Ika Wartika, Ilham Khoiri, Nisa Kristyanto, Kusdianti, Laiqa Twins (Niki & Rubi), Putu Fajar Arcana, Saskia Gita Sakanti, Setyoko Hadi, Supantono, Tri Suharyanto, dan Wiwik Oratmangun.
“Rumah Gajah”
Sebagian besar lukisan berobyek ruang kehidupan manusia di tengah kemahaluasan semesta. Lukisan bertajuk “Rumah Gajah” karya Kusdiantini mengingatkan kita pada fable, dongeng dengan tokoh binatang. Dalam lukisan ini tampak tiga ekor gajah di rimba raya yang lebat, teduh, dan indah. Ada dua ekor gajah besar, dan seekor gajah kecil. Mereka seperti keluarga gajah yang hidup di rimba raya sebagai rumah mereka.
Keluarga gajah tinggal di lingkungan dengan keragaman pepohonan aneka warna; Ada bunga, warna-warni; Ada burung-burung yang beterbangan di sekitar mereka. Di sebelah rimba ada sungai yang dilalui kapal besar dan perahu kecil. Nun di sana tampak rumah dan gedung- gedung. Gambaran gajah dan lingkungan sekitarnya itu mengingatkan kita pada dongeng tentang satwa yang hidup damai berdampingan dengan manusia.
Suasana rimba tampak teduh, lebat juga tampak dari karya Emmy Go yang bertajuk “Tanah yang Menghijau”. Lingkungan hutan belantara yang tampak lebat dan subur mengingatkan kita pada narasi Ki Dalang tentang negeri yang gemah ripah, loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Gambaran tentang kehidupan subur makmur juga menaungi lukisan lukisan Supantono yang diberi judul “Village of Flower Girl”, Desa si Gadis Bunga. Ada kemenyatuan kehidupan antara manusia dan semesta. Flora-fauna dan manusia menjadi seperti warga satu rumah besar bernama alam semesta. Digambarkan manusia, sapi, ikan, dan tumbuhan berada dalam satu kesatuan kehidupan.
Secara visual kemenyatuan itu diungkapkan dalam karya yang tampak dekoratif, dengan deformasi bentuk. Di dalam tubuh sapi ada sapi, dedaunan, dan sebagian tubuh si Flower Girl. Keduanya menjadi simbol kesuburan. Ada hubungan yang saling menghidupi. Sapi memberi daging dan susu bagi kehidupan manusia. Dan manusia merawat, menjaga, menghidupi sapi sebagai imbal balik: Sebuah penggambaran Upaya saling menjaga dan menghidupi, ada upaya menciptakan kesuburan dan kemakmuran .
Suasana serba hijau subur teratur padac lukisan-lukisan di atas sungguh kontras dengan apa yang dilukislan Setiyoko Hadi dalam “Sarang Penyamun, Sarang Penyayang”. Tampak batang-batang kayu bertumbangan, tumpang tindih berserakan. Di atas reruntuhan itu burung-burung besar bertengger. Tampak asap mengepul di antara batang dan ranting. Suatu pemandangan lanskap yang rusak, hancur-hancuran, dan terasa ada kepanikan, mencekam.
Ibu Pertiwi
“Rajah Ruwat” karya Eko Hand menampilkan daun warna-warni yang mengingatkan kita pada pananda pergantian musim. Ada daun-daun hijau, merah segar bermunculan; Namun, ada pula daun-daun menguning, dan mengering. Kita ingat pada siklus kehidupan yang terbaca dari pergantian warna daun dari hijau segar, lalu kuning, kemudian cokelat kering. Selanjutnya daun-daun berguguran: sebuah siklus kehidupan dalam semesta raya dalam menjaga kelestarian kehidupan.
Dalam kehidupan masyarakat agraris, puncak siklus dari kegiatan bercocok tanam adalah masa panen. Karya Nisan Kristiyanto “Panen Raya2” mengingatkan kita pada siklus tersebut. Prosesnya panjang sejak mengolah lahan, menabur benih, mengairi, dan menjaganya sebelum mengunduh hasil. Dalam bahasa budaya agraris, lingkungan alam harus dirawat agar manusia memetik manfaat.
Dalam lukisan "Panen Raya 2" Nisan juga memberi penekanan betapa manusia hanya bagian kecil dari alam semesta. Ia menggambarkan dari jauh sekelompok manusia yang tampak mungil asyik bekerja di tengah hamparan padi kuning keemasan yang terbentang luas. Jauh di belakang terlihat jajaran pepohonan dan perbukitan, serta burung-burung melayang di langit.
Konsep figuratif tentang sosok yang merawat kemakmuran dalam budaya Nusantara, salah satunya adalah Ibu Pertiwi. Dalam kompisisi Ki Narto Sabdo, “Ketawang Ibu Pretiwi” , sosok Ibu Pertiwi digambarkan sebagai figur yang bijak, penih welas asih: “Ibu Pretiwi.. paring boga lan sandangan murakabi/ Peparing rejeki manungsa kang bekti. ( Ibu Pertiwi mencukupi pangan dan pangan/ Memberi rejeki kepada manusia yang berbakti).
Seperti narasi kesubur-makmuran “Ketawang Ibu Pretiwi” itulah kira-kira Tri Suharyanto menampilkan sosok Ibu Pertiwi dalam lukisan “kulihat Ibu Pertiwi”. Dalam lukisan tersebut, tampak perempuan berkerudung, dengan badan berbalut pakaian merah putih. Wajahnya lembut, penuh welas asih. Pada latar terhampar sawah berundak; Sungai berkelok, dan pepohonan menghijau. Gambaran ini mengingatkan kita pada lagu “Kulihat Ibu Pertiwi” yang pada sepenggal syairnya menyebut negeri yang gemah ripah: “Hutan, gunung sawah, lautan/ Simpanan kekayaan…” Lukisan ini berjudul “Kulihat Ibu Pertiwi”.
Tenteram – Damai
Tanah subur, makmur, dalam lukisan di atas menjadi bagian dari modal dasar kehidupan manusia, selain juga tempat tinggal yang aman, nyaman, tenteram. Orang membangun taman untuk menghadirkan kesejukan seperti digambarkan Wiwik Oratmangun dalam “Forest Park” : sebuah taman dengan barisan pepohonan dan bunga-bunga. Orang-orang di perkotaan, dan pinggiran menghadirkan hunian sebagai ruang hidup dengan segala problematika kota besar seperti dilukiskan Ika Wartika, “Di Rumah Itu”, dan karya Asmo Adji “Senja di Kampung Terakhir” .
Saskia Gita Sakanti atau Kanti berbicara tentang perjalanan mencari tempat tinggal yang aman, nyaman, dan tenteram, bagi kehidupan dalam “Take the Lead”. Pada lukisan ini tampak sejumlah obyek, yaitu seorang gadis, hamparan lahan luas, dan rumah nun jauh di sana. Jika dicermati, ada pula beberapa ekor kucing. Seekor kucing ada dalam gendongan si gadis, dan beberapa ekor lain bersembunyi di antara tanaman di lahan luas itu. Kucing-kucing itulah yang akan mengiringi si gadis menuju rumah tenteram yang diidamkannya. Satwa dengan nalurinya mengerti benar tempat yang aman tentram damai seperti yang diinginkan si gadis.
Rumah kehidupan adalah semesta tanpa batas. Seperti digambarkan Putu Fajar Arcana dalam “Menembus Batas”. Kanvas bundar yang digunakan Putu Fajar dalam karya tersebut adalah semesta di mana segala makhluk hadir secara bersamaan dan "tiba-tiba". Pada setiap fase, senantiasa terdapat usaha untuk melampaui batas-batas diri, terutama dalam mencari jawaban atas pertanyaan: dari mana asal-muasal segala makhluk dan kemana sesudahnya?
Perjalanan spiritual adalah salah satu laku yang dipercaya akan mengantarkan manusia menuju pencerahan sejati. Tradisi "thudong" di Thailand dan Myanmar, misalnya, telah menjadi meditasi berdiam diri selama melakukan proses jalan kaki. Ini adalah tahap pertama untuk melatih kesabaran, kekuatan, dan pengendalian diri sebelum memasuki fase-fase menjadi seorang bhiksu yang disucikan. Apakah pencerahan itu penerimaan cahaya yang membebaskan segala makhluk dari kemelekatan?
Keragaman cara ungkap dalam menggambarkan hubungan manusia dan alam semesta seperti tersebut di muka, digarisbawahi oleh lukisan Putu Fajar Arcana, "Menembus Batas". Sebagaimana mahluk lain, manusia harus berjuang untuk tetap hidup dan meneruskan jenisnya. Yang khas pada manusia adalah perkara makna dengan segala problematiknya. Pencarian makna hidup ini ia lukiskan lewat sosok bhiksu: lambang pencarian makna hidup menuju manusia paripurna.
Pencarian makna hidup juga dilakukan oleh siapa saja sepanjang perjalanan hidup. Ilham Khoiri dalam kaligrafi ‘”Al- Ashr, Demi Waktu” menyampaikan bagaimana kesadaran akan waktu yang terus mengiringi perjalanan hidup manusia sejak dulu hingga hari ini. Manusia perlau mengelola waktu secara arif agar tidak digulung oleh waktu yang terus mengalir tanpa henti.
Efix Mulyadi & Frans Sartono
Kurator Bentara Budaya