JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik pesona selembar kain tradisional, tersimpan rekam jejak perjumpaan sejarah budaya yang sangat panjang. Menurut catatan penulis Sri Rejeki yang terpampang dalam pameran batik peranakan "Metamorfosa" di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, jejak batik di Nusantara bahkan telah terekam sejak masa Kerajaan Majapahit, yang terlihat pada temuan arca di Candi Ngrimbi, Jawa Timur. Penjelajah Portugis, Tome Pires, dalam catatannya "Suma Oriental" pada abad ke-16 juga menyebutkan bahwa kain Jawa menjadi komoditas penting sekaligus simbol status kaum bangsawan. Sebagai salah satu Koordinator Ekspedisi Selisik Batik Kompas, Sri menjelaskan bahwa perjalanan batik menyerap banyak pengaruh budaya, termasuk dari pendatang Tiongkok. Baca juga: Motif Batik Parang di Jersey Timnas Indonesia, Ini Kata CEO Kelme "Pada batik peranakan, kami melihat burung phoenix dari mitologi China berdampingan dengan ragam hias khas Jawa. Selembar batik pun menjadi ruang dialog, tempat berbagi budaya yang tidak saling menihilkan melainkan saling menguatkan," ungkap Sri dalam acara pembukaan pameran, Kamis (9/4/2026).
Perjalanan batik peranakan Melampaui sekat sosial Memasuki masa kolonial, batik tetap hidup merawat keragaman. Peristiwa Geger Pacinan pada 1740, yang memicu pembatasan pergerakan masyarakat Tionghoa oleh pemerintah kolonial Belanda melalui sistem surat jalan dan kampung khusus, nyatanya tidak mampu menghalangi interaksi budaya yang telah terjalin. Terjadilah percampuran budaya, dan batik menjadi salah satu medium utama yang merekamnya. Motif mitologi Tiongkok seperti qilin pun bersanding harmonis dengan ragam hias pesisir Jawa, seperti kawung, dalam palet warna cerah yang kontras.

"Pameran batik Metamorfosa ini bukan sekadar nostalgia, melainkan pengingat bahwa kita sudah biasa mengalami percampuran budaya yang melampaui sekat sosial dan politik," terang Sri. Keindahan yang tercipta dari akulturasi historis ini membuktikan bahwa perbedaan latar belakang bisa melahirkan karya yang indah, jika saling melengkapi. "Pada akhirnya, keragaman seperti dalam batik peranakan, bukan memisahkan melainkan untuk saling menguatkan," lanjut dia.
Kekayaan ekspresi leluhur Akulturasi budaya ini pada akhirnya melahirkan wastra dengan identitas visual yang amat khas. Direktur Utama KompasTV, Rosianna M Silalahi, mengungkapkan apresiasinya terhadap dedikasi para seniman keturunan Tionghoa yang turut merawat tradisi luhur Nusantara.

"Di sini kami ingin mengatakan bahwa luar biasa bahwa batik itu juga dikerjakan oleh orang Indonesia keturunan Tionghoa, dan mereka memiliki juga motif-motif yang luar biasa," tutur perempuan yang akrab disapa Rosi itu.
Kehadiran perajin dari berbagai latar belakang budaya dinilai justru semakin mewarnai industri mode dan kriya di Tanah Air secara inklusif.
Proses pembuatan yang penuh ketekunan

Selain nilai sejarah, hal yang membuat batik peranakan bernilai tinggi adalah proses pembuatannya yang menguras ketekunan.
"Dalam mengerjakan batik, kami diajarkan untuk memiliki kesabaran ekstra, telaten, teliti, waspada, antisipasi, dan berserah kepada Sang Pencipta semesta," ungkap seniman batik Dave Tjoa. Dedikasi tinggi dalam proses tersebut membuat setiap kain memiliki ruhnya masing-masing. Oleh karena itu, selembar batik tulis murni tidak pernah bisa disamakan satu dengan yang lainnya. "Setiap batik mempunyai karakter tersendiri yang tidak bisa disamakan atau dibandingkan dengan batik lainnya," tegas dia. Karakter yang unik dan autentik inilah yang kemudian dapat diolah oleh industri mode menjadi berbagai bentuk karya busana yang memukau.
Daya tarik pengalaman otentik Kekayaan filosofi dan proses pembuatan yang panjang ini menjadikan batik lebih dari sekadar selembar kain. Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia (RI), Ni Luh Enik Ermawati, mengungkapkan bahwa batik kini telah menjadi daya tarik baru dalam dunia pariwisata Nusantara.
"Wisatawan saat ini tidak lagi hanya datang untuk melihat sebuah destinasi keindahan alam saja, tetapi juga yang paling utama adalah pengalaman yang autentik. Experience itu bisa kita hadirkan lewat budaya," kata dia.
Pameran "Metamorfosa" hadir di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, dan berlangsung setiap hari mulai pukul 10.00-17.00 WIB hingga 5 Mei 2026. "Melalui kegiatan pameran, workshop, maupun interaksi secara langsung kepada para perajin, wisatawan diajak untuk memahami bahwa batik bukan sekadar produk saja. Di dalamnya itu ada proses panjang, ada filosofi serta nilai-nilai budaya yang diwariskan lintas generasi," pungkas Ni Luh.