BERLANGGANAN
Dapatkan informasi tentang Bentara Budaya langsung ke surelmu. Daftarkan dirimu sekarang!

Kembali ke Agenda Pameran
Eko Hand

Rajah Ruwat, 2024

50 x 50 cm
Acrylic on canvas

Kirim Pesan

Hutan yang dahulu menjadi sarang penyayang tempat kehidupan dirawat dan dilindungi kini berubah menjadi sarang penyamun, ruang perampasan yang meninggalkan luka dan kehampaan. Burung enggang berdiri sebagai saksi sunyi atas perubahan dari merawat menjadi merampas. Burung-burung kecil yang tercerai menandai kehidupan yang terusir dari rumahnya. Lukisan ini mengajak kita merenungkan pergeseran batin manusia: ketika rumah bersama diubah menjadi ladang jarahan.

“Sarang penyayang” adalah metafora bagi dunia yang dipahami sebagai titipan. Ia hidup karena relasi: antara pohon dan tanah, antara burung dan udara, antara manusia dan yang tak bersuara. Dalam sarang penyayang, kehidupan tidak diukur dari apa yang diambil, tetapi dari apa yang dijaga.

Sebaliknya, “sarang penyamun” muncul ketika dunia direduksi menjadi komoditas. Pohon tidak lagi dibaca sebagai tubuh kehidupan, melainkan sebagai angka. Api bukan lagi simbol pemurnian, tetapi alat percepatan. Di titik ini, rumah bersama berubah menjadi medan perampasan—dan kehancuran menjadi sistematis, bukan kebetulan.