Pameran Seni Rupa
Mengenang 100 Hari Berpulangnya Sang Maestro Nasirun
GURUUUU.... TABIK GURUUU!
Sebuah Ungkapan Takzim Murid yang Menjura kepada Gurunya
Pembukaan Pameran: Jumat, 6 November 2026 Pukul 19.00 WIB
Dibuka oleh: KH. Roikhan Zainal Arifin Al Makky, GP Sindhunata, Putu Sutawijaya
Dimeriahkan: Bagus Mazasupa & Nurani Sya'ban
Pameran Berlangsung: 7-15 November 2026 Pukul 10.00-21.00 WIB
Tempat: Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto no 2, Kotabaru
GURUUU, TABIK GURUUU!
Mengenang 100 Hari Berpulangnya Sang Maestro Nasirun
Bermula dari kegelisahan dan niatan komunitas Nasirunan untuk merawat ingatan, Bentara Budaya hadir menggenapi ruang apresiasi melalui pameran seni rupa bertajuk "GURUUU, TABIK GURUUU!". Helatan ini bukan sekadar sebuah peringatan atas 100 hari berpulangnya sang Maestro, melainkan sebuah momen refleksi bersama.
Rencana awalnya, pameran ini bertumpu pada kurasi koleksi pribadi Museum Nasirun. Selama ini Nasirun dikenal intens mengumpulkan karya lukisan, sketsa, hingga kepingan arsip dari para seniman yang dihormatinya sebagai Guru. Namun, upaya mengenang Nasirun akan terasa janggal tanpa sekaligus merayakan keguyuban, napas utama dalam laku keseniannya. Melalui undangan terbuka yang direspons berbagai kalangan, pameran yang dipersiapkan dalam waktu singkat ini berhasil menghimpun lebih dari seratus perupa. Kehadiran mereka menunjukan semangat solidaritas sekaligus penghormatan mendalam bagi jejak kesenian sang Maestro.
Bagi Nasirun, "Guru" adalah konsep yang cair sekaligus sakral. Ia melampaui batasan formal institusi pendidikan atau patronase konvensional. Siapa pun dan apa pun yang mampu menginterupsi kesadaran, memperkaya cita rasa, serta mendewasakan laku berkeseniannya, adalah Guru. Dalam kosmologi kreatifnya, bentang alam, obyek keseharian, hingga interaksi paling sublim dengan sesama adalah sumber pengetahuan yang tiada habisnya.
Absurditas Sebuah Pintu
Di antara sekian banyak subjek yang Nasirun takzimi, terdapat satu fragmen yang terkesan absurd namun sarat makna filosofis: sebuah pintu. Bagaimana mungkin sebuah benda mati menjelma sebagai Guru spiritual bagi seorang Nasirun?
Alkisah, saat gerbang takdir memanggil, Nasirun muda yang ingin memperdalam ilmu seni ke Yogyakarta terbentur ketiadaan biaya. Demi menjemput impian itu, ia mengambil keputusan radikal: mencopot pintu rumahnya sendiri, menjualnya, dan menjadikannya ongkos keberangkatan.
Peristiwa heroik sekaligus getir ini membekas abadi dalam sanubarinya. Pintu bukan lagi sekadar pembatas ruang fisik, melainkan sebuah metafora ambang batas. Melalui pintu yang dikorbankan itu, Nasirun tidak hanya membuka jalan bagi karirnya di medan seni rupa Indonesia, tetapi juga mempelajari hakikat pengorbanan, keberanian, dan keterbukaan dalam memandang dunia. Pintu itu adalah Guru yang sejati; ia harus dilepaskan agar sebuah ruang baru yang lebih luas dapat dimasuki.
Selamat jalan, Maestro. Doa kami menyertai selalu.