PAMERAN TUNGGAL “Recycle Art”
"MERENGKUH LUKA PERADABAN"
Intan Dewi Sukmawangi
Kurator: Wisnu Nugroho (Beginu)
Pembukaan Pameran: Kamis, 22 Oktober 2026 Pukul 16.00 WIB - selesai
Diresmikan oleh: Melanie Subono (Musisi & Aktivis)
Pameran Berlangsung: 23 Oktober - 13 November 2026 Pukul 10.00 - 18.00 WIB
(Sabtu dan Minggu Tetap Buka, Hari Libur Nasional Pameran TUTUP)
Workshop “Membuat Keychain dari Limbah Kantong Plastik”
Sabtu, 31 Oktober 2026 Pukul 14.00 - 16.00 WIB
Workshop “Membuat Mini Pouch dari Limbah Plastik bersama Intan S., Palakali Creative, dan Ika W. Burhan”
Jumat, 13 November 2026 Pukul 14.00 - 16.00 WIB
Tempat: Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan No. 17, Jakarta Pusat
Merengkuh Luka Peradaban
Apa yang terjadi ketika sesuatu yang kita sebut sebagai “sampah” tidak lagi dipandang sebagai benda yang telah selesai menjalankan fungsinya, melainkan sebagai jejak dari sebuah peradaban? Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk membaca praktik artistik Intan Dewi Sukmawangi dalam pameran tunggal Merengkuh Luka Peradaban. Melalui 29 karya yang dibangun dari material bekas dan limbah konsumsi, Intan tidak sekadar mengubah sampah menjadi objek seni. Ia mengembalikan material-material tersebut ke hadapan kita sebagai sesuatu yang harus dilihat kembali, disentuh secara imajinatif, dan dipertanyakan maknanya.
Plastik, botol, kemasan, tali, serta berbagai material yang sebelumnya berada di luar perhatian sehari-hari mengalami transformasi menjadi tubuh-tubuh hewan, makhluk imajiner, dan bentuk-bentuk ekologis. Di tangan seniman, material yang semula dianggap tidak bernilai memperoleh tubuh baru. Namun transformasi tersebut tidak serta-merta menghapus sejarah materialnya. Sebaliknya, bekas penggunaan, bentuk, warna, dan karakter material tetap menjadi bagian penting dari bahasa visual karya.
Di sinilah kekuatan karya-karya Intan bekerja. Hewan-hewan yang hadir dalam pameran ini bukan sekadar representasi fauna. Mereka dapat dibaca sebagai metafora atas kehidupan yang terdesak oleh perilaku manusia. Orangutan, gajah, kuda, ikan, dan berbagai bentuk kehidupan lainnya membawa kita pada pertanyaan tentang habitat, kehilangan, konsumsi, dan keberlangsungan hidup. Tubuh mereka dibangun dari benda-benda yang justru menjadi bagian dari persoalan ekologis yang sedang mereka representasikan.
Ada sebuah ironi yang sengaja dibiarkan terbuka: makhluk yang sedang kita selamatkan justru dibentuk dari benda-benda yang mengancam keberadaannya.
Ironi ini membuat Merengkuh Luka Peradaban tidak berhenti pada narasi tentang pencemaran lingkungan. Pameran ini bergerak lebih jauh, menuju pertanyaan tentang hubungan manusia dengan kemajuan, konsumsi, dan konsekuensi yang ditinggalkannya.