Pameran Lukisan Berdua
“NOTHING”
Gogor Purwoko & RB Ali
Kurator: Mayek Prayitno & Sentot D Setiawan
Pembukaan Pameran: Rabu, 30 September 2026 Pukul 16.00 WIB
Pameran diresmikan oleh: Brandon Cahyadhuha Rusdy (Gallery Owner)
Hosted by: Nicolus Kuswanto (Owner Zen 1 Gallery), Syakieb Sungkar (Kolektor), Rachmat Budiman (Duta Besar Republik Indonesia di Thailand/pencinta seni), Joko Purnomo (Kolektor), Ludo Yuda (Art Influencer)
Workshop Live Painting and Chat with Ludo Yuda
Kamis, 8 Oktober 2026 Pukul 14.00 - 16.00 WIB
Gratis & Terbuka Untuk Umum (Peserta mohon membawa alat gambar dan kertas sendiri)
Pameran berlangsung : 1 - 30 Oktober 2026 Pukul 10.00 - 17.00 WIB
(Sabtu, Minggu, dan Hari Libur Nasional Pameran Tutup)
Modernitas kontemporer telah melabuhkan cipta imajinasi di dalam tajuk yaitu: “NOTHING”. Dari hal tersebutlah ‘kekosongan’ tidak sepenuhnya bersifat ‘hampa’, melainkan ruang telah menciptakan sifat dari adanya kesederhanaan, tanpa melebih-lebihkan atau berkurangnya substansi dan tidaklah terlalu absurd. Lalu “NOTHING” menggabungkan masing-masing karakter serta visual, dan memunculkan “arkaik”, bila dipandang atau diletakkan secara etika budaya juga estetika kemodernan, yang proses tersebut merupakan catatan perjalanan berkesenian.
Hampir 40 karya, dari penggabungan kedua perupa, terdapat unsur “Humanisme” yang kemudian membuka pandora—akan seperti apa kemudian warna seni rupa khususnya karya lukis ke depannya. Dan Bentara Budaya merupakan akses atau corong bagi kerupaan di Tanah Air, menjadi jelas titik kemajuannya pada dekade sekarang dan selanjutnya.
Terpilihnya karya-karya yang dipamerkan bukanlah paradoks, tapi berdasar kepada pertanyaan besar yang berkisar tentang keadaan/dinamika suhu saat ini. Seperti panggung politik yang riuh rendah, juga budaya sosial yang semakin terlihat adanya kesenjangan. Namun disinilah letak kontemplasi itu terjadi, dari manifestasi ide-ide liar yang seakan begitu mencuri perhatian. Jika diibaratkan, “Nothing” adalah sebuah selter (halte) bagi perhentian sementara. Lalu diputuskan akan ke mana arah kembalinya.
Kedua perupa menangkap fenomena keadaan yang kemudian direnungkan ke dalam bahasa rasa, yang akhirnya mencuatlah filosofi diri kepada akar berkarya. RB. Ali dengan cuplikan-cuplikan menariknya, tanpa ragu bicara seadanya, sebagaimana mata rantai kehidupan itu berjalan. Walaupun ada kesatiran yang tidak harus terjawab sepenuhnya. Begitupun Gogor Purwoko, yang menyusun refleksi itu ke dalam dasar relung. Manakala literasi sedang tidak berjalan beriringan dengan pikiran, menurut lisan ataukah tulisan. Sebab kemajuan teknologi begitu berkembang pesat. Akan tetapi manusia telah berada dalam nilai kebutuhan yang secara abstrak dikatakan kosmologi peradaban, bukan (baru) tetapi berlangsung.
Penutup, lantas apakah manusia bersama seni akan punah kemudian? Atau justru dari seni—manusia semakin belajar untuk menumbuhkan kesadaran akan budaya serta simpul tradisi yang selalu melekat pada tiap-tiap generasi masyarakat, sebelum mesin-mesin teknologi benar-benar mengubah keadaan menjadi terbalik.
Sentot D. Setiawan.
Penulis