Diskusi
Tubuh, Imaji, dan Narasi:
Perspektif Perempuan dalam Seni Rupa, Sastra, dan Sinema
Narasumber: Ni Nyoman Sani (Perupa), Ni Nyoman Ayu Suciartini (Dosen & Penulis), Vanesa Martida (Dosen & Sineas Muda)
Moderator: Luh Yesi Candrika (Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Bali, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia
Hari, tanggal: Jumat, 17 April 2026, pukul 14.00-16.00 WITA
Tempat: Gramedia Bali, Teuku Umar, Denpasar
Sosok tubuh, imaji, dan narasi dalam karya seni tidak pernah sepenuhnya bebas nilai. Kehadirannya dalam beragam medium—sastra, seni rupa, film serta pertunjukan—seringkali terbentuk dari cara pandang tentang bagaimana pengalaman diolah, realitas dimaknai, berikut dunia yang dibayangkannya. Terbukalah medan tafsir yang bebas, di mana keberadaan perempuan bukan semata sebagai latar tema, tetapi juga mewakili perspektif, gagasan, dan dinamika pengalaman personal sekaligus universal.
Dalam sastra Indonesia dan Bali modern, perspektif perempuan mengemuka melalui beragam suara dan pendekatan. Semisal novel Janda dari Jirah (Cok Sawitri), Tarian Bumi (Oka Rusmini), hingga karya-karya Nh. Dini dan Ni Made Purnamasari, memperlihatkan bagaimana pengalaman perempuan tentang tubuh, pilihan hidup, relasi sosial, hingga tekanan tradisi dituliskan dari sudut pandang autentik.
Dalam seni rupa, tubuh perempuan tidak lagi sekadar hadir sebagai objek visual, tetapi sebagai medium untuk menyampaikan pengalaman, ingatan, dan refleksi personal. Praktik artistik dari perempuan perupa seperti Arahmaiani, Melati Suryodarmo, IGAK Murniasih, Mangku Muriati, Nyoman Sani, hingga Citra Sasmita memperlihatkan bagaimana tubuh menjadi ruang ekspresi yang tidak selalu tunduk pada standar estetik yang mapan.
Sementara itu, dalam sinema Indonesia, perspektif perempuan semakin terasa melalui cara bercerita yang lebih intim dan berlapis. Film seperti Yuni dan Before, Now & Then (Nana) karya Kamila Andini, maupun Ca Bau Kan dan Berbagi Suami (Nia Dinata), Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (Mouly Surya), dan sejumlah film lainnya; memperlihatkan perempuan hadir sebagai subjek yang otonom dan merdeka.
Tiga narasumber—Nyoman Sani, Ayu Suciartini, dan Vanesa Martida—akan berbagi pengalaman dan perspektif kreatif dalam medium cipta masing-masing. Nyoman Sani, lewat karya-karyanya, mencoba melepaskan diri dari bayang-bayang stereotip yang menempatkan perempuan dalam batasan kodrat, posisi sebagai pihak kedua, maupun tuntutan citra keindahan tertentu. Ni Nyoman Ayu Suciartini, lewat karya seperti Racun Puan atau Tutur Tantri, menghadirkan suara perempuan yang tumbuh dari pengalaman keseharian, sekaligus merefleksikan perubahan cara pandang generasi hari ini. Demikian pula sineas muda Vanesa Martida, yang menghadirkan sudut pandang mendalam dan berakar pada pengalaman kultural Bali dalam film pendeknya berjudul Tantri (2023).
Diskusi kerja sama Bentara Budaya Bali dan Gramedia Bali Teuku Umar ini digelar bukan semata untuk memaknai Hari Kartini sebagai peringatan, tetapi ruang terbuka untuk membincangkan bagaimana perempuan hadir sebagai pencipta, pemakna, dan bagian penting dalam dinamika seni dan budaya, serta kehidupan hari ini.
Profil Narasumber & Moderator Diskusi
Ni Nyoman Sani, perupa lulusan S1 ISI Denpasar dan Magister Tata Kelola Seni di ISI Bali. Sejak akhir 1990-an, aktif berpameran tunggal di Bali, Jakarta, hingga Italia, serta berpartisipasi dalam berbagai pameran bersama di Indonesia dan mancanegara, termasuk Australia, Thailand, dan Taiwan. Terkini, karya Sani dihadirkan pada Indonesian Women Artist #4 (2026). Pengalaman residensi di Belanda, Italia, Australia, dan Devfto Print Institute memperkaya eksplorasi artistiknya. Karyanya dikoleksi museum internasional, termasuk Southeast Asia Dept Museum, Frankfurt, l Leiden Museum. Meraih penghargaan First Winner UOB Painting of the Year 2023. Sani telah menerbitkan buku The Painting of Ni Nyoman Sani (2005), dan Melodia Rasa (2024).
Ni Nyoman Ayu Suciartini, seorang dosen dan penulis asal Bali yang aktif mengembangkan literasi, sastra, dan pendidikan berbasis kearifan lokal. Karyanya meliputi novel, cerpen, dan sastra anak yang terbit secara nasional dan internasional. Ia meraih berbagai penghargaan, di antaranya Penulis Muda Kompas, Telkomsel Awards, Dewan Kesenian Jakarta, serta terlibat dalam forum internasional seperti Ubud Writers & Readers Festival. Pendiri Rumah Belajar Pustaka Biru ini menjadikan literasi sebagai ruang transformasi sosial dan budaya.
Vanesa Martida, S.Si., M.Sn menyelesaikan studi sarjana di Universitas Udayana dan magister Seni di ISI Bali (2023) dan kini mengajar di Program Studi Animasi Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Bali. Tahun 2012 hingga 2019 aktif di Bentara Budaya Bali. Karya seni medianya Jaje Sarad dipamerkan dalam Artidentity (2021). Aktif berkarya audio visual, ia menghasilkan sejumlah film pendek dan dokumenter, termasuk Andaka Janu (2019), Tantri (2023), Sahasra Warsa Seni Lukis Batuan (2023), Wingkang Ranu (2024), dan I Made Sija, Sang Guru Loka (2024), Legong Saba: Rekah Seni Lintas Generasi (2025).
Luh Yesi Candrika, lulusan Program Studi Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Menulis buku Komik Satua Tantri (2013), diterbitkan oleh Museum Gunarsa pada acara Balinese Language International. Meraih penghargaan karya sastra Bali klasik (kidung) terbaik berjudul ‘Amlad Prana’, dalam Sastra Saraswati Sewana (Yayasan Puri Kauhan Ubud, 2021); karya puisi terbaik antologi puisi “Campuhan Rasa”, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali (2022); penulis terpilih buku cerita anak dwibahasa (bahasa Bali dan bahasa Indonesia), tahun 2024, 2025, 2026 oleh Balai Bahasa Provinsi Bali. Aktif menulis esai pada platform digital seperti tatkala.co dan pranawa community. Kini sebagai Dosen Tetap, Program Studi Bahasa Bali, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia.