Pameran Tunggal “Berdua”
TRILOGI KENYAMANAN
Pembukaan pameran: Rabu, 12 Oktober 2022, pukul 19.30 WIB
Pameran berlangsung: 3-19 Oktober 2022, pukul 10.00-18.00 WIB
Rangkaian Acara Rabu, 12 Oktober 2022
Pukul 16.00 WIB:
Live Painting bersama Palakali Creative Art dan Inanike Agusta
Pukul 18.30 WIB:
Bincang Seni “Liyan & Ekosistem Kita” bersama Hilmi Faiq, Melanie Setiawan, Nawa Tunggal
Sahabat Bentara dapat mengunjungi pameran sesuai jadwal di atas. Registrasi kunjungan melalui link perdaftaran bertanda merah!
--
Dwi Putro Mulyono alias Pak Wi (59 tahun) adalah orang dengan gangguan kejiwaan (ODGJ), tepatnya skizofrenia residual (Residual Schizophrenia). Gejala medisnya dapat dikenali dari adanya gangguan pikiran, perilaku abnormal, dan antisosial. Masalah kejiwaan ini rata-rata membuat pengidapnya sulit membedakan antara kenyataan dan khayalan. Pameran seni rupa Trilogi Kenyamanan menawarkan praktik kerja kolaborasi kakak beradik. Dwi Putro sang kakak, memiliki karunia difabel gangguan mental disertai gangguan wicara dan pendengaran. Nawa Tunggal, sang adik, dengan tekun mengiringi kakaknya melukis. Kolaborasi yang unik. Kolaborasi Dwi Tunggal.
Proses kreatif Pak Wi dapat digolongkan sebagai "the outsider art" atau seni liyan karena dikerjakan oleh kalangan dari luar komunitas yang lazim menekuni seni--katakanlah mereka yang belajar seni secara akademik atau nyantrik dari seniman senior. Karya jenis ini kadang juga disebut "art brut" atau seni karya penyandang gangguan mental. "Art brut" berasal dari Bahasa Prancis, yang mengacu pada bentuk seni yang kasar ("rough art") dan mentah ("raw art").
Melalui pameran ini, Bentara Budaya berusaha merangkul semua kelompok masyarakat yang berproses kreatif dalam dunia seni. Seni itu bersifat universal sehingga tidak dibatasi hanya boleh digeluti orang atau komunitas tertentu saja. Seni merupakan ruang terbuka yang dapat dimasuki dan ditekuni siapa saja, termasuk orang-orang dengan masalah kejiwaan.
Baca juga : Menimbang "The Outsider Art"