Warta Bentara

1
1

Peristiwa Budaya

1
  • Wayang Nunggak Semi

    Nunggak semi kiranya adalah tema yang tepat untuk menggambarkan perjalanan seni Subandi Giyanto sampai pada pameran tunggalnya di Bentara BudayaYogyakarta bulan Mei ini. Dalam khazanah Jawa, nunggak semi adalah kebijakan untuk terus mengembangkan kebudayaan, tanpa menghilangkan akar dari kebudayaan itu sendiri. Tunggak adalah batang pohon yang telah ditebang. Meski sudah ditebang, tunggak itu terus bersemi tiada henti. Seharusnya kebudayaan juga demikian. Kebudayaan akan mati, jika tidak berkembang. Namun kebudayaan juga akan menghilang pula, bila tidak bisa dipulangkan kepada akar atau tunggaknya. Sambil berkembang, sekaligus menyandarkan dirinya pada tunggaknya, kebudayaan akan bersemi dengan indah.
    Kebudayaan yang baik, indah dan luhur pastilah kebudayaan yang nunggak semi. Nunggak semi macam itulah yang bukan hanya diugemi, diyakini, tapi juga dijalankan oleh Subandi. Subandi adalah seniman modern yang setia pada wayang. Sejak kecil, ia sudah bergulat dengan wayang. Semasa dewasa, ketika ia sudah mencecap pengetahuan seni modern, ia tetap mengembangkan seninya bersama dengan wayang. Dan wayang bukan hanya keseniaannya tapi juga menjadi wahana, di mana ia dan keluarganya menggantungkan hidup dan nafkahnya. Pada hidup dan seni Subandi, wayang itu terus menerus me-nunggaksemi....

  • Semarang dalam Karya Nh. Dini

    Sebagai bagian dari upaya mengenang sastrawan Nh. Dini yang berpulang pada 4 Desember 2018, Bentara Budaya menggelar serangkaian obituari di 4 kota, yakni diawali di Jakarta, Solo, Denpasar, dan ditutup di Semarang, kota kelahiran sang pengarang.

    Acara ini bukan hanya diniatkan demi mengingat sosok Nh. Dini melainkan juga untuk turut mendekatkan karya-karyanya terhadap khalayak luas, khususnya para pembaca muda. Sepanjang hidupnya, Nh. Dini telah menulis puluhan buku yang telah mewarnai perjalanan kesusastraan di Indonesia. Beberapa judul yang dikenal dan dipujikan antara lain Pada Sebuah Kapal (novel, terbit pertama kali 1972), La Barka (novel, terbit pertama kali 1975), Padang Ilalang di Belakang Rumah (novel, terbit pertama kali 1978), Keberangkatan (novel, terbit pertama kali 1987) dan sebagainya. Khusus untuk kegiatan di Semarang, topik diskusi yang diangkat adalah Semarang dalam Karya NH Dini....

  • Goyang Dombreng di Bentara Budaya Yogyakarta

    Pada masa lalu, jenis permainan ayunan, misalnya dari kayu, banyak diproduksi, meskipin sekarang tak lagi mudah ditemukan. Berangkat dari permainan yang bergerak tersebut, para perupa Yogya mengeksplorasi permainan ayunan itu dalam karya seni rupa, yang disebut sebagai seni rupa gerak....

  • Fakta dan Mitos Emiria Soenassa

    Emiria Soenassa tidak hanya meninggalkan lukisan, tetapi juga mitos tentang kehidupannya yang misterius. Kini 46 tahun sesudah kepergiannya, lukisan dan kisah hidup Emiria ditampilkan kembali dalam pameran bertajuk "Masa Lalu Selalu Aktual". Pameran yang berlangsung pada 22-30 Oktober di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) ini menampilkan 28 lukisan Emiria. Sebagian besar lukisan yang dibuat antara tahun 1940-an hingga 1950-an tersebut merupakan koleksi keluarga Waworuntu....

  • Emiria Soenassa, Pembuka Dunia Perupa Perempuan

    oleh R. Toto Sugiharto
    EMIRIA Soenassa adalah sebuah nama dari masa silam. Ia hidup pada 1891-1964. Ia menorehkan namanya pada 1940-an di sejumlah lukisannya hingga dikenal sebagai pelopor perupa perempuan Indonesia. Pada masanya, dia cukup dekat dengan sosok S. Soedjojono karena aktivitasnya di kelompok Persagi (Persatoean Achli Gambar). Nama itu bangkit kembali melalui lukisan-lukisannya yang disimpan dan dirawat dua kolektornya, dr Oei Hong Djien dan Iskandar. Dan, lebih-lebih selama sepekan (22-30 Oktober 2010) sejumlah 28 lukisan Emiria dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta....

  • Emiria Soenassa: An auspicious artist

    Oleh: Carla Bianpoen, Contributor, Jakarta
    Wanita Sulawesi, an oil on canvas by Emiria Soenassa, from the collection of Iskandar Waworuntu.: Courtesy of Bentara Budaya Jakarta Emerging as a liberated female artist from an era dominated by men seeking a national style but whose themes and imagination were limited to Java, Emiria Soenassa became the first and only artist who, in the quest for a new nation, had the imagination to depict a modern, united Indonesia in its multifaceted diversity....

  • Ade Tanesia Menulis: Kelola Ruang Seni di Tangan Perempuan

    Manajemen ruang seni merupakan persoalan yang tidak pernah selesai untuk dibicarakan. Yogyakarta yang menjadi kota seniman, merasa tidak pernah cukup dalam hal pemenuhan kebutuhan terhadap ruang seni. Jumlah seniman dengan ruang yang ada tidaklah sebanding. Beberapa memang telah bermunculan seperti Sangkring Art Space, Jogja Gallery, Langgeng. Namun, belajar dari beberapa ruang seni terdahulu, maka tata kelola ruang seni menjadi isu yang selalu menarik untuk dipelajari....

1