/ Home / Wacana /
Wacana

Jalan Kayu Barata Sena

diunduh dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, edisi Jumat, 20 Mei 2011, halaman Surakarta (10).

BUSANA hampir selalu bersentuhan dengan kain sebagai bahan baku, lengkap dengan desain hingga menawarkan keindahan. Orang pun menjadi semakin percaya diri berbuah kepuasan ketika mengenakan busana dengan pilihan bahan, warna dan desain yang dirasa pas dengan dirinya. Tetapi busana yang satu ini, sungguh berbeda, dan menawarkan pesona lain.

Adalah Barata Sena, melalui perenungan panjang mencuatkan daya kreeativitas hingga terlahir karya- karya busana berbahan baku kayu, seperti pakaian dalam wanita, kebaya, rompi, baju, tanktop, selendang, sepatu, dan sebagainya. Tentu saja, puluhan busana yang dipamerkan selama sepekan di Balai Soedjatmoko Solo, sejak Rabu malam, tak lebih sebagai pajangan penghias rumah.

Begitu detil pria jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) menggarap karya-karyanya, bukan saja busana kayu yang dihasilkan memerlukan teknik tinggi, tetapi juga kecermatan dalam garap ornamen hingga mirip bentuk aslinya dengan mengeksploitasi tekstur dan gestur kayu. Rasanya sulit membayangkan, bahan baku kayu berbentuk gelondongan dengan teknik tertentu dalam proses pengerjaan membuahkan karya hingga berketebalan antara 3 – 5 milimeter.

Setiap kayu menyimpan potensi luar biasa untuk dibangkitkan, ujar Barata Seno, baik pada warna, tekstur secara alarmi atau campur tangan orang lain yang kadang tak terduga. Pernah suatu saat, tumpukan karya yang sedianya dijadikan bahan baku membuat karya, diketahui dimakan rayap. Namun Barata tak buru-buru risau, justru sebaliknya rayap rayap itu dianggap ikut campur tangan membuat karya, sebab sisa kayu bekas dimakan rayap menghasilkan tekstur artistik.

Demikian halnya, Pernah dua gelondong kayu besar terbakar akibat ulah dua orang gelandangan membuat perapian untuk menghangatkan badan. Semula Barata sempat masygul melihat kenyataan itu, tetapi dengan perenungan justru melahirkan ide menciptakan teknik finishing karya untuk memanfaatkan sisa kayu yang terbakar.

Jadilah sisa kayu itu menjadi sebuah meja menyiratkan tekstur berupa riak-riak ritmik kehitaman sangat eksotik- Hampir tak terduga, meja tersebut laku dijual denganharga mencengangkan. Dengan rendah hati, Barata Sena menganggap dua gelandargan itu sebagai guru dan memberinya imbalan materi, sebab telah ikut campur tangan dalam berkarya.

Itulah sebabnya, Barata Seno tak pernah mau disebut dirinya sebagai seniman ataupun karya-karyanya digolongkan sebagai karya kriya atau seni murni. Dari sebuah kayu hingga menjadi sebuah karya telah melalui proses panjang dan campur tangan orang lain dan alam, mulai dari penanaman, pemeliharaan, penebangan, pengangkutan, dan sebagainya. "Saya hanya berperan sedikit saja dalam proses panjang itu," ujarnya. (Hari D Utomo)

 



Affiliasi:
Dewan Kesenian Jakarta Galeri Nasional KELOLA Indonesia Art News
Copyright © 2005 - 2008 Bentara Budaya. All rights Reserved.