Kata Pengantar
Tanpa terasa kita telah menginjak kali ketiga Trienal Seni Grafis Indonesia. Tidak banyak orang yang percaya bahwa hajatan seni grafis ini akan berlanjut di tengah kegamangan para perupa di dalam tarik menarik dengan pasar yang limbung belakangan ini. Terdengar berbagai suara yang ingin melihatnya sebagai momentum yang tepat untuk menata ulang berbagai pranata dunia seni rupa, termasuk dan terutama yang yang terkait dengan pasar karya seni. Mereka ingin memastikan bahwa berkah dari kelimpahan materi bisa berdampak positif pada penguatan infrastruktur yang bisa menopang kehidupan seni yang lebih sehat. Ada pula pendapat lain yang skeptik, yang bahkan bertaruh bahwa kelak sesudah keadaan ‘pulih’ –maksudnya serupa dengan keadaan sebelum pasar menyurut dan ditimpa oleh resesi ekonomi dunia— semua akan berjalan seperti biasa lagi.
Tanpa berniat untuk memberi kesan ‘heroik’, Trienal Seni Grafis Indonesia 2009 tetap kita selenggarakan justru karena di tengah kegalauan berbagai pihak sebuah upaya untuk menegakkan nilai tertentu semakin terasa penting. Nilai itu adalah kepercayaan pada pertumbuhan dan perkembangan sebuah kehidupan seni yang mesti ‘diperjuangkan’ betapa pun berat dan musjkilnya. Pada seni cetak grafis kita masih tetap melihat potensinya sebagai medium yang memperkaya ragam ekspresi seni rupa masa kini, yang pada saat bersamaan ia mensyaratkan teknik, prosedur kerja, dan disiplin tertentu.
Kita tetap mengharap terus bertumbuhan para seniman yang bekerja bebas dengan basis grafis, di samping mereka yang terus menerus menerobos batas-batas mediumnya sendiri. Forum pameran dan lomba ini pada hajatan pertama tahun 2003 mengumpulkan 126 peserta dengan 236 karya, dan pada yang kedua tahun 2006 diikuti 93 seniman dengan 164 karya. Secara jumlah terjadi penurunan, namun capaian mutu dan tekniknya meningkat. Kali ini tentu selain peningkatan mutu dan teknik, kita mengharap lebih banyak lagi seniman yang terangsang berkarya dan mengikuti kegiatan ini.
Selamat berkarya !
Efix Mulyadi
Panitia Trienal Seni Grafis Indonesia III 2009
Mengenai Seni Grafis, (Kembali ke) Sejarah serta Konvensi
Setelah penyelenggaraan Triennale Seni Grafis Indonesia I (2003) dan II (2006), satu hal yang mendesak untuk dimuncukan kembali sebagai wacana adalah bagaimana kita memahami konteks-konteks perkembangan di dalam perjalanan seni grafis Indonesia sepanjang sejarah?
Perkembangan mutakhir seni grafis, terutama sekali apabila ditinjau dari wilayah praktik, membuahkan sebuah pemahaman baru bahwa memang tengah terjadi perubahan di wilayah teknik cetak-mencetak. Hal ini dikaitkan dengan infiltrasi teknologi cetak. Komputer dan pelbagai tipe printer diandaikan telah menggantikan fungsi plat dan kerja manual. Sampai pada titik ini, cakupan teknik serta potensi hasil cetakan seni grafis menjadi demikian luas, kendati keseluruhannya masih bisa ditengarai sebagai karya-karya dua dimensional. Namun, di situ pula kemudian letak permasalahan, yang tak jarang membangkitkan polemik di tengah wacana seni grafis Indonesia.
Misalnya pertama, apakah teknik mutakhir itu masih bisa dikategorikan sebagai ‘seni grafis’ ? Kedua, kalau pun iya, apakah dengan begitu kita perlu memasukkan perangkat teknologi baru itu sebagai salah satu komponen yang sah dari empat konvensi seni grafis yang telah lama diakui umum?
***
Paska Triennale II (yang sekaligus berhasil mengapungkan persoalan itu ke permukaan), kita sesungguhnya belum menukik ke arah perdebatan yang komprehensif, yang kita harapkan bisa memberi pemahaman serta keyakinan bersama.
Pemahaman mengenai sejarah seni grafis tak kalah penting.
Dibandingkan dengan negara-negara Eropa serta sejumlah negara Asia seperti Jepang yang memiliki akar budaya kuat dalam urusan cetak-mencetak serta terus menerus menegaskan independensi sejarah seni grafis mereka dari idiom seni lainnya, nasib seni grafis dalam sejarah seni rupa modern kita masih terselip di dalam seni yang lain. Sejarah seni grafis kita, lebih tepat, disebut sebagai wacana sisipan (attachment discourses) dari sejarah seni lukis modern.
Dari situ kita temukan bahwa seni grafis semata lahir dari kebutuhan-kebutuhan propaganda gerakan politik seusai kemerdekaan Indonesia, khususnya pada dasawarsa 1940an sampai 1950an. Dalam hal ini, kita mengingat eksplorasi Affandi, Abdul Salam, Suromo, Baharuddin Marasutan, dan Mochtar Apin, dalam teknik cukilan kayu. Kendati demikian, pada masa itu, seni grafis belum lagi dipahami sebagai salah satu media seni yang otonom. Artinya, seni grafis masih dipandang sebagai ‘perluasan kerja artistik para pelukis’. Pekerjaan seni grafis ditujukan untuk memenuhi poster-poster perjuangan dan ilustrasi majalah, itupun sebatas cukilan kayu. Sementara teknik cetak lainnya seperti litografi serta intaglio masih dianggap asing dan belum dikenal luas. Hal ini juga dibuktikan dengan kecenderungan pangamat seni untuk melakukan penyebutan langsung pada salah satu teknik seni grafis, misalnya cukilan kayu atau etsa bagi seniman yang berkarya di wilayah itu.
Pada tahun 1950an di Indonesia cukilan kayu umumnya mengiringi teks-teks puisi, cerpen, atau prosa sastrawan. Buku Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi (Balai Pustaka Jakarta, 1959) mungkin contoh yang tepat untuk menunjukkan fenomena tersebut. Seperti halnya litografi yang pernah dikerjakan Manet untuk menghias sajak Edgar Allan Poe pada 1875, dalam buku Gema Tanah Air, pegrafis Mochtar Apin menyandingkan karya-karya cukilan kayunya melengkapi puisi atau sajak.
Lebih jauh ke belakang, di rentang tahun 1600-1920, kita telah mengenal seni grafis melalui buku-buku perjalanan bangsa asing di Indonesia. Misalnya, dalam versi buku asli Thomas S.Raffles, History of Java, rangkaian ilustrasi di dalam buku tersebut memanfaatkan teknik litografi. Catatan-catatan berupa gambar yang dikerjakan dengan teknik litografi seperti karya orang Belanda J.H. Hoffmeister, P.W.M. Trap, atau A. Saagmans Mulder, beberapa di antaranya kini tersimpan di Leiden, Belanda. Catatan itu tentunya bukan sekedar catatan harian seorang pembesar atau seniman. Catatan itu justru menunjukkan karakter seni grafis yang memiliki potensi, yang sejak abad-19, telah menjadi ‘media propaganda’ para orientalis di dalam mendistribusikan pengetahuan serta kuasa mereka atas kekayaan alam, khazanah etnik, antropologi manusia, sekaligus memberikan citraan eksotisme Timur ke Eropa. Fenomena ini hampir bersamaan dengan pertumbuhan seni grafis di Eropa. Seni grafis, dalam kasus ini diwakili teknik litografi, berperan tidak saja memberikan informasi tentang studi-studi awal keberadaan entitas Timur, namun memperkokoh kolonialisasi Barat terhadapnya.
Tidak seperti seni lukis, praktik seni grafis jarang memiliki tempat istimewa dalam perbincangan seni rupa modern kita. Jika kita periksa, tak ditemukan jawaban memuaskan dari para sejarawan seni, mengapa seni rupa modern kita seolah tidak melirik seni grafis sebagai praktik seni? Apakah tumpulnya perkembangan seni grafis semata-mata disebabkan kesulitan material? Jika memang demikian, mengingat masa revolusi kemerdekaan, tentu kita bisa segera memakluminya. Namun yang mencolok di situ adalah bagaimana kesadaran untuk menganalisa konteks lahirnya seni rupa modern tidak terjadi dengan baik. Pada tulisan-tulisan yang dikerjakan S. Sudjojono sejak akhir tahun 1940an, kita temukan bahwa problematika seni yang dibincangkan di sana hanyalah (melulu) seputar seni lukis. Kesenian atau seni akhirnya dipahami sebagai praktik melukis. Adapun jenis kesenian lain seperti seni grafis, keramik, craft, dsb. dipandang belum maju secara berarti dan di sisi lain belum cukup layak dibincangkan.
Kesadaran untuk tidak mengutamakan seni lukis ini - setidaknya dari dokumentasi yang saya temukan - baru muncul pada dasawarsa 1950an. Dalam artikel Kedudukan Seni Rupa Kita, suatu artikel yang dimuat dalam bundel Almanak Seni 1957 terbitan Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, kritikus seni Trisno Sumardjo menulis agar kretivitas serta perjuangan seni rupa tidak hanya terbatas pada kain kanvas. Kita, demikian harapan Trisno Sumardjo di sana, sebaiknya sanggup mengisi lapangan-lapangan baru (yang tidak semata lukisan kanvas itu) ke arah pembangunan seni rupa selanjutnya. Dia menyebutkan antara lain bahwa kita harus membangkitkan karya cukilan kayu, etsa, ex-libris, fresco, patung, relief, monumen, keramik, arsitektur, tata kota dsb.
***
Di Barat, sebelum era percetakan, seni grafis tidak masuk pertimbangan sebagai ‘seni’ atau bentuk dari karya seni. Saat itu seni grafis dianggap media komunikasi bagi penyebaran ajaran-ajaran agama, penyebaran informasi bagi gerakan sosial-masyarakat. Baru kemudian pada abad-18 hasil cetakan akibat proses teknik seni grafis mulai dipertimbangkan sebagai karya orisinil. Lalu pada sebelum abad-19 sejumlah seniman memproduksi cetakan yang cukup terbatas dan mereka menandatangani hasil cetakan serta informasi teknik yang penting untuk menjelaskan sifat otentik karyanya. tersebut seperti Edward Hopper dan Ben Shahn yang bereksprimen dengan variasi berbagai teknik.
Seperti halnya di negara-negara lain, di Indonesia, seni grafis mulanya dipandang sebagai salah satu media komunikasi berbentuk ilustrasi. Kemunculannya sering kita jumpai di dalam buku-buku, pamflet, atau poster, sebagai alat penyebaran maklumat yang bersifat persuasif serta propagandis. Sejarah kita mengenal bahwa puncak dari pemanfaatan seni grafis sebagai media propaganda itu dapat dicermati dalam proyek untuk menyambut kemerdekaan Agustus 1946 di mana Baharuddin Marasutan dan Mochar Apin meluncurkan paket hasil cukilan mereka. Oleh pihak Sekretariat Menteri Urusan Pemuda paket itu disebarkan ke sejumlah negara sebagai propaganda kemerdekaan Indonesia.
Baru ketika tahun 1948 setelah Mochtar Apin menerbitkan Pantjangan Pertama Pahatan Lino - sebuah paket cetakan lino yang berisi 12 judul karya – seni grafis mulai diajukan sebagai sebuah pengertian. Artinya, seni grafis mulai disahkan sebagai seni. Walaupun demikian, kerancuan memandang seni grafis tidak bisa dielakkan begitu saja. Sebab, sepanjang dekade itu, seni grafis masih dianggap sebagai salah satu cabang dari seni lukis.
Kesadaran baru timbul, justru ketika seni grafis mulai dipisahkan dari statusnya sebagai seni propaganda. Rivai Apin – saudara kandung Mochtar Apin - mencatat peristiwa itu ke dalam sebuah tulisan pendek: Suatu Cabang Lagi Dipenuhi (1948). Di sana Rivai Apin menyatakan bahwa usaha yang semacam ini bukan propaganda, tapi dia menyorongkan kenyataan. Seni grafis sebagai sebuah pengertian yang juga merefleksikan peneguhan terhadap individu pada detik itu dipisahkan dari pengertian sebelumnya yang cenderung ‘anonim’- sebagai konsekuensinya untuk dijadikan alat propaganda.
Tak banyak orang yang memiliki kesadaran semacam itu, tidak juga sejarah itu sendiri. Tak berlebihan apabila kemudian kita menghargai segelintir nama seperti Suromo yang berperan menyambung pengertian itu ke masa sesudahnya.
Pasang-surut perkembangan seni grafis pada beberapa dekade selanjutnya tak terlepas dari ruang dan kesempatan dan juga pada soal mempertahankan pengertian yang telah disepakati sebelumnya. Sudah banyak usaha yang dilakukan, baik pameran, seminar, dan tentu saja penyelenggaraan seni grafis di pendidikan tinggi seni rupa. Tetap saja, perkembangan seni grafis mengalami pasang-surut. Adakalanya pada dekade tertentu, seni grafis dianggap bukan seni. Hal ini terjadi karena pengertian yang sudah dibangun susah payah tidak disambut secara merata di medan sosial seni.
Di tengah pelbagai kemudahan aplikasi teknologi/media sekarang, Triennal Seni Grafis III kali ini sedikit banyak mengajak kita untuk merenungkan kembali melihat potensi konvensi, kekuataan-kekuataan teknik, gubahan, dan estetiknya. Kita pun berharap akan tercipta sebuah gelombang pemahaman bersama mengenai karakteristik seni grafis, mengenai peluang dan visi pengembangannya ke arah yang lebih baik.
Aminudin TH Siregar
Ketua Dewan Juri, Kurator, Dosen Seni Rupa
PANDUAN PESERTA
Peserta
Terbuka untuk umum. Setiap warga Negara Indonesia berhak mengikuti acra trienal ini sesuai dengan persyaratan dan criteria di bawah ini
Teknik dan Ukuran
- Karya seni grafis asli dan belum pernah dipamerkan dan/atau mengikuti acara sejenis/serupa, dibuat dalam kurun waktu 2008-2009.
- Dibuat dengan teknik cetak grafis umum: cukil kayu, etsa, litografi, dry point, cetak saring, akuatin atau berbagai kombinasi teknik cetak grafis tersebut. Dicetak di atas bidang datar: kertas, kanvas, kain.
- Tidak melampaui edisi cetak 100 edisi.
- Warna: bebas
- Ukuran bidang cetak: minimal ukuran A3 (297 x 420 mm) dan maksimal 120 x 240 cm.
- Berat keseluruhan tidak lebih dari 20 kg
- Presentasi karya: siap pajang dengan bingkai atau teknik laiinnya. Karya serial atau susunan khusus harus dilengkapi dengan petunjuk pemasangan/display
- Data karya dan seniman: nama seniman, judul, tahun, teknik dan ukuran karya, harus dicantumkan di sisi belakang setiap karya.
- Setiap peserta berhak mengirimkan karya sebanyak maksimal 3 (tiga) karya
Pengiriman Karya dan Batas Waktu Pengiriman.
- Setiap karya dikirimkan dalam bentuk foto minimal ukuran 10R, berwarna
- Setiap foto karya disertai lampiran data karya dan data diri perupa, pada formulir yang telah disediakan (lihat: Lembar Formulir Peserta, di bagian akhir buku panduan ini).
- Seluruh foto dan data karya dan perupa dikirimkan kepada:
Panitia Trienal Seni Grafis Indonesia III 2009
Bentara Budaya Jakarta
Jalan Palmerah Selatan 17, Jakarta 10270
T: 021 5483008 ext 7910-7911
- Foto dan data lengkap ini harus diterima panitia selambat-lambatnya (cap pos): 20 Agustus 2009.
- Foto karya dan data diri peserta tidak dikembalikan dan menjadi milik panitia.
Penjurian dan Dewan Juri
Aspek penilaian: Dewan Juri akan menitikbertakan penilaian pada persoalan pengolahan gagasan dan teknik penyajian searah dengan tema trienal yang diuraikan dalam esai di buku panduan ini.
Seleksi Tahap Pertama
Dewan Juri Tahap Pertama akan bersidang di Bentara Budaya Jakarta, selambat-lambatnya 27 Agustus 2009.
- Susunan Dewan Juri Tahap Pertama
Ketua
Aminudin TH Siregar (Dosen seni rupa ITB, kurator)
Anggota
Efix Mulyadi (Ketua Dewan Kurator Bentara Budaya)
Enin Supriyanto (kurator Bentara Budaya)
Hendro Wiyanto (kurator)
Irwan Julianto (wartawan dan kurator Bentara Budaya Jakarta)
Ipong Purnama Sidhi (kurator Bentara Budaya Jakarta)
Putu Fajar Arcana (wartawan dan kurator Bentara Budaya Jakarta)
G. Sindhunata, S.J. (kurator Bentara Budaya Yogyakarta)
Hermanu (kurator Bentara Budaya Yogyakarta)
Hari Budiono (kurator Bentara Budaya Yogyakarta)
Ardus M Sawega ( wartawan dan kurator Balai Soedjatmoko Solo)
- Penjurian Tahap Pertama akan memilih 50 Karya Finalis
- Hasil seleksi Dewan Juri akan disampaikan kepada setiap peserta melalui email, telepon, dan surat pos.
- Setiap finalis harus mengirimkan karya asli dalam keadaan siap pajang kepada panitia selambat-lambatnya 9 September 2009.
Seleksi Tahap Kedua
- Dewan Juri Tahap Kedua akan bersidang di tempat yang sama selambat-lambatnya 14 September 2009
- Penjurian Tahap Kedua akan memilih 3 (tiga) Karya Terbaik.
- www.bentarabudaya.com dan langsung ke setiap pemenang melalui email dan surat/pos, atau sarana komunikasi lainnya selambat-lambatnya awal Oktober 2009.Pengumuman pemenang akan disampaikan melalui media massa, website
- Keputusan Dewan Juri mengikat dan bersifat mutlak dan tidak dapat diganggugugat.
Susunan Dewan Juri Tahap Kedua
Ketua : Aminudin TH Siregar (Dosen seni rupa ITB, kurator)
Anggota : Efix Mulyadi (Ketua Dewan Kurator Bentara Budaya)
Enin Supriyanto (kurator Bentara Budaya)
Hendro Wiyanto (kurator)
Ipong Purnama Sidhi (kurator Bentara Budaya)
Penghargaan
Penghargaan akan diberikan kepada Tiga Karya Terbaik. Masing-masing memperoleh:
- Karya Terbaik Pertama: menerima Penghargaan Seni Grafis Indonesia III 2009, berupa sebuah tropi/piala, Sertifikat Penghargaan dan uang sejumlah Rp 20.000.000.00 (dua puluh juta rupiah) .
- Karya Terbaik Kedua: menerima Sertifikat Penghargaan dan uang sejumlah Rp 15.000.000.00 (lima belas juta rupiah).
- Karya Terbaik Ketiga: menerima Sertifikat Penghargaan dan uang sejumlah Rp 10.000.000.00 (sepuluh juta rupiah).
- Para Finalis: menerima sertifikat penghargaan.
Pajak ditanggung oleh pemenang
Lain-lain
- Setiap karya para pemenang karya terbaik pertama, kedua, dan ketiga menjadi koleksi Bentara Budaya.
- Pameran: seluruh karya terbaik dan karya finalis akan dipamerkan untuk umum di Bentara Budaya Jakarta 15 - 25 Oktober 2009 dan di Bentara Budaya Yogyakarta 13-22 November 2009. Pameran direncanakan mengunjungi beberapa kota lain di Indonesia, jadwal dan tempat akan diberitahukan di kemudian hari.
Hak Cipta dan Kepemilikan Karya
- Hak cipta seluruh karya finalis dan pemenang tetap berada pada perupa/pegrafis.
- Seluruh karya finalis tetap menjadi milik perupa/pegrafis.
- Seluruh karya terbaik menjadi milik panitia penyelenggara.
- Seluruh karya finalis dan karya terbaik akan dimuat dalam buku katalog pameran yang juga akan diperjualbelikan kepada umum. Seluruh hasil penjualan katalog pameran adalah hak panitia dan/atau pihak penerbit yang ditunjuk/bekerjasama dengan panitia.
SUSUNAN PANITIA
Penasehat : Jakob Oetama
Agung Adiprasetyo
August Parengkuan
Ketua Panitia : Efix Mulyadi
Sekretaris : Cicilia Natalinda
Koordinator Penjurian : Ipong Purnama Sidhi
Koordinator Pameran : Ipong Purnama Sidhi
Koordinator Penerbitan : Paulina Dinartisti
Administrasi & Data Karya : Rini Yulia Hastuti
Publikasi : Ika W Burhan
Alamat:
Panitia Trienal Seni Grafis Indonesia III 2009
Bentara Budaya Jakarta
Jalan Palmerah Selatan 17, Jakarta 10270
INDONESIA
T : (+62 21) 548 3008, 549 0666 ext 7910 dan 7911
F : (+62 21) 536 99 181
FORMULIR PESERTA
Harap diisi dengan lengkap dan dikirimkan ke Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta 10270, Indonesia, selambat-lambatnya tanggal
20 Agustus 2009, dan harap melampirkan:
- Foto karya, maksimal tiga karya dengan masing-masing ukuran minimal 10R
- Biodata perupa
- Foto diri perupa (berwarna), minimal ukuran postcard.
Nama Lengkap : …………………………………………………………….
Alamat Lengkap : …………………………………………………………….
……………………………………………………………..
Kota: ……………………………………………………..
Kodepos: ………………………………………………….
Telepon/Fax : …………………………………………………………….
No. HP : …………………………………………………………….
e-mail : …………………………………………………………….
Saya bersedia berpartisipasi dalam Trienal Seni Grafis Indonesia III 209- Penghargaan Seni Grafis Bentara Budaya, dan menyetujui peraturan yang berlaku dalam pameran tersebut seperti tertulis pada lembar Perjanjian Pameran.
Tandatangan : ……………………………………………..Tanggal: …………………..
Data Karya Perupa/Pegrafis:
1. Judul :
Tahun :
Teknik :
Ukuran :
Edisi :
2. Judul :
Tahun :
Teknik :
Ukuran :
Edisi :
3. Judul :
Tahun :
Teknik :
Ukuran :
Edisi :
Ganti halaman
PERJANJIAN PAMERAN
Karya Terbaik dan karya Finalis akan dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta 10270, pada tanggal 15-25 Oktober 2009 dan di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl Suroto No.2 Yogyakarta, pada tanggal 13-22 November 2009.Karya Terbaik dan karya Finalis akan dipamerkan keliling di beberapa tempat lain di Indonesia, jadwal dan tempat akan diinformasikan di kemudian hari.
Bentara Budaya akan menanggung:
- materi publikasi, undangan, poster dan catalog pameran
- acara pembukaan 13 Oktober 2009 dan biaya peresmian
- biaya pengembalian karya dari Jakarta ke tempat asal perupa.
Para perupa akan menyediakan:
- Karya siap pajang
- Kelengkapan karya ditempelkan di balik karya yaitu: nama, judul, tahun pembuatan, teknik/media, ukuran, edisi.
- Harga jual
- Apabila dalam pameran ada karya yang terjual, maka Bentara Budaya berhak mendapatkan 30% dari harga jual.
- Biaya pengiriman karya dari tempat asal perupa ke Jakarta dan dialamatkan kepada:
Panitia Trienal Seni Grafis Indonesia III 2009,
Bentara Budaya Jakarta
Jl. Palmerah Selatan 17 Jakarta 10270
T : 021- 548 3008 ext 7910-11
Kecuali akibat force majeur (seperti gempa bumi, perusakan massal, huru-hara, dan sebagainya) Bentara Budaya akan bertanggungjawab atas keamanan seluruh karya selama karya tersebut berada di gedung Bentara Budaya.
Perupa/pegrafis,
Nama jelas …………………………………………………….