/ Home / Wacana /
Wacana

 

Oleh Bandung Mawardi
 
Pertanyaan tentang nasib sastra Jawa lazim menemukan jawaban dilematis. Sastra Jawa modern memang kerap jadi pertanyaan karena ada jejak-jejak harapan dari masa lalu yang masih tersisa dan mimpi untuk nasib yang lebih baik. Sastra Jawa terus menjadi dilema dengan pelbagai fakta. Dilema itu justru membuat wacana sastra Jawa masih pantas untuk jadi faktor menentukan dalam proses transformasi kebudayaan Jawa.
 
Suwardi Endraswara dalam makalah Visi dan Misi Sastra Jawa sebagai Ruh Pembentukan Manusia Indonesia Baru yang Berbudi Pekerti Luhur (2001) mengungkapkan bahwa visi sastra Jawa diarahkan pada wawasan yang prospektif untuk membangun moralitas bangsa yang beradab dan berbudi pekerti luhur. Misi sastra Jawa adalah menawarkan alternatif perubahan tata laku untuk menciptakan Indonesia dengan lambaran kebudayaan. Suwardi Endraswara pun optimis bahwa nilai-nilai dalam sastra Jawa mampu mengubah perilaku bangsa. Optimisme itu patut diuji dengan nasib sastra Jawa yang terkesan masih terpinggirkan. Nasib itu mungkin dipengaruhi oleh cara pandang bahwa sastra Jawa mesti menggunakan bahasa Jawa. Cara pandang ini konservatif dan eksklusif.
 
Arus perubahan jaman tidak mungkin sekadar dihadapi dengan kekolotan atau kekakuan. Transformasi kebudayaan Jawa dalam jaman modern ini mengandung kemungkinan-kemungkinan untuk adaptif dan prospektif. Transformasi itu membuat sastra Jawa harus diartikan dalam pengertian luwes. Sastra Jawa tidak mutlak harus memakai bahasa Jawa. Pengertian ini mungkin mengundang gugatan atau protes. Kalangan sastra Jawa yang tekun menulis sastra dengan bahasa Jawa mungkin menolak dan merasa diciderai oleh pemahaman itu.
 
Sastra Jawa mutakhir dalam pemahaman kritis memang mulai akomodatif dengan pilihan bahasa dari pengarang. Sastra Jawa dengan bahasa Indonesia jadi kelumrahan jika orang menilai dengan sudut pandang kritis. Pengertian itu juga mungkin jadi dilematis jika dikaitklan dengan wacana sastra Indonesia. Sastra Jawa mutakhir dengan bahasa Indonesia memiliki contoh melimpah dan representatif.
 
Selama ini dalam wacana sastra Jawa kerap terjebak dalam nostalgia masa lalu dengan mengacu pada sastra Jawa lama. Pengaruh besar dari pandangan ini adalah terjadi ketimpangan untuk melakukan inovasi atau pembaharuan. Beberapa kajian tentang sastra Jawa justru kerap mengambil contoh dari sastra-sastra Jawa lama dengan anggapan sebagai puncak-puncak dari sastra Jawa. Hal itu membuat sastra Jawa mendapat pengesahan untuk mandeg atau berubah dengan lambat.
 
Penulis dalam tulisan ini ingin percaya atas nasib baik dan optimisme sastra Jawa mutakhir dengan bukti penerbitan pelbagai novel-novel penting dan memberi pengaruh besar dalam transformasi kebudayaan Jawa. Sastra Jawa mutakhir dalam tulisan ini dimaksudkan sebagai sastra dengan medium bahasa Indonesia tapi secara substansi adalah “sastra Jawa.” Novel-novel dengan substansi “sastra Jawa” antara lain: Canting anggitan Arswendo Atmowiloto, Para Priyayi anggitan Umar Kayam, Pasar anggitan Kuntowijoyo, Pengakuan Pariyem anggitan Linus Suryadi AG, Roro Mendut anggitan Y.B. Mangunwijaya, dan lain-lain. Novel-novel itu memang memakai bahasa Indonesia dan ungkapan-ungkapan dari bahasa Jawa tapi berhak menyandang titel sebagai “sastra Jawa”.
 
Novel-novel itu mengisahkan pelbagai hal tentang Jawa. pengarang-pengarang novel itu adalah orang Jawa yang memiliki jagat pikir, jagat batin, dan jagat imajinasi dalam latar kebudayaan Jawa. Mereka mengungkapkan Jawa melalui novel dengan kekhasan dan kekuatan atas nama transformasi kebudayaan Jawa. Novel-novel itu menunjukkan kepekaan atas perubahan jaman dan merepresentasikan Jawa yang luwes dan inklusif.
 
Kuntowijoyo dalam novel Pasar dengan lugas mengungkapkan bahwa pengetahuan sastra dalam masyarakat Jawa sebenarnya menjadi ciri untuk para pejabat, intelektual, dan tokoh masyarakat. Hal itu secara drastis mulai jadi kenangan karena banyak orang meninggalkan pengetahuan sastra dan menekuni pengetahuan-pengetahuan praktis dan pragmatis demi kekuasaan, uang, harga diri, atau status sosial. Novel Pasar sengaja ingin mengisahkan proses pewarisan nilai-nilai kebudayaan Jawa dalam benturan masyarakat tradisional dan masyarakat modern.
 
Linus Suryadi AG melalui novel liris Pengakuan Pariyem secara gamblang ingin menunjukkan bahwa posisi perempuan dalam masyarakat Jawa masih tergantung dengan tatanan patriarkhi. Novel Pengakuan Pariyem juga mengungkapkan sisi-sisi kehidupan orang Jawa dalam anutan nilai-nilai yang terkadang salah dipahami dan diamalkan. Nilai dari ungkapan nrimo ing pandum selama ini masih kerap dipahami secara pasif. Ungkapan itu dalam makna utuh justru mengandung penerimaan yang menuntut orang untuk sadar dengan ikhtiar dan optimis.
 
Persoalan pandangan tradisional dan modern dikisahkan dengan apik oleh Arswendo Atmowiloto dalam novel Canting. Novel ini mengungkapkan kehidupan keluarga Jawa yang mengalami banyak konflik dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai Jawa mulai dari etika sampai pada ekonomi. Transformasi kebudayaan Jawa tergambarkan dengan luwes dan kritis. Novel Canting memang memakai bahasa Indonesia tapi memiliki ruh sebagai “sastra Jawa.”
 
Novel Para Priyayi dari Umar Kayam pun dengan unik mengisahkan kehidupan kaum priyayi dengan pelbagai tata nilai kehidupan. Priyayi menjadi pusat kisah dengan mengambil sisi-sisi kultural dan historis. Umar Kayam dengan luwes mengungkap dunia priyayi tanpa tedeng aling-aling untuk sisi terang dan sisi gelap. Novel Para Priyayi menjadi bukti kuat mengenai optimisme nasib “sastra Jawa” yang memakai medium bahasa Jawa.
 
Novel-novel dengan pelbagai persoalan tentang Jawa itu memang representatif sebagai gambaran tentang proses pertumbuhan “sastra Jawa” dalam pengertian luwes. Orang berhak untuk tidak terima dengan pengertian atau kriteria yang diajukan penulis tentang sastra Jawa dan muatan-muatan dalam novel-novel mutakhir untuk menggambarkan tentang Jawa. Novel-novel itu jelas mengandung semangat dinamis dalam menggairahkan pertumbuhan “sastra Jawa” tanpa harus terjebak dengan kemutlakan memakai bahasa Jawa. Begitu.
  
Dimuat di “Jagad Jawa” Solopos (5 Maret 2oo9)


Affiliasi:
Dewan Kesenian Jakarta Galeri Nasional KELOLA Indonesia Art News
Copyright © 2005 - 2008 Bentara Budaya. All rights Reserved.