/ Home / Wacana /
Wacana

Mengawal diselenggarakannya diskusi “Sastra dan Pemberadaban” bersama harian Kompas dan Bentara Budaya Jakarta, Bale Sastra Kecapi mengadakan sebuah riset terhadap pembaca sastra di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sebagaimana latar belakang yang menjadi titik berangkat diskusi ini, riset “Sastra dan Pemberadaban” berusaha mengumpulkan pandangan para pembaca sastra tentang peran sastra dalam proses pemberadaban.

Survey ini diselenggarakan pada tanggal 10-18 Februari 2009, dengan populasi responden para pembaca sastra yang sedang beraktifitas di pusat-pusat kegiatan kebudayaan seputar Jabodetabek. Survey ini mengambil responden secara proporsional di lima wilayah yang berbeda, Jakarta Selatan beserta Depok 30 responden, Jakarta Barat beserta Tangerang 15 responden, Jakarta Timur beserta Bekasi 10 responden, Jakarta Pusat 30 responden, dan Jakarta Utara 15 responden, dengan jumlah total 100 responden. Kemudian 64 persen responden adalah pria, dan 36 persen adalah wanita. Dengan tingkat kepercayaan 95 persen, survey ini memiliki tingkat sampling error sebesar 5,9 persen.

Dalam hal frekuensi membaca karya sastra, sebesar 2 persen responden mengaku setiap hari membaca karya sastra, 30 persen sekurangnya seminggu sekali membaca karya sastra, 15 persen sekurangnya dua minggu sekali, 4 persen sekurangnya tiga minggu sekali, dan 49 persen sekurangnya sebulan sekali. Soal bentuk karya sastra yang paling sering dibaca, 60 persen responden menjawab novel, 30 persen menyebut cerita pendek, dan 10 persen menyebut puisi. Kemudian, dalam hal peran karya sastra bagi mereka, 38 persen responden menjawab karya sastra berperan sebagai sumber inspirasi, 27 persen menjawab sebagai sumber inspirasi, 22 persen menjawab sebagai pengetahuan, dan 13 persen menjawab sebagai hiburan.

Ketika ditanyakan, medium apakah yang menurut Anda paling kuat dalam mempengaruhi adab Anda, 54 persen responden menjawab agama, 11 persen menjawab pendidikan formal, 10 persen menjawab sastra, 8 persen menyebutkan adat, 8 persen menyebutkan media massa, 4 persen mengatakan dinamika politik dan ekonomi, 4 persen mengatakan peer group, dan 1 persen menjawab internet.

Ketika ditanyakan, menurut Anda apakah peran sastra dalam proses pemberadaban, 63 persen responden menjawab untuk menanamkan nilai-nilai moral, 23 persen menjawab untuk menumbuhkan empati terhadap yang lain, 9 persen menjawab untuk menggugat kesewenang-wenangan, 5 persen menjawab mengoreksi pelanggaran etis. Kemudian dalam hal persoalan keadaban apakah yang penting untuk disoal melalui karya sastra, 56 persen responden menjawab diskriminasi, 18 persen menjawab persoalan itu adalah kekerasan, 18 persen menjawab korupsi, 8 persen menjawab dekadensi nilai yang diwariskan.

Ketika ditanyakan, aspek apakah yang menurut Anda menunjang sebuah karya sastra dalam melakukan proses pemberadaban, 57 persen responden menjawab nilai-nilai yang disampaikannya, 19 persen menjawab teknik penyampaian ceritanya, 18 persen menjawab isi ceritanya, 5 persen menjawab temanya, dan 1 persen menjawab orisinalitasnya. Ketika ditanyakan, bentuk karya sastra macam apa yang menurut Anda paling baik dalam melakukan proses pemberadaban, 54 persen responden menjawab novel, 28 persen menjawab cerita pendek, 15 persen menjawab puisi, 3 persen menjawab esai.

Ketika diminta untuk memilih pengarang lokal manakah yang Anda anggap paling berhasil melakukan proses pemberadaban melalui karya-karyanya, 41 persen responden memilih Chairil, 17 persen memilih Sutan Takdir Alisjahbana, 10 persen memilih Taufik Ismail, 6 persen memilih Romo Mangun Wijaya, 4 persen memilih Kuntowijoyo,  1 persen memilih Ronggowarsito, 3 persen menjawab tidak tahu, dan 18 persen memilih lain-lain (silahkan isi nama di luar yang tersedia dari pilihan jawaban). Dari mereka yang memilih lain-lain, 3 persen responden menuliskan nama Pramoedya Ananta Toer, 5 persen menulis Habiburahman El-Shirazi, 2 persen menulis Andrea Hirata, 2 persen menulis Ahmad Tohari, 1 persen menulis WS Rendra, 1 persen menulis Hamka, 1 persen menulis Goenawan Mohamad, dan 1 persen menulis Asrul Sani.

Ketika diminta untuk memilih pengarang luar negeri manakah yang Anda anggap paling berhasil melakukan proses pemberadaban melalui karya-karyanya, 32 persen responden memilih Shakespeare, 17 persen memilih Leo Tolstoy, 17 persen memilih Ernest Hemmingway, 14 persen memilih J.K. Rowling, 5 persen memilih Paulo Coelho, 4 persen memilih Orhan Pamuk, 7 persen menjawab tidak tahu dan 4 persen memilih lain-lain (silahkan isi nama pengarang di luar yang tersedia dari pilihan jawaban). Dari mereka yang memilih lain-lain, 1 persen menulis Naguib Mahfouz, 1 persen menulis Erich Fromm, 1 persen menulis Charles Dickens, dan 1 persen menulis Ann Brooks.

Kemudian, ketika ditanyakan apakah karya-karya sastra negeri kita akhir-akhir ini telah melakukan perannya dalam proses pemberadaban masyarakat, 54 persen responden menjawab belum, 31 persen menjawab sudah, dan 15 persen menjawab tidak tahu. Beranjak ke pertanyaan, apakah karya-karya sastra kita akhir-akhir ini telah menyuarakan aspirasi masyarakat pada umumnya, 49 persen menjawab belum, 35 persen menjawab sudah, 16 persen menjawab tidak tahu.

Ketika ditanyakan, apakah Anda saat ini merasa “lebih beradab” (berdasarkan jawaban responden tersebut terhadap pertanyaan: peran sastra dalam proses pemberadaban) dengan membaca karya-karya sastra, 64 persen responden menjawab ya, 19 persen menjawab tidak tahu, dan 17 persen menjawab tidak. Dan untuk pertanyaan, apakah para elite butuh membaca karya-karya sastra untuk membuat mereka “lebih beradab” (berdasarkan jawaban responden), 56 persen responden menjawab sangat perlu, 37 persen menjawab perlu, 4 persen menjawab tidak perlu, dan 3 persen menjawab tidak tahu.

Pemaparan tersebut merupakan hasil dari riset “Sastra dan Pemberadaban” terhadap pembaca sastra di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Meninjau berbagai keterbatasannya, survey ini tidak untuk mencerminkan pandangan dari seluruh pembaca sastra kita, namun berharap dapat memberikan sebuah gambaran terbatas tentang kondisi pembaca sastra yang terlibat dalam riset ini.



Affiliasi:
Dewan Kesenian Jakarta Galeri Nasional KELOLA Indonesia Art News
Copyright © 2005 - 2008 Bentara Budaya. All rights Reserved.