/ Home / Wacana /
Wacana

Putu Wijaya

Sastra bukan hanya tulisan (teks), tetapi semua ekspressi dengan bahasa sebagai basisnya. Jadi di dalam sastra terangkum yang tidak tertulis (sastra lisan) yang memiliki bobot ekspresi lewat bahasa.

Susastra adalah sastra yang memiliki kelebihan gengsi karena muatannya mengandung kegunaan untuk meningkatkan peradaban manusia. Meskipun hiburan atau kelangenan adalah bagian dari potensi sastra, tetapi sasaran sastra yang utama adalah peningkatan buah-budi kemanusiaan.

Dalam  kesusastraan dunia, karya-karya sastra monumental secara legendaris memberikan pengaruh dan tuntunan kepada peradaban. Bahkan boleh dibilang dunia berubah oleh sastra. Moral dan citra manusia terarah oleh sastra.

Banyak bukti bahwa sastra bahkan mendahului pencapaian ilmu pengetahuan, untuk membuka adab manusia ke depan. Bila sejarah secara rinci adalah saksi peradaban manusia ke belakang, ilmu pengetahuan potret manusia masa kini, sastra adalah ekesistensi manusia dalam seluruh demensinya.

Ketika seorang pengarang mulai menulis kesadaran bahwa dia akan menyentuh adab dunia mungkin belum penuh bahkan bisa tak ada. Seorang pengarang bukan seorang ilmuwan yang menulis. Sastra bukan risalah ilmiah walau pun memiliki kandungan pengetahuan. Sastra  lebih banyak didorong oleh kebangkitan estetika secara personal di dalam diri seorang pengarang untuk mempergunakan bahasa sebagai senjata menumpahkan lintasan perasaan dan pikirannya.

Belakangan mungkin saja ekspressi artistik yang personal dari seorang pengarang akan dirumuskan oleh para kritisi. Di situ kemudian seorang pengarang akan dinobatkan atau disulap menjadi seorang pemikir, pengamat dan pemikul beban dunia untuk memasuki masa (adab) yang lebih baik.

Umumnya seorang menjadi penulis karena dia merasa nyaman dengan “mengarang”.. Dia memandang, mendengar, menyaksikan segala sesuatu dengan naluri yang berbeda dari kebanyakan orang lain. Perbedaan itu menyebabkan dia ingin berbagi lalu mengekspresikannya dengan bahasa. Mula-mula ia hanya ingin menunjukkan kesaksiannya. Ketika dia menjadi fasih, semakin akrab dengan alat ekspresinya itu, apalagi kemudian dipacu oleh adanya pengakuan, akan muncul keyakinan. Di situ dia akan mulai berjuang.

Mengarang adalah memperjuangkan keyakinan. Baik prosa mau pun puisi sadar atau tidak adalah sebuah tesis. “Hidup hanya menunda kekalahan”, tulis Chairil Anwar; “Bersiap kecewa bersedih tanpa kata-kata”, kata Goenawan; “Malam Lebaran, Bulan di atas kuburan”, tulis Sitor Situmorang. Sebuah karya sastra tidak selesai setelah dibuat. Tidak menjadi sampah setelah dibaca. Ekspresi lewat bahasa itu tumbuh dan hidup dari pembaca yang satu ke pembaca yang lain. Lewat berbagai tafsir kaya itu menyerakkan berbagai makna yang kemudian teraplikasi dalam percakapan dan tindakan nyata.

Pada tahun 1961, penyair Kirdjomuljo berkata pada saya yang saat itu masih seorang pelajar SMA di Singaraja, Bali, bahwa mengarang itu berjuang. Tidak mudah untuk menerima pernyataan itu, karena dalam imajinasi saya perjuangan hanya terjadi dalam perebutan kemerdekaan di masa revolusi. Kecuali kalau itu dimaknakan sebagai ethos kerja.

Seorang penulis berjuang untuk mencari ide yang akan dia tulis sebagai kebalikan dari menunggu ilham. Kemudian berjuang untuk mewujudkannya sebagai tulisan sebagai tanda bahwa mengarang itu kerja, bukan kesenangan. Setelah itu pengarang masih berjuang lagi agar karyanya sampai pada pembaca, sebagai tanda bahwa karya itu terkait dengan orang lain di luar diri penulis.

Kini setelah hampir 50 tahun berlalu, Kirdjomuljo sudah almarhum, pernyataannya itu seperti tumbuh di kepala saya. Perjuangan sebelum menjadi sebuah karya adalah urusan pribadi seorang penulis. Setiap penulis memiliki riwayat dan resep yang berbeda-beda. Perjuangan paska karya adalah perjuangan yang sesungguhnya. Di situlah sebuah karya diuji, apakah ekspresi personal itu memang punya kaitan dengan orang lain (baca masyarakat). Berapa jauh, seberapa dalam dan kental keterkaitan itu.

Sebuah karya yang hubungannya hanya sesaat dengan massa dan orang lain, mungkin akan menjadi karya popular. Digandrungi tetapi dalam waktu yang terbatas.. Karya yang lain, yang menyangkut hal-hal yang lebih umum dan fundamental kemanusiaan misalnya, akan awet. Meskipun ada kemungkinan karya awet  kurang popular, karena membahas masa yang belum ada dan membicarakan yang tidak kasat mata bagi setiap orang, tapi keawetannya akan menyebabkan dia menjadi panutan. Di situ sastra punya kesempatan mengompori adhab.

Yang jelas, baik karya popular maupun karya yang awet, keduanya akan memiliki pengaruh kepada kehidupan dan manusia pembacanya. Apalagi kalau kehadiran itu disertai iklim yang membuat masyarakat percaya bahwa karya “sastra” bukan hanya hiburan tetapi juga pengetahuan . Sastra adalah ilmu yang disampaikan dengan cara bertutur, seperti nenek-nenek menitipkan kearifan lokal kepada cucu-cucunya lewat dongeng.

Iklim itu terbangun kalau ada kesemarakan penerbitan untuk membuat teks sastra mudah diperoleh. Kemudian adanya telaah-telaah dari para kritisi yang menjembatani pembaca dengan penghetahuan yang terselubung dalam bingkai tutur artistik itu.. Komunikasi sastra dengan masyarakat yang lancar akan menyebabkan terjadi percakapan yang mutualistis. Apalagi kalau kebebasan berekspresi tidak terpasung oleh berbagai kekangan penguasa yang mengharamkan perbedaan pendapat.. Di situ sastra akan hidup, inspiratif, berkat nyawa yang ditiupkan oleh apreasisi penikmatnya.

Kebangkitan sastra dengan demikian pada hakekatnya adalah kebangkitan masyarakatnya. Sastra yang unggul pun akan bisa jadi bisu, bila masyarakatnya dalam tanda kutip buta huruf. Sementara masyarakat yang tinggi apreasinya akan mengumpan sastra menjadi bergelora menyumbang  perkembangan adab manusia.

Di Indonesia kini, situasi penerbitan semarak. Berbeda dari masa Balai Pustaka, berbagai penerbitan menjamur tidak hanya di Jakarta juga daerah. Karya sastra tidak punya hambatan untuk terbit. Bahkan yang belum layak terbit pun bisa menyalak karena dibiayai sendiri oleh pengarangnya. Beberapa buku sastra dalam waktu pendek dicetak ulang berkali-kali.

Banyak keluhan bahwa sastra sudah ditinggalkan dalam kurikulum sekolah, tapi masih punya tempat di media massa meskipun cenderung berebut dengan berita-berita politik dan ekonomi yang lebih membius pembaca. Sastra masih dibaca, tetapi dalam jarak yang sedemikian rupa, sehingga ia tersisih dari kehidupan nyata. Sastra seperti benda asing yang melayang di awang-awang. Tidak ada perasaan tertinggal pada masyharakat, kalau tidak membaca sebuah karya baru. Berbeda dengan film dan musik yang sudah mulai merupakan kebutuhan masyarakat.

Kritik sastra yang sebenarnya bisa berperan untuk menempatkan sastra pada proporsinya yang layak, kurang semarak. Setelah kepergian HB Jassin, tidak ada lagi kritik berwibawa yang bisa dijadikan pegangan. Memang ada penulis kelas satu yang menulis satu dua kritik yang hebat, tetapi itu hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Tidak ada kritikus yang berupaya untuk jadi juru kunci, memberdayakan “sastra” Indonesia. Akibatnya ada kesan sastra hanya layangan yang tak menyentuh tanah. Bahkan dituduh meracuni pikiran waras alias anti adab.

Apakah usaha pemberadaban yang tidak keluar dari kubu sastra Indonesia itu, karena iklimnya tidak memenuhi syarat dan kealpaan/absennya  kritik? Atau pencapaian sastra Indonesia memang kalibernya di bawah persoalan-persoalan kehidupan yang dihadapi oleh bangsa yang sudah lebih dari setengah abad merdeka ini? Kalau dalam kandang sendiri saja sudah begitu, bagaimana minusnya kalau dipajang di tengah dunia pada peradaban manusia sejagat?

Tanpa mengurangi rasa hormat pada semua penulis, pencapaian, jasa-jasa dan pikiran-pikiran mereka, saya merasa bahwa kita di Indonesia, masih belum benar-benar sepenuhnya menyerahkan jiwa-raga pada sastra. Akibatnya sastra Indonesia sampai sekarang masih dalam posisi baru ingin memasuki  ikut andil dalam proses pemberadaban.

Hasilnya ada, tetapi jalan masih panjang. Sebuah hadiah Nobel yang dijatuhkan ke Indonesia pun, rasanya tidak akan segera membalikkan kita dari keadaan bahwa sastra Indonesia belum berdaya, untuk tidak mengatakan “masih remaja” untuk ikut membangun peradaban.

Ambil beberapa sastrawan yang sudah mendahului: Nur Sutan Iskandar, Hamka, Abdul Moeis, STA, Amir Hamzah, Armijn Pane, Chairil Anwar, Asrul Sani, Pramudya Ananta Toer, Muhtar Lubis, Utuy Tatang Sontani, Arifin C Noer, Subagio Sastrowardoyo,  Mangunwijaya, Umar Khayam, Linus Suryadi. Tambah dengan sastrawan yang sedang berkibar sekarang: Sutardji C Bachri, WS Rendra, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono,  Budhidarma, Danarto, Seno Gumira Ajidarmo, Taufiq Ismail, Ayu Utami, Sitor Situmorang, Achdiat K. Miharja, Ahmad Tohari. Apakah karya-karya mereka sudah menyumbang pengembangan pemberadaban di Indonesia?

Jawabnya pasti. Ya.

Para satrawan di atas sudah memberikan sumbangan yang nyata pada pemberadaban di Indonesia. Tapi segelintir nama itu saja, masih belum dapat mengangkat bahwa “sastra Idonesia” sudah memberikan sumbangan pemberadaban. Sebab kalau betul  sudah, sastra Indonesia tidak akan terpuruk hanya sebagai pengemis dalam pembangunan, seperti adanya kini.

Sastra Indonesia umumnya masih dikatagorikan sebagai hanya kelangenan. Tidak digubris apalagi dianggap sebagai ilmu oleh para pemimpin dan intelektual. Jadi kalau mereka buta sastra itu sah. Sastra Indonesia tanpa pembelaan ketika terdepak dari kurikulum. Ditolak oleh beberapa sekolah ketika ada kesempatan bertemu dengan para sastrawan, karena jam untuk kelas matematika masih kurang atau ada tamu yang lebih penting akan datang (maksudnya bintang film).

Kesimpulan saya: pemberadaban dengan sangat potensial bisa disumbangkan oleh agama, pendidikan, ilmu pengetahuan dan sesungguhnya sastra. Kita tidak akan membuka polemik dengan mengatakan bahwa keempatnya sudah gagal. Lebih baik dikatakan belum terjadi sebagaimana seharusnya. Saat ini, sesudah reformasi, kita merasakan pemberadaban tak berjalan. Berbagai kejadian yang mengejutkan terus mengucur setiap hari menyebabkan kita malah cenderung mengatakan yang ada sekarang adalah pemunduran peradaban.

Tak semua sastrawan bersalah atas kenyataan bahwa  pemberadaban oleh sastra tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tetapi akibatnya diderita oleh semua. Kita tidak harus menambah masalah dengan main tunjuk dan mencari kambing hitam. Yang jelas mesin peradaban yang bernama sastra Indonesia ini masih tenggelam dalam kesia-siaan.

Jakarta, 22 Pebruari 09.



Affiliasi:
Dewan Kesenian Jakarta Galeri Nasional KELOLA Indonesia Art News
Copyright © 2005 - 2008 Bentara Budaya. All rights Reserved.