Rumah Kudus

Rumah adat berukiran indah ini semula terletak di lingkungan kauman tidak jauh dari Menara Kudus. Tepatnya di Jalan Menara, sekitar 50 meter dari Mesjid Kudus. Rumah ini terlindung di balik tembok tinggi bagaikan benteng seperti lazimnya rumah kaum yang ada di sana.

Rumah ini diperkirakan dibangun oleh Haji Ridwan Noor, sang pemilik, dibangun pada permulaan abad ke-20 dan didiami selama tiga generasi oleh segenap ahli waris keluarga. Konon dalam membangun rumah ini para pengukirnya memerlukan waktu lima tahun untuk menyelesaikan seluruh ukiran yang memenuhi dinding serta tiang rumah. Tidak mengherankan apabila oleh masyarakat setempat rumah tersebut dianggap sebagai contoh terbaik di antara rumah adat yang ada di Kudus Kulon, di samping rumah adat milik Saleh Syakur, seorang tokoh masyarakat setempat.

Semula, bagian dalam rumah ini, di mana terdapat bagian yang disebut Gedongan, berlantai papan kayu dan berupa rumah panggung. Bagian Jogo Satru dan kedua Pawon berlantai ubin. Tentu saja yang menjadi masalah utama rumah ini adalah pemeliharaannya. Untuk membersihkannya saja, selain biaya yang tidak sedikit juga memerlukan tenaga ahli khusus dengan ramuan khusus pula; yakni adonan batang pisang kering dan air tembakau yang konon sangat ampuh melawan rayap dan bubuk kayu.

Perihal pemeliharaan serta kekhawatiran akan kelestarian benda pusaka yang semakin dimakan usia itulah yang menjadikan 46 keluarga pewaris yang diketuai oleh Furqon Noor, rela menghibahkannya kepada Kompas untuk memugarnya. Memang selama ini rumah adat inilah yang nampaknya menjadi ikatan keluarga lewat berbagai upacara adat, seperti pernikahan, khitanan, dan sebagainya yang selalu diselenggarakan di rumah ini.

ATAP

Atap agak mengerucut, dinding hampir ditembusi aneka rona ukiran, lantai rumah berundak-undak yang merupakan ciri-ciri fisik bangunan ini, membuatnya kelihatan memang lain dari biasa. Pertanda ini tampak menonjol di Kudus, Jawa Tengah. Di satuan pemukiman penduduk di sana tampak sekali sejumlah bangunan khas ini. Rumah adat, kata orang setempat. Rumah Kudus, kata orang banyak.

Oleh beberapa ahli, arsitektur bangunan hunian ini dinilai sebagai gabungan arsitektur Cina, kolonial, Cina bergaya Eropa dan arsitektur pedagang pribumi kaya bergaya Eropa. Alhasil, wujud bangunan ini menjadi khas sekali. Bisa disimpulkan sementara, arsitektur tradisional Kudus ini nyaris mengungkapkan kesempurnaan hasil proses percampuran kebudayaan.

Tengoklah sebentar tabir sejarah kota Kudus, nama yang berasal dari kata Al-Quds, yaitu baitul mukadis, suatu tempat suci. Nama ini pemberian Sunan Kudus.

Ja’far Shadiq atau Sunan Kudus, salah satu dari Sembilan Wali (Wali Songo), pemimpin agama Islam yang sangat berpengaruh, membangun kekuasaan berdasarkan wibawa rohani. Pemimpin rohani yang terlibat melawan kerajaan Majapahit tahun 1527 ini, kemudian hijrah dari Demak dan mendirikan kekuasaan serta pengaruhnya di Tajug, yang kemudian bernama Kudus.

Kudus sebagai kota di tengah kebudayaan pesisir utara Jawa (pesisir kulon: Cirebon, Tegal dan Pekalongan; pesisir wetan berpusat di Gresik), menjadi pusat daerah perkembangan Islam puritan. Di sana menurut beberapa peneliti, Islam berkembang dan hampir tidak dipengaruhi percampuran agama Budha, Hindu, dan kepercayaan setempat.

Kota ini terus berkembang, bahkan sejak abad 17 para pendatang sudah mengagumi keindahan mesjid besar Al-Aqsa atau Al-Manar dengan menara batu kuno berarsitektur candi pra-Islam. Kudus pun terkenal sebagai kota Islam. Kota ini kemudian terpilah menjadi Kudus Kulon dan Kudus Wetan, dengan pengelompokan desa-desanya berdasarkan etnis maupun profesi.

Salah satu kelompok masyarakat Kudus terkemuka, yakni kaum bangsawan keturunan Sunan Kudus kemudian berkembang dan berciri sendiri, berbeda dengan priyayi Jawa pada umumnya. Kelompok ini umumnya tidak kaya, bekerja sebagai mubaliq, pegawai negeri, perajin, dan pedagang. Generasi demi generasi akhirnya kelompok pekerja keras ini menjadi usahawan besar dan santri saleh. Pada periode puncak kemakmuran, golongan ini cenderung menjadi bangsawan kecil yang merasa berbeda dengan golongan bangsawan Jawa pada umumnya. Kelompok masyarakat ini lebih cenderung memprakarsai gerakan reformasi bernapaskan agama. Mereka merasa tak perlu meniru beberapa pola kebiasaan kaum bangsawan Jawa lainnya.

Salah satu wujud sikap ini terwujud dalam arsitektur rumah. Bangsawan Kudus tidak membangun atau meniru arsitektur bangsawan atau orang kaya di Jawa Tengah. Mereka tak pernah membangun pendopo, tidak ada kantor atau ruangan khusus untuk gamelan. Gaya hidup priyayi Yogya-Solo dan sekitarnya tidak menggoyahkan mereka. Sebaliknya, rumah kayu jati diberi kekayaan ornamen ukiran indah dan rumit serta memakan waktu dalam pembuatannya.

Rumah adat berukir inilah manifestasi golongan bangsawan atau orang kaya Kudus. Arsitekturnya terlihat dipengaruhi budaya arsitektur asli pesisir utara berupa atap pencu dan lantai panggung, berbaur dengan seni ukir bawaan migran Cina. Menurut beberapa pengamat tersebut nama seniman ukir Cina bernama Sun Ging An, serta tokoh mubaliq Cina bernama Kyai Tee Ling Sing, yang ikut memberi pengaruh.

ORNAMEN

Ornamen rumah Kudus dianggap berkarakter tersendiri. Terlihat perpaduan ragam hias ukiran pada permukaan kayu jati, misalnya ragam Eropa berupa mahkota, ragam bunga dari Persia dan Islam, serta bentuk naga dan bunga teratai dari Cina. Bentuk bangunan ini sendiri beratap tembikar, berwuwungan motif tanaman, memiliki teritisan depan dan belakang yang melebar. Konstruksi dasarnya bersistem rangka dengan topangan tiang Soko Guru dan Soko Apit.

Rumah pun dibangun mengarah selatan-utara, dengan pembagian ruangan Jogo Satru, Pawon dan Gedongan. Fungsinya selain sebagai tempat penghunian, juga di saat tertentu digunakan untuk tempat peribadatan. Ruang Jogo Satru sebagai ruang jama’at, dibagi menjadi dua oleh tabir pemisah bagi jama’at pria dan wanita. Sedangkan Gedongan dijadikan tempat imam khotib untuk memimpin ibadat.

Sebagai ruang terdepan, ruang Jogo Satru lazimnya digunakan sebagai ruangan tamu. Tak jarang di ruang ini ditempatkan perangkat kursi dan meja tamu. Malah di sini terdapat tiang besi tunggal, penyangga blandar besar. Tiang ini pun tak luput dari pengaruh gaya Eropa.

Memasuki Jogo Satru, tersedia pintu berdaun ganda besar dengan dinding gebyok jati berukir dan terdapat pigura-pigura polos. Pada gebyok depan ditambahkan dua pintu samping untuk masuk ke ruang Pawon kiri dan kanan. Masing-masing pintu ini dilengkapi dengan pintu sorong berjeruji. Pintu jeruji jati ini gunanya untuk aling-aling apabila daun pintu dibuka. Konon, dari balik sekat jeruji inilah gadis-gadis Kudus cantik dan agak dipingit, leluasa mengintip pemandangan luar.

Tiga sisi dinding Jogo Satru, semuanya gebyok berukir. Malah dinding gebyok pembatas ruang Gedongan, betul-betul diukir detil sekali. Pigura-pigura pun tidak polos lagi, beberapa stilisasi seni ukir Kudus dipertontonkan. Di sini terdapat pintu sentong menuju ruang Gedongan, serta dua pintu lainnya menuju ruang Pawon barat dan timur.

Pawon, yang dalam bahasa Jawa berarti dapur, di Kudus biasanya untuk ruang hunian dan pelangsung kegiatan rumah tangga. Sementara ruang Gedongan, harus dimasuki melalui undakan khusus berupa bangku sebagai penapaknya. Ruangan inilah ruang utama Rumah Kudus. Ruang ini dianggap sakral dan tidak digunakan sebagai ruangan umum penerima tamu kebanyakan. Gedongan itu sendiri, berupa ruangan bersekat gebyok dengan ukiran lebih rumit lagi seakan-akan di sinilah pusat keindahan ukiran rumah tradisional Kudus. Ruang ini, dahulu dijadikan kamar penyimpanan harta kekayaan, di samping sebagai pelaminan. Ruang sakral ini juga digunakan sebagai mihrab dalam beribadat.

PEMINDAHAN

"Pemindahan" bangunan dari tempat asalnya pada 1984 ini ke Jakarta bersamaan dengan saat muncul masalah tempat bagi penyimpanan koleksi seni Bentara Budaya Jakarta yang jumlahnya makin bertambah. Saat itu datang tawaran dari Kudus, ada rumah tradisional asli yang masih bagus dan utuh. Saat itu, Rumah Kudus yang masih bagus dan utuh tinggal beberapa saja. Banyak yang sudah hijrah ke luar negeri. Beberapa di antaranya ditanggalkan beberapa bagiannya untuk melengkapi rumah-rumah “puncak“ di Jakarta dan berbagai kota besar lain. Melihat kesempatan itu, maka “diboyonglah“ bangunan bersejarah itu ke kompleks Kompas-Gramedia, sekaligus dengan pembangunan gedung Bentara Budaya Jakarta, yang desainnya - oleh almarhum Romo Mangunwijaya - di“sesuaikan“ dengan gaya arsitektur Rumah Kudus itu.

Proses pemindahan dan pemugaran ini memang menyebabkan sedikit perubahan. Rumah Kudus yang aslinya hanya memiliki satu ruang Pawon. Di tempat yang baru, di mana dia merupakan bangunan pusat dari kompleks Bentara Budaya Jakarta, dirasakan adanya “kekurangsimetrisan“ bentuk. Karena itu “dibuatlah“ satu Pawon tambahan dari bahan-bahan “lama“, hingga bangunan menjadi simetris. Sehingga terciptalah 2 ruang pawon dengan ruang tengah sebgai bangunan utamanya.

Pemugaran bangunan bersejarah yang berdiri anggun di tengah kegiatan seni yang diselenggarakan Bentara Budaya, dengan demikian diharapkan bisa dinikmati keindahannya oleh masyarakat luas.