Balai Soedjatmoko Solo

Rumah Keluarga Dr Saleh Mangundiningrat

Balai Soedjatmoko dulunya merupakan rumah dinas Dr Saleh Mangundiningrat, dokter pribadi Paku Buwono X dan Paku Buwono XI. Rumah ini ditempati Dr Saleh Mangundiningrat bersama keluarganya, istrinya, dan putra – putrinya dalam waktu yang tidak bersamaan. Putra – putri Dr Saleh Mangundiningrat berjumlah empat orang terdiri dari ; Poppy Saleh, Soedjatmoko, Miriam Saleh, dan Nugroho Wisnumurti. Poppy Saleh yang pernah menjadi sekretaris PM Sjahrir kemudian berganti nama menjadi Poppy Sjahrir setelah menikah dengan PM Sjahrir, Miriam Saleh berganti nama menjadi Miriam Budiardjo setelah menikah Ali Budiardjo, bekas Sekretaris Kementerian Penerangan, dan kemudian menjadi Direktur Freeport Indonesia. Sedangkan Soedjatmoko sendiri pernah sekolah di STOVIA, sekolah tinggi kedokteran, namun keluar ketika jaman penjajahan Jepang. Soedjatmoko kemudian menjadi staf dan juru bicara PM Sjahrir, kemudian menjadi wakil kepala perwakilan Indonesia di PBB, setelah itu menjadi Dubes RI untuk Amerika Serikat tahun 1968 – 1971. Nugroho Wisnumurti mengikuti jejak Soedjatmoko dengan menjadi diplomat, Minus , panggilan akrab Nugroho Wisnumurti menjadi Dubes RI untuk PBB tahun 1992 – 1997.
Selain keluarga Dr Saleh Mangundiningrat ada juga beberapa keluarga yang sengaja diajak oleh Dr Saleh untuk tinggal di rumah tersebut. Dulu disamping rumah terdapat beberapa kamar untuk tinggal beberapa orang yang masih kerabat, atau sahabat dekat Dr Saleh, salah satunya yang pernah tinggal disitu Prof Sri Edi Swasono, Sri Edi cukup lama tinggal di tempat Dr Saleh sebelum pindah rumah bersama ibunya. Keluarga Sri Edi pindah ke Solo karena di tempat tinggalnya di Ngawi sedang terjadi pembrontakan PKI, dan mereka kemudian memutuskan untuk pindah ke Solo. Beberapa keponakan Dr Saleh juga ikut serta tinggal di Solo, keluarga besar Dr Saleh dan istrinya berasal dari Madiun. Di rumah ini pula Nugroho Wisnumurti lahir, dari cerita Pak Minus sewaktu berkunjung ke Balai Soedjatmoko kelahirannya dibantu bapaknya sendiri, Dr Saleh. Nugroho Wisnumurti lahir di ruang sebelah barat dekat pintu masuk ke Toko Gramedia, dirinya tinggal di Solo sejak lahir sampai SMA, dan merupakan penghuni paling lama setelah Dr Saleh, ruang depan Balai Soedjatmoko sebelah timur dulunya merupakan ruang praktek Dr Saleh. 

Dr Saleh selain sebagai dokter pribadi raja juga menjadi kepala RS Kadipolo yang terletak sangat dekat dengan Balai Soedjatmoko, dirinya juga melakukan praktek pribadi di rumahnya, kadang Dr Saleh menerima pasien yang tidak punya, pasien yang miskin secara ekonomi, dan Dr Saleh tidak pernah memungut biaya, bahkan ada satu keluarga pasien Tionghoa yang kemudian menjadi anak angkatnya. Dr Saleh juga pernah menjadi salah satu anggota perkumpulan masyarakat di Solo yang bernama Habib Raya, selain itu Dr Saleh merupakan dosen, dan kemudian menjadi Rektor Universitas Tjokroaminoto Solo yang dulu kampusnya terletak di Gemblengan. Dr Saleh menjadi Rektor Universitas Tjokroaminoto sampai wafat di tahun 1962 dalam usia 71 tahun.

Sebelum Dr Saleh meninggal dunia hampir semua anak – anaknya sudah tidak tinggal di Solo, semua anaknya bertempat tinggal di Jakarta termasuk Nugroho Wisnumurti yang kuliah di UI, dan ikut keluarga St Sjahrir, saat itu St Sjahrir sudah menjadi tahanan politik Presiden Soekarno. Nugroho Wisnumurti sendiri mengaku memiliki kedekatan dengan Poppy, dan jarak usia mereka yang rentang waktunya hampir dua puluh tahun menjadikan Poppy seperti ibunya sendiri. Nugroho Wisnumurti ditinggal ibu kandung pada tahun 1952 saat usianya masih 12 tahun, bapaknya kemudian menikah kembali dengan bibinya, dan mereka tinggal di Solo sampai bapaknya meninggal dunia. Rumah yang menjadi tempat tinggal mereka kemudian berpindah – pindah tangan sampai Kompas membelinya.

Dari kantor Kompas sampai Balai Soedjatmoko

Rumah tinggal Dr Saleh yang berpindah – pindah tangan dari satu orang ke orang lain kemudian dibeli Kompas, dan menjadi kantor Kompas yang ada di Solo, selain itu juga menjadi kantor biro harian lain yang masih grup Kompas seperti Harian Surya (Surabaya), dan Harian Bernas (Yogya). Maka dari rumah dokter menjadi kantor redaksi yang penuh wartawan. Cukup lama para wartawan menempati bekas rumah Dr Saleh, sampai kemudian akan dibangun Toko Buku Gramedia. Pembangunan TB Gramedia dirancang oleh arsitek Andy Siswanto, dalam rancangan Andy Siswanto rumah yang pernah menjadi tempat tinggal Dr Saleh tetap dibiarkan berdiri, dan TB Gramedia mengelilingi rumah tersebut. Kantor Kompas sendiri kemudian pindah ke Kalitan, sementara Harian Surya menutup bironya di Solo, Harian Bernas juga tidak memperpanjang kehadirannya di Solo. Desain dari Andy Siswanto tidak berjalan seperti yang diharapkan, bekas kantor Kompas yang kini terletak di sebelah timur Balai Soedjatmoko tidak jadi dipugar, dan kemudian menjadi studio Ria FM, jaringan radio Sonora Jakarta. TB Gramedia berdiri tahun 2003, dan menjadi pengelola Balai Soedjatmoko tahun 2003 – 2009.

Sejak tahun 2009 Balai Soedjatmoko dikelola oleh Bentara Budaya dengan bantua keuangan dan adminitrasi dari Bentara Budaya Jakarta dan Bentara Budaya Yogyakarta. Selama setengah tahun dari awal 2009 sampai pertengahan 2009 Bentara Budaya bergantian dengan TB Gramedia menggunakan Balai Soedjatmoko. Sejak pertengahan 2009 Balai Soedjatmoko dikelola sepenuhnya oleh Bentara Budaya, dan sejak saat itu berbagai kegiatan seni budaya diadakan Balai Soedjatmoko. Balai Soedjatmoko menjadi pelopor pemanfaatan ruang – ruang bukan milik pemerintah di Solo untuk berkesenian, sebelumnya kegiatan seni budaya di Solo lebih banyak memanfaatkan gedung pemerintah yang memang sangat representatif , dan kegiatan seni budaya waktu itu terpusat di Kentingan, yang merupakan kawasan kampus ISI Surakarta dan Taman Budaya Jawa Tengah.
 
Balai Soedjatmoko sendiri bertetangga dengan Taman Sriwedari, Museum Radya Pustaka, Museum Batik Danar Hadi, dan Rumah Dinas Walikota Surakarta. Saat ini di Balai Soedjatmoko terdapat beberapa kegiatan seperti Diskusi Kajian Solo, Keroncong Bale, Parkiran Jazz, Blues on Stage, Klenengan Selasa Legen, Macapatan, Diskusi Sastra, Diskusi Heritage, Pameran Foto, Pameran Seni Rupa, Pentas Teater, Maca Cerkak, Pentas Musik Balada, dan berbagai kegiatan lainya yang sifatnya non reguler. (yunanto sutyastomo/balai soedjatmoko)