S Sudjojono

Lahir di Kisaran, Sumatra, 14 Desember 1917. Bakat melukis dan kecerdasannya di sekolah rendah memikat perhatian gurunya, Yudhokusumo (ayah pelukis Kartono Yudokusumo). Demikianlah kemudian ia diangkat anak oleh keluarga Yudhokusumo dan diajak pindah ke Jakarta. Selesai pendidikan tingkat menengah di Jakarta, Sudjojono mengikuti pendidikan Sekolah Guru di Lembang, Jawa Barat, dan kemudian melanjutkan ke Taman Siswa, untuk kemudian mengajar selama beberapa waktu di lembaga pendidikan itu.


Pada tahun 1937, bersama sejumlah rekan pelukis, ia mendirikan Persagi, perhimpunan pelukis yang bercita-cita melahirkan vitalitas baru dalam praktek seni lukis Indonesia.Sebagai tokoh utama dalam organisasi ini, Sudjojono tak sekedar melukis dalam corak realismenya yang khas dengan bobot semangat kerakyatan dan nasionalisme, tapi juga merumuskan pikiran-pikiran tentang corak seni lukis baru yang dicita-citakannya. Dan dari berbagai rumusan pemikirannya inilah peran penting Sudjojono dalam perkembangan seni rupa Indonesia tak akan pernah terhapus.

Memasuki masa-masa perjuangan kemerdekaan, Sudjojono, bersama Affandi dan Hendra Gunawan, aktif terlibat dalam berbagai organisasi pemuda dan seniman. Mereka melahirkan dan menghidupkan tradisi sanggar yang jadi lembaga pendidikan alternatif di masa-masa sulit itu. Sampai tahun 50-an dan 60-an, Sudjojono makin terpikat dengan gagasan kerakyatan dan sosialisme yang dibawa PKI. Di masa ini, sejumlah karyanya menjadi kurang ekspresif dan mencoba menghadirkan â€˓realisme sosialis’. Ia pernah menjadi anggota parlemen mewakili PKI yang memenangkan sejumlah kursi pada Pemilu 1955. Tak cocok dengan dunia birokrasi politik, ia memutuskan keluar dari parlemen pada tahun 1958 dan kemudian secara resmi dikeluarkan dari PKI. Pemecatan ini malahmenyelamatkannya dari represi militer dan pemerintah Orde Baru yang berkuasa kemudian, setelah kerusuhan di tahun 1965-66. Sampai akhir hayatnya Sudjojono tetap giat melukis dan berpameran, baik di dalam maupun di luar negeri, dan tetap konsisten dengan pendekatan realisme kerakyatan yang dirumuskannya sejak tahun 1930-an itu.

Kumpulan pemikirannya yang sungguh penting dan berharga dapat dibaca dalam, S. Sudjojono, Seni Lukis, Kesenian dan Seniman, Yayasan Aksara Indonesia, Yogyakarta, 2000. (Terbitan ulang dari buku dengan judul sama yang terbit pada 1946)