11 Februari 2011 / ulasan
Perempuan di dalam dan di belakang Layar

 

Perempuan di dalam dan di belakang Layar

Oleh Fanny Chotimah

 

Sebuah karya film tak bisa terlepas dari budaya, sistem sosial, politik, ekonomi, di mana karya tersebut diciptakan. Begitu pun karya film yang diproduksi di negara kita, budaya patriarki selama ini menempatkan perempuan hanya sebagai pelengkap dan objek kesenangan semata. Hal ini tercermin dari berbagai genre film mulai dari action, drama, komedi, dan horor. Film action semacam “Rambo” mencitrakan bahwa seorang jagoan adalah laki-laki yang perkasa, berotot besar, membawa senjata tak pernah kalah. Perempuan ditempatkan sebagai kekasih si jagoan yang nanti akan diculik musuh dan sebagai pihak yang diperebutkan. Dalam film drama, perempuan bisa mendapatkan peran utama namun tetap saja dicitrakan sebagai mahluk lemah, tak berdaya, sering menangis sebagai tokoh protagonis. Sedang tokoh antagonis mencitrakan perempuan sebagai sosok licik, ibu tiri jahat, nenek sihir, perempuan nakal. Perempuan dalam film komedi di Indonesia tak jauh-jauh dari perempuan serial “Warkop” Dono Kasino Indro, berbaju mini yang seksi, mengumbar buah dada dan paha, dan memiliki otak udang. Begitupun dalam film horor, perempuan menjadi kuntilanak, sundel bolong, siluman buaya putih yang bisanya menuntut balas dendam setelah menjadi hantu dan mati menggenaskan karena pelecehan sexual.

 

Citra perempuan sebagai sosok heroik akhirnya muncul dalam film “Tjoet Nja’ Dhien” (1986) yang diperankan oleh Christine Hakim. Film biografi pahlawan perempuan Aceh ini melambungkan nama Christine Hakim, akting total memerankan tokoh Cut Nyak Dien membawa Christine Hakim memenangkan piala Citra, sekaligus membawa namanya ke kancah perfilman Internasional. Kemunculan film ini memang tidak serta merta merubah cara berpikir perempuan Indonesia dalam kungkungan budaya patriarki. Saya mencoba membongkar ingatan saya dulu, saat dibangku SD menyaksikan film itu diputar. Secara bawah sadar kepemimpinan Cut Nyak Dien merasuki saya, meski pengaruh nyatanya termanifestasi puluhan tahun setelah itu. Perempuan yang paling merasakan ‘berkah’ Cut Nyak Dien ialah Christine Hakim, popularitas dan produktivitas Christine Hakim sebagai aktris dan produser film menempatkan dia sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi salah satu juri di ajang bergengsi Canes Film Festival 2002.

 

Sementara itu kiprah perempuan di balik layar diawali oleh Ratna Asmara pada tahun 1950. Dia adalah sutradara perempuan pertama di Indonesia, menyutradari karya film “Sedap Malam” (1950) ,”Musim Bunga Di Selabintana” (1951), “Dokter Samsi” (1952), “Nelajan” (1953) dan “Dewi dan Pemilihan Umum” (1954). Ketika itu kehadiran Ratna Asmara sebagai sutradara perempuan pertama di dunia perfilman Indonesia cukup mengagetkan sekaligus menakjubkan. Dan pada masa itu sangat sulit untuk mendapatkan dukungan dari kalangan perfilman sendiri, hingga akhirnya berlalu begitu saja. Namun, tonggak sejarah emansipasi wanita Indonesia di bidang perfilman telah dirintis oleh Ratna Asmara. Namanya pun akhirnya terukir sebagai perintis profesi sutradara perempuan di Indonesia. Lalu hadirlah nama Sofia W.D sepuluh tahun kemudian tahun 1960 setelah rekannya Ratna Asmara. Film yang pertama digarap olehnya sebagai sutradara ialah “Badai selatan” (1960). Setelah itu, tahun 1971 muncul Chitra Dewi dengan tiga film yang disutradarainya antara lain, “Penunggang Kuda Dari Cimande” (1971), “Dara Dara” (1971)  dan “Bercinta Dalam Gelap” (1971) Walaupun ketiga karyanya tersebut dinilai kurang memadai ketika itu, namun kehadirannya cukup memberikan peran yang penting dalam sejarah perfilman Indonesia. Yang paling terakhir pada masa awal hadirnya sutradara perempuan Indonesia ialah Ida Farida. Adik kandung dari H. Misbach Jusa Biran ini memiliki perjuangan yang cukup menarik sampai akhirnya ia menjadi salah satu sutradara perempuan Indonesia. Pertama kali terjun di duni perfilman sebagai still-photo dan merangkap sebagai publicity dalam film “Segenggam Harapan”. Kemudian menjadi script girl dalam “Melawan Badai” (1972), lalu menjadi asisten sutradara. Hasil kerja kerasnya untuk menjadi sutradara tak lepas dari bimbingan dari Sofia W.D, yang telah banyak membantunya. Beberapa karya filmnya ialah, “Guruku Cantik Sekali” (1979), “Busana Dalam Mimpi” (1980) & “Merenda Hari Esok” (1981).

 

Kebangkitan perfilman Indonesia dari mati surinya selama 12 tahun dimotori oleh sineas perempuan. Diawali omnibus film “Kuldesak” melibatkan dua sutradara perempuan, yaitu: Mira Lesmana dan Nan T Achnas. Meskipun film ini tidak sukses di pasaran namun sanggup memberikan geliat film Indonesia generasi baru. Karena pada kurun waktu akhir 1980 ke 1990-an, film Indonesia tak lagi menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Monopoli distribusi film, Banyak bioskop tutup, minimnya dukungan pemerintah menyebabkan lesunya perfilman Indonesia. Film-film yang sanggup bertahan hanya film vulgar pengumbar sexualitas belaka. Gebrakan berikutnya dari Mira Lesmana terjadi saat “Petualangan Serina”(1999) dan “Ada Apa dengan Cinta”(2001) membuat antrian panjang penonton hingga berbulan-bulan lamanya. Lalu Nan T Achnas hadir dengan “Pasir Berbisik” (2001) , Nan T Achnas  bekerjasama dengan Rayya Makarim dalam penulisan skenario mengangkat kisah Daya (Dian Sastrowardoyo) yang dilecehkan secara sexual oleh Suwito (Didi Petet), hanya karena Suwito memberikan sebungkus rokok mahal pada Agus (Slamet Raharjo) ayah Daya. Berlian (Christine Hakim) dendam pada Agus hingga akhirnya meracunnya. Sineas-sineas perempuan bersuara mengkritik ketidakadilan terhadap perempuan, mempertanyakan hak-haknya, dan menggugat budaya patriarki. Nia Dinata dalam “Berbagi Suami”(2006) menggambarkan bagaimana derita psikis perempuan yang dipoligami. Salah satu tokohnya bernama Salma (Jajang C. Noer) seorang istri yang pintar, berprofesi sebagai dokter, tak bisa lepas dari suami yang patriarki. Kisah-kisah yang diangkat ke layar lebar merupakan representasi dari realita yang terjadi di kehidupan nyata. Setiap karya Film merekam jamannya, karena itu film bisa dijadikan sebagai media pencerahan meskipun yang terjadi sebaliknya. Selera pasar selalu dijadikan alasan untuk membuat film yang tak bermutu, film horor picisan yang memarjinalkan perempuan sedang laris di pasaran sehingga rumah produksi berlomba-lomba membuat film serupa. Keinginan pasar dicekoki sampai titik jenuh, pasar tidak disediakan alternatif pilihan tontonan. Kehadiran para sineas perempuan mengisi dan mengupayakan tontona alternatif tersebut. Nama-nama baru bermunculan seperti Lola Amaria dengan “Betina” (2006) dan “Minggu Pagi di Victoria Park” (2010) yang meraih Silver Hanoman Awards di Jogja Netpac Film Festival 2010, Dua tahun sebelumnya sutradara perempuan pendatang baru Mouly Surya berhasil merebut piala citra dalam Festival Film Indonesia dengan debut filmnya“Fiksi” (2008).

 

Sebagai pelaku seni dalam kancah perfilman, perempuan saat ini tak hanya tampil sebagai aktris di layar lebar. Profesi di belakang layar mulai dilakoni dari produser, sutradara, penulis skenario, hingga editor seperti Aline Jusria yang meraih penghargaan editor terbaik dalam FFI 2010 untuk “Minggu Pagi di Victoria”. Chairunnisa sutradara muda yang melahirkan karya film pendek “Purnama di Pesisir” meraih penghargaan Festival Film Roma sekaligus film Indonesia pertama yang sanggup menembus festival tersebut. Dalam genre film dokumenter hadir beberapa nama Ucu Agustin, Ariani Djalal, dan Ariani Darmawan. Patut dicatat pula nama Shanty Hermain sebagai penggagas sekaligus direktur Jakarta International Film Festival (Jiffest) yang menyemarakan ajang festival internasional dan mendorong produktivitas pembuat film dalam negeri juga kemunculan pembuat film pemula yang berbakat.

 

Sebenarnya masih banyak nama-nama sineas perempuan yang belum saya sebutkan dalam paparan tulisan ini. Hal tersebut bisa menjadi indikator bahwa dunia perfilman sudah menjadi ruang eksistensi perempuan. Sineas perempuan memberikan kontribusi postif dan ikut mendorong perkembangan dunia perfilman Indonesia. Misi penyadaran jender dijadikan pembanding dari tontonan mainstreem yang menguasai pasar. Semoga tercipta generasi yang kritis dan sadar jender. (*)

 

makalah diskusi Perempuan dan Budaya Massa di Balai Soedjatmoko, Sabtu 12 Feb 2011

 

Affiliasi:
Dewan Kesenian Jakarta Galeri Nasional KELOLA Indonesia Art News
Copyright © 2005 - 2008 Bentara Budaya. All rights Reserved.