Di Yogyakarta bukan hanya gudeg yang bisa dinikmati sambil duduk lesehan. Musik jazz juga bisa dinikmati sambil lesehan di halaman parkir, seperti pada hajatan Jazz Mben Senen di Bentara Budaya Yogyakarta.
Seperti namanya, Jazz Mben Senen digelar setiap Senin malam di halaman Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Yogyakarta. Dalam acara ini, penikmat musik jazz mulai berkumpul sejak pukul 21.00 hingga lewat tengah malam. Tentu saja, sambil duduk lesehan.
Seperti Senin (12/4) malam. Panitia sebenarnya sudah menyiapkan sejumlah kursi lipat di bawah atap tenda. Namun, kursi-kursi merah itu tak pernah penuh terisi. Sebagian besar penonton memilih lesehan beratap langit. Ada juga yang menikmatinya sambil menyeruput jahe panas di warung angkringan.
Tak ada aturan. Setiap penonton bebas memilih posisi menonton yang palingdisukai dan mendukung upayanya menikmati. Ada pelajar, mahasiswa, seniman, ekspatriat, dan orang tua yang membawa anak-anaknya. Tukang becak, tukangparkir, dan beberapa pelintas JalanSuroto berhenti dan duduk di atas motor untuk ikut menikmati jazz dari luar pagar.
Di depan orang-orang yang lesehan, para musisi jazz muda tampil di panggung sederhana. Panggung yang dimaksud adalah sebuah ruang kosong di salah satu sudut halaman BBY yang tingginya sejajar dengan posisi penonton. Dari sana mengalun lagu ”L.O.V.E” lagu standar jazz yang antara lain dipopulerkan Nat King Cole hingga permainan spontan bersama atau jamming antarmusisi.
Di panggung itu pula, musisi dan penyanyi, seperti Idang Rasjidi, Dwiki Darmawan, Trie Utami, Iga Mawarni, hingga ”superstar” keroncong Waljinah, pernah tampil menghibur penonton. Penampil dan penonton bebas saling menimpali, bercanda, guyub, dan rukun khas Yogyakarta.
Waljinah membawakan lagu kondangnya pada era awal 1970-an, yaitu ”Ayo Ngguyu” dan ”Tanjung Perak”. Tentu itu bukan lagu jazz dan Waljinah juga tidak berpretensi nyanyi jazz. Dan audiens juga mafhum tentang itu. Penonton yang kebanyakan masih muda itu mau ikut bernyanyi keroncong bersama Waljinah dengan semangat.
Jazz yang terbuka
Dalam catatan Purnawijayanti, pekerja BBY, Jazz Mben Senen dimotori Komunitas Jazz Yogyakarta dan mulai dibangun oleh Idang Rasjidi, Bagus Jatmiko, dan kawan-kawan pada pertengahan tahun 1995. Semula mereka ber-jam session dari kafe ke kafe. Atas prakarsa Djaduk Ferianto, mereka akhirnya menempati halaman pentas seni di BBY. Acara ini diadakan rutin setiap Senin sejak pertengahan Desember 2009.
Dibandingkan dengan pertunjukan jazz lain yang biasanya diembel-embeli tema berbahasa Inggris, acara ini sengaja memakai bahasa lokal. Dengan rasa lokal itu, mereka hendak menyatakan bahwa jazz terbuka bagi siapa pun dan gratis pula. Siapa pun boleh menonton dan ikut bermain musik.
Salah satu anggota Komunitas Jazz Yogyakarta, Gian Afrisando, menuturkan, acara ini berlangsung tanpa birokrasi rumit. Tidak ada ketua panitia. Tidak ada jadwal resmi penampil. ”Di sini enggak ada struktur panitia. Semua mengalir saja,” katanya.
Mereka mengusung semangat jamming, bermain bareng spontan. Mereka membuka sekat eksklusivitas. Setiap orang boleh maju ke panggung dan bermain musik bersama musisi lain dalam semangat komunitas. Di atas panggung, apa yang terjadi terjadilah. Itulah semangat jazz seperti yang sering dikatakan saksofonis jazz Joshua Redman, yaitu spirit of the moment.
Untuk mendukung acara, diedarkanbesek (kotak anyaman bambu) di antara penonton. Berapa saja sumbanganditerima. Dari kotak itu, setiap minggu berhasil dikumpulkan uang Rp 100.000 hingga Rp 300.000. Saat Waljinah,Iga Mawarni, dan Dwiki Dharmawan datang, besekan bisa digenapi sampai Rp 2,5 juta.
Dalam semangat komunitas, musisi Djaduk Ferianto membantu mencarikan lokasi serta membawa musisi jazz lain untuk ikut tampil bersama Komunitas Jazz Yogyakarta. Ada pula Idang Rasjidi tiba-tiba muncul dan bermain. Pada Senin yang lain, mereka dikunjungi Yu Su Ki, peserta Java Jazz asal Jepang, yang sedang mampir di Yogyakarta.
Dari para musisi, semangat guyub itu menyebar ke penonton. Pada suatu Senin, mereka datang dan bernyanyi bersama untuk menggalang dana bagi kesembuhan Singgih Sanjaya, komposer di Yogyakarta yang terkena stroke. Lalu, pada Senin berikutnya, mereka kembali bernyanyi untuk mengumpulkan dana bagi istri pengemudi yang terkena kanker.
Dengan lesehan dan rasa guyub yang diembuskan jazz, semua itu bisa dilakukan. (IDHA SARASWATI WAHYU SEJATI)