Istilah jamming yang kerap disebut oleh komunitas musik jazz itu ternyata tidak hanya berlaku di atas panggung. Dialog musikal antarpemain terus berlanjut ke dunia nyata sehingga mencuatkan rasa persaudaraan dan kepedulian sosial yang kuat.
Itulah yang tampak pada Jazz Mben Senen, Senin (5/4) malam. Berbeda dengan Senin-Senin sebelumnya, kali itu panggung mini di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) diisi deretan nama kondang, di antaranya penyanyi keroncong Waljinah, Trie Utami, Iga Mawarni, Dwiki Darmawan, hingga penyanyi jazz belia Jakarta, Farah Dibaj Fuadi. Selain mereka, ada Djaduk Ferianto, "provokator" acara dan pegiat Komunitas Jazz Yogyakarta yang rutin ber-jamming saban Senin malam.
Malam itu, mereka bernyanyi bersama menggalang dana bagi kesembuhan komposer Singgih Sanjaya, yang terserang stroke tiga pekan lalu. Ia sempat dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih 10 hari. "Umbul Donga", itulah tema Jazz Mben Senen bagi Singgih.
Entah tertarik nama tenar pengisi acara atau alasan lain, penonton jauh lebih banyak dari biasanya. Pelataran BBY penuh sesak.
Musisi Dwiki Darmawan berbaur. Ia sengaja datang untuk Singgih. "Saya mengenal Mas Singgih lebih dari 10 tahun. Kami beberapa kali bekerja sama," katanya.
Singgih Sanjaya (48) dikenal sebagai arranger, saxophonist, komposer, konduktor, hingga fluitis. Ia juga staf pengajar seni musik di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Bersama Dwiki Darmawan, Singgih membantu orkes musik pada pertunjukan "Love for the Messenger" di Australia. Terakhir Oktober 2009, Singgih menjadi konduktor tamu pada konser World Peace Orchestra di Universitas Gadjah Mada.
Singgih juga menghadirkan puluhan komposisi dan aransemen musik yang dimainkan Twilite Orchestra, Kuala Lumpur Orchestra, hingga Italian Orchestra. Ia pernah membuat ilustrasi musik untuk film sinetron Jejak Sang Elang yang ditayangkan Indosiar.
Penyanyi keroncong asal Solo, Waljinah, malam itu khusus datang untuk Singgih. Selain kerap bekerja sama dalam musik, Waljinah kenal Singgih sejak lama. "Waktu di Solo, anak saya sekolahnya bareng dia," tuturnya.
Demi Singgih dan penonton, Waljinah yang malam itu kesehatannya terganggu melantunkan dua tembang. Penampilannya disambut ramai, meskipun ia tak menyanyikan lagu jazz.
Penampilan Waljinah disusul Iga Mawarni dan Trie Utami. Keduanya menampilkan lagu bernuansa jazz. Acara Jazz Mben Senen pun kian semarak.
Kekuatan musik
Di tengah penampilan mereka, anggota Komunitas Jazz Yogyakarta mengedarkan tampah dan kotak saweran. Dari pecahan rupiah Rp 1.000, Rp 5.000, hingga Rp 100.000, terkumpul dana Rp 2,5 juta. Musik meluruhkan keasingan sebagianpenonton dengan sosok Singgih Sanjaya.
Selain saweran, penggalangan dana juga dilakukan dengan menjual sejumlah CD lagu Farah Dibaj Fuadi yang tampil memukau malam itu. Farah menyerahkan sejumlah CD untuk pengumpulan dana. Panitia juga melelang selembar kaus bertema jazz yang ditandatangani Djaduk dan Dwiki.
Dwiki menuturkan, komunitas musik adalah komunitas peduli dan berbagi. Pada konteks musik jazz, rasa berbagi antarmusisi menjadi kian besar karena kebiasaan berbagi musik saat di panggung. "Ada dialog musikal. Inilah indahnya dunia musik," katanya.
Melalui rekaman handycam, Singgih yang tak bisa hadir malam itu berterima kasih kepada sesama musisi dan penonton yang hadir untuknya. Ide penggalangan dana semacam itu, menurutnya, amat patut diapresiasi. Persaudaraan dalam musik ternyata merambah pada kepedulian sosial.
Ia berharap, kepedulian semacam itu terus berlanjut bagi orang- orang lain. Tentu bukan hanya Singgih seorang yang pantas berharap. (IDHA SARASWATI)