Saat memutuskan memainkan wayang kancil, Ki Ledjar Soebroto tak hendak mengajak penonton anak-anak untuk mencuri seperti dongeng kancil mencuri timun itu. Ia memaknai dongeng secara berbeda sehingga pementasan yang sarat ajaran etika itu tak terkesan menggurui.
"Kancil terpaksa mencuri kan karena hutan tempatnya tinggal dirusak," katanya, saat berbicara pada diskusi seni "Mbah Ledjar, Maestro Wayang Kancil: Lika-liku Wayang Kancil", pekan lalu di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta.
Di panggung wayang kancil Minggu malam itu, Ki Ledjar (72) berbagi tentang kisah hidupnya, termasuk mengapa ia bertahan sebagai dalang wayang kancil yang minim perhatian di negeri sendiri.
Ki Ledjar lahir di lereng Gunung Sumbing, Wonosobo, Jawa Tengah, tahun 1938. Nama kecilnya Djariman. Ia tumbuh dalam keluarga dalang sehingga kuyup dengan dunia wayang sejak kecil.
Pada umur 17 tahun, Djariman yang lulusan sekolah rakyat itu menyeriusi belajar ilmu pedalangan kepada Ki Narto Sabdo-dalang wayang purwo tersohor waktu itu. Rupanya, ia pandai membuat gurunya tertawa sehingga diberi nama Ledjar yang berarti membuat gembira.
Lima belas tahun belajar, Ledjar hijrah ke Yogyakarta, menikahi Karjiah. Lalu, ia menetap di Jalan Mataram hingga sekarang.
Tahun 1974, Ledjar yang sempat mencari nafkah dengan berjualan rokok dan "nomer buntut" itu membuka kios wayang di depan rumahnya. Kios itu antara lain berisi aneka bentuk wayang kancil buatannya.
Minatnya terhadap wayang kancil muncul awal 1980. Waktu itu jarang ada dalang yang menggeluti wayang kancil. Padahal, wayang berbentuk binatang dan bercerita dunia binatang itu bakal media yang tepat mengenalkan wayang dan segenap nilai baiknya kepada anak-anak.
Sejak kios dibuka, banyak orang datang membeli suvenir. Mahasiswa peminat belajar wayang pun datang padanya. Tak hanya dari dalam negeri, tapi juga luar negeri. Dari sinilah kiprah Ki Ledjar sebagai dalang wayang kancil mulai dikenal di luar negeri.
Ia kerap menerima pesanan wayang kancil dari luar negeri, seperti Belanda, Jerman, Jepang, dan Perancis. Karyanya antara lain disimpan di Museum Tropen Belanda. Pengelola museum juga memintanya membuat wayang berbentuk tokoh-tokoh sejarah di Belanda. Undangan tampil bermain wayang kancil di luar negeri pun sering, sekaligus melatih soal wayang dan gamelan.
Wayang kancil berkembang dari segi bentuk, ukuran, dan tema cerita. Terakhir, wayangnya dimunculkan dalam bentuk film animasi. Adalah cucu Ki Ledjar, yakni Nanang Ananto Wicaksono, yang bereksperimen membuat animasi itu. Salah satunya, film animasi Serangan Umum 1 Maret yang dibuat atas pesanan Belanda.
Berbeda dengan perkembangan wayang kancil yang kian diterima di luar negeri, di dalam negeri kiprah Ki Ledjar belum diakui.
Malam itu, sekali lagi, ia ungkapkan kekecewaannya. Wayang kancil buatannya yang dipamerkan di Museum Nasional diklaim karya Bo Liem dari China. "Padahal, yang memesan wayang itu pada saya ya teman saya sendiri. Tapi, sampai sekarang wayang-wayang itu masih diakui karya Bo Liem," ungkapnya.
Kancil cerdik
Kancil selalu dikisahkan sebagai hewan cerdik. Pada kondisi terdesak, kancil selalu mampu mencari jalan keluar sehingga bertahan. Saat memainkan wayang kancil, kecerdikan kancil yang ditonjolkan Ki Ledjar. Kesan itu muncul dari pentas singkat malam itu.
Tanpa iringan gamelan, Ki Ledjar mementaskan lakon singkat kecerdikan kancil. Ceritanya, seekor buaya tertimpa pohon. Tubuhnya luka, tak bisa bergerak.
Kerbau yang kebetulan lewat mendekat menolong. Kerbau mengangkat pohon. Lalu, buaya meminta kerbau menggendongnya menuju sungai. Sesampainya di sana, buaya malah meminta kerbau memberikan dagingnya untuk disantap.
Kerbau marah mendengar permintaan buaya. Namun, ia tak mampu berbuat apa-apa. Beruntung si kancil datang. Dengan kecerdikannya, kancil sukses mengembalikan buaya ke posisinya sebelum ditolong kerbau. Buaya pun kembali tertimpa pohon sehingga tak bisa memangsa daging kerbau.
Budayawan Bakdi Soemanto yang turut diskusi malam itu berpendapat, kisah-kisah wayang kancil mewakili kecerdikan rakyat kecil menyiasati hidup. Dengan kemampuannya, rakyat miskin yang seakan tak berdaya itu ternyata mampu mencari jalan agar terus bertahan hidup.
Menyimak Ki Ledjar, sesungguhnya dialah si kancil yang cerdik itu. Memulai karier dalang dari bawah, memilih wayang kancil yang hampir punah, ia bertahan dan berkarya hingga diakui negara lain.
Belum lama ini, Ki Ledjar menyelesaikan wayang wajah anggota keluarga Presiden AS Barack Obama, termasuk anjing kesayangan mereka, Bo. Pesanan kilat, hanya 10 hari itu, dimaksudkan sebagai hadiah lawatan Obama yang direncanakan 23-35 Maret 2010 lalu. Pencapaian itu tentu buah kecerdikan. (IDHA SARASWATI)
Foto - antarafoto.com