Balai Soedjatmoko Solo, 20 Maret 2010
Pengantar Ardus M Sawega, pengelola Balai Soedjatmoko
Secara pribadi saya merasa sangat berbahagia dan berterimakasih kepada para narasumber yang bisa kita hadirkan kali ini, orang-orang yang di mata saya sangat hebat dan punya reputasi nasional.
Balai Soedjatmoko diresmikan oleh Kompas Gramedia sebagai satu situs wacana yang hidup untuk menghidupkan spirit kecendekiawanan dan keintelektualan Dr Soedjatmoko (1922-1989). Beliau pernah menetap dan dimatangkan di bangunan ini ketika mengikuti ayahandanya dr Saleh Mangundiningrat dan kakak iparnya PM Syahrir di rumah ini. Bangunan ini mempunyai makna dalam sejarah keintelektualan Indonesia.
Concern Balai Soedjatmoko yang berada di bawah payung Bentara Budaya adalah concern di bidang kebudayaan. Masalah wayang adalah bagian dari kebudayaan Indonesia. Walau citranya sebagian identik dengan Jawa, wayang betatapapun eksis di tengah-tengah kita. Sebagain orang punya persepsi wayang itu kuno, sudah lewat dan berdebu, baik dari segi filosofinya ataupun pertunjukannya. Tetapi, dalam pertumbuhan kebudayaan di Indonesia, banyak seniman dan kalangan budayawan memiliki referensi atas kekayaan yang termaktub dan tersimpan di dunia wayang.
Wayang nampaknya akan terus memberi inspirasi bagi mereka-mereka yang berkecimpung dalam kebudayaan Indonesia. Dengan segala ekspresi dan bentuk yang mengalami tansformasi, wayang akan terus berlanjut menjadi inspirasi sepanjang masa.
Ketika terjadi transformasi perubahan sejak dahulu kala, timbul pertanyaan apakah wayang dengan nilai-nilainya yang lama itu sebenarnya masih relevan, kontekstual dengan masa kini? Kalaupun ya, bagaimana transformasinya, lalu apa yang akan dilakukan dengannya?
Dalam diskusi kecil pra-acara ini, ada yang melontarkan pertanyaan apakah yang dimaksud “nilai” itu melulu bersifat filosofis? Apakan dalam bentuk visual, keterampilan, style seperti sabet yang dilakukan oleh Pak Manteb, atau wayang ukurnya Ki Sukasman itu, bukan suatu nilai?
Semua itu yang akan dibahas pada hari ini. Itulah pengantar saya, semoga bermanfaat.
Kabut Bandung Mawardi (Moderator):
Hari ini kita akan berdebat panjang tentang nilai-nilai apa yang bisa kita dapatkan dari wayang. Diharapkan akan ada pembicaraan yang baru tentang wayang sehingga tidak terjadi pengulangan-pengulangan tentangnya.
Selama ini wayang menjadi “sesepuh” yang hampir mati. Artinya, pengekalan terhadap wayang menjadi menarik. Dari zaman ke zaman, orang menafsir dalam berbagai perspektif, yang memandang wayang tidak hanya dari dalam, akan tetapi juga dari luar agar terpahami lebih komprehensif.
Ki Manteb Soedharsono:
Saya menjadi dalang sudah 45 tahun, sejak tahun 1965. Menurut saya, wayang dan nilai-nilainya bukan barang baru bagi masyarakat. Sejak dulu nilai-nilai itu sudah ada, tergantung kita melihatnya di mana, apakah dari sabetan-nya, iringan atau dari dalangnya.
Sebetulnya itu semua memiliki nilai, termasuk penontonnya. Dalang tidak bisa dinilai secara terpisah. Begitu pun, ketika ora ditanggap, dalang menjadi tidak berarti. Dalang tanpa penabuh yang bagus, juga tidak akan berarti.
Wayang itu tidak hanya sabet. Di dalam sabet ada arti yang mewakili wayang. Saya digojlog oleh Pak Gendhon (Humardani) untuk membikin sabetan yang mewakili dialog. Dasamuka nesu, ora sah omong, ning nganggo gerak, ben penonton ngerti yen Dasamuka nesu. Dan, ternyata, yang disebut nilai itu adalah keseluruhannya. Ana piwulange, politik, agama, dan sebagainya.
Maka, yang utama, dalang harus mumpuni. Penonton juga harus mendukung, pemerintah juga. Ketika dalang ngomong soal tutur, ngandani, akan tetapi di balik layar, (ternyata) dia juga punya sisi (kehidupan) yang berbeda.
Saya berpendapat, semua itu tidak bisa dilihat dari sisi luarnya saja. Semua itu merupakan rangkuman, yang melahirkan nilai-nilai yang bagus, yang bisa dirasakan masyarakat sebagai piwulang. Pementasan akan berhasil jika penonton mau berkontemplasi, mau merenung tentang pertunjukan wayang sesudahnya.
Kabut:
Ada pembicaraan menarik ketika orang memusatkan perhatian tentang wayang pada sosok dalang. Tetapi, pasti ada lini-lini yang bisa kita urai agar tidak lekas memusat ke dalam. Pak Manteb telah membuka wacana kehidupan di luar panggung yang harus merespon kehidupan kekinian. Untuk itu, titik sambungnya barangkali akan kita dapatkan pada Mbah Bambang tentang hal-hal di luar itu.
Bambang Murtiyoso:
Pewayangan selalu berhadapan dengan nilai-nilai baru. Wayang tidak bisa lepas dari persoalan-persoalan yang melingkupinya, tidak hanya dengan teknologi dan kreativitas, akan tetapi juga sistem pendidikan. Anak sekarang tidak mengenal wayang karena bahasa Jawa dihapus dari Kurikulum 1975. Bahasa nasional sejak itu menjadi bahasa pengantar, yang membuat wayang menjadi semakin jauh. Gerakan purifikasi agama juga berpengaruh.
Ruwatan makin berkurang. Komersialisasi jelas berpengaruh besar. Sejak Ki Nartosabdo menjadi dalang dengan tarif tertentu, hal itu menjadi berpengaruh pada dalang-dalang lain. Sayangnya, pengikutnya hanya mampu meniru (segi) lawakannya, tapi esensinya tidak tercapai.
Adapun lainnya, yaitu mobilitas sosial dan sistem politik, jelas berpengaruh. Di saat kuningisasi, semua dalang seragam. Pasca reformasi, dalang jadi seperti pasar malam: merah, kuning, hijau dsb, tergantung siapa yang nanggap. Teknologi dan nilai lalu diolah oleh dalang secara bersamaan, namun membuatnya gagap menghadapi perubahan.
Dalam hal ini diperlukan local genious untuk urun rembug. Ada tarik menarik antara nilai lama dan baru. Dengan masyarakat yang banyak mengonsumsi media massa modern, tentu saja berbeda dengan media wayang yang tidak lugas, cepat. Masyarakat kini berwajah koran, TV, yang membawa budaya dan nilai-nilai baru, dengan plus minusnya. Wayang memediakan diri lewat simbol, pragmatisme dan bahkan terkadang irasional, bersifat local, oleh karenanya sulit ditangkap khalayak luas karena bahasanya.
Wayang kini lebih bersifat fisik. Ukuran wayangnya dibesarkan, variasinya macam-macam dengan pewarnaan tertentu, akan tetapi tidak diimbangi nilai-nilai. Hiburan menjadi dominan: sabet yang kompleks dan akrobatik. Lagu-lagu selingan yang panjang, plus bintang tamu dengan esensi perbicangan yang bahkan pornografik.
Sayangnya mereka gagap menangkap nilai-nilai sekarang, entah karena kebutuhan tanggapan atau lainnya. Wayang sekarang ini menjadi kelir tanpa batas: menyebar, dan apa saja bisa masuk ke dalamnya, seperti keranjang sampah. Ada yang hilang yaitu, spirit kesejatian, nilai rohani yang sejati.
Maka, dalang perlu cerdas menguasai teknis pertunjukan, memahami budaya secara mendalam, juga mengenal pangsa pasar yang beragam. Dalang (memang patut) melayani masyarakat, tapi jangan memanjakannya, sehingga wayang tetap bisa survive.
Nilai-nilai modern seperti multikulturalisme, HAM, jender belum ditangkap secara mendalam oleh dalang. Sebagai tawaran baru adalah Wayang Sandosa, Wayang Suket, Wayang Kampung Sebelah, dan Wayang Carik.
Masyarakat nanggap wayang karena kesenangannya, bukan untuk apresiasi. Maka, persoalannya kini terserah Anda.
Slamaet Gundono:
Wayang jadi bagian diri saya sejak bapak saya, seorang dalang. Ia menjadi hedonis ketika laris ditanggap, tapi lalu juga jadi mengemis ketika sepi.
Ada sebuah komunitas besar di suatu kelompok masyarakat, kelompok punk misalnya, yang bisa kita dijadikan refleksi. Mereka punya kemampuan dan kemauan untuk menerjemahkan diri mereka sendiri, menjadi penting dalam eksistensinya. Tetapi, di komunitas wayang, hal-hal seperti ini bahkan terkomunikasikan saja tidak. Ini menggelisahkan saya.
Saya juga melihat ketika banyak rumah tangga retak, pecah, ketika mereka mencoba meredefinisi nilai kebersamaan, kasih sayang, dan menggantikannya dengan nilai hedonis, pragmatis, nilai-nilai zaman ini yang mengguncang.
Dunia wayang sungguh-sungguh tidak ada yang mampu mengenali nilai-nilai (baru kehidupan) itu, dan merepresentasikannya di pentas wayang, atau muncul di dalamnya. Dalam dunia pedalangan, hal-hal itu tidak terkomunikasikan.
Yang ada hanya kenyamanan, melihat sesuatu yang diimpikan terus menerus, padahal kenyataannya tidak. Wayang dengan sabetannya, janturannya, pocapannya. Namun, ketika penonton kembali ke rumah, mereka akan menghadapi sesuatu yang berbeda, kehidupan riil dibanding sebelumnya.
Akhir pekan lalu, di Tegal, Enthus mengaku telah ditonton 7.000 penonton. Akan tetapi bagi saya, bukan itu intinya. Tujuh ribu orang hanya menjadi sebuah realitas nilai yang belum jadi, yang terus bergerak. Ada transisi nilai yang beridentitas dan nilai yang sedang mencari bentuknya.
Ketika saya menghadapi anak saya, saya merasa tidak bisa mengikutinya. Pada saat itu, saya kemudian melihat kembali wayang-wayang saya: Suket, Air, Kondom, lalu berpikir jangan-jangan saya juga harus melihat realitas saya sendiri, terhadap nilai-nilai yang sedang berkembang sendiri.
Ketika melihat peristiwa kerusuhan, misalnya, lalu wayang saya akan memaknainya sebagai apa? Gareng, Bagong atau apa, siapa? Tidak ada. Itu realitas yang lain.
Nilai kebaikan, kebersamaan yang dulu itu, sekarang tidak sesederhana itu lagi. Ia sedang menerjemahkan diri dalam bentuk-bentuk yang sangat kompleks, atau memang sengaja dihilangkan oleh kecenderungan yang pragmatis. Apakah dunia pedalangan akan sanggup memasuki dunia itu? Apakah para dalang yang hidup hedonis, semakin jauh dari nilai-nilai yang dia dapatkan?
Dengan pertumbuhan nilai yang begitu dahsyat dan tak bisa dikendalikan itu, Senawangi dan Pepadi hanya menjadi mimpi-mimpi belaka karena realitas yang dihadapi tidak seperti dulu. Salah besar jika kita terus terbelenggu penerjemahan nilai dengan cara yang mungkin sangat tidak kita sukai.
Sebenarnya, ada peristiwa sosial, fenomena-fenomena kreatif di belakang kelir yang perlu dicermati. Dalang hanya menunjuk pada besaran nilai “peye”, bukan pemahaman nilai-nilai yang harus dikejar. Wayang sudah selesai karena terlalu setia pada nilai-nilai lama. Tidak sadar, (perlu) mengikuti realitas yang tumbuh, dan terkaget-kaget terus.
Kabut:
Wayang adalah dunia sesepuh, dunia orang tua. Tidak ada lakon wayang yang menunjuk pada cerita bocah. Tokoh-tokoh menjadi tua, tidak ada masa kecil pada tokoh wayang. Nilai-nilai orang tua diberikan pada anak kecil. Pola komunikasi sudah berbeda, pola sudah berbeda, tapi anak-anak itu hendak diberi apa?
Kastoyo Ramelan (peserta):
Saya pikir dalang tidak perlu cemas dengan apa yang diungkapkan pihak-pihak lain di luar mereka: peneliti, budayawan dsb. Ketika mereka mendalang dan ditonton sekian ribu orang, itu jadi nilai-nilai tersendiri. Jadi teruslah mendalang, nyabet, nganggit, dan jangan cemas dengan nilai-nilai yang diomongkan oleh para peneliti.
Dion (peserta):
Wayang selalu menampilkan ide-ide kekerasan. Tapi, kini hal seperti itu tidak kontekstual. Lalu, bagaimana wayang hendak menyikapinya?
Sebenarnya, cerita Ramayana kita tahu adalah representasi rasis bangsa Arya dan Dravida yang tercermin dalam ksatria dan raksasa. Apakah nilai-nilai itu perlu dikontekstualisasikan?
Manteb:
Mas Kastoyo, saya tidak gelisah. Meskipun tidak ditanggap sekalipun, saya adalah seorang dalang. Ketika saya tidak ndalang, di rumah saya ngetik, saya buat naskah wayang. Saya tidak gelisah akan masa depan wayang. Selama para dalang itu profesional, mencatat seluruh peristiwa hidup, di TV, di koran. Di depan kelir dan gedebog, hal itu kemudian bisa direfleksikan pada saat pementasan saya.
Berikutnya, kita harus melihat ”perang” sejauh mana. Karena ada berbagai macam perang: mulut, fisik, batin. Bahkan, ada bentuk-bentuk kenyataan sekarang ini yang sebenarnya lebih kejam dari perang: misalnya pembunuhan, perkosaan dsb. Hal itu telah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari, dan hal itu riil. Itulah perang sebenarnya yang harus kita hadapi setiap hari.
Bambang Murtiyoso:
Teman-teman dalang saya pikir tidak ada yang gelisah. Justru yang gelisah itu kita, orang-orang yang ada di luar wayang, karena ada gagasan yang berkembang.
Perang, bagi penonton, justru ditunggu. Itu di satu sisi jadi nilai-nilai tersendiri bagi masyarakat. Perang dalam budaya Jawa juga merupakan langkah terakhir. Sebelumnya ada persahabatan, diplomasi dst. Nilai-nilai ini yang kadang tidak ditangkap oleh penonton, yang cuma menemukannya sebagai jawaban akhir.
Hal ini menunjukkan bahwa penonton tidak menangkap nilai yang ada, yang sebenarnya tersirat dalam wayang, karena mereka sudah berjarak betul dengan wayang. Mereka hanya maido, tapi sayangnya tidak nanggap. Wayang sepanjang bisa berpegang pada nilai, pasti akan tetap langgeng.
Slamet Gundono:
Menurut saya, sumber dari ilmu dan intelektualitas adalah kegelisahan. Untuk apa diskusi ini diadakan jika tidak ada kegelisahan? Jangan-jangan ini kontraproduktif.
Seorang dalang boleh gelisah atau tidak gelisah. Dalang-dalang yang gelisah adalah yang tidak ditanggap, yang jadi mikir tentang sesuatu yang ada di depannya.
Tentang perang; nilai utama yang muncul di dalam wayang adalah antikekerasan. Kalau ada perang, itu adalah nilai-nilai lain yang dimunculkan dari kenyataan yang memang ada di kehidupan.
Bahwa untuk memahami manusia, inti pikirannya adalah tawar menawar, yang berpuncak pada konflik. Kata itu lebih baik dari peperangan, menurut saya. Dan konflik adalah pilihan terakhir dari situasi yang diharapkan.
Afrizal Malna:
Saya tertarik untuk melihat wayang sebagai bahasa, kaya secara materi dan entitas yang ada di baliknya. Saya khawatir wayang dan dunia publiknya telah kehilangan bahasa wayang karena campur tangan politik kolonial, politik agama, politik Indonesia dalam wayang, yang telah mengubah bahasa wayang sehingga kita sulit untuk melacak bagaimana awalnya.
Wayang sebagai bahasa, ia seperti tidak memiliki tradisi realisme seperti yang ada di Barat. Itu jika tradisi realisme kita artikan sebagai sesuatu yang kini dan di sini. Wayang sebaliknya, di sana dan entah kapan.
Wayang sebagai bahasa punya rasio yang tidak sama dengan 2+2=4. Kebenaran itu eksis tanpa adanya kita. Wayang memiliki logika 2+2=4, dengan tambahan harus ada kita bersamanya, dan menjadi bagiannya.
Wayang terkait dengan politik identitas, tidak lewat realitas yang langsung. Teks ditampilkan dalam bayangannya yang menghadirkan puisi provokatif. Saya tidak tahu, bagaimana wayang ketika dibaca sebagai teks-teks tertulis pengaruhnya sama dengan ketika kita melihat wayang dengan bahasa yang menyebar sedemikian rupa. Wayang jadi politik, begitu pula cara membacanya.
Persoalannya, apakah kita hendak melihat wayang sebagai sesuatu yang berubah tanpa tahu apa yang sedang berubah? Ataukah, kita melihat wayang sebagai politik media, yang ketika menontonnya kita seperti sedang melihat teks-teks di dalamnya sebagai sebuah ziarah?
Kini, media-media digital menjadi logika berpikir yang meniadakan satu politik identitas, yang ngotot seperti (tentang) nilai-nilai kesejatian.
Ketika tradisi kita diperlakukan sebagai peti mati keabadian, maka tradisi tidak bisa kita jadikan sebagai media untuk melakukan perlawanan, sementara wayang sangat disakralkan.
Ketika teknologi digital melahirkan satu kontemporerisasi dalam logika berpikir kesenian, semuanya berubah. Modernisme yang sebelumnya sangat menjaga idealisme berubah menjadi pragmatisme. Seniman menjadi tidak concern dan menjaga gaya, tapi mereka (sekarang) justru peduli pada tema dan gagasan yang berganti-ganti terus dengan mudah, seperti pada media massa jurnalisme.
Wayang jadi lahir dalam bentuk baru terutama menyangkut seni rupanya. Sesuatu menjadi lahir kembali, dan wayang tidak bisa dibunuh oleh karenanya.
Yanusa Nugroho:
Siapakah Penonton Wayang Kulit Purwa?Pertanyaan sederhana yang tertulis di atas sebagai judul, sebenarnya sudah sering kita dengar. Kira-kira 10-15 tahun yang lalu, ketika saya mengupayakan sebuah pementasan wayang di Jakarta, ada pertanyaan sederhana yang muncul dari calon sponsor. Inti pertanyaan tersebut adalah: dari golongan kelas A, B, C atau D-kah penonton wayang kulit? Ini penting bagi sponsor, karena berkaitan dengan target market brand produk mereka.
Hal seperti di atas tentu bukan sesuatu yang aneh untuk saat ini. Ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan wayang kulit purwa memang sudah memasuki ‘era marketing‘.
Ilustrasi di atas tentunya tidak berlaku pada setiap pertunjukan wayang kulit di berbagai daerah dan semua tujuan kepentingan pementasan. Akan tetapi, yang perlu kita garis bawahi bahwa sejak zaman Jawa Kuna hingga hari ini, pementasan wayang kulit adalah tontonan massal, baik untuk tujuan ritual maupun sosial-politik.
Saya merasa perlu mencermati ‘era marketing’, mengingat ada proses transformasi nilai moral yang terjadi pada setiap pementasan wayang kulit kepada penontonnya. Tentu ‘era marketing’ yang saya pinjam tersebut bukan dikaitan dengan persoalan sponsor, namun lebih kepada titik fokus kepada siapa tontonan tersebut ditujukan dan dengan motif apa seorang penonton mau bertahan menyaksikan pementasan wayang kulit semalam suntuk.
Pementasan wayang kulit memiliki pesan moral yang perlu disampaikan kepada penontonnya. Diharapkan pesan tersebut bisa diterima dan dihidupkan dalam keseharian masyarakat (penontonnya). Dalam kilasan sejarah, sebagaimana telah dituliskan oleh para ahli, pesan moral (baik-buruk) diungkapkan lewat kisah, dan lebih spesifik lagi melalui pencitraan tokoh wayangnya. Ambil contoh, tokoh Bima—sebagaimana sudah disinggung pada butir 02. Dengan hadirnya pencitraan tersebut diharapkan masyarakat mampu mencerap nilai-nilai keutamaan yang ditawarkan pementasan tersebut melalui lakuan/sikap/dialog sang tokoh. Sekadar ilustrasi, pada era Jawa Kuna Bima dicitrakan sebagai tokoh yang berfisik dahsyat (saja), namun ketika era Jawa Baru terutama setelah masuknya Agama Islam, pencitraan Bima bertambah menjadi ‘manusia yang mampu menemukan jati dirinya’ (dalam lakon Dewa Ruci).
Berkaitan dengan pencitraan tokoh wayang untuk ‘sarana’ transformasi nilai moral, maka kita perlu pula menengok motif penonton pementasan tersebut. Jika kita asumsikan motif penonton wayang tersebut adalah ‘mencari nilai-nilai moral’ yang terkandung dalam sebuah pementasan, maka tentunya tak ada persoalan yang perlu kita bicarakan. Akan tetapi, ternyata, bisa kita saksikan bahwa motif seseorang dalam menyaksikan wayang kulit hampir bisa dipastikan ‘mencari hiburan’, ‘sekadar rindu masa lalu’ dan sebagainya, di luar pencarian nilai-nilai moral yang ditawarkan oleh pertunjukan wayang kulit.
Dari situasi di atas, kita tak perlu terlalu heran jika melihat adanya “jarak” yang kian melebar antara pementasan wayang dan penontonnya. Juga tak terlalu mengherankan pula jika ada kecenderungan para dalang menciptakan sisi hiburannya sedemikian rupa sehingga diharapkan mampu memikat penontonnya selama pertunjukan. Lihat saja, di berbagai tempat yang melangsungkan pementasan wayang kulit, jika bukan dalang ‘ternama’ apalagi yang dilakonkan adalah kisah “pitutur”, bisa diramalkan sepi penonton; sebaliknya jika ada campursari atau dangdut atau pelawak/pesohor tv yang ikut tampil, penonton akan melimpah.
Secara sambil lalu, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa agaknya kita tak boleh terlalu berharap bahwa nilai-nilai moral yang ditawarkan wayang kepada penontonnya akan langsung bisa diterima. Kalaupun ada, tentu saja tak sebesar di masa pementasan wayang belum punya saingan di bidang seni tontonan. Dengan kata lain, sebagus apapun nilai yang ditawarkan oleh wayang kepada penontonnya saat ini, nyaris tidak berbekas atau mewujud dalam tata kehidupan masyarakat sehari-hari; apalagi konteks tatanan moral bagi seluruh masyarakat Indonesia dewasa ini.
Kembali ke persoalan semula, kita melihat adanya keterkaitan antara pesan moral yang ditawarkan pementasan wayang kulit kepada penontonnya. Namun, yang perlu kita cermati lebih jauh adalah siapa sebenarnya penonton wayang kulit kita tersebut. Kalangan usia berapa, tinggal di wilayah sosio-kultural mana, golongan ekonomi apa, dan tentu saja dikaitkan dengan motif atau alasan mengapa mereka mau menonton wayang kulit semalam suntuk. Dari ‘pemetaan’ seperti itu tentunya bisa diharapkan ‘strategi’ yang lebih baik , khususnya dalam hal transformasi nilai-nilai moral dalam sebuah pementasan wayang kulit.
Yanusa:
Tahun 1999 ketika saya diminta Senawangi membikin iklan yang akan mengajak masyarakat datang ke TMII (yang jauh bagi anggapan mereka) dan diharapkan yang datang adalah anak muda yang biasa nongkrong di KFC, di mall atau hal-hal semacam itu, saya bersedia. Saya kemudian membikin iklan wayang di media-media terkemuka Indonesia seperti RCTI, dan bahkan di Hard Rock dengan cara sangat iklan, sangat marketing.
Waktu itu saya bikin headline yang sangat provokatif dengan tokoh Banowati: “malam pertamaku, bukan untuk suamiku”. Siapa bilang di dalam wayang tidak ada selingkuh? Siapa bilang Arjuna tidak mata keranjang? Kalu pengen tahu dan membuktikannya, maka datanglah ke TMII. Dan sukses. Waktu itu yang meliput adalah MTV.
Nah, hal-hal semacam inilah yang seharusnya disasar. Mereka, anak-anak muda itu, benar-benar suka, senang, dan terkagum-kagum. Saya iseng bertanya kepada seorang anak muda yang ada disana: kau suka nggak? Suka. Kamu rela nggak kalau wayang ini mati. Ya, jangan dong. Kamu mau ga mengurusnya? Ya jangan saya dong… nah jawaban ini yang jadi masalah sebenarnya.
Di satu sisi mereka datang 90 % karena melihat iklannya. Apakah hal itu berlaku sampai dengan kini?
Saya pernah menantang Purbo Asmoro apakah dia mau dan mampu membikin satu pentas pribadi, nggak ditanggap, yang akan membikin orang datang dan mau membayar secara sukarela seperti anak-anak mud asekarang yang mau dan mampu untuk membayar tiket konser grup band tertentu? Saya pikir dalang-dalang itu belum mampu mencapi taraf semacam itu.
Nilai bisa dibentuk. Pada jaman Jawa Kuno, Werkudara selesai pada sosok yang kuat dan menjadi bagian Pandawa. Hanya itu. Tapi ketika Islam masuk, Werkudara menjadi sosok bagi pencarian jati diri dalam Dewaruci. Dan bagaimana dengan Werkudara jaman sekarang, apakah kita tahu tentangnya?
Maka ketika hal ini dikontekstualisasikan saat dalang pentas, maka dia akan bisa berdialog kepada penontonnya. Sehingga benar-benar terjadi komunikasi antara seniman dan apresiannya, yang satu berekspresi, yang lainnya berkontemplasi: termasuk ketia hal ini diterapkan kepada anak-anak muda sekarang yang mempunyai attitude dan nilai yang berbeda kini.
Karena seorang anak kini mempunyai imaji yang berbeda dengan nilai-nilai yang selama ini kita kenal. Seorang anak lebih menyukai wayang buto, lebih kepada visualnya, dan bukan kepada nilainya. Menurutnya, seorang buto bukan bernama Suratimantra, akan tetapi seorang monster: ia punya bahasanya sendiri. Seperti hlanya bayangan ketampanan Arjuna adalah ketampanan Orlando Bloom, bukan berwajah ngantuk dan luruh seperti itu. Anak muda punya cara pandangnya sendiri dan kita tak bisa menyalahkan. Hal-hal itu membentuk hal-hal baru dan apakah kita siap dengannya. Wayang baik-baik saja, dan nilai-nilai itu bisa dibentuk.
Kabut:
Optimisme untuk kita: pesimisme dan kekhawatiran bisa dihilangkan karena kita berpikir akan ada proses-proses perubahan yang akan menantang kita berproses untuk sadar diri dengan tarikan-tarikan masa lalu, termasuk (meminjam bahasa Afrizal) “pembunuhan” dalam memahami otentisitas wayang.
Yan Edi, Wonogiri
Bahasa wayang sudah hilang, lalu bagaimana mengembalikannya? Apa itu juga berhubungan dengan perubahan nilai dalam proses “menjadi”?
Atik:
Jika kita lihat wayang sebagai bahasa, sementara bahasa itu arbitrer, kelihatannya wayang jadi terasa hilang. Ketika kemarin ada wayang bocah, saya sempat merasa semua ini merupakan kisah orang dewasa yang diomongkan seorang bocah atau orang dewasa yang dibocahkan. Saya merasa kehilangan identitas bocah.
Sementara di sisi lain saya adalah seorang generasi yang tidak lagi mengenal wayang, saya tahunya jadi, mendapatkan sesuatu yang sudah ahistoris; ini menjadi semacam jalan pulang bagi saya.
I Wayan Sadra:
Esensi wayang adalah bayangan. Ketika sekarang penonton melihat dari depan layar, sebenarnya hal ini sudah menyalahi etika moral. Saya melihatnya sebagai dekadensi: wayang direalis-realiskan dengan dimaknai dalam kebudayaannya, dibikinkan format dalam filosofinya, bentuk-bentuk wayang ditafsir dan sebagainya. Saya setuju anggapan bahwa wayang telah masuk kategori classical, tingkat tinggi. Tapi pada saat yang sama, hal ini sebenarnya telah mengajak kita berada dalam jurang kehancuran.
Wayang sekarang tidak lagi menyampaikan misi nilai tapi hanya sekedar tontonan. Maka apa yang dilakukan wayang Suket, Air, Kondom, Kampung Sebelah hanya perluasan bentuk semata, tidak ada substansi ubntuk dikembangkan, karena berhenti sebagai wacana tontonan. Pad aakhirnya, tidak ada nilai dalam wayang. Nilai sudah berhenti ketika kita ceritakan kepada anak-anak ketika hendak berangkat tidur.
Afrizal:
Komunikasi dalam bahasa berpegang pada arti masing-masing kata yang sebenarnya tidak saling berhubungan. Dalam wayang, pengertian itu ditempatkan dalam konteks bayangan, yang membawa kita pada sebuah cara berpikir yang membawa kita pada ruangan tertentu dimana pandangan hidup dipraktekkan dalam seni pertunjukan.
Ketika kita nonton wayang sekan kita masuk dalam perpustakaan Plato, tentang idealisme dan ide-ide; meski kita tidak pernah sampai pada ide-ide itu sendiri.
Kadang kita seperti ada di perpustakaan Heidegger: kita membaca tidak dengan cara melihat, tapi kita membaca tidak dengan kesadaran, karena kesadaran itu cenderung melupakan. Karena kesadaran itu dirutinkan, dilembagakan dalam hidup sehari-hari, yang membuat kita lupa.
Kadang kita seperti masuk ke perpustakaan Hegel dimana sesuatu yang subsatnsi dan artifisial tidak ada penanda akhirnya tapi selalu bergerak diantara keduanya. Penanda yang bergerak untuk mencapai kerinduan, bukan untuk memenuhi kerinduan itu, meminjam ungkpan Slamaet Gundono, tapi untuk menghadirkan kerinduan itu. Itulah bahasa wayang.
Membaca wayang tidak seperti kita membaca sejarah Barat. Hal ini yang membuat kita menjadi generasi ahistoris, karena setiap kita hendak pulang, tidak ada jejak-jejak sejarah yang akan mengantar kita pulang.
Kalu kita kembalikan cara pulang melalui wayang, sejarah tidak ada dalam sejarah (kalau kita memakai cara berpikir wayang). Sejarah justru ada dalam diri kita, dan terletak pada cara kita membaca sejarah. Pada akhirnya Indonesia menjadi bangsa kreol: bergerak terus, tapi kita tidak mencatat sehingga tidak tahu perubahan itu berawal dari mana dan hendak menuju kemana.
Maka pertanyaannya kemudian apa arti sejarah bagi kita. Bagi saya, sejarah terletak pada bagaimana cara kita membaca. Tradisi, oleh karenanya adalah kita, bagian dari diri kita. Maka ketika Rendra menulis “Mempertimbangkan Tradisi”, saya jadi bertanya siapa orangnya yang bisa berada di luar tradisi? Pada saat yang sama, wayang telah memainkan politik identitas: bahwa ia tidak melekat pada diri kita, akan tetapi terjadi proses tarik menarik diantaranya.
Yanusa:
menanggapi dalang bocah: dalam kebudayaan kita, hikayat-hikayat lama memang banyak yang dibikin tidak untuk bocah-bocah. Termasuk saya kira wayang karena sebelum Islam masuk, wayang digunakan untuk pemujaan bagi roh-roh. Maka dalam konteks dalang bocah, barangkali dalam hal ini jaman memberi pembelajaran tentang wayang dengan caranya snediri. Tapi satu hal, dimanapun, esensi anak-anak adalah bermain. Hal ini yang perlu dilakukan dan ditekankan dalam konteks pengembangan kreativitas anak.
Bisa jadi cara anak muda dengan bahasanya sendiri membikin kreativitas termasuk lewat komik modern kini. Anak-anak muda menengok wayang, bahkan sampai membekin penerbitan indie, karena mereka merasa wayang adalah milik mereka yang seru dan memang menarik buat mereka.
Cerita wayang adalah simbolisasi cerita untuk orang dewasa: politik, cinta dsb. Hal ini berkaitan dengan politik pada waktu itu, yang meminta wayang mempunyai jalan cerita tertentu. Dalam hal ini, untuk pengkontekstualitasan wayang untuk masa kini, sanggit menjadi dasar kreatif bagi para seniman, yang bisa menjembatani kreativitas ekspresi wayang di jaman kini.
Bambang Murtiyoso:
Tentang dalang bocah, kita harusnya jangan melihat pada hasil akhirnya, akan tetapi pada prosesnya. Sepanjang saya mendampingi para dalang bocah itu, mereka memilih wayang dengan kesadaran sendiri. Dibikinkan cerita wayang yang sesuai dengan cerita anak pun mislanya, dia juga nggak mau. Anak-anak itu justru memilihi sendiri, sudah punya kesadaran bahwa wayang memang satu hal yang berharga, bernilai, karenanya dengan itu mereka melakukan prosesnya sendiri. Ini yang perlu digarisbawahi. Dan jangan-jangan tuduhan –tuduhan masyarakat itu juga perlu direvisi.
Slamet Gundono:
Menurut saya, pertumbuhan anak sekarang memang berbeda, sesuai dengan konteks pendidikan dan lingkungannya. Bahwa dunia anak-anak adalah bermain, itu yang pening. Termasuk dalam ekspresi pentasnya, oke serius, tapi begitu di luar, dia jadi anak-anak yang nakal lagi. Artinya, dunia dalam dan luar panggungnya tidak bisa dinafikan sama sekali. Di dunia kini yang metropolis ini, maka menjadi naïf jika kita menyamakan dunia anak dengan ekspresi yang seragam, termasuk dibandingkan dengan diri kita dahulu.
Afrizal:
Menurut saya anak punya cara sendiri berhubungan dengan wayang. Ia berhubungan dengan mata Heidegger itu: mata yang tidak memaknai kesadaran, yang polos, dan dengan imajinasi yang kuat. Padanya, wayang mempunyai makna yang berbeda.