15 November 2009 / berita
BENTARA PENTAS MUSIK Semangat Pluralisme dan Universalisme dalam Musik Saratuspersen
BENTARA PENTAS MUSIK Semangat Pluralisme dan Universalisme dalam Musik Saratuspersen
Kelompok musik multietnik asal Bandung, Saratuspersen, tampil di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (12/11). Kelompok musik yang beranggotakan 13 orang ini memadukan genre musik Timur dan Barat yang mencerminkan semangat pluralisme dan universalisme.(Kompas/Lucky Pransiska)

Setelah melanglang buana dari suatu festival ke festival lain di mancanegara selama sembilan tahun, untuk pertama kalinya kelompok musik dunia Saratuspersen tampil di Jakarta, di Bentara Pentas Musik, Bentara Budaya Jakarta, Kamis (12/11) malam.

Dibuka dengan komposisi ”Latinamina” (instrumental) kelompok dengan 13 musikus dan empat penari ini tampil semangat dan menghangatkan malam yang dingin, setelah Jakarta diguyur hujan lebat.

Dilanjutkan komposisi instrumental ”Ubud”, warna musik Saratuspersen mulai tampak. Diakui, kelompok musik asal Bandung ini tidak fanatik dengan satu warna. Makanya, komposisi yang ditampilkan dominan kolaborasi multietnik.

”Kami menggabungkan beberapa genre musik-musik daerah. Selain itu, secara musikal, Saratuspersen juga menggunakan gaya dan genre musik Timur dan Barat secara umum,” kata Iweng, musisi yang menguasai alat musik jembe, bongo, perkusi, suling, dan karinding.

Mencermati komposisi-komposisi yang ditampilkan, secara konseptual Saratuspersen—yang membawa serta seorang vokalis dari Afrika, Biti—adalah kelompok musik yang mempresentasikan semangat pluralisme dan universalisme. Universalisme dalam arti membangun harmoni multikultural (antaretnis serta antara Timur dan Barat).

Komposisi ”Sundanesse in Bali”, yang jadi judul album pertama Saratuspersen, sepertinya menjadi kekuatan musik kelompok musik yang pernah tampil, antara lain, di Malaysia, Jepang, dan Australia ini.

Peka dengan situasi, dalam rangka Hari Pahlawan, komposisi ”Karatagan” pun dibawakan dengan apik, ditingkahi gaya bersilat seorang musikus, Sadam, dengan gayanya yang kocak. Interaksi dengan ratusan penonton yang memadati halaman BBJ pun terjadi. Iweng meminta penonton menirukan bunyi perkusi dengan tepuk tangan, berkali-kali.

Saratuspersen juga menampilkan tarian sunda. Saat rehat, ditampilkan tarian saman asal Aceh oleh SMA Muhammadiyah 18 Jakarta.

Pada sesi kedua Biti tampil dengan nyanyian ”Ilusi”, ”Midnight Sky”, ”Cahaya Hidupku”, dan ”Bersama” dengan gaya hip-hop. (NAL)

Affiliasi:
Dewan Kesenian Jakarta Galeri Nasional KELOLA Indonesia Art News
Copyright © 2005 - 2008 Bentara Budaya. All rights Reserved.