04 Juni 2009 / berita
Rakyat Pusing Seperti Gasing
Seniman sibuk mengomeli pesta demokrasi. Gasing dan yoyo medium segar menantang eksplorasi.

Ada gambar Petruk, Gareng, dan Semar di sekujur gasing kayu itu. Tulisannya berbu­nyi ”Ojo Coblos Ning Centang” (bahasa Jawa: ”Jangan Coblos Tapi Contreng”). Gambar para punakawan itu dibuat dengan sangat rapi. Setiap garis ditarik dengan kehati-hatian dan ketelitian, meski ruangnya sangat terbatas—hanya di sekujur permukaan gasing yang membundar itu.

Karya perupa Koniherawati ini tampil di sampul depan katalog pameran Komidi Putar: Seni Rupa Gasing di Bentara Budaya, Jakarta, akhir Mei ini. Inilah pameran tentang dua mainan yang sungguh populer di seantero Nusantara. Ia tersebar dari Pulau Sumatera hingga Pulau Alor dan Rote. Ia populer karena setiap daerah punya istilah sendiri untuknya, mirip-mirip meski tetap unik. Tapi ga­sing dan yoyo dalam pameran ini lantas menjadi tidak penting bila dibaca isi pesan yang di­gores penulis senior Sin­dhunata tentang pameran ini: ”Politik saiki kaya yoyo, munggah mudun rak­yate loyo...”

(bahasa Jawa: ”Politik sekarang seperti yoyo, maju-mundur rakyatnya loyo”).

Simaklah sebuah gojekan dari Romo Sindhu, begitu ia akrab dipanggil, yang membuat kita tertawa:

Becik ketitik olo ketoro
Iku ngono jare wong tuwo
Tapi jare sing duwe negoro
Becik ora ketitik olo ketompo

(Baik atau buruk pasti kelihatan
Itu kata orang tua
Tapi kata yang punya negara
Yang baik tidak ketahuan, yang buruk diterima)

Gasing punya mitos kuat di Tanah Air. Menurut peneliti kolonial, Dr Alb. C. Kruyt, yang dikutip Sindhunata, gasing bukan sekadar permainan. Ia produk kebudayaan. Gasing erat terkait dengan folklore lokal. Banyak mitos yang menganggap gasing sebagai ajimat pemberi kesaktian dan nasib baik, termasuk mendatangkan hujan dan membuat tumbuhan subur—khas masyarakat agraris.

Di Jawa Timur, permainan gasing dilakukan setelah acara panen. Suara gasing berputar keras yang mende­ngung kemudian digunakan untuk memanggil panas dan angin, ”agar kondisi padi kering, segera bisa digudangkan,” Kruyt menulis. Di wilayah ini, gasing erat dengan cerita kuno yang menyebutnya sebagai keunggulan Damarwulan, yang kemudian diangkat menjadi Raja Majapahit.

Di antara rak-rak kaca yang menampilkan gasing dan yoyo dari berbagai tradisi: Jawa, Sunda, Bali, Batak, Sumatera, Sulawesi, Mori, Toraja, dan Alor, seisi ruang pamer Bentara Budaya bernas dengan pesan dari para seni­man yang kelelahan dengan pemilu. Mereka mengomentari, sekaligus me­ngomeli, proses politik yang terjadi: jual-beli suara, rakyat pusing banyak pilihan, seperti gasing diputar-putar dan dikelabui, serta uang yang bertebaran menggantikan makna demokrasi.

Di dinding terdapat beberapa lukisan hasil karya kolaborasi sejumlah seniman berbarengan. Isinya tentu saja tentang pemilu: ada gasing yang dibelit naga, ada potret yang menyerupai Romo Sindhu diberi tanduk, ada pula potret seorang pria berjas dan berdasi menggunakan topi koboi dan kacamata ala superhero. Di belakangnya ada separuh potret superhero perempuan ala Wonder Woman. Tapi yang paling kental bau pemilunya adalah satu karya yang mempersatukan dua wajah separuh-separuh: wajah Megawati Soekarnoputri dan wajah Susilo Bambang Yudhoyono. ”Bersatulah untuk Indonesiaku” tertulis di dalamnya. Ini bisa jadi angan-angan politik dari pe­rupanya.

Ada seniman yang tampak sekadar bermain-main, membuat gambar bak goretan anak kecil yang kesal. Ini seperti karya Samuel Indratma yang berjudul Vox Populi dan Archive. Dan kesan yang ia tangkap dari pesta demokrasi bertajuk pemilu itu pun bisa ditebak: ”Rakyat dianggap sebagai mainan saja yang bisa dipermainkan,” katanya.

Sebagian lain serius mengomel dan mencemooh proses politik dan demokrasi yang terjadi di negeri ini. Dan mungkin karena mediumnya tradisio­nal—gasing dan yoyo—perlakuan yang diberikan kepadanya pun berbau tradisional. Gambar-gambar punakawan, aksesori tambahan dari bambu, serat­ ijuk, dan tali serat sering digunakan. Yang menarik, perlakuan masing-masing seniman itu tampak segar dan unik dengan medium yang belum pernah dieksplorasi sebelumnya.

Lihatlah karya Hermanu yang berjudul Serakah. Sekujur gasing itu ditempeli mata uang kuno sehingga tampil seperti gada kuno perangkat bela diri. Atau karya Melodia yang melukisi dua sisi yoyo: sisi yang satu ia lukisi seperti sisi uang logam Rp 100 yang membubuhkan kata-kata menyindir ”Jabatan untuk Kesejahteraan”, dan sisi satunya lagi melukiskan seorang pria berjas dan berdasi yang terlena tertidur di depan gambar gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Bagai Dua Sisi Mata Uang, judulnya.

Agak-agak bercanda, ada juga gasing fashionista. Ia dibungkus lapisan kulit seperti bulu binatang loreng, bertajuk Kamuflase. Untuk yang ini, sang perupa, Khusna Hardiyanto, dengan yakin berpendapat bentuk gasing peninggal­an budaya tradisi kita tidak akan bisa diambil alih oleh negara asing. ”Karena telah memiliki ciri khas paten,” katanya.

Lihat juga karya-karya yang tak lagi kelihatan kegasingannya, seperti milik Adi Gunawan, Adu Domba, yang membuat gasing berkepala domba berukuran hampir sebesar tabung pema­dam kebakaran. Besarnya hampir serupa dengan gasing karya Ali Umar yang berjudul Keseimbangan Tambah. Yang satu ini berupa gasing kayu tanpa pernis yang diselipi kayu-kayu kecil di dua sisi, dan dibebat dengan tali serat di pinggangnya, seolah-olah melukiskan keseimbangan baru yang dihasilkan.

Asyik juga untuk variasi, tak semua­nya melulu bicara tentang politik. Ga­sing karya Anggar Prasetyo bertajuk Global Warming—tak perlu dijelaskan lagi apa maksudnya—membubuhkan peta Indonesia di sekujur gasing bulat bak planet bumi yang berwarna cokelat-putih kusam seolah-olah ruyuh oleh polusi. ”Akankah bumi berhenti berputar dan jatuh seperti gasing?” Anggar bertanya.

Simak karya Endang Lestari. Perupa perempuan asal Aceh kelahiran 1976 ini melukisi gasing dan yoyo berukuran besar dengan latar hijau muda, untuk menampilkan teks-teks syair Aceh yang mengisahkan betapa akar tradisi negeri Serambi Mekah itu mulai pudar di mata anak-anaknya. Dalam karya berjudul Lhe Tat Tuwo Abanyak yang Sudah Lupan (bahasa Aceh: ”Banyak yang Sudah Lupa”) itu, Endang melengkapinya dengan abjad atau huruf-huruf yang berceceran di kakinya ketika gasing dan yoyo itu digantung atau ditaruh di lantai. ”Ini ibarat tradisi dan bahasa Aceh yang luntur dan terlupakan,” katanya.

Karya Erica Hestu Wahyuni, yang kukuh berpegang pada gaya kekanak-kanakannya yang khas, menggambari gasing dan yoyo dengan imaji akan pla­net bumi, lengkap dengan jerapah, gajah, dan pohon hijau serta superhero­ bertopeng ala Batman dengan tulisan Norton di dada. ”Gasing dan yoyo seper­ti hidup di dunia yang terus berputar. Harus dilakoni dan dihadapi. Biar tetap segar ya gambarnya lucu-lucu saja,” Erica menulis tentang konsepnya.

Betul juga. Mengutip Erica, bahkan pesta demokrasi yang memusingkan dan seperti membuang uang itu pun seperti gasing dan yoyo: mesti dilakoni dan dihadapi.

Kurie Suditomo

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/06/01/SR/mbm.20090601.SR130448.id.html

Affiliasi:
Dewan Kesenian Jakarta Galeri Nasional KELOLA Indonesia Art News
Copyright © 2005 - 2008 Bentara Budaya. All rights Reserved.