Komunitas Bentara Budaya Bali

Bentara Bali banyak bekerjasama dengan komunitas seni di Bali. Berikut ini adalah beberapa komunitas yang pernah bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali

  1. Indonesian Watercolor Society (IWS)

    Indonesian Watercolor Society (IWS) merupakan komunitas untuk pelukis dan seniman cat air Indonesia. Komunitas cat air ini didirikan tahun 1993 dan kini diketua oleh Robby Lulianto, beranggotakan pelukis-pelukis cat air lintas generasi dan lintas kota; Ade Artie Tjakra, Agus Budiyanto, Alice Arianto, Anne Lukardi, Atty Mulyono, Benny Setiawan, Budiarti Silalahi, Christina Leksono, D Tjandra Kirana, Hanny Widjaja, Harlim, Hendrik L Lukman, Huang Fong, I Wayan Sujana Suklu, Indrawati Harlim, Ipphing, Irwan Widjayanto, JB Iwan Sulistyo, Koh Seok Peng, Koh Siok Pwan, Kwang Hui, Lies Darya, Nakis Barli, Paiman Mak, Pwan Cho, Robby Lulianto, Sandy Leonardo, Senpao, Sipin Lim, Teng Moe Yin, Tio Jenie dan Untoro.

    Selain telah dua kali berpameran khusus di Bentara Budaya Bali, yakni tahun 2012 dan 2014, para seniman yang tergabung dalam IWS ini secara pribadi juga aktif turut dalam eksibisi dengan seniman-seniman lain yang diselenggarakan di Bentara Budaya Bali. Mereka juga terbilang berperan dalam kegiatan-kegiatan seni rupa, baik diskusi maupun pemutaran film dokumenter yang diselenggarakan di BBB.

    Komunitas IWS ini juga sempat menyelenggarakan pameran bersama di Bentara Budaya Jakarta, Balai Soedjatmoko Solo dan Bentara Budaya Yogyakarta pada tahun 2012 dalam "Safari Asian Watercolour Expression".

    Telah menyelenggarakan berbagai pameran bersama, antara lain; “19th Exhibition of The Asian Water Colour Confederation, 8 - 30 November 2008, in NEKA Art Museum, Ubud, Bali, Indonesia“ (2008), “Watercolor Exhibition at Incheon Global Cities Art Festival Exhibition“ (South Korea) taun 2009, “Watercolor Exhibition at Tian Jin City – China“ (2009), “Watercolor Exhibition at Zado Ssland and Niigata – Japan“ (2010), "The 2010 Incheon International Grand Art Festival" at Korea (2010), “Asia Watercolor Painting Alliance 22th at Shanghai – China“ (2010), “The 5th Exhibition of New Expression of Asian Art hosted by Dhonburi Rajabhat University, Thailand, at The National Gallery, Thailand (2011), “The Day of Princess Galayani Vadhana 5th (The Contemporary Art Exhibition of Thailand, at Thailand“ (2011), “The 23rd Watercolour Painting Exhibition in Asia, August 25th 2011 - September 4th 2011. The painting is exhibited at The Art Gallery of Longtan Park, Qujing – China“ (2011), “Watercolour on Beautiful Small Space at Art Space, Podomoro City - Central Park, Jakarta“ (2011), “1st New Expression of Art Exhibition (NEWA) at Henan Art Museum in ZhengZhou of China“ (2011).

  2. Komunitas Galang Kangin

    Komunitas Galang Kangin didirikan tahun 1996 dan secara rutin menyelenggarakan aktivitas pameran di berbagai ruang kebudayaan. Para anggotanya juga meraih berbagai penghargaan seni rupa, semisal semisal Phillip Morris Arts Foundation serta melakukan pameran di dalam maupun luar negeri.

    Dalam pameran-pamerannya, komunitas ini kerap kali mengusung seni-seni kontektual dengan situasi sosial di masyarakat. Para kreatornya juga selalu berupa memadukan pesan dan ragam ekspresi yang dipilihnya agar pada sebagai karya seni yang estetik sekaligus juga kaya renungan.

    Komunitas ini pernah berpameran di Bentara Budaya Bali pada 20 – 26 September 2014, mengusung tajuk “Transformasi Air dalam Karya Visual Atraktif“. Para perupa yang terlibat antara lain: antara lain: I Made Supena, I Wayan Setem, I Wayan Naya Suanta, I Made Galung Wiratmaja, I Nyoman Ari Winata, I Dewa Soma Wijaya, I Nyoman Diwa Rupa, I Gusti Putu Muliana, I Dewa Soma Wijaya, I Made Sudana, Atmi Kristia Dewi, Made Gunawan, A.A. Gede Eka Putra Dela.

    Selain pameran bersama, secara pribadi anggota komunitas Galang Kangin juga aktif dalam berbagai pameran lain di Bentara Budaya Bali, serta turut dalam kegiatan-kegiatan diskusi seni rupa, pemutaran film maupun dialog lintas bidang.

  3. Komunitas Sahaja

    Komunitas Sahaja adalah sebuah kelompok studi sastra dan penulisan kreatif yang terdiri dari kalangan pelajar, baik SMP, SMA maupun tingkat Universitas. Sejak dibentuk pada tanggal 24 Mei 2006, kini Sahaja telah memiliki lima belas orang anggota inti dan sebelas anggota non inti.

    Semula, kelompok ini bernama Teater Dua Saja, di mana sebagian besar anggotanya terdiri dari alumni SMPN 2 Denpasar. Akan tetapi, karena tak ingin terlampau menutup diri dan mengesankan bahwa komunitas ini hanya berasal dari almamater yang sama, komunitas ini pun berganti nama, menjadi Komunitas Sahaja.

    Adapun tujuan berdirinya komunitas ini adalah guna memberikan pengalaman kreatif bagi masing-masing anggotanya, misalnya saja pengembangan kecakapan berbahasa dan sastra, serta kemampuan berorganisasi melalui berbagai kegiatan kepanitiaan. Hal ini tak hanya diwujudkan dengan pelaksanaan agenda rutin Komunitas seperti pembahasan kiat-kiat proses penulisan puisi, cerpen, esai maupun tulisan ilmiah populer, yang kemudian dilengkapi dengan diskusi terbuka yang membahas karya pribadi, sastrawan ternama maupun perkembangan sastra terkini. Komunitas Sahaja juga mengelenggarakan beberapa program yang berkaitan dengan seni dan budaya seperti bedah buku, pembukaan pameran lukisan, pementasan musik akustik, serta event lain yang bertaraf lokal, nasional, maupun internasional.

    Prestasi yang diraih oleh anggota Komunitas umumnya berupa penghargaan dalam lomba teater (monolog), serta pembacaan puisi. Selain itu, sebagian besar anggota Komunitas Sahaja berhasil menjuarai berbagai lomba penulisan, baik penulisan puisi, cerpen dan esai tingkat lokal maupun nasional. Di antaranya Juara II Lomba Menulis Puisi South to South 2007, Juara I Lomba Menulis Puisi tentang Musibah Dewan Kesenian Semarang 2007, Juara Umum Lomba Penulisan dan Pembacaan Puisi se-Indonesia Sampoerna AGRO 2007, Juara I Lomba Esai Global Warming yang diadakan oleh Kompas Gramedia Fair 2007 dan sebagainya.

    Karya-karya anggota Komunitas Sahaja juga telah dimuat di media-media surat kabar, seperti Jurnal Sundih, Bali Post, Media Indonesia, Majalah Femina, Koran Tempo hingga Kompas Minggu. Bahkan, pada bulan Maret 2008, Komunitas ini juga telah menulis dan menerbitkan sebuah buku mengenai perjalanan kreatif Made Wianta yang berjudul Waktu Tuhan.

    Sejak tahun 2007 hingga kini, Komunitas Sahaja juga telah menyelenggarakan berbagai kegiatan kebudayaan, bekerjasama dengan lembaga-lembaga kebudayaan seperti Goethe Institute Jakarta, Mainteater-Bandung, Alliance Francaise Denpasar, Bentara Budaya Bali dan lain sebagainya. Sedari tahun 2009, Komunitas Sahaja aktif bekerjasama dalam berbagai program di Bentara Budaya Bali, antara lain dalam program Sinema Bentara, Bali Tempoe Doeloe, Pustaka Bentara, Workshop Cerpen Kompas, dll.

    Sekretariat: Lantai 3 Student Centre Universitas Udayana, Jl. DR. R Goris, Denpasar.

  4. Udayana Science Club (USC) Universitas Udayana

    Udayana Science Club (USC) merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di tingkat univesitas yang bertujuan untuk mewujudkan atmosfer akademik di kalangan mahasiswa Universitas Udayana guna menuju terciptanya kualitas kaum muda yang unggul, cerdas, kreatif, dan kompetitif.

    Sedari awal tahun pendiriannya yakni 2009, UKM yang digagas oleh dr. I Nyoman Sutarsa ini telah mengukir banyak prestasi di antaranya: Juara I Nasional Paper Competition Ary Suta Center (ASC) Award, Finalis LKTI Nasional “Katulistiwa 2“ Universitas Brawijaya. USC juga berhasil meloloskan anggotanya sebagai salah satu perwakilan VECO Indonesia yang berhak mengikuti konferensi di Belgia, finalis Bayer Young Environmental Envoy (BYEE) 2010 di Leverkusen, Jerman; mendapatkan Best Presentation Short Movie Making Competition in Asean English Olympics 2012; Juara I Lomba Esai Konichiwa yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal Jepang di Indonesia 2013; Juara I Essay Competition oleh Konsulat Rusia di Indonesia (penghargaan diserahkan di Sidney, Australia); salah satu anggotanya juga sebagai Mahasiswa Berprestasi Universitas Udayana tahun 2013.

    Selain aktif dalam kegiatan penulisan, UKM USC juga kerap bekerjasama dengan berbagai lembaga Kebudayaan dalam penyelenggaraan kegiatan diskusi, peluncuran buku, pemutaran film, dll., di antaranya : Discussion and Poetry Reading Johann Wofgang von Goethe bekerjasama dengan Goethe Institut dan Komunitas Sahaja (2010); Sinema Bentara: Pemutaran Film-Film Ternama Dunia bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali (2010-sekarang); Bentara Budaya International Film Festival 2013 yang bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali serta 12 Pusat Kebudayaan Asing Dunia; seperti: Alliance Francaise, Goethe Institut, Istituto Italiano di Cultura Jakarta Konsulat Jenderal Jepang; Konsulat India di Denpasar, Konsulat Italia di Denpasar, dll.

    Diskusi MUDA Bicara APEC bekerjasama dengan Harian KOMPAS dan KOMPAS MuDA (2013); Diskusi dan Timbang Buku CEO Kompas Gramedia (Agung Adiprasetyo) “Memetik Matahari“ (2013) bekerjasama dengan Penerbit Buku Kompas (PBK) dan Diskusi serta Pemutaran Film ACFFest (Anticorruption Film Festival) kerja sama dengan Bentara Budaya Bali dan KPK RI (2014), Diskusi dan Timbang Buku Agung Rai: Kisah Sebuah Museum bekerjasama dengan ARMA (Agung Rai Museum of Arts) (2014), German Film Festival 2015 bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali dan Goethe Institute Indonesien, Festival Sinema Prancis 2015 bekerjasama dengan IFI dan Alliance Fracaise Bali, Movie Day serangkaian Anticorruption Film Festival- bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali, USAID, MSI dan KPK RI (2015).

  5. Cepaka Fine Arts Community (CFAC)

    Terletak sekitar 40 kilometer di sebelah barat kota Denpasar, dan berbatasan langsung dengan kabupaten Buleleng di sebelah utara, Tabanan memang sejak dulu tidak hanya terkenal sebagai lumbung padi, melainkan juga marak oleh berbagai aktivitas keseniannya. Bahkan menurut penyair Umbu Landu Paranggi, keseharian kota Tabanan yang guyub dan hangat serta kehidupan komunal pedesaannya adalah sumber ilham bagi para kreator bidang apapun. Atmosfer berkesenian yang kuat dan mentradisi di kota ini terbukti, dalam ekspresinya, sarat akan nilai-nilai filosofi Bali. Misalnya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam konsep ‘nyegara giri’, yang selaras dengan keadaan geografis Tabanan; selain berbatasan langsung dengan samudera Indonesia di selatan, juga dibentengi oleh Gunung Batukaru yang mistis berikut pura Kahyangan Jagat-nya.

    Tidak mengherankan bila dari Tabanan lahir maestro-maestro seni yang sebagian besar boleh jadi belum tercatat dalam sejarah dan menjadi tugas kita bersama untuk mendokumentasikannya. Sebagian dari para maestro itu, sebagaimana disinggung di atas, tercatat karya-karyanya telah mewarnai dinamika berkesenian di Bali, Indonesia, serta juga di dunia internasional.

    Cepaka Fine Arts Community (CFAC), berdiri pada tahun 2003, merupakan sebuah komunitas atau wadah bagi perupa Tabanan. Wadah ini bertujuan membangun kebersamaan dalam beraktivitas, berkreativitas dan berprogresevitas seni rupa, sarana komunikasi dan interaksi bersama dalam dunia seni rupa modern/kontemporer ke depan di Tabanan. Salah satu agendanya adalah berpameran. Wadah ini pula sekaligus jadi rumah dokumentasi bagi para perupa Tabanan.

    Lewat peran CFAC, para perupa Tabanan lintas generasi berkumpul dalam satu gelaran pameran bertajuk ‘Personalitas dalam Komunitas’ yang berlangsung di Bentara Budaya Bali, 30 November – 7 Desember 2013. Para perupa yang terlibat antara lain: Pematung I Nyoman Nuarta, Made Wianta, Kay It (alm.), I Gusti Nengah Nurata, I Putu Sutawijaya, I Gusti Ngh. Alit Cakra, I Made Surya Dharma, I Wayan Sunadi, I Gusti Ngh. Surya Buana, I Gusti Nengah Sura Ardana, I Made Sumadiasa, I Gusti Ketut Adi Dewantara, I Made Somadita, I Nyoman Adiana, I Nengah Wira Kusuma, I Made Bakti, I Wayan Novianta, I Wayan Santika, I Nyoman Agus Wijaya, I Wayan Gawiarta. Selain berpameran bersama dengan sesama perupa Tabanan, para seniman ini juga kerap berpameran bersama lintas komunitas dan aktif dalam berbagai kegiatan diskusi maupun workshop seni rupa di Bentara Budaya Bali.

  6. Komunitas Lempuyang

    Komunitas Seni Rupa Lempuyang berdiri sejak 1989, adalah perkumpulan seniman perupa yang anggotanya berasal dari Kabupaten Karangasem. Komunitas ini terdiri dari sekitar 20 seniman, antara lain: I Komang Trisno Adi W, I Nyoman Triarta A.P, I Kadek Arka D. Payana, I Wayan Linggih, I Wayan Setem, I Gede Sugiada, I Wayan Pande Paramartha, Ida Bagus Gede Yadnya, I Gede Sukarda, I Nyoman Sukari(alm), I Gede Gunada Eka Atmaja, I Ketut Sudita H, I Made Suarimbawa, I Wayan Widianta, I Wayan Labda, I Made Oka, I Gede Doglas, Hakon Eugen Gustavsen dan I Made Sukadana.

    Terekspresikan dalam karya-karya para perupa Komunitas Lempuyang, meski berproses laiknya perupa modern, mereka tidaklah melulu menuangkan dunia individual masing-masing yang sepenuhnya mempribadi, namun menyuratkan pula melalui lambang dan ikonik visualnya, sebentuk kepedulian atau penghayatan terhadap persoalan-persoalan sosial kultural tanah kelahiran atau bumi kawitan.

    Tercermin pula dalam komunitas ini sebentuk pergaulan kreatif yang berlangsung guyub dan hangat. Para perupa secara otentik mengedepankan corak dan kekuatan masing-masing, setidaknya tecermin pada karya, menyiratkan bahwa kebersamaan di dalam komunitas ini tidak menjadi beban yang menghalangi pencarian dan keleluasaan berekspresi.

    Sebagai contoh adalah karya-karya I Nyoman Sukari selama ini, yang juga anggota Komunitas Lempuyang, layak dicatat, --menunjukkan pergulatan yang dialami pula para perupa Amlapura; berhasil meneguhkan corak dan ciri yang mempribadi sekaligus mengekspresikan karakter kultural wilayah tersebut.

    Karangasem atau Amlapura, berikut sebutan lainnya, sebagaimana kabupaten-kabupaten dan wilayah-wilayah di Bali, tentulah menghadapi sejumlah perubahan. Sejalan sejarah panjangnya, setiap wilayah sosial kultural tersebut mengalami sekian transformasi dan akulturasi. Kita dapat melacak jejaknya pada aneka bidang kesenian, baik seni-seni pertunjukkan, seni rupa, maupun sastra, dan lain-lain.

    Komunitas Seni Rupa Lempuyang telah berpameran di Bentara Budaya Bali, merujuk tajuk “Kayun Ati“, pada 10 hingga 17 Mei 2015 lalu. Selain itu, para anggotanya juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan seni rupa dan diskusi di Bentara Budaya Bali, termasuk pameran bersama dengan komunitas-komunitas lain.

  7. Kelompok Militant Arts

    Militant Arts salah satu komunitas seni rupa yang dibentuk berawal dari sebuah grup di social media. Dari perbincangan social media banyak hal disampaikan mulai dari mencurahkan unek-unek tentang seni rupa. Sampai sejauh ini keanggotan terus bertambah hingga beranggotakan 30 orang, berasal dari para perupa lintas komunitas, antara lain dari Galang Kangin, Hitam Putih, Sanggar Dewata dan Ten Fine Art.

    Para perupa yang tergabung dalam Milintant Arts antara lain: Made Wiradana, Made Supena, Diwarupa, Ida Bagus Purwa, Sujana Kenyem , Galung Wiratmaja , Lekung Sugantika, Wayan Paramartha, Made Gunawan, I Gede Pande Paramartha, Somya Prabawa, Edy Asmara, Wayan Naya, Decko, Nyoman Pande Wijaya Suta, I Gusti Buda, Gung Putra, Antho, Agus “Dangap“ Murdika, Ngurah Paramartha, I Ketut Suasana “Kabul“, I Gede Jaya Putra “Dekde“, Atmi Kristiadewi, Made Kaek, Teja Astawa, Putu Bonuz, Made Kenak Dwi Adnyana, Uuk Paramahita, Wayan Suja, Ketut Tenang, serta Ni Made Yeni S.Sos, MA.

    Banyak hal menarik untuk telisik dan dicermati dari komunitas ini, terlebih mengingat mereka, para perupa ini, menyatukan diri dalam kelompok informal Militan Art –yang boleh dikata terbentuk secara natural yakni dari sebuah grup chating Blackberry Messager (BBM). Kelompok atau grup informal semacam ini sebenarnya adalah fenomena yang tumbuh belakangan, sejalan hadirnya teknologi canggih komunikasi yang tak terelakan telah menyentuh aneka lapis masyarakat.

    Kelahiran Militan Art berikut fenomena serupa di bidang lainnya, sesungguhnya mengindikasikan adanya perubahan yang mendasar menyangkut soal konsep Ruang dan Waktu, yang sejurus itu turut pula mengubah tata nilai yang selama ini diyakni telah baku. Teknologi informatika dan audio visual yang kian canggih tak terbayangkan ini terbukti menyuguhkan satu ragam keseketikaan dan keserentakan, di mana peristiwa di berbagai penjuru dunia dapat disaksikan secara bersama-sama oleh kita dari belahan bumi manapun. Teknologi canggih juga kian mengaburkan batas wilayah privasi dan publik, bahkan secara ekstrim media-media sosial (facebook, twitter, instagram, path, dll), secara seketika dan serentak menjadikan persoalan-persoalan pribadi sebagai masalah publik, atau fenomena sebaliknya –masalah-masalah publik secara leluasa melakukan penetrasi ke wilayah-wilayah pribadi.

    Kelompok ini telah menggelar pameran bersama di Bentara Budaya Bali bertajuk “ULU-TEBEN“ pada 21 – 30 Juni 2015. Selain itu, masing-masing perupanya secara pribadi juga aktif dalam pameran-pameran dengan kelompok-kelompok lain di Bentara Budaya Bali.

  8. Komunitas PAGARi

    PAGARi merupakan Komunitas yang bergerak dalam Pengkajian Agama, Budaya dan Pariwisata. Selain menyelenggarakan berbagai diskusi atau dialog terkait budaya dan pariwisata dalam perspektif agama, komunitas yang berbasis di Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar ini juga mencoba berbagai bentuk pertunjukan alihkreasi serta kemungkinan kreatif baru guna merawat budaya Bali, seraya mengkritisi berbagi problematik kultural di seputarnya, termasuk upaya pelestararian seni kidung.

    Bagi masyarakat Bali, kidung umumnya dikenal sebagai unsur tak terpisahkan dari ritual-ritual keagamaan. Selain memiliki guru lagu, yakni panduan nada serta tempo tertentu, kidung pun mengandung keindahan serta kecemerlangan bahasa Bali, Jawa Kuno, bahkan juga Sansekerta, yang sarat pula dengan makna dan pesan moral-spiritual. Maka boleh dikata, seni suara yang satu ini tidak hanya menjadi bagian upacara-upacara, namun sekaligus pula sarana edukasi nilai-nilai kehidupan yang luhur.

    Komunitas yang diketuai oleh Dr. Ketut Sumadi, M.Par ini telah berulang kali bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali, menyelenggarakan berbagai dialog budaya, workshop kidung, pesantian dan juga pertunjukan alihkreasi kidung, antara lain: Workshop dan Pertunjukan Alihkreasi Kidung “Galuh Lika Liku“, Pertunjukan Kolaborasi Kidung dan Lukis, Pesantian Kidung “Tirta Amerta dan Mandara Giri“, dan lain-lain. Upaya workshop termasuk kolaborasi dengan bidang-bidang seni lainnya ini bertujuan untuk memperluas apresiasi seni kidung tersebut.

  9. Minikino

    Minikino berdiri sejak tahun 2002, adalah sebuah organisasi yang berfokus pada diseminasi film pendek (atau secara internasional disebut ‘Short’ atau ‘Short Film’), termasuk didalamnya adalah pembentukan jaringan kerja, baik antara pembuat film, penonton dan juga antara organisasi-oraganisasi atau kelompok penggiat film lainnya. Kegiatan yang dilakukan adalah melakukan serangkaian pemutaran dan diskusi (bulanan), programing, distribusi dan workshop secara berkala.

    Minikino telah bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali dalam penyelenggaraan Minikino Film Week 2015, serta aktif pula dalam program workshop, diskusi dan pemutaran film Sinema Bentara.

  10. Komunitas Film Buleleng

    Komunitas Film Buleleng adalah sebuah kelompok yang didirikan oleh Putu Satria Kusuma tahun 2011. Selain memproduksi film-film dokumenter dan ikut dalam berbagai festival film, komunitas ini juga aktif dalam berbagai diskusi dan pemutaran film, juga pembuatan video art.

    Komunitas Film Buleleng telah bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali dalam Festival Film Internasional Bentara Budaya Bali (2013), workshop film serta peluncuran buku kumpulan puisi karya Gde Artawan dan Mas Triadnyani di Bentara Budaya Bali.

  11. Komunitas Badan Gila (KOBAGI)

    KoBaGi (Komunitas Badan Gila – Community Corps Fous) merupakan sekaa genjek yang terbilang kontemporer. KoBaGi didirikan tahun 2008 di Tegalalang, Gianyar, buah pertemuan dan persahabat musisi Perancis GrĂ©goire Gensse dan komunitas pertunjukkan Bali CekGen.

    Pertautan antara musik dan cara berkesenian Barat dengan Timur (Bali) tecermin dari kekhasan penampilan KoBaGi, terutama menjadikan tubuh sebagai perkusi yang senafas, selaras dengan irama atau intensitas dari ragam olah vocal kecak Bali. Kedua sekaaatau komunitas ini disandingkan sekaligus dibandingkan sebagai gambaran betapa kesenian di Bali begitu terbuka untuk melakukan proses akulturasi dan kemungkinan kolaborasi yang nyatanya menghasilkan bentuk-bentuk baru yang kreatif dan memukau tanpa kehilangan spirit kekuatan estetik tradisi Balinya.

    KoBaGi telah beberapa kali berpentas dan mengisi pertunjukan di Bentara Budaya Bali, antara lain Pertunjukan Genjek “Dari Singamandawa hingga Kobagi“, serta mengisi pertunjukan dalam pembukaan pameran Asian Watercolor Expression II dan Pameran Suka Parisuka, Yogyakarta.

  12. Komunitas Semut Ireng

    Komunitas Semut Ireng adalah komunitas fotografi yang berdiri sejak 9 Oktober 2009, berbasis di kawasan Sukawati – Gianyar. Anggotanya didominasi oleh para anak muda dan penyuka fotografi. Komunitas Semut Ireng telah beberapa kali berpameran dan kerap menyelenggarakan workshop untuk memperkenalkan teknik photography lubang jarum.

    Selain pernah berpameran dan menggelar workshop di Bentara Budaya Bali, seperti Pameran “Landscape Tanpa Batas“ (2011), serta Workshop Fotografi on The Spot Kompas Gramedia Bali Festival (2012), komunitas ini juga aktif memberikan edukasi bagi anak-anak bersama Yayasan Anak Tangguh Desa Guwang, Gianyar. Kini Komunitas Semut Ireng tengah menggarap program Solargraphy Project yakni sebuah project yang mencoba untuk merekam lintasan matahari di negeri khatulistiwa ini dengan kamera lubang jarum yang dibuat dari barang-barang bekas.

  13. Sekaa Gamelan Werdhi Cwaram

    Gamelan Werdhi Cwaram merupakan kelompok gamelan arahan komposer Wayan Gde Yudane. Sekaa gamelan ini telah berpentas dalam berbagai event nasional maupun internasional, membawakan komposisi-komposisi New Music for Gamelan.

    Di banyak negara di segenap belahan benua, baik atas inisiatif pribadi maupun institusi, telah berdiri kelompok-kelompok pencinta musik gamelan. Apresiasi tersebut sejalan juga dengan terselenggaranya aneka festival internasional di kota-kota pusat seni mancanegara. Aneka kolaborasi digagas dan diwujudkan guna mengembangkan kemungkinan penciptaan baru berdasarkan alat musik tradisi nusantara ini, melibatkan komposer-komposer mumpuni dari berbagai latar musik, baik tradisi maupun modern. Kemudian lahirlah apa yang disebut sebagai Musik Gamelan Baru, ragam karya “kontemporer“ yang bersumber dari kekayaan seni tradisi.

    Sekaa Gamelan Werdhi Cwaram telah berulangkali bekerjasama dengan Bentara Budaya dalam pertunjukan New Music for Gamelan, seperti A Tribute to Sadra (2011), New Music for Gamelan North to South (2013), A Tribute to Gong Kebyar (2014) dan New Music for Gamelan “Bebarongan Baru“ (2015).

    Sebagai komposer, Wayan Gde Yudane, lahir di Kaliungu, Denpasar, menghasilkan karya musik konser, teater, instalasi maupun film. Meraih penghargaan Melbourne Age Criticism sebagaiCreative Excellent pada Festival Adelaide, Australia (2000) berkolaborasi dengan Paul Gabrowsky; Penghargaan Helpman sebagai Musik Orisinal Terbaik, Adikara Nugraha dari Gubernur Bali sebagai Kreator Komposisi Musik Baru (1999). Tampil di Festival Jazz Wangarata, Australia (2001), keliling Eropa dengan Teater Temps Fort, Grup France and Cara Bali, juga Festival Munich dan La Batie. Karyanya: musik film ‘Sacred and Secret’ (2010), Laughing Water and Terra-Incognita, dan Arak (2004), serta sebagainya.

  14. Sekaa Gamelan Salukat

    Salukat adalah sebuah kata yang diciptakan oleh komposer Dewa Alit, berakar dari kata “Salu“ yang berarti rumah dan “kat“ yang menandakan regenerasi atau kelahiran kembali. Maka Salukat dapat dimaknai sebagai sesuatu yang melahirkan kreativitas baru yang tetap berakar pada tradisi.

    Gamelan Salukat adalah satu set baru, terdiri dari 7 nada gamelan yang dikembangkan oleh Dewa Alit, berakar dari spirit ansamble gamelan Bali kuno seperti Selonding, Gambang, Gong Luang dan Semara Pagulingan. Gamelan yang unik ini adalah refleksi dari akar yang kuat Dewa Alit di musik tradisional serta harapannya untuk mengakomodasi tantangan yang dia hadapi dalam menciptakan jalan baru dalam musik gamelan Bali.

    Para anggota Gamelan Salukat terdiri dari sekitar 25 musisi muda dari daerah Ubud. Mereka tidak hanya memiliki keterampilan tinggi dan pengetahuan dalam gamelan tradisional , tetapi juga antusias mempelajari komposisi musik gamelan baru. Banyak dari mereka telah bekerja dengan Dewa Alit sedari sangat muda dan telah tampil dengan musisi dunia, termasuk Amerika Evan Ziporyn and Bang on A Can All Stars.

    Sekaa Gamelan Salukat telah berulangkali bekerjasama dengan Bentara Budaya dalam pertunjukan New Music for Gamelan, seperti A Tribute to Sadra (2011), New Music for Gamelan North to South (2013), A Tribute to Gong Kebyar (2014).

    Komposer Dewa Ketut Alit, lahir di Pengosekan Bali, usia 13 tahun menunjukan bakat komposernya, bergabung dengan Tunas Mekar Pengosekan. Ikut mendirikan Gamelan Semara Ratih, melakukan tur ke Jepang (1992) dan Denmark (1994). Tahun 1997 mendirikan Gamelan Sanggar Seni Cudamani, pentas keliling Amerika Serikat (2005, 2006, 2007). Pemenang Pertama Festival Musik Tradisi Tingkat Nasional di Jakarta (2000) ini mendirikan Grup Gamelan Salukat tahun 2007. Ia kerap diundang mengajar di Universitas British Colombia, Kanada, Institute Technology Massachusetts USA, dan Helena College Perth, Australia. Sempat tampil di Tokyo, Boston dan Vancouver, Kanada.

  15. Sekaa Gamelan Cenik Wayah

    Gamelan Cenik Wayah merupakan salah satu sekaa yang bernaung di bawah induk Sanggar Candra Wirabhuana. Dibentuk pada akhir tahun 2000 oleh Cokorda Ngurah Suyadnya untuk mewadahi anak-anak yang memiliki hoby menabuh gamelan. Berkat binaan dan tempaan dari sederet pembina seperti: I Wayan Danayasa, I Wayan Sukarta, I Nyoman Aryawan, I Wayan Sudirana, dan Ida Bagus Made Widnyana, pada tahun 2005 ditunjuk untuk mewakili Kabupaten Gianyar pada ajang Festival Gong Kebyar Anak-Anak dalam rangka Pesta Kesenian Bali ke 26, dan berhasil keluar dengan predikat juara 1.

    Di samping menunjukan eksistensi di kancah lokal, Gamelan Cenik Wayah juga pernah mengadakan kerjasama silang budaya dengan seniman asing seperti dengan Collin McDonald tahun 2006, Pette Stelle tahun 2007, Andrew McGraw tahun 2007, Paddy Sandino tahun 2007 dan 2008, pentas bersama Gamelan Dharma Swara tahun 2010, dan tahun 2013 dipercaya untuk mendampingi Gamelan Gita Asmara, Vancouver, Canada dalam rangka tour keliling Bali tahun 2013. Cenik Wayah merupakan salah satu sekaa gamelan yang selalu menjaga/melestarikan tradisi musik Bali dengan mempelajari lagu-lagu klasik dari seniman-seniman alam, dan secara bersamaan juga merupakan sekaa yang secara total bergelut didalam kancah penciptaan musik baru untuk gamelan.

    Sanggar Cenik Wayah telah berulangkali bekerjasama dengan Bentara Budaya dalam pertunjukan New Music for Gamelan, seperti A Tribute to Gong Kebyar (2014) dan Bebarongan Baru (2015).

    Salah satu komposer serta pengarah Sanggar Cenik Wayah adalah Wayan Sudirana. I Wayan Sudirana lahir di Ubud, Bali, pada tanggal 31 Mei 1980. Dia adalah lulusan ISI Denpasar (2002), dan juga anggota pertama dari Sanggar Cudamani, sekaligus salah satu musisi yang aktif di dalam percaturan musik baru untuk gamelan Bali. Dia juga pernah menjadi “Artis in Residence“ di University of British Columbia (UBC) dari 2004 sampai 2006, dan melanjutkan studi pada jenjang pasca sarjana di Universitas tersebut. Gelar Master of Arts dalam bidang Ethnomusicologi diraihnya pada tahun 2009, dan Doctor of Philosophy dalam bidang Ethnomusikologi dari UBC pada tahun 2013.

  16. Komunitas Pecinta Keroncong Bali

    Komunitas Pecinta Keroncong Bali adalah sebuah komunitas yang bermula dari grup facebook, menghimpun para pecinta maupun grup keroncong di Bali. Anggotanya antara lain Orkes Keroncong Satria Purna Yudha, Orkes Keroncong SPY Junior, OK Made in Tjrong Bali, OK Tembang Abadi, OK Remaja Dewata Gangga Putra, dan lain-lain.

    Selain aktif mengisi acara dan terlibat Langgam Keroncong Bentara secara berkala di Bentara Budaya Bali, komunitas ini juga kerap tampil dalam acara Lenggang Macho di RRI Denpasar. Hal ini menunjukkan adanya semangat pergaulan yang guyub dan hangat antara pegiat keroncong di Bali, terbukti dari anggota-anggota komunitasnya yang juga berasal dari lintas generasi.

Selain komunitas-komunitas seni di atas, terdapat juga komunitas atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Perguruan Tinggi, negeri maupun swasta, yang berulang mengadakan kerjasama dengan Bentara Budaya Bali. Kerjasama tersebut terangkum dalam program Akademika Bentara, semisal : BEM Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang menyelenggarakan dialog seputar kesehatan dalam perspektif budaya, dihadiri mahasiswa-mahasiswa kedokteran dari berbagai negara; Indonesia, Eropa, Asia, Australia, bertajuk “Bali International Summer School“; Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar serta Jurusan Seni Rupa Undiksha, yang berlangsung secara rutin sedari tahun 2011; Jurusan Arsitektur Universitas Udayana, menyelenggarakan pameran foto dan dialog tentang dunia arsitektur Bali; Pers Mahasiswa Linimassa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Udayana, menyelenggarakan Diskusi dan Bedah Buku; Pers Mahasiswa Akademika Universitas Udayana menyelenggarakan Workshop Jurnalistik dan Lomba Mading; BEM Alfa Prima, menyelenggarakan diskusi dan pameran fotografi; serta Paduan Suara dari Universitas Udayana, STIKOM Bali, Universitas Pendidikan Nasional, Voice of Bali, dalam program Ode Bulan Agustus; dan lain sebagainya.