Komunitas Balai Soedjatmoko Solo

  1. Solo Jazz Society

    Merupakan kelompok musik jazz di Kota Solo, dan sampai saat ini merupakan salah satu komunitas musik jazz terbesar di Solo. Kelompok ini sudah ada sejak pertengahan 2000-an, dan mulai aktif di Balai Soedjatmoko sejak tahun 2010. Bersama dengan radio Ria FM, dan Balai Soedjatmoko membikin acara yang dinamakan Parkiran Jazz, pada awalnya dinamakan Jagongan Jazz, berganti jadi Parkiran Jazz disebabkan pentas di halaman parkir Balai Soedjatmoko. Parkiran Jazz diadakan setiap Kamis pada minggu terakhir setiap bulannya. Selain tampil di Parkiran Jazz, teman-teman Solo Jazz Society tampil di Jak Jazz, Java Jazz, Ngayojazz, Jazz in Lebaran, dan Solo City Jazz. Saat ini Solo Jazz Society membentuk kelompok baru yang anggotanya rata-rata anak SMA.

  2. Blues Brothers Solo

    Menjelang akhir tahun 2013 diadakan acara pentas musik di Balai Soedjatmoko, acara ini merupakan kegiatan bersama kelompok Kompas Gramedia di Solo. Setelah kegiatan tersebut kemudian diadakan pentas musik blues secara rutin dua bulan sekali di Balai Soedjatmoko, dan sebagai partner kegiatan adalah Blues Brothers Solo. Kelompok ini merupakan perintis musik blues di Solo, mereka berkumpul di Ndalem Ndarian yang terletak di sebelah barat Pura Mangkunegaran. Bersama Solo Blues Rock, yang juga salah kelompok blues khusus mahasiswa, Blues Brothers Solo mengadakan Solo Blues Festival setiap tahunnya. Mereka juga mengadakan worshop musik blues, dan meluncurkan album lagu-lagu khusus blues.

  3. Pawon Sastra

    Pawon Satra berdiri tahun 2007 di Taman Budaya Jawa Tengah yang berada di Kota Solo. Komunitas ini terdiri dari penulis novel, cerpen, pusi, esais, dan pemerhati seni. Awal mula berdiri tahun 2007 sering diadakan acara sastra di Taman Budaya Jawa Tengah, namun tidak ada intensitas kegiatan yang jelas. Beberapa penulis kemudian bersama-sama membuat buletin sastra, dan disebarluaskan ke berbagai kota di Jawa. Pada tahun 2009, seiring dengan dimulainya kegiatan Bentara Budaya di Balai Soedjatmoko, kawan-kawan Pawon Sastra berkegiatan sastra di Balai Soedjatmoko. Berbagai kegiatan sastra mulai dari bedah buku, workshop sastra, dan peringatan sastra lain sering dilakukan Pawon Sastra, selain itu Pawon Sastra masih menerbitkan buletin dwi bulanannya. Bersama dengan Pawon Sastra sering kali diadakan kerja sama dengan komunitas sastra dari kota lain seperti Komunitas Salihara dari Jakarta, dan juga kerja sama dengan penerbit buku terkemuka seperti Penerbit Buku Kompas, dan Kepustakaan Populer Gramedia.

  4. Komunitas Sejarah Balai Soedjatmoko

    Cikal bakal kelompok ini sebenarnya sudah ada sejak awal pengelolaan Balai Soedjatmoko oleh Bentara Budaya. Pada awal tahun 2009 diadakan diskusi tentang sosok Soedjatmoko, lalu diperingati juga 100 tahun St Sjahrir, lalu menyusul diskusi lain seperti bedah buku Geger Pecinan, Legiun Mangkunegaran, Babad Banyuwangi, dan juga bedah buku Kuasa Ramalan karya Peter Carey. Pada bulan Agustus 2015, Penerbit Buku Kompas bekerja sama dengan Balai Soedjatmoko mengadakan bedah buku tentang Soekarno, dan Hatta. Pada saat itu berkumpul para sejarawan muda dari berbagai kota di Jawa Tengah, dan Jawa Timur, mereka kemudian bergabung dengan Balai Soedjatmoko membentuk diskusi bulanan dengan materi sejarah yang ada. Untuk satu semester mulai September 2015 diadakan diskusi tentang Soedjatamoko, mulai dari gagasan, pemikiran, dan juga pilihan-pilihan Soedjatmoko di bidang politik, dan kebudayaan. Beberapa sejarawan pernah jadi pembicara bulanan ini, antara lain Kuncoro Hadi, dan Peter Kasenda.

  5. Komunitas Cagar Budaya

    Komunitas ini menjadi satu-satunya komunitas yang mengadakan kegiatan rutin dengan jangka waktu paling lama, komunitas ini mengadakan kegiatan setahun sekali di Balai Soedjatmoko, walau pun begitu mereka secara informal justru paling sering ketemu di Balai Soedjatmoko. Awal mula berdirinya komunitas ini dikarenakan keprihatinan berbagai pihak melihat bangunan cagar budaya di Solo yang banyak terbengkalai, dan terlantar. Hal ini membuat para pemerhati cagar budaya membangun komunitas peduli cagar budaya, kegiatan yang pernah diadakan antara lain diskusi tentang Benteng Vastenburg, kemudian pameran denah benteng-benteng di Belanda, dan Indonesia. Terakhir komunitas ini mengadakan pameran , dan diskusi tentang Kota Lama Solo. Komunitas Cagar Budaya biasanya mengadakan kegiatan di akhir tahun, karena di akhir tahun beberapa anggota dari luar kota, dan luar negeri bisa berkumpul bersama.

  6. Komunitas Macapatan

    Macapatan pertama kali diadakan oleh komunitas keris, kemudian para penembang berinisiatif mengadakan sendiri secara rutin di Balai Soedjatmoko. Bersama dengan jurusan Sastra Daerah UNS, dan beberapa dosen karawitan ISI Surakarta setiap satu bulan diadakan Macapatan, kadang kala hadir pula kelompok Macapatan dari luar kota seperti Sragen, dan juga siswa-siswa SMA di Kota Solo. Dalam kegiatan Macapatan ada dua hal utama yang dilakukan, yang pertama menembangkan Macapat, yang kedua adalah menafsirkan Macapat yang ditembangkan. Beberapa karya pujangga yang pernah dibedah, dan ditembangkan pada Macapatan antara lain karya Paku Buwono IV, Mangkunegara IV, Ranggawarsita, Yosodipura.

  7. Komunitas Keroncong Bale

    Keroncong merupakan musik asli Indonesia, dan Solo merupakan kota dengan kegiatan musik keroncong paling tinggi intensitasnya, hampir di setiap sudut kampung dapat ditemui kelompok musik keroncong, dari tingkat amatir sampai pemusik keroncong profesional lahir di kota ini. Kita tentu tidak akan lupa nama – nama seperti Gesang, Andjar Any, Waldjinah sampai generasi sekarang seperti Endah Laras, mereka semua mengasah ketrampilan bermusik keroncong di Solo.

    Para pemusik keroncong pulalah yang mendorong hadirnya Keroncong Bale, sebuah ajang rutin musik keroncong. Pada awalnya kelompok yang hadir di Keroncong Bale terdiri dari kelompok kampung, kemudian beberapa pemusik keroncong usia remaja juga tampil di Keroncong Bale. Beberapa nama pemusik keroncong yang terlibat aktif di Keroncong Bale antara lain Danis Sugiyanto, Max Baehaqi, dan Doel Pecas Ndahe.

  8. Komunitas Klenengan Selasa Legen

    Klenengan diadakan pertama kali tahun 2009 dengan pemrakarsa Slamet Gundono, Djoko Bibit, Darsono Pengrawit, Danis Sugiyanto, Suprapto Suryodarmo, S Pamardi, I Wayan Sadra, Wahyu Santosa Prabowo. Klenengan Selasa Legen secara rutin diadakan 35 hari sekali, beberapa kelompok dari luar kota yang pernah tampil di Klenengan Selasa Legen antara lain dari Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Yogya, Wonogiri. Di Solo kegiatan klenengan yang diadakan secara rutin, dan terbuka hanya ada di Balai Soedjatmoko, persoalan utama kegiatan klenengan adalah penabuh yang rata-rata berusia tua, seandainya ada penabuh muda kebanyakan dari siswa karawitan ISI Surakarta. Namun kegiatan ini merupakan kegiatan yang paling sering didatangi turis asing dari berbagai negara.

  9. Komunitas Musik Balada

    Komunitas musik balada termasuk komunitas baru, mereka baru tampil tahun 2014 lalu. Komunitas musik balada menamakan kegiatan di Balai Soedjatmoko dengan nama Balada-Balada. Kegiatan ini diadakan setiap hari Minggu ke lima, penjelasan tentang minggu ke lima artinya dalam satu bulan ada hari minggu yang sampai lima kali, dan saat itu diadakan pentas musik balada di Balai Soedjatmoko.

    Balada - balada menampilkan berbagai kelompok musik balada, dari musik balada yang berisi protes sosial sampai musik balada yang berisikan kisah cinta. Musik balada berkembang di kampus, dan SMA, biasanya melalui kelompok teater yang sering kali memisahkan mereka yang pentas sebagai aktor, dan para pemusik pengiringnya, dan musik pengirinnya inilah berkembang musik balada.