TOPENG SINGAPADU: MERENUNGKAN MEMORI KULTURAL BALI

Sederetan topeng membentur mata.  Ada topeng ekspresif, tatapan tajam  berwibawa; topeng tua dengan sorot pandang memudar atau bermimik jenaka; juga tak ketinggalan topeng barong berwajah angker nan mistis laiknya “penguasa’ desa. Puluhan topeng itu hadir di Bentara Budaya Bali, mulai tanggal 8 hingga 13 Nopember 2011 pada pameran bertajuk “Topeng: Taksu Singapadu.

Topeng-topeng karya seniman Desa Singapadu, Sukawati, Gianyar ini, mengajak kita merunut jejak sejarah hingga ke zaman kerajaan Klungkung abad 18, di mana sang penguasa waktu itu mengutus salah seorang putranya, Dewa Agung Anom, diiringi abdi dalem, para penari, dalang, dan pengukir, guna membabat alas di Timbul, kelak tersohor sebagai pusat kerajaan Sukawati. Giliran masa berikutnya, sang raja baru tersebut mengirim salah seorang putranya, Dewa agung Api ke wilayah Singapadu, lengkap pula dengan segenap ahli seni kerajaan.    

Fenomena ini bermakna luas dan berdampak jauh, bahkan hingga era kontemporer ini. Bila diingat bahwa kerajaan Klungkung adalah lanjutan kerajaan Gelgel, yang didirikan menyusul kekalahan Bedahulu/Bali oleh tentara Patih Gajah Mada, terlihat dengan jelas proses yang merupakan keajaiban mendasar kebudayaan Bali: bagaimana budaya istana dari Majapahit telah, di Bali, melalui alih kekuasan dalam unit yang semakin kecil, menjadi suatu budaya pedesaan yang tetap hidup hingga kini. Singapadu, Sukawati dan seabrek desa lainnya di Bali adalah tempat-tempat di mana kaum tani, bergandengan dengan bangsawan setempat, adalah pewaris langsung kebudayaan asal –Majapahit� yang tetap terjaga dalam kenyataan mitis, ritual dan seni pedesaan masyarakat setempat.

Terlebih terbukti topeng-topeng itu bukan hanya mempesona mata, melaikan sekali-kali lekat pada wajah penari;  yang mengekspresikan geraknya secara magis disertai denting gamelan, kepulang asap dupa melangit, serta membawa para pemirsa nun ke  suasana mistis tempo dulu; di mana diyakini para leluhur berkenan hadir di antara para sentananya.

Itulah beberapa pikiran terbersit dalam benak ketika menyaksikan pembukaan pameran istimewa ini. Apalagi sewaktu mendengar sambutan pembukaan pameran dari Bupati Gianyar, Cok “Ace“ Sukawati yang juga penari topeng mumpuni itu. Terbayang sang satria “Dalem Sukawati“  –nama klennya--, berpakaian lengkap laksana tumenggung zaman dahulu, bertopeng “pajegan“, tengah menari di Pura Mandara Giri, di kaki Gunung Semeru, di mana melalui tarian sakral tersebut, secara simbolis dirinya  “luluh menyatu“ bersama para leluhur dari Jawa dan Bali, dengan para Dewata  Gunung Mahameru, lalu kemudian manunggal dengan Sang Maha Meru itu sendiri.

Kebudayaan yang semakin “men-Desa“, tak pelak bertolak belakang dengan kebudayaan Barat/modern yang lahir dari Kota. Agama yang berupacara dalam kesenian –bertolak belakang dengan kecenderungan “abstrak“ agama-agama lainnya. Dengan kata lain, Pameran topeng Singapadu adalah peluang yang baik untuk merenungkan keunikan dan ketahanan kebudayaan pedesaan Bali.

Fenomena komunal-kreatif itu begitu mengemuka di desa tersebut. Tak kurang dari 30 seniman ambil bagian, wewakili semua banjar desa itu. Paling senior  tampil  topeng klasik tarian atau topeng barong ritual; mereka mengikuti kaidah ikonografis warisan kerajaan lama, lengkap dengan mengupacarai kayu dan mengikuti ketentuan “dewasa“nya (pilihan hari baik) demi “taksu“ gaib yang diharapkan hadir pada karyanya; I Wayang Tangguh, Cokorda Raka Tisnu, I Gusti Putu Brata adalah wakil dari tradisi “asli“ yang konon lahir dari tangan Dewa Agung Api dan diturunkan hingga kini melalui tangan Cokorda Oka Tumblen (1899-1983).  Dihadirkan pula para kreator muda yang membuat topeng dengan tujuan kreatif dan/atau komersial, sesuai dengan kebutuhan zaman; oleh karena tidak ada ketentuan ritual, ikonografinya lebih bebas; bahannya, selain kayu, juga aneka bahan komposit, seperti halnya Barong Ket raksasa yang menghiasi ruang pameran. Di antara seniman kreatif itu dapat disebut beberapa nama yang karya terpujikan: pematung tradisonal I Ketut Muja dan I Wayan Pugeg. Adapun Made Supena, yang juga co-curator pameran ini, adalah seniman pelukis merangkap pematung yang sudah menasional.

Sayangnya, pameran topeng kali ini hanya dapat menghadirkan segi “seni rupa“ tradisional dan pasca-tradisional dari “republik budaya“ Singapadu. Segi itu sejatinya tidak penuh hadir bila tidak ditopang oleh sejumlah faktor lainnya, yang sebagian terancam oleh kemajuan zaman. Pertama seni topeng Singapadu didukung oleh ketahanan kultus para leluhur serta kultus kekuatan alam sebagai wujud Widhi (Tuhan). Bila tiba saat upacara odalan di merajan agung (pura keluarga besar), atau pada kesempatan lainnya, tak sedikit keluarga, baik di Singapadu maupun tempat lainnya, terpanggil untuk “menurunkan“ atau mengundang hadir para leluhur melalui tarian topeng. Tak sedikit pula desa yang merasa terpanggil meremajakan bentuk Barong pelindung desa. Jadi tetap ada permintaan masyarakat Bali bagi hasil karya seniman topeng dan barong. Selain itu, Singapadu mempunya suatu tradisi tari yang “lengkap“, mencakupi Barong, topeng, opera Arja dan lain-lain. Sanggar lokal kerap dipanggil untuk melayani upacara adat atau bahkan menari di hotel-hotel –tanpa lupa, tentu saja, pertujunkan barong Kunti Sraya yang diselenggarakan setiap hari di banjar Sengguan. Hal-hal seperti ini memberikan kepada “tradisi“-- baik berupa seni karawitan (musik dan tari) maupun seni patung (topeng, patung)�suatu citra yang, hingga belakangan ini, kelangsungan kreasinya beberapa puluh tahun mendatang.

Faktor lain yang turut memberikan citra pada tradisi di Singapadu ialah munculnya beberapa figur desa yang telah menjadi pelaku utama dari kebijakan kebudayaan pada taraf lokal (Bali) dan bahkan nasional, terutama Prof. Bandem dan Prof Dibia, keduanya bekas rektor ISI Denpasar. Salah satu kebijakan yang disokong mereka selaku rektor adalah perumusan dan penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali. Boleh jadi PKB itu dikritik seniman modern sebagai ajang kesenian yang telah mengabaikan problematika sosial –sesuatu yang tak terelakkan sewaktu Orde Baru, tetapi tak terbantahkan bahwa PKB telah mendorong pelestarian memori “tradisional“ di antara masyarakat Bali yang bergegas urban itu –suatu fenomena yang amat unik dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia. Menyaksikan I Ketut Kodi, pematung topeng merangkap dalang dari Singapadu, memerankan, sebagai juru cerita, tokoh-tokoh Mahabharata pada kesempatan tarian massal di PKB, adalah suatu pengalaman tersendiri.

Namun kini problematika lebih kompleks. Tak ayal memori kultural generasi muda cenderung semakin lepas dari simbolisme lokal dan semakin terbentuk oleh konsep, simbol dan ikon yang bersirkulasi di media-media modern. Meskipun demikian, hemat saya, over-idealisasi dan, akibatnya, ideologisasi dari tradisi tidak mungkin merupakan resistensi yang produktif:  Membentengi diri secara ideologis di belakang tradisi adalah “ostrich politics“ –[politik burung unta]. Tidak hanya karena menekankan etnisitas secara berlebihan di antara lapis-lapis identitas lainnya, terutama lapis nasional, tetapi juga menutup kemungkinan untuk membangun konsep-konsep kebijakan, dan kemudian simbol-simbol kultural, yang bakal efisien di dan untuk masa depan.

Adalah menarik mencatat disini garis kuratorial Bentara Budaya Bali. Lembaga yang kerap menyelenggarakan pameran kontemporer dan diskusi-diskusi hangat tentang masalah kekinian, justru kini mengajak kita untuk berenung sejenak tentang masa lalu yang kekal dari desa Singapadu. Itulah cara menautkan dalam keberlanjutan  apa dipandang lampau dengan sesuatu yang didambakan sebagai masa depan.  

Tetapi, lebih jauh, bukankah kini sudah tiba saatnya, demi melestarikan kultur Singapadu dan desa serupa lainnya, untuk mencatat secara sistematis, di dalam sebuah “museum digital“, tradisi-tradisi lama yang masih hidup memorinya pada orang pedesaan yang lebih dari 50 tahun umurnya –yaitu yang memori kulturalnya sepenuhnya dibentuk oleh dunia pra-TV--. Ide “Museum Digital“ini pernah dilontarkan pada penulis oleh seorang pelukis Bali ternama, Mangu Putra. Bukankah justru karena karyanya yang kontemporer, dia lebih peka terhadap keperluan untuk menyambungkan “yang lalu“, bukan saja dengan yang bakal datang, tetapi dengan yang bakal dibangunnya.  Itulah cara yang tepat guna merawat  dan mengembangkan warisan luhur  masa lalu, di mana kearifan tradisi sungguh-sungguh hidup dalam kenyataan, bukan sekadar citraan imajiner belaka. ( Jean Couteau).



*) Review untuk Pameran Topeng Taksu Singapadu, 4 – 13 November 2011 di Bentara Budaya Bali