SUKA PARI SUKA, ATAS NAMA BENDA

Foto: Sutawan

Bayangkan sebuah pulpen bertemu dengan sebilah pisau, sepatu, buah-buahan, tak ketinggalan pakaian dalam perempuan; berbaur menjalin peristiwa merayakan kebersamaan. Maka, boleh jadi, “Benda-benda itu bangkit dari kematiannya/ dan merangkai kata-kata dari kebisuannya/ Hijau di mana-mana, tak hanya pada buah kelapa/ tabung gas pun berubah jadi melon hijau muda/ bukan api tapi harapan segar yang dinyalakannya“.

Begitulah petikan puisi yang dibacakan penciptanya, Romo Sindhunata, pada pembukaan pameran bertajuk “Atas Nama Benda“, Jumat, 30 Januari 2015 di Bentara Budaya Bali, memaknai kehadiran karya-karya sejumlah perupa yang tergabung dalam kelompok Suka Pari Suka Yogyakarta.

Para perupa lintas generasi itu, Kartika Affandi, Djoko Pekik, Edi Sunaryo, Ivan Sagita, Hari Budiono, Putu Sutawijaya, Sigit Santosa, Hadi Soesanto, Ridi Winarno, Samuel Indratma, Yuswantoro Adi, Hermanu, Jumaldi Alfi, Nasirun, Melodia, Wayan Cahya, Dyan Anggraini, Budi Ubrux, Bambang Pramudyanto, hingga Bambang Heras, sepakat mengeksplorasi benda-benda  sekitar sehingga melampaui bentuk maupun makna kesehariannya.
Pada kanvas mereka, benda-benda keseharian tersebut hadir secara imajinatif sekaligus asosiatif. Menariknya, melalui ragam lukisan “Alam Benda“ atau still life  ini, para seniman pesohor yang sudah teruji dalam ragam gaya masing-masing, tampak berkreasi secara leluasa. Meski diniatkan menjadi semacam metafor atau simbol yang bersifat kontekstual dengan kekinian, karya-karya tersebut tampil “natural“ atau tidak terbebani muatan pesan berlebihan.

Lihatlah, buah pisang di tangan Hari Budiono dan Hadi Soesanto, melahirkan aneka persepsi dan tafsir. Romo Sindhunata mengungkapkan, buah sehari-hari yang kita makan itu dalam karya Hari Budiono memberikan kesan organ vital seorang laki-laki, ditautkan dengan bunga-bunga yang menyolok dan berwarna merah gairah, menimbulkan gambaran erotik namun digenangi suasana yang mencekam, siratan kekerasan. Sedangkan di tangan Hadi Soesanto, setandan pisang yang dilingkari rosario atau tasbih menyuratkan doa pengharapan.
Sentuhan yang sublim dari para perupa piawai ini, terbukti menjadikan benda sehari-hari tersebut sanggup “berkata-kata“ atau berbicara sebagai sebuah peristiwa. Rupa benda yang harfiah bisa beralih menyentuh hal yang ilahiah; yang artifisial dan banal mengemuka sebagai hal yang esensial, wujud profan mengingatkan pada sesuatu yang transeden –demikian sebaliknya, dapat pula menjadi simbol yang kontekstual.

Seakan mewakili penciptanya, benda-benda mati itu kuasa melepas bebaskan imajinasi pemirsanya hingga hal yang mustahil sekalipun. Sebutir telur, diolah Wayan Cahya laiknya planet Bumi di mana melalui kulitnya terpetakan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau bumi Nusantara yang ringkih dan mudah pecah. Suatu ragam simbolisasi yang menggoda kita untuk mempertautkannya dengan kenyataan kini.  
Selain diekspresikan secara sublim, benda-benda juga ditampilkan dengan ragam ironi dan mengesankan satu hal yang parodi. Misalnya pada karya Yuswantoro Adi, sebuah tabung gas elpiji, kerap disebut “si melon“, disandingkan dengan buah kelapa, apel, serta bola kasti; keseluruhannya hadir dalam nuansa hijau. Lantaran sebuah mouse komputer berwarna hijau disisipkan di antara benda-benda itu, maka lahirlah asosiasi yang tak terduga dan tafsir yang lebih kaya makna. Hal yang asosiatif sekaligus sugestif juga mengemuka dari karya Djoko Pekik, Sigit Santoso, Nasirun, Melodia, Ivan Sagita, serta Hermanu dan lain-lain.

Alam Benda atau Still Life, Sebuah Upaya

Sebagaimana tema lain, semisal Potret Diri atau Self Potrait, lukisan alam benda memiliki sejarah yang terbilang panjang. Bahkan di negeri Cina dan Jepang, lukisan-lukisan Still Life atau Alam Benda ini mempunyai catatan yang boleh dikata gemilang, mendapat tempat terhormat, telah berkembang ribuan tahun lampau sejalan dengan bidang-bidang seni lainnya. 

Tema ini juga terbukti menjadi semacam batu ujian bagi para pelukis-pelukis Belanda abad 17 dan sesudahnya, termasuk Spanyol, Inggris dan negeri-negeri Eropa lainnya, kemudian melukis tema-tema lain yang dikreasi secara lebih mempribadi. Hal demikian kerap pula berlaku pada pelukis Indonesia, sedini awal pertemuan dengan bidang seni ini, mereka menjadikan still life ini sebagai latihan dasar, sebelum akhirnya berproses menemukan ragam gaya yang khas dirinya.

Dengan demikian, rujukan tema still life ini dapat dibaca sebagai upaya melacak jejak penciptaan masing-masing. Undur sejenak dari tematik atau ragam bentuk yang dianutnya selama ini, mereka boleh jadi tengah mengelak dari minerisme atau pengulangan. Proses penciptaan bukan lagi sesuatu yang membebani, terkait eksistensi atau pencapaian diri, melainkan sebentuk “tamasya kebersamaan“, berkreasi sambil rekreasi, sebagaimana semangat yang menyertai keberadaan paguyuban Suka Pari Suka ini --kegembiraan tanpa batas (unlimited happines).

Pameran yang berlangsung hingga 7 Februari 2015 ini juga mencerminkan satu ragam kebersamaan yang menarik. Umumnya para seniman modern cenderung soliter, mereka sering berkarya sebagai seniman yang individual, asyik masyuk mencipta dalam studio pribadi yang tak sembarang waktu bisa dikunjungi. Kini, melalui paguyuban Suka Pari Suka ini, mereka membangun peseduluran, sepenanggungan dalam kebersamaan yang guyub dan hangat (solider) –laiknya seniman-seniman tradisi yang hidup dalam alam budaya agraris. Sebuah upaya kebersamaan dan ragam pergaulan kreatif yang layak diapresiasi.

warih wisatsana
 *)Review Pameran Seni Rupa “Atas Nama Benda“, 30 Januari – 7 Februari 2015 di Bentara Budaya Bali