SUBLIMASI GERAK ODIN TEATRET

Sesungguhnya ada dua pertunjukan yang dihadirkan Odin Teatret dari Denmark di Bentara Budaya Bali, 6 Februari 2016 lalu. Keduanya adalah solo akting atau monolog, yang pertama bertajuk From Amagaki to Shibugaki, dipersembahkan oleh Carolina Pizarro (35 tahun, Cile) di bawah arahan Julia Varley. Adapun yang kedua Ave Maria, sebuah Ode untuk aktris Maria Canepa dari Cile yang telah tiada, dimainkan oleh Julia Varley (62 tahun, Inggris), langsung disutradarai oleh teaterwan legendaris dunia, Eugenio Barba (84 tahun).

Pertunjukan pertama dimainkan siang hari, diniatkan sebagai presentasi workshop dalam bentuk repertoar, di mana Carolina Pizzaro dengan seluruh totalitasnya mengekspresikan bagian demi bagian proses pencariannya dalam seni akting hingga kemudian bertemu dengan Odin Teatret. Ini adalah sebuah biografi kreatif yang dibawakan dengan memikat dan imajinatif; sekaligus menandai tiga hal mendasar yang dieksplorasi Odin Teatret selama ini; dorongan untuk meluapkan keingintahuan; menjaga rasa haus akan jawaban; serta upaya meraih kesadaran akan hal-hal yang mencekam di bawah sadar sang aktor; traumatis atau stigmatis.

Itulah semangat dasar dari apa yang disebut dengan teater antropologi, dimana para aktor didorong untuk melakukan studi tentang perilaku ‘pra-ekspresif’ sebagai bagian proses penemuan diri. Hakekatnya ini adalah studi tentang gerak yang paling esensial, bahkan pra-gerak atau pra-ungkap, sebelum pada akhirnya dalam membentuk komposisi yang termaknai. Harus dipahami ini bukan sejenis pendekatan yang dianut para antropolog sewaktu mengkaji paradigma budaya teater atau tari sebagai fenomena pertunjukan yang serba teoritis, melainkan sebuah tindakan empiris untuk melacak hal ikhwal gerak (pra-gerak), tidak semata gerak fisik tetapi juga gerak batin.

Dengan demikian, bolehlah dikata bahwa proses pertunjukan sebenarnya sudah berlangsung sebelum pentas itu sendiri, bahkan sedini Eugenio Barba dan kedua aktris serta tim kreatifnya, kali pertama datang ke Bentara Budaya Bali. Seketika memasuki ruang pertunjukan, yang berfungsi pula sebagai galeri pameran, mereka seketika bergerak spontan membagi ruang melalui percakapan dan kemungkinan rancang bangun panggungnya. Mereka menyekat kedua ruang dengan permintaan selembar kain hitam, serta sekaligus menata posisi penonton yang duduk berlesehan serta dua deret kursi tertentu saja. Inilah hal kunci lain dari Odin Teatret, yakni proses kreatif berakting itu adalah sebentuk totalitas yang ditandai adanya kematangan berupa kespontanan yang terlatih. Aktor dan kru pertunjukan luluh meruang dan mewaktu dalam pra-gerak atau pra-ungkap (baca: pra-pertunjukan).

Odin Teatret ini memang teater transkultural. Didirikan pada tahun 1964 di Oslo, Norwegia, berpindah ke Holstrebo, Denmark pada 1966, berganti nama menjadi Nordic Theatre Laboratory atau Odin Teatret. Hingga kini telah memproduksi 76 pertunjukan dan pentas di 63 negara, memiliki anggota dari berbagai latar kultur dan benua. Eugenio Barba sendiri lahir pada tahun 1936 di Italia, melalui pencariannya yang lintas bangsa dan kebudayaan, meyakini adanya hakekat dari gerak yang bersifat universal, merefleksikan nilai-nilai terdalam dari kemanusiaan, juga spiritualitas.

Tiga Hal Esensial

Tiga hal esensial atau mendasar yang dieksplorasi di Odin Teatret tecermin pada dua pertunjukan tersebut. Rasa ingin tahu dan haus jawaban menjadi sarana untuk mengelaborasi hal-hal tersembunyi di bawah sadar para aktor, Carolina Pizarro dan Julia Varley. Mereka sejatinya mengekspresikan sesuatu yang mencekam dari pengalaman masing-masing, meskipun bersumber pada hal yang sama yakni kehidupan penuh sensor serta ketakutan di era diktatorial rezim militer Pinochet di Cile, melakukan kudeta terhadap Presiden Allende tahun 1973.

Pada pertunjukan itu, Carolina Pizarro, mengekspresikan pencarian kreatifnya, tubuhnya diolah sedemikian rupa, menjadi bahasa untuk mengungkapkan trauma-trauma yang menghantuinya. Berbagai pencariannya ke Jepang, India, dan negara-negara di Eropa, belajar pada guru-guru seni sekaligus spiritual, terefleksikan pada aneka pilihan tari atau komposisi gerak tertentu semisal: oxun, salsa, tango, tarian Arab berikut latar musiknya, juga nyanyian-nyanyian rakyat Cile terpilih yang menggambarkan keseharian di bawah rezim totaliter Pinochet. Seluruhnya adalah sebentuk totalitas yang digarap secara rinci namun ditampilkan dengan tetap menjaga kespontanan. Hal itu dimungkinkan bila segala hal teknis telah luluh menjadi sesuatu yang organis dengan diri sang aktor.

Pertunjukan Ave Maria juga sebuah memoar, tepatnya kisah kehidupan aktris teater sohor di Cile, Maria Canepa, dilahirkan di Italia Utara, 1 November 1921, meninggal pada 27 Oktober 2006 di Santiago, Cile.  Sang pelakon, Julia Varley sempat tinggal di rumah Maria Canepa, mereka berkarib untuk waktu yang cukup lama. Maka tepatlah pertunjukan itu dibingkai dalam sebuah Ode atau persembahan, menggambarkan transformasi kehidupan Maria Canepa sewaktu menjadi pekerja sosial hingga aktris teater yang cemerlang.

Eugenio Barba memilih bentuk ikonik puppet atau sejenis wayang kreasi tersendiri, berupa sosok-sosok mencekam dengan rupa tengkorak dan tubuh ringkih rapuh yang serba asosiatif. Yang hendak diraih dan diekspresikan adalah esensi tentang kematian atau maut, dimana tahapan hidup Maria Canepa dimetaforiskan dalam pilihan gerak yang hening dan perlahan serta pergantian kostum tertentu yang menggambarkan bagian demi bagian memoar sang aktris itu. Tahapan itu dipilah dalam sekian adegan, antara lain: Embrace of Illusion, refleksi perlawanan Maria Canepa pada rezim Pinochet, Wedding of Maria, pernikahan Maria dengan Pedro Orthous, sang mentor aktingnya, serta Killing Time, berikut Angles yang menggambarkan pergulatan Maria Canepa bertemu sang maut selama sakit alzheimer yang dideritanya di masa akhir hayatnya. Namun pertunjukan ini justru berhasil karena menyuguhkan sesuatu yang melampaui tragedi.

Kedua pertunjukan itu memang cerminan dari kekuatan Odin Teatret, juga menyiratkan pencarian Eugenio Barba sebagai seorang kreator yang boleh dikata lintas zaman ini. Kedua pertunjukan itu terbilang nirkata atau dialog, mengedepankan nyanyian, kostum, topeng, serta pantomimik, berikut sublimasi gerak yang utuh secara keseluruhan sekaligus seperti Puisi, kaya akan metafor.

Dengan demikian, sang bentuk dalam pertunjukan ini sesungguhnya juga pesan itu sendiri; menyentuh penonton sebagai suasana yang sugestif, imajinatif, dan asosiatif. Boleh dikata pada titik dramatik tertentu, antara pelakon dan penonton, lebur dalam satu kesatuan. Odin Teatret terbukti tidak sekadar merunut apa yang dirintis oleh Antonin Artaud, membentuk teater occidental (modern) yang mengelak dominasi teks dan mengedepankan spektakel sebagaimana dramatari Calonarang Bali yang disaksikannya tahun 1931 di Paris Colonial Exhibition, melainkan memperkaya kemungkinannya, boleh jadi melampauinya. Eugenio Barba sungguh menjadikan pertunjukan teaternya sebagai upacara atau ritual modern, meraih esensi gerak yang hakiki, serta bertujuan berbagi katarsis.

Tidak heran, bila jauh sedini awal memasuki ruang, Eugenio Barba menghendaki sebagian besar penonton duduk lesehan, tak ada panggung, dan berupaya menghilangkan segala batas. Yang mengemuka kemudian adalah sekian gerak lembut yang ritmis mistis. Maka, sebagaimana petikan puisi penyair Italia, Antonio Verri dalam leaflet sederhana, Eugenio Barba melalui Ave Maria, sejatinya tengah melakukan persembahan, sebuah Ode untuk kematian, yang diyakininya tak merenggut segalanya, selalu ada yang immortal, yakni persahabatan dan kemanusiaan.

warih wisatsana

*) Review untuk pertunjukan Odin Teatret “Ave Maria“ di Bentara Budaya Bali, 6 Februari 2016
**) Versi lain dimuat di Kompas, edisi 21 Februari 2016