PRESS RELEASE: DENDANG KENCANA 2017


Ingatkah Anda pada era tahun 70-90an saat kanal hiburan televisi satu-satunya di Indonesia, TVRI, sering sekali menyiarkan acara untuk anak-anak? Mulai dari jenis acara drama, kuis, hiburan dan pengetahuan untuk anak hingga penayangan klip lagu anak-anak. Pada masa itu, kita kenal banyak sekali lagu anak-anak yang populer seperti Naik Delman, Balonku, Topi Saya Bundar, Dua Mata Saya, Lihat Kebunku, Tik-tik Bunyi Hujan, Ambilkan Bulan, Anak Gembala, Libur Tlah Tiba, Amelia, dan masih banyak lagi. Lagu-lagu tersebut terus melekat di ingatan kita, sebagai sebuah kenangan yang indah dan bahagia di masa kanak-kanak dulu, hingga kita dewasa. Kita bahkan juga turut memperkenalkan lagu-lagu tersebut kepada anak-anak secara turun temurun hingga kini.

Di masa itu banyak pencipta lagu anak yang terus berkarya hingga akhir hayat mereka, seperti Pak Daljono, Pak & Bu Kasur, Ibu Soed, dan Pak AT Mahmud. Mereka berkarya dengan hati, dengan segenap kemampuan di dalam kesederhanaan dan tidak berorientasi komersil. Tema lagu anak yang mereka buat berasal dari kehidupan di sekitar kita seperti kebiasaan sehari-hari anak-anak, keindahan alam, orang tua serta rasa syukur pada Tuhan. Notasinya sederhana dan syairnya mudah dihafalkan oleh anak-anak seantero negeri.
Kondisi yang sangat berbeda sekarang terjadi. Anak-anak tidak mendapatkan haknya menikmati keceriaan mereka karena televisi tidak lagi menjadi sumber hiburan utama mereka. Televisi dan radio makin jarang menayangkan acara khusus anak-anak, apalagi siaran lagu anak-anak. Kalau pun ada siaran anak-anak, biasanya dikemas ala dewasa dan keluar dari koridor dunia anak-anak. Jika ada lomba vokal untuk anak-anak pun yang ditonjolkan adalah sisi kehidupan di balik kemampuan mereka bernyanyi.

Kondisi seperti ini juga terjadi di sekolah-sekolah dengan berkurangnya muatan pelajaran seni musik dan vokal dari kurikulum. Anak-anak lebih difokuskan kepada pendidikan eksakta yang jauh dari berolah vokal dan musik. Belum lagi keterbatasan guru seni musik & vokal yang memang mengerti betul bidang tersebut dan mempunyai layar belakang yang sesuai.

Untuk itulah KOMPAS GRAMEDIA berkeinginan untuk kembali menghidupkan DENDANG KENCANA, sebuah kegiatan kepedulian pada anak-anak dan guru, khususnya lewat lagu. Mulai dari workshop cipta lagu, lomba cipta lagu, workshop musik dan vokal, yang berujung pada lomba paduan suara anak. DENDANG KENCANA awalnya diadakan oleh Penerbit Grasindo di tahun 1990 bersama pengarang lagu anak, AT Mahmud, dan diadakan kembali di tahun 1992. Sejak tahun 1993, DENDANG KENCANA diadakan setiap tahun hingga terakhir kali diadakan pada tahun 1996. Pada penyelenggaraan DK di tahun-tahun tersebut, AT Mahmud langsung terjun sebagai narasumber ahli dan juri lomba. Karya-karyanya pun diperlombakan di sana, termasuk lagu tema “Dendang Kencana“ yang beliau ciptakan dalam rangka menyambut pelaksanaan kegiatan ini.

Dengan niat sepenuh hati, DENDANG KENCANA akan kembali diadakan di tahun 2017 oleh Kompas Gramedia. Serangkaian acara akan mewarnai kegiatan ini. Dimulai dengan Workshop Cipta Lagu Anak bagi guru sekolah formal yang dilaksanakan di Jakarta pada 25-26 April 2017 di Bentara Budaya Jakarta, lalu di Solo pada 5-6 Mei 2017, berlanjut ke Yogyakarta pada 8-9 Mei 2017 dan berakhir di Bali pada 15-16 Mei 2017.

Pada hari Selasa 25 April 2017, saat membuka Workshop Cipta Lagu Anak yang diikuti oleh sekitar 30 orang guru TK dan SD, yang sekaligus sebagai pembukaan rangkaian acara DENDANG KENCANA 2017, Frans Sartono selaku Steering Committee DENDANG KENCANA 2017 menjelaskan bahwa lagu anak-anak pada masanya telah membawa kenangan yang indah dan berdampak positif bagi anak-anak yang sekarang sudah dewasa atau bahkan sudah mempunyai anak. “Indonesia butuh lagu anak-anak yang berkualitas tinggi sebagai sarana untuk mendidik dan memberi arahan positif bagi kehidupan anak-anak bangsa. DENDANG KENCANA 2017 kembali digerakkan oleh Kompas Gramedia agar para guru TK dan SD dapat menggali ilmu dari para narasumber, lalu sama-sama bergerak untuk menciptakan lagu-lagu bagi anak-anak dan akan kita bagikan, kita persembahkan bagi anak Indonesia,“ terang Frans Sartono.

Ya, setelah serangkaian workshop cipta lagu, agar menjadi ajang mengukir prestasi bagi para guru di seluruh daerah Indonesia, diadakan Lomba Cipta Lagu Anak-anak. Kegiatan ini akan berlangsung pada bulan Juni-Juli 2017. Lagu-lagu hasil dari lomba ini akan digunakan sebagai materi lomba paduan suara anak-anak tingkat TK dan SD di akhir tahun.

Sebelum lomba paduan suara anak-anak dilaksanakan, di Jakarta, Solo, Yogyakarta dan Bali akan dilakukan serangkaian acara Workshop Musik & Vokal pada bulan Agustus dan September 2017. Workshop ini dilakukan agar para guru dapat mempersiapkan anak didiknya sebagai peserta lomba paduan suara dengan baik.

Rangkaian kegiatan DENDANG KENCANA 2017 akan diakhiri dengan penyelenggaraan Lomba Paduan Suara Anak Tingkat TK & SD pada bulan Oktober dan November 2017 yang juga akan dilaksakan di Jakarta, Solo, Yogyakarta dan Bali. Bertindak sebagai narasumber ahli dalam acara ini adalah Dian HP (produser, komposer, penata musik), Aning Katamsi (penyanyi, pengajar vokal), dan Caecilia Hardiarini (dosen musik Universitas Negeri Jakarta). (*t)

Agenda kegiatan DENDANG KENCANA 2017:
Workshop Cipta Lagu Anak
Jakarta : 25-26 April 2017
Solo : 5-6 Mei 2017
Jogja : 8-9 Mei 2017
Bali : 15-16 Mei 2017

Lomba Cipta Lagu (Nasional)  : Juni-Juli 2017
Lomba Paduan Suara TK-SD
Jakarta : 25-28 Oktober 2017
Solo : 6-8 November 2017
Jogja : 10-12 November 2017
Bali : 20-21 November 2017

Info lebih lanjut:
- Ketua Panitia DENDANG KENCANA 2017: Paulina Dinartisti, HP/WA 0812 949 7372
- Sekretariat DENDANG KENCANA 2017: Winda, HP/WA 0812 9605 0026
- Website: www.bentarabudaya.com