PAMERAN FOTO: Metamorphosis Of Japan After The War Digelar Hingga 30 Mei

Tisyrin Naufalty Tsani |  Rabu, 25/05/2016 13:56 WIB


Bisnis.com, JAKARTA---Setidaknya terdapat 123 foto hitam putih karya 11 fotografer Jepang terpajang dalam pameran bertajuk Metamorphosis of Japan After the War di Bentara Budaya Jakarta.

Duta Besar Jepang Untuk Indonesia Yasuaki Tanizaki mengatakan melalui pameran tersebut, masyarakat dapat melihat perubahan yang terjadi di Jepang setelah perang.

“Foto-foto memperlihatkan kondisi Jepang pada 1945-1964,“ katanya.

Menurutnya, Jepang mengalami kekalahan dalam perang pada 1945 yang memakan banyak korban. Namun,  sekian tahun kemudian titik perekenomian di Jepang terlihat mengalami pemulihan. Tepatnya pada 1964, untuk pertama kalinya kereta cepat beroperasi di Jepang.

Dia mengaku terkesan dengan beberapa foto misalnya foto yang memperlihatkan kesusahan masyarakat Jepang pasca perang. Dan foto lainnya justru menggambarkan kondisi yang lebih baik yaitu keadaan ekonomi Jepang yang sudah maju, terlihat dari penuhnya orang-orang menumpangi kereta.

“Dari 1950-an hingga sekarang Jepang sangat maju,“ katanya.

General Manager Bentara Budaya Jakarta Frans Sartono mengatakan pameran foto tersebut mampu memperlihatkan perubahan Jepang dari masa ke masa dalam kondisi apapun tanpa kehilangan identitasnya.
“Indonesia bisa belajar, bagaimana agar di tengah berbagai perubahan yang terjadi, Indonesia tetap menjadi Indonesia,“ katanya.

Pameran yang berlangsung pada 18-30 Mei 2016 tersebut merupakan hasil kerja sama Bentara Budaya Jakarta dengan The Japan Foundation. Beberapa foto yang terlihat dalam pameran antara lain anak yatim piatu yang tengah berada di jalanan Tokyo pada 1946, perempuan yang sedang menanam padi pada 1955, dan busana modern dan tradisional Jepang di Sanja Festival pada 1955.

Pameran terbagi menjadi tiga bagian yaitu The Aftermath of War, Between Tradition and Modernity dan Towards a New Japan. Fotografer yang terlibat dalam pameran adalah Yasuhiro Ishimoto, Kikuji Kawada, Ihee Kimura, Takeyoshi Tanuma, Shomei Tomatsu, Ken Domon, Shigeichi Nagano, Ikko Narahara, Hiroshi Hamaya, Tadahiko Hayashi, dan Eikoh Hosoe. Tsuguo Tada dan Marc Feustel menjadi kurator dalam pameran ini.

Bagian pertama The Aftermath of War atau dampak perang, banyak menampilkan foto bentang alam yang hancur, jalanan Tokyo yang masih miskin, hingga wajah anak-anak yang cerah dan bahagia.

Pada 15 Agustus 1945, sebuah perang berakhir dan menyisakan kerusakan parah dan banyaknya nyawa melayang. Hiroshima dan Nagasaki rusak oleh bom atom, sementara kota lainnya termasuk Tokyo pun hancur. Sekutu menguasai Jepang, tetapi Jepang tetap berupaya bangkit dan melakukan gerakan masyarakat dari lapisan bawah.

Selanjutnya bagian kedua Between Tradition and Modernity atau Antara Tradisi dan Modenitas, memotret berakhirnya zaman pasca perang setelah Jepang menandatangani Perjanjian Perdamaian San Fransisco dengan Amerika dan negara Sekutu lainnya.

Pada 1955, Jepang mulai sehat dari segi ekonomi. Negara ini mengekspor bermacam barang dan tekstil, serta membatasi dengan ketat impor barang-barang konsumen. Generasi muda bergerak dari desa-desa pertanian dan nelayan ke daerah-daerah urban.

Di masa ini, identitas nasional Jepang yang khas sedikit pudar. Karena itu fotografer Hiroshi Hamaya dan Ihee Kimura juga tak lupa membidik gambar di wilayah-wilayah tertentu yang memperlihatkan bahwa sifat-sifat nasional yang unik masih terjaga.

Kemudian pada bagian ketiga Towards a New Japan atau Menuju Jepang Baru memperlihatkan Jepang yang mulai sibuk. Sebagai catatan, pada 1964 Olimpiade Tokyo digelar, pembangunan pun berlangsung di jalan, taman dan infstruktur lainnya. Selain itu, kereta peluru Shinkansen mulai beroperasi.

Pendapatan nasional pun tumbuh melampaui 7,2% dari target rata-rata tahunan. Pada 1964 pula, rumah-rumah di Jepang mulai dilengkapi televisi, mesin cuci, hingga lemari es. Keseriusan masyarakat Jepang mampu mengerek taraf hidup dan menjadikan mereka sibuk dalam pekerjaan. Secara umum, pameran ini membuktikan bahwa Jepang melakukan transformasi dramatis.
AddThis Sharing Buttons

Share to FacebookShare to TwitterShare to Google+Share to LinkedInShare to Email

Editor : Linda Teti Silitonga