LOKAL – GLOBAL KOBAGI

Sebelum berkembang menjadi pertunjukan mirip acapella yang ditampilkan secara berkelompok, genjek sangat identik dengan tuak dan tubuh yang mabuk. Pertunjukan tradisi Bali ini memainkan suara mulut menyerupai tari kecak yang musikal itu, dulunya dilantunkan para pria dalam ketaksadaran alkoholik. Bunyi-bunyian dari mulut mereka berpadu dengan lagu spontanitas yang bersahutan menuju puncak, diikuti aneka gerak badan dan tangan secara lepas bebas, meluapkan keriangan sekaligus kehangatan persahabatan. Namun, oleh Komunitas Badan Gila atau Kobagi  konsep kemabukan itu dimaknai ulang dan diterjemahkan jadi ekspresi seni yang otentik-kontemporer.

Mereka menari, menepuk pipi, lengan, perut dan kaki. Sekujur badan penari lain dipukul bagaikan perkusi, menimbulkan irama-irama nan ritmis lagi dinamis. Saking musikalnya tubuh para penari, suara desah napas kelelahan yang mewarnai pertunjukan pun terasa menyatu padu. Sebagaimana penampilan di Bentara Budaya Bali, 27 April 2014, gerakan-gerakan mereka seolah ingin membebaskan diri ke dalam suatu ketaksadaran yang lain: bahwa setiap jengkal tubuh beserta daya hidupnya adalah musik yang tak tergantikan. Hanya saja, mereka mementaskannya secara sadar, tanpa pengaruh tuak. Pada puncak pertunjukan, yang teraih adalah sebentuk ekstase, di mana publik turut terhanyut tercerahkan.   

Kobagi adalah buah eksplorasi dari Sekaa Cak Gen asal Tegalalang, Gianyar, pimpinan I Wayan Sutapa dengan musisi Perancis, Gregorie Gensse. Pertemuan mereka di tahun 2007 membuka kemungkinan perluasan kreativitas kecak dan genjek ke dalam wujud seni yang lebih atraktif dengan tubuh sebagai mediumnya. Setelah latihan dan dialog berkelanjutan´┐ŻGreg bahkan hijrah dari Lyon untuk mukim di Bali´┐Żlahirlah satu ragam pertunjukan baru dalam komposisi musik dan tarian yang rancak. Sejak didirikan tahun 2008, Kobagi telah menampilkan kreasinya di berbagai acara kebudayaan, dan secara perlahan turut mengubah persepsi publik perihal genjek sebagai seni yang sarat mabuk-mabukan. Pola kolaborasi ini, antara Kobagi dengan Gregorie Gensse, menjadi keniscayaan pergaulan lokal-global di Bali, meneruskan kerjasama antara Limbak dengan Walter Spies, memperbaharui komposisi kecak, Walter Spies dan Rudolf Bonett bersama pelukis Bali era Pitamaha, Sardono dengan warga Teges, Ubud,  dll.

Euforia Genjek

Genjek sempat jadi euforia di tahun 1990an. Sebelumnya memang sudah dikenal ragam seni serupa bernama cakepung di Bali Timur, cak di Bali Selatan dan rengganis di belahan utara pulau ini. Konsepnya sama, yakni berupa permainan suara mulut cak atau pung dan dipadukan gerak tari oleh sekelompok pemuda, terdiri dari tiga orang atau lebih. Untuk menari, para pemainnya tidak harus berdiri. Mereka umumnya duduk membentuk lingkaran, menyanyikan bunyi-bunyian serta menggerakkan tangan dan badan. Ada juga seorang yang bertindak sebagai pimpinan, sesekali membuat suara selaan di tengah lantunan demi membangun irama permainan.
Bila boleh disebut, genjek merupakan cerminan bagaimana perilaku masyarakat dapat diangkat menjadi seni pertunjukan. Genjek yang dulu dimainkan setiap malam pada saat-saat tertentu, entah pasca musim panen ataupun peristiwa lain yang mengharuskan begadangan itu, kini ditransformasikan menjadi seni di panggung-panggung kebudayaan. Festival-festival genjek kerap digelar. Sekaa-sekaa bermunculan. Tetapi, makna kehadirannya tentu jauh berbeda. Dari spontanitas dengan gaya dan seloroh apa adanya menjadi pementasan elok yang mengundang decak kagum. Dari ungkapan kebersamaan ke ekspresi seni tontonan. Adakah seni rakyat ini kemudian terasa berjarak dari kehidupan komunal orang Bali lantaran lebih sering ditemui sebagai pertunjukan tinimbang ragam spontan pergaulan sehari-hari?

Pergeseran bentuk genjek ini terlihat dari tema-tema lantunan yang dihadirkan. Awalnya genjek mengungkapkan tema-tema agraris, misalnya hasil panen padi, kegelisahan para petani hingga siratan asmara untuk bunga desa setempat. Belakangan lagu-lagu genjek digubah ke dalam tema kontekstual seperti prestasi pembangunan ataupun pesan-pesan lain yang selaras dengan penanggapnya..

Pencapaian Kobagi mencerminkan juga sebentuk pola perubahan yang berulang terjadi di Bali, di mana seni tradisi bertemu modernitas melahirkan aneka kemungkinan penciptaan berikut jalan simpangnya masing-masing. Di sisi lain, bentuk kolaborasi ini, antara Kobagi dengan Gregorie Gensse, menjadi keniscayaan pergaulan lokal-global di Bali, meneruskan ragam kerjasama antara Limbak dengan Walter Spies, memperbaharui komposisi kecak; Miguel Covarrubias dan I Tegehan dalam melahirkan ikonik dari sosok-sosok unik pada seni lukis dan patung;  Walter Spies dan Rudolf Bonett bersama pelukis Bali era Pitamaha; Sardono dengan warga Teges, Ubud,  dll. Pada ambang batas tertentu, tecermin dalam perkembangan estetik dan bentuknya, sesungguhnya tidaklah penting lagi mengurai siapa mempengaruhi siapa.


Menimbang Seni di Bali

Elaborasi kreatif Kobagi dapat dibaca sebagai cerminan fenomena Bali era kini. Paduan ciri  kecak dan genjek dengan olah gestur yang nyaris mirip capoeira Amerika Latin serta dekonstruksi konsep tubuh sebagai subyek sekaligus obyek musikal, merefleksikan baurnya kelokalan Bali dengan dinamika keglobalan.

Persinggungan arus globalisasi dan lokalitas telah lama mewarnai dinamika kultural Bali. Bahkan, wacana yang berkembang kini bukan hanya seputar simpang pilihan antara mengikuti kemajuan Barat atau tetap berpegang pada nilai-nilai Timur, sebagaimana dulu mengemuka dalam polemik kebudayaan. Kerap kali terjadi di era kini, betapa  atas nama pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, persinggungan dan simpang pilihan ini berakibat pada pengabaian, peminggiran, atau dikotomi hitam putih yang semata mengedepankan perbedaan. Sebagai akibatnya seringkali kita dikejutkan oleh hadirnya tindakan ekstrem dan aneka rupa gerakan yang seakan tercerabut dari akar kultur serta nilai-nilai filosofis setempat.

Upaya Kobagi dapat saja dimaknai sebagai suatu spirit kesenian baru yang merepresentasikan pendekatan kontekstual demi membangun kesadaran kini atas apa yang dimaksud dengan kelokalan, keglobalan, serta pergaulan lintas latar bangsa atau masyarakat. Tujuannya adalah membantu kita menimbang kembali makna globalitas dan kemajuan kemodernan, serta memungkinkannya berjalan beriring dengan nilai-nilai tradisi kelokalan, tanpa mesti mengesampingkan satu sama lainnya.

Faktor penting lain yang mempengaruhi seni-seni di Bali adalah kebijakan pariwisata yang dilembagakan oleh pemerintah. Kita mengenal kemudian ragam seni yang sengaja dipertunjukan pada ruang-ruang turistik, dan kerap diindikasikan dengan pergeseran orientasi para seniman, dari kultur ngayah (persembahan tulus tanpa pamrih) menjadi kultur mebayah (berorientasi pada bayaran/komersialisasi).

Kondisi ini masih terjadi hingga kurun waktu kini, ditambah dengan persoalan silang budaya (cross-cultural) antara tradisi dan kemodernan yang berdampak pada upaya-upaya pelestarian seni-seni warisan leluhur. Kesadaran pendokumentasian atas hasil cipta karya maestro di masa lampau sangat sedikit dilakukan, ditengarai akan membawa kreasi tersebut dalam ngarai kepunahan. Sementara pelestarian budaya berada dalam perspektif yang kian tenget dan wingit, bahwa langgam tradisi asli merupakan nilai baku yang tidak dapat ditimbang ulang serta harus dihadirkan murni sebagaimana adanya, membuat generasi muda mulai perlahan meninggalkan seni-seni tradisi untuk beralih pada seni yang seolah lebih mewakili kekinian. Bilamana ada pihak yang mencoba ‘men-desakralisasi’ paradigma pelestarian baku ini melalui elaborasi cair antara tradisi dan kemodernan, ternyata tidak sedikit juga yang cenderung bersikap sangat paradoks, yakni memandang kreasi seni profan justru sebagai bentuk lain ‘ciptaan sakral’ yang tidak boleh digugat kebebasan kreativitasnya.

Menimbang aneka paradoks tersebut, seni-seni tradisi tampaknya tidak cukup hanya sebagai ekspresi kesenian yang mewakili nilai kelokalan ataupun local wisdom, melainkan harus dikembangkan menjadi local knowledge yang memungkinkan berbagai pihak mempelajari ragam seni ini secara utuh dan berkelanjutan. Kiranya menjadi hal strategis pula bila aneka upaya cipta seni ini ini dipadukan dengan tumbuhnya ruang-ruang kebudayaan di berbagai tempat di Bali yang memberikan keleluasaan bagi pelestarian dan perkembangannya, ditunjang dengan pendokumentasikan komprehensif perihal wujud-wujud warisan kesenian termasuk latar sejarah kemunculan serta apresiasinya di masa silam. Patutlah disadari globalisasi juga menghasilkan ilusi keglobalan, tecermin pada ikon-ikon atau sesuatu yang dianggap global serta didaur-ulang berkali menghadirkan klise-klise dan kedangkalan seni-- yang sesungguhnya bukanlah suatu kepastian yang bernilai universal. Tidakkah  keuniversalan seharusnya ditemukan dan dihayati pada kenyataan paling akrab dari kekinian lokal. Meraih yang ‘global’ justru dalam kelokalan masing-masing.
( Warih Wisatsana)


*Review untuk acara “Seni Pertunjukan Genjek: Dari Singamandawa hingga Kobagi“, di Bentara Budaya Bali, 27 April 2014
**)Versi lain dimuat di Kompas, edisi 7 September 2014