IBU, UTOPIA dalam SINEMA?

(Catatan Festival Film Internasional Bentara Budaya Bali 2013)

Garin Nugroho


Mother and Children, sebuah pilihan topik yang menarik untuk ajang sebuah festival film. Ibu menjadi tokoh yang jauh dari kesan minir terkait hasrat ketubuhan dalam sinema. Demikian juga anak-anak. Ibu hampir selalu terkait dengan penentu nilai moral dalam kehidupan. Sedangkan anak-anak akan memberikan sebuah cermin kepolosan dalam diri manusia. Adakah ini sebuah petanda akan kerinduan pada jagad ketulusan (ibu) dan kejujuran (anak) dalam seni narasi, khususnya sinema? Hal inilah yang mungkin menjadikan Film Festival Internasional Bentara Budaya Bali (FFIBBB) 2013 di Bali, pada 30 Agusus - 2 September 2013, mengambil tema Mother and Children.

Seberapa banyak sebetulnya ibu atau anak menjadi tokoh utama dalam film? Garin Nugroho dalam catatan untuk acara ini menyatakan bahwa film-filmnya seperti Daun di Atas Bantal, Surat Untuk Bidadari, Aku Ingin Menciummu Sekali Saja, Mata Tertutup, dan Under The Tree, lebih banyak mengetengahkan tokoh ibu (perempuan) dan anak-anak. Sedangkan jika kita melihat film-film mainstream, prosentase tokoh ibu dan anak sebagai tokoh utama dalam sinema nampaknya sangat sedikit. Ibu dan anak kurang mendapatkan prioritas dalam "kenikmatan" pandangan dalam sinema. Anak-anak secara terkecuali justru menjadi menarik sebagai tontonan dalam film-film thriller. Ada ketercekatan yang menyiksa jika melihat seorang anak dikejar hantu atau disakiti boneka jadi-jadian. Kita tak akan rela anak-anak mendapatkan siksaan atau terpaan persoalan yang berat. Hukum perang pun, sebagaimana dalam konsensus Genewa, juga melarang untuk menciderai ibu dan anak-anak. Mereka jauh dari kesalahan dan nilai buruk. Penonton film Indonesia di tahun 1970-an pernah menangis di gedung sinema saat menyaksikan film Ratapan Anak Tiri, anak yang disiksa ibu tirinya.

Namun kini sepertinya ibu dan anak kurang mendapatkan tempat dalam dunia sinema. Film-film mainstream, seperti halnya sinema Hollywood, dianggap mengubah pola pikir pemirsanya, dan secara tak sadar membentuk persepsi kita atas makna suatu nilai, bahkan juga menstrukturkan cara melihat esensi keindahan dan ‘kenikmatan’ dalam sinema. Film arus utama telah mengkodekan erotika ke dalam bahasa tatanan yang cenderung patriarkal dominan. Mulvey, seorang tokoh yang banyak dibicarakan dalam ranah feminisme dan film, memberikan pandangan bahwa film Hollywood klasik telah mempergunakan konsep scopophilia dan narsisme. Scopophilia didefinisikan sebagai dorongan seksual mendasar dalam melihat manusia lain dengan stimulan erotik. Selanjutnya konsep narsisme dijelaskan sebagai suatu proses identifikasi dengan citra di atas layar. Dari konsepsi ini maka bisa dilihat bagaimana film menawarkan kenikmatan tertentu kepada penonton. Pada kenyataannya tubuh perempuan selalu menjadi objek pemenuhan hasrat erotik dan tokoh utama selalu dikontruksi sebagai penguasa atas tubuh erotik. Dunia sinema dengan sendirinya lebih kuat untuk menjadikan tokoh utama adalah laki-laki, dan perempuan sebagai objek kenikmatan pandangan. Sudah tentu peran ibu atau anak akan sangat susah untuk ditempatkan dalam film-film mainstream yang memiliki kalkulasi ekonomis.

Hal serupa juga diungkap Noorca M. Massardi dalam salah satu diskusi bertema ‘Perempuan dalam Sinema: Melintas Batas Entitas’ di Bentara Budaya Bali pada 2 September 2013, menyebutkan para sineas Indonesia juga telah berupaya menampilkan karakter ibu dalam berbagai tematiknya, beberapa di antaranya berhasil mengetengahkan sosok perempuan atau ibu secara kuat, seperti dalam film Ibunda karya Teguh Karya, dan Tjut Nyak Dhien dari Eros Djarot. Ia juga menambahkan bahwa sosok perempuan dan anak telah elaborasi dalam berbagai wujud identitasnya, baik sebagai pribadi yang merefleksikan keluhuran, maupun yang sebaliknya, mencerminkan dunia kelam yang menakutkan sebagaimana dalam cerita horror dan kisahan lainnya.

FFIBBB yang diprakarsai oleh Bentara Budaya Bali dan Udayana Science Club, mencoba mencari film yang memiliki muatan ibu dan anak. Langkah ini tidak mudah terkait pula dengan jaringan penonton yang akan dituju. Ahirnya film seperti Mother India (1957), Very Long Engagement (2004), Turtles Can Fly (2004), Cool Kid Don't Cry (2012), Atambua 39 Derajat Celcius (2012), Good Bye, Lenin! (2003), Cinema Paradiso (1988), Kisah Tiga Titik (2013), Liku (2013), dan beberapa yang lain.

Suatu hal yang menarik, tanggal 1 September 2013 pada sekitar jam dua siang lebih banyak anak-anak kecil memasuki Gedung Teater Widyasabha di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana saat sebuah film sedang diputar. Mereka mencoba menembus ruang gelap demi mendapatkan kursi. Mereka datang untuk menonton Turtles Can Fly karya Bahman Ghobadi, sineas asal Iran peraih berbagai penghargaan internasional, yang akan diputar pada sesi selanjutnya. Film ini menceritakan penderitaan orang Kurdi di bawah tirani Saddam Husain. Agrin dan Henkov, serta Riga (anak Agrin hasil dari perkosaan oleh tentara Irak) berkelana dari desa ke desa untuk mencari keselamatan. Dalam kisah perjalanan itu Agrin mencoba membunuh Riga yang dianggap sebagai sumber malapetaka dan kebiadaban tentara Irak. Henkov dan seorang tokoh yang bernama Satelit mencoba menyelamatkan Riga.

Anak-anak yang datang di ruang sinema siang itu adalah anak-anak pesantren yang ada di Bali. Sebelum mereka, telah hadir juga beberapa perempuan kecil berjilbab yang juga menunggu ditayangkannya film tersebut. Tergambar sebuah fenomena bagaimana pemrakarsa festival sangat memperhitungkan kepada siapa film ini ditayangkan. Mendatangkan anak-anak ke ruang sinema dengan tema yang sesuai bagi mereka tidaklah semudah menjumput pasir di pantai Kuta. Dinamika Bali dalam dunia seni telah melintasi entitas media dan multi kultur tanpa kehilangan lokalitas.

Selain menayangkan sinema karya sutradara mancanegara yang merupakan kerjasama dengan pusat-pusat kebudayaan, seperti Goethe Institut Indonesien, Erasmus Huis Jakarta, Istituto Italiano di Cultura Jakarta, Japan Foundation Jakarta, Kedutaan Besar Iran di Indonesia, Kedutaan Besar Tunisia di Indonesia, Institut Fran├žaise Indonesia, Alliance Fran├žaise Denpasar, Konsulat Jenderal Jepang di Bali, Konsulat Kehormatan Republik Tunisia di Bali, Konsulat Jenderal India di Bali, Sinematek Indonesia serta lembaga lainnya, FFIBBB 2013 juga menggelar rangkaian diskusi dengan honorary speaker Garin Nugroho, Noorca M. Massardi, Putu Fajar Arcana, Happy Salma, Lola Amaria, Bambang Supriadi, Koes Yuliadi, Jean Couteau (budayawan), Maria M. Banda (sastrawan dan akademisi), Agung Bawantara dan lain-lain. Diputar pula film-film indie karya sineas Indonesia penuh talenta seperti Putu Satria Kusuma, Putu Kusuma Wijaja, Chairun Nissa, Rai Pendet, serta karya pemenang Festival Film Dokumenter Denpasar 2013.

Kiranya banyak hal yang bisa diambil dalam perhelatan ini. Selain kebijakan dalam memilih tema, FFIBBB 2013 telah menjentikkan kesadaran bahwa ibu dan anak mendapatkan porsi yang kurang bermakna dalam perkembangan sinema dunia dan nasional dekade ini. Bukan hanya persoalan tema, namun juga pada orientasi perkembangan nilai yang harus ditawarkan pada masyarakat terutama anak-anak. Kisah seorang ibu sangat bisa dinikmati dalam sebuah novel atau syair, namun film ternyata memiliki konvensi visual yang harus memperhitungkan tubuh dalam representasinya. Imaji ibu dalam sastra sangat berbeda dengan imaji ibu dalam sinema. Kini bagaimana kita perlu memilih film untuk keberlangsungan nilai-nilai yang menghargai ibu (perempuan) dan anak. Negeri ini sangat mungkin menghadirkan karya sinema yang merepresentasikan sosok perempuan "ibu". Eros Djarot pernah menggulirkan Tjut Nya' Dhien dan Teguh Karya menciptakan Ibunda. FFIBBB 2013 mencoba mengingatkan kita untuk melihat kembali ibu dan anak-anak.
(Koes Yuliadi, Sineas dan Kandidat Doktor ISI Yogyakarta)

*)Review untuk acara Festival Film Internasional Bentara Budaya Bali, 30 Agustus – 2 September 2013