DARI UTARA KE SELATAN

Sebuah Konser Musik Baru Untuk Gamelan

Bertempat di panggung terbuka Bentara Budaya Bali, Kamis (18/07/2013) berlangsung konser musik internasional, diikuti empat kelempok gamelan. Pencetus gagasan konser I Wayan Gde Yudane, komponis kelahiran Bali dan sempat mengajar di Wellington New Zealand, yang gayung bersambut dengan semangat kuratorial Bentara Budaya. Sekitar 400 orang memadati panggung terbuka itu, menyaksikan dengan tenang, diawali lagu tradisional bebarongan berjudul “Apak-apak“ persembahan sekaa gamelan Wrdhi Swaram, komposer Ketut S. Widianta.

I Wayan Gde Yudane dalam pengantar menyatakan konser bertarap internasional itu mengambil tema North to South: An International Concert of New Music for Gamelan. Bagi masyarakat Bali kata north diterjemahkan sebagai utara, gunung, atau suci, dan south diterjemahkan sebagai selatan, laut, atau sekuler. Dua kutub yang berbeda tetapi memilki kekuatan penting dalam konsep keharmonisan masyarakat Bali. Secara geografis konser diwakili oleh kelompok gamelan dari Vancouver (Utara) dan gamelan dari New Zealand (Selatan). Sedang dataran tengah diwakili oleh kelompok gamelan dari Bali (Sekaa Wrdhi Swaram dan Gamelan Salukat). Sang koordinator menerjemahkan tema itu ke dalam bahasa Jawa, ngalor dan ngidul yang berarti bahwa konser itu seakan sesuatu yang tak ada ujung pangkalnya. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, konser yang disaksikan oleh Made Mangku Pastika, Gubenur Bali dan masyarakat internasional itu memberikan sajian alternatif  bagi perkembangan gamelan Bali.

Seni pertunjukan Indonesia telah lama berperan penting sebagai “duta kebudayaan“ ke Eropa dan Amerika Utara. Pada abad ke-19, sesudah Sir Stamford Raffles memboyong satu perangkat gamelan lengkap ke dunia Barat; gamelan, tari, dan teater Jawa dan Bali mulai dipertunjukan kepada penonton internasional dalam berbagai World Expo dan festival. Salah satu perangkat gamelan Jawa digunakan di World Expo Chicago 1889, hingga kini masih tersimpan di museum seni Chicago.

Studi ilmiah mengenai gamelan Jawa dan Bali di dunia Barat dimulai oleh Jaap Kunst di Amsterdam, serta diikuti oleh Ki Mantle Hood di Institute of Ethnomusicology, University of California at Los Angeles (UCLA) pada tahun 1950-an dan hampir semua mahasiswa lulusan kampus itu mengembangkan gamelan di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Australia. Colin McPhee, salah seorang komposer Amerika Serikat kelahiran Canada juga telah meneliti gamelan Bali mulai tahun 1931-1938 dan telah berhasil menulis sebuah magnum opus Music in Bali tahun 1966.

Sejak zamannya Claude Debussy (1862-1918) banyak karya-karya para komponis besar terpengaruh oleh bunyi dan nada gamelan. Generasi yang lebih tua seperti Colin McPhee, Ernst Eichheim, dan Lou Harrison, belakangan diikuti oleh komponis muda lainnya yang berkesempatan untuk belajar ke Indonesia atau di kampus-kampus universitas di Amerika Serikat, diantaranya Ton de Leeuw, Richard Feliciano, Philip Glass, Steve Reich, Daniel Schmidt, Jack Body, Dieter Mack, Shin Nakagawa, Michael Tenzer, Evan Ziporyn, dan Wayne Vitale. Generasi belakangan itu menyusun komposisi baru dan secara kreatif memasukkan elemen gamelan ke dalam karya komposisi mereka, disebut kemudian sebagai Gamelan Kontemporer.

Gamelan Kontemporer Bali tak dapat dipisahkan dari adanya Pekan Komponis Muda di Taman Ismail Marzuki (TIM), tahun 1979, melahirkan komponis kontemporer gamelan Bali seperti I Nyoman Astita (Eka Dasa Ludra), I Wayan Dibia (Kendang Sangkep), I Ketut Gde Asnawa (Kosong), I Wayan Rai S., (Trompong Beruk), I Nyoman Windha (Palapa), I Wayan Sadra (Beringin Kurung), dan I Wayan Yudane (Laya).

Akibat kreativitas modern dalam gamelan, kini di dunia Barat berkembang sejumlah kelompok gamelan yang masing-masing memiliki ciri khas tersendiri sesuai dengan ekspresi komponisnya. Saat dilaksanakan The First International Gamelan Festival di Vancouver (1986), ada 6 kelompok gamelan yang berkembang di USA, Canada, Eropa, Japan, dan Australia. Kelompok-kelompok itu terbagai dalam berbagai kecenderungan, pertama adalah menggunakan gamelan tradisional guna memainkan lagu-lagu gamelan tradisional, lebih tertarik mempelajari filosofi, etika, dan estetika gamelan, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kelompok ini diwakili Sekar Jaya (Berkeley); gamelan Universitas Hawaii, gamelan California Institute of Arts, gamelan Gita Sari (Holy Cross), gamelan Giri Mekar (Bard College), dan lain-lain. Belakangan, kelompok-kelompok gamelan tersebut sudah juga memainkan lagu-lagu ciptaan baru.

Kelompok lainnya menggunakan gamelan tradisional untuk memainkan komposisi baru berdasarkan musik kontemporer Barat dengan tetap mengedepankan ciri khas dari pola-pola gamelan seperti konsep struktur kolotomik. Kelompok ini diwakili Dharma Budaya (Osaka), gamelan Son of Lion (New York), dan Galak Tika, Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Di luar tersebut ada juga kelompok yang menggunakan instrumen baru yang diadaptasi dari gamelan untuk memainkan komposisi musik kontemporer berdasarkan pola-pola gamelan tradisional semisal gamelan Si Betty dari San Jose State University. Kelompok yang menggunakan instrumen baru untuk memainkan komposisi kontemporer berdasarkan musik kontemporer Barat diantaranya gamelan Pacifica of Seattle, the Berkeley Gamelan, dan the Bay Area New Gamelan.

Ada juga kelompok yang menggunakan alat-alat musik Barat (Symphony Orchestra) untuk memainkan komposisi yang berdasarkan bentuk dan warna gamelan seperti ditunjukkan oleh Claude Debussy, Colin McPhee, dan Jose Evangelista, di samping kelompok yang menggunakan segala instrumen penghasil bunyi untuk memainkan musik avantgarde seperti Banjar Grupe dari Berlin, Jerman.

Bila dikaitkan dengan penggolongan tersebut, gamelan yang ditampilkan di dalam konser “North to South“ di Bentara Budaya Bali adalah tergolong gamelan klasifikasi kedua yaitu gamelan tradisional memainkan lagu ciptaan baru yang berdasarkan komposisi Barat dan Bali.

Dalam konser “North to South“ ditampilkan 4 (empat) ansambel Bali yang unik yaitu gamelan Taniwha Jaya dari Wellington New Zealand dengan menampilkan 4 (empat) karya dengan 4 (empat) orang komposer yaitu Padhasapa karya Jason Erskkine, Delirious Euphoria karya Briar Prastiti, Headrush karya Gareth Farr, dan Shadows karya Anton Killin.

Gamelan Taniwha Jaya dibawa dari Bali ke New Zealand pada tahun 2003 dan gamelan itu dibeli oleh seorang komposer, Gareth Farr. Ini merupakan sebuah ansambel Gong Kebyar memiliki instrumen seperti trompong, reyong, gangsa, kendang, gong, dan lain-lain, menjadi wahana menyajikan lagu-lagu kontemporer. Ansambel Gong Kebyar itu juga dipadukan dengan violin, yang tidak hanya pemanis lagu, tetapi juga pembawa melodi dalam setiap sequen gamelan terkait. Karya-karya 4 komponis itu nampaknya banyak dipengaruhi gaya gurunya yaitu, I Wayan Gde Yudane yang menjadi dosen tamu dari kelompok Taniwha Jaya. Masuknya violin memberi ciri khas bagi gamelan itu. Interaksi instrumen trompong dan gender dengan violin menciptakan suasana yang apik dan anggun, mengantar penonton ke alam niskala. Bahkan Made Mangku Pastika menyatakan sewaktu mendengar komposisi dari New Zealand ini merasa seperti hendak trance, tergetar bebunyian yang hening dan ritmis.

Gamelan Gita Asmara, Vancouver, Canada menampilkan komponis ternama, Michael Tenzer. Ia merupakan komposer yang terbilang lebih senior dari komposer lain yang terlibat dalam konser itu. Komposisinya yang berjudul Sinar Jegog (Light of Jegog Ensemble, 1985), Situ Banda (Bridge of Monkeys, 1989), Puser Belah (Unstable Center, 2003), Buk Katah (Under Leaf, 2006) banyak mempengaruhi penciptaan komposisi baru gamelan Bali. Pada konser itu, sekaa Gita Asmara yang dipimpin I Wayan Sudirana menampilkan karya berjudul Sphinx garapan Michael Tenzer, dibayangi tarian improvisasi oleh koreografernya sendiri yaitu Justine A. Chambers.

Ada kesan dari penonton bahwa tari modern yang ditampilkan itu lebih bersifat siluet, menggunakan ruang terbatas, gerakan rinci, menafsirkan, watak tokoh mitologi Mesir yang menggambarkan mahluk berbadan singa berkepala manusia. Kendatipun diniatkan tari mengiringi musik, bukan musik mengiringi tari, tetapi Michael Tenzer yang langsung memainkan kendang selalu berinteraksi dengan cermat memberi makna pada tata gerak dan tata ruang yang diperagakan sang koreografer. Kendang dimainkan dengan mengrintrodusir pola-pola ritmis “tabla“ India yang terkenal yang kompleks dan rumit.

Ketiga adalah gamelan Salukat dari Ubud Bali, dengan menampilkan komposer I Dewa Ketut Alit, komponis kontemporer Bali yang namanya cukup dikenal di Amerika Serikat dan sering bekerjasama dengan gamelan Galak Tika, MIT, Boston Amerika Serikat. Sekaa ini didukung sekitar 25 orang penabuh, bermain menggunakan seperangkat gamelan Salukat, sejenis gamelan Semar Pagulingan yang memiliki 7 nada pokok, menampilkan karya bertajuk Genetik. Selain mengeksplorasi teknik gamelan Bali yang berpusat pada teknik kotekan, melodi, dan ritme-ritme yang kompleks, komposisi ini juga dituntun oleh matra pernafasan dari para penabuhnya. Instrumen penuntun matra yang disebut kajar, tidak dimainkan sesuai fungsinya, melainkan oleh penabuh dengan mengatur pernafasan seperti wanita melahirkan, dimulai dari tempo pelan, sedang, dan tiba-tiba cepat. Perubahan dinamika, cepat, lambat, keras dan lirih dalam Genetik diperkaya dengan teknik kotekan atau pukulan yang saling bersahut secara rumit dan kompleks.

Selain menghadirkan keindahan dalam kekompleksan, Genetik juga menyuguhkan sederhana dengan memainkan akord, nada-nada berjarak empat, dan berjarak tiga, juga mengeksplorasi bunyi dua gong besar, tidak saja memperkenalkan prinsip gelombang, getaran bunyi gong lanang (laki) dan wadon (perempuan), tetapi juga mengekplorasi bunyi lewat torehan-torehan pada bagian perut kedua gong itu sendiri. Komposisi ini mengeskpresikan pula bunyi-bunyian dari suling yang diatur nadanya diatur rendah, menengah, dan tinggi, serta menggambarkan siklus kehidupan manusia, yaitu lahir, hidup, hingga mati mati. Alhasil gamelan Selukat berhasil menghadirkan komposisi yang cukup kontemplatif, membawa penonton ke alam imajinasi yang jauh.

Penyajian terakhir, gamelan Werdi Swaram mengusung lagu Water, karya I Wayan Gde Yudane. Temanya yang cukup orisinal, musik garapan Yudane ini mengalir dari hulu ke hilir, North to South, kaja ke kelod, dan bolak balik ke pusar centrafugalnya. Instrumen-instrumen gamelan Bali yang sudah ditentukan fungsinya, seperti gangsa membawa melodi, reyong pembawa ritme kotekan (pukulan saling-kait), kendang pengatur dinamika, di tangan Yudane diubah menjadi capaian baru, seraya memasukan gagasan estetika multikultural yang menekankan pada musik polifoni. Belajar dari Michael Tenzer dan Jack Body, gamelan Bali yang lazimnya bersifat heterofoni, yaitu satu melodi dengan lapisan orkestrasi yang berbeda-beda, kini dijadikan musik polifoni yang banyak melodi berikut beragam sifatnya, mencerminkan kemampuan sang komposer untuk menciptakan orkestrasi alternatif pada musik untuk gamelan.

Sepanjang pertunjukan berdurasi 1,5 jam itu, para penonton terbawa oleh aneka bebunyian yang bersifat kontemplatif, meditatif sekaligus memperoleh pengetahuan baru bagi pengembangan gamelan Bali. Konser ini layak banyak dilakukan di Bali, karena akan memberi pencerahan para seniman Bali, dan memicu tumbuhnya karya-karya inovatif lainnya. Tak heran bila penonton memberikan apresiasi tinggi dan banyak yang menyatakan “an excellent concert.“

Prof. Dr. I Made Bandem
Entomusikolog, mantan Rektor di ISI Denpasar dan ISI Yogyakarta


*)Review untuk pertunjukan “North to South: An International Concert of New Music for Gamelan“ di Bentara Budaya Bali, 18 Juli 2013
**) Versi lain dimuat di majalah Tempo, edisi 1 Agustus 2013