Wayang Nunggak Semi

Nunggak semi kiranya adalah tema yang tepat untuk menggambarkan perjalanan seni Subandi Giyanto sampai pada pameran tunggalnya di Bentara BudayaYogyakarta bulan Mei ini. Dalam khazanah Jawa, nunggak semi adalah kebijakan untuk terus mengembangkan kebudayaan, tanpa menghilangkan akar dari kebudayaan itu sendiri. Tunggak adalah batang pohon yang telah ditebang. Meski sudah ditebang, tunggak itu terus bersemi tiada henti. Seharusnya kebudayaan juga demikian. Kebudayaan akan mati, jika tidak berkembang. Namun kebudayaan juga akan menghilang pula, bila tidak bisa dipulangkan kepada akar atau tunggaknya. Sambil berkembang, sekaligus menyandarkan dirinya pada tunggaknya, kebudayaan akan bersemi dengan indah. 

Kebudayaan yang baik, indah dan luhur pastilah kebudayaan yang nunggak semi. Nunggak semi macam itulah yang bukan hanya diugemi, diyakini, tapi juga dijalankan oleh Subandi. Subandi adalah seniman modern yang setia pada wayang. Sejak kecil, ia sudah bergulat dengan wayang. Semasa dewasa, ketika ia sudah mencecap pengetahuan seni modern, ia tetap mengembangkan seninya bersama dengan wayang. Dan wayang bukan hanya keseniaannya tapi juga menjadi wahana, di mana ia dan keluarganya menggantungkan hidup dan nafkahnya. Pada hidup dan seni Subandi, wayang itu terus menerus menunggaksemi.

Hidup yang ditempa wayang

Wayang telah menempa hidup Subandi. Sejak kelas I SD, ia sudah belajar menatah wayang. Ayahnya, Gianto Wiguno, adalah pengrajin wayang kulit. Ia mengajari Subandi menggarap wayang, tahap demi tahap. Subandi harus puas menggarap dan menguasai satu jenis ornamen sampai tuntas. Baru kemudian, melangkah ke penggarapan ornamen lainnya. Detail ornamen itu sangat pernik dan rumit. Kalau tidak sabar pada sebuah detail, dia akan gagal menggarap detail lainnya. Dengan cara ini, Subandi menyadari, sebuah figur wayang ternyata terdiri dari bagian-bagian yang harus digarap dengan sangat teliti. Tahap per tahap proses yang menuntut kesabaran ini adalah dasar bagi Subandi untuk mengembangkan keseniannya kelak. Ia menjadi sangat mahir menggarap keseniannya karena kesabaran akan tahap dan detail-detail itu.

Wayang memang telah menempa Subandi dengan keras. Dan kerasnya tempaan itu menjadi semakin teras, karena terjadinya juga di tempat dan situasi yang keras. Keluarga Subandi hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Pondoknya di desa Gendeng, Banguntapan, Bantul sangat sederhana, beratap rumbai tebu, dan hanya berukuran 3 x 7 m2. Di rumah itu tinggal ayah, ibu dan ke-enam saudaranya. Subandi bercerita, pernah sepulang dari sekolah, ia tak mendapatkan nasi di rumahnya. Bersama saudaranya, ia pergi ke ladang, mencari klenci, kentang hitam. Didapatnya setenggok klenci, dan dibawanya pulang. Setelah direbus, hanya klenci itulah yang menjadi isi perutnya. Kejadian demikian tidak hanya terjadi sekali dua kali. Lapar dan kurang makan sudah menjadi bagian hidup Subandi.

Sambil menempuh sekolahnya di SD Kasihan, Subandi terus membantu ayahnya mencari nafkah dengan menjualkan wayangnya. Ia menawarkan wayang ke agen-agen, antara lain ke pengepul wayang, Mulyo Suharjo di Taman Sari. Tidak hanya sekarang, pada waktu itupun menjual wayang bukan perkara mudah. Lebih sering ditolak, daripada dibeli. Kalau pun dibeli, sering diutang terlebih dulu. Padahal begitu diutang, pembayarannya belum tentu terjadi dengan cepat. Hanya untuk mendengar, apakah akan dibeli atau diutang itupun, Subandi sering harus menunggu lama. Pagi-pagi datang, orang yang diharapkan membeli masih tidur. Begitu berjumpa, wayang tidak juga dibeli. Paling-paling Subandi lalu diberi sesuap nasi. Menyedihkan, tapi lumayan juga ketika perut sedang lapar. Subandi bercerita, pada waktu itu celana yang pantas saja ia tidak punya. Yang dikenakannya hanyalah celana kolor anak desa. Ketika Pak Mulyo Suharjo memberi dia uang 25 ribu rupiah, barulah ia bisa membeli katbruk (korte broek – celana pendek) berwarna biru. Itulah pertama kali ia merasa bisa mengenakan celana yang sepantasnya. 

Kepahitan dan kekurangan itu tak hanya menempa diri Subandi, tapi juga menanamkan cita-cita tertentu. Semasa sekolah ia sudah bertekad, besok ia harus mempunyai penghasilan yang pasti, agar ia bisa aman dalam menjalankan hidup seninya. Maka Subandi terpaksa tidak mau menuruti permintaan ayahnya, yang melarang dia sekolah dan meminta dia bekerja di rumah saja. Subandi lalu masuk ke SMSR. Ia mengambil jurusan ukir kayu. Itu pun sudah diperhitungkan dengan kalkulasi ekonomisnya: kelihatannya ukiran kayu bisa lebih menjanjikan daripada karya seni lainnya. Selesai kelas IV SMSR, Subandi tidak memilih jalur akademis tapi vocational. Pada hematnya, dengan mengambil jurusan itu, ia nanti bisa langsung menjadi guru.

Keinginannya terkabul. Umur 21 tahun, Subandi menjadi guru di SMP 1 Yogyakarta. Sementara ia juga meneruskan pendidikannya, kuliah di IKIP Yogyakarta jurusan seni rupa. Ia juga terus nyambi-nyambi, dengan menjadi instruktur batik dan ukir kayu. Tentu saja, ia juga terus menawarkan wayangnya. Sering sambil berangkat kuliah, ia membawa wayangnya ke Prapto Sutedjo, juragan wayang di Ngadinegaran. Lumayan, ia bisa mendapat tambahan sangu. Setelah lulus IKIP, ia diterima menjadi guru di SMKN V, Yogyakarta. Di sana, ia mendapat penghasilan tetap, sehingga ia bisa dengan tenang mengerjakan karya seninya. “Dari pengalaman-pengalaman yang berat dan keras itu saya belajar, orang hidup janganlah menunggu miskin, baru berusaha. Dalam keadaan kekurangan pun, kita harus berusaha untuk mengubah keadaan kita,“ kata Subandi mengenang perjuangannya di masa lalu.

Wayang telah menjadi hidup Subandi. Bersama wayang, ia menjalani hidupnya yang berat, berkekurangan dan mungkin menderita. Namun dari wayang pula, ia memperoleh nafkah, pengetahuan, hiburan, dan ketrampilannya. Wayang jugalah yang mendorong dia untuk terus menggeluti hidup seni secara kreatif, hingga ia merasakan kepuasan karena penemuan-penemuan barunya. Maka wayang juga yang menjadi alasan, ia harus mensyukuri hidupnya, dalam suka maupun dukanya. “Tak mungkin saya meninggalkan wayang. Boleh dibilang, semua hal dalam hidup saya datangnya dari wayang. Sekolah dari wayang, pakaian dari wayang, makan dari wayang. Tak akan saya mengkhianati wayang,“ kata Subandi. Keteguhan akan wayang inilah sesungguhnya yang membuat hidup Subandi jadi nunggak semi. Artinya, pada wayang, dia menemukan tonggak dan akar hidupnya. Dari tunggak wayang itu juga ia memperoleh nafkah dan rejeki, hingga hidupnya berjalan dengan cukup. Dan berdasarkan wayang ini, ia terus membuat semi kreatif seninya. 
Menjelajahkan seni modern dalam wayang

Sebagai seniman modern, Subandi bisa dibilang beruntung karena tunggak atau akar wayangnya itu. Seni modern yang diperoleh karena pendidikannya jadi tidak mengambang, tapi mempunyai akar kuat dalam tradisi wayangnya. Sementara seni wayangnya bisa berkembang karena pengetahuan dan imaginasi seni modernnya. Itulah juga tunggak semi yang dialami Subandi secara nyata dalam perjalanan hidup dan seninya. 

Subandi benar-benar mewarisi cara berkesenian seniman tradisional. “Saya tidak bertolak dari konsep. Dalam berkarya, saya mengalir saja. Dan berusaha sedapat mungkin untuk menghasilkan yang indah. Sering saya tidak tahu, nanti karya saya mau jadi apa. Dengan mengalir saja, saya sering terkejut, ternyata ada kebaruan yang bisa saya hasilkan.“ Disiplin tradisi menuntut dia berkarya tanpa menunggu sedang in atau tidak, sedang mau atau malas. Dalam situasi apa pun ia harus berkarya, apalagi saat didesak tuntutan nafkah. “Yang penting saya menggambar. Saya yakin, ilmu yang saya peroleh sudah cukup untuk berkesenian. Biarlah itu mengalir dalam kerja saya. Kombinasi kebiasaan, keberanian dan ilmu itu pasti akan menghasilkan karya, yang tidak dapat saya duga,“ tambah Subandi.
Tentu Subandi pernah dilanda kejenuhan dan kebosanan karena rutinitas kerjanya. Ia tidak menyerah. Justru ketika sudah jenuh, ia mencari kemungkinan baru, wilayah baru dan ide baru dalam keseniannya. Inilah yang membuat ia menjelajahkan wayang, mulai dari media kulit, berlanjut ke kaca dan kanvas. Wayang tradisional, wayang beber, wayang kaca, dan wayang modern di atas kanvas, semua pernah dijelajahi dan dicobanya. Subandi sungguh seorang perupa wayang dalam pelbagai kemungkinannya.

Menata dan menyungging wayang adalah pekerjaan dan keahlian Subandi sejak masa kecilnya. Menggarap figur-figur wayang dengan bahan kulit kerbau sudah seperti hafalan baginya. Ia menguasai sekali ornamen-ornamen tatahan seperti bubukkan, semut dulur, ema-emasan, inten-intenan kawatan, langgatan, kembang ceplik, patran, rumpilan, kembang cengkeh, rambut gimbalan. Demikian juga ia sangat trampil menyunggingkan motif-motif seperti kelopan, swautan, tlacapan, kembangan, bludiran, cawen drenjeman, alesan, banyu mangsi, ngulat-ulati dan ngedus. Dalam menata dan menyungging, Subandi sangat sabar dan teliti. Tak heran, wayangnya banyak digemari orang, karena dikenal halus dan detail. 

Tahun 1975, Subandi bergabung dengan Sanggar Bambu. Di sana ia mengenal Hardiyono, seorang pelukis kaca, yang aktif di Pasar Seni Ancol. Subandi diajak ke Jakarta untuk belajar seni lukis kaca. Tidak mudah baginya terjun ke media baru ini. Sebab ia harus menggambar dengan teknik terbalik. Lama-lama ia menyukainya, dan makin menguasainya. Apalagi ternyata lukisan wayang di atas kaca itu gampang lakunya. Tahun 1980, ia dilibatkan oleh Butet Kartaredjasa membuat lukisan untuk keperluan Teater Gandrik. Ia melukis pelbagai kalimat-kalimat kritik sosial di atas kertas seukuran ubin. Setelah itu ia berpikir, “Mengapa lukisan itu tidak saya buat di atas kaca?“ Ia membuatnya, ternyata lukisan kaca dengan kritik sosial ini juga banyak digemari di pasar.

Figur-figur kritik sosial lukisan kaca Subandi adalah Petruk, Gareng, Bagong dan Semar. Dengan figur punakawan wayang, ia bisa melontarkan kritik sosial dengan jenaka, segar dan cerah. Gambar yang penuh humor membuat orang bisa menangkap pesannya dengan gampang. Pitutur, nasehat dan pengingatnya jadi enak dinikmati dan membuat orang tersenyum. Ia mengingatkan misalnya, jangan orang sewenang-wenang dengan kuasanya, dengan menggambarkan Petruk gagah-gagahan naik gajah, dan Semar menudingnya, dan mengingatkan dia akan pepatah: Aja adigang, adigung, adiguna. Menikmati kuasa, membuat orang lupa. Itu digambarkan Subandi dengan Petruk, yang berdandan bak raja, memangku dua perempuan, ditemani botol-botol minuman keras. Sementara Gareng kelihatan ndheprok, terduduk lemas, tak habis berpikir mengapa Petruk bisa seedan itu. Itulah pesan Melik nggendhong lali, yang disampaikan lukisan Subandi.

Subandi tidak meninggalkan dekorasi tradisional dalam lukisan kacanya. Gaya lukisan pemandangan naif, seperti gunung, sawah atau kotak-kotak ubin, dan gorden yang mengesankan pertunjukan selalu menjadi dekorasi bagi lukisannya itu. Berlatar belakang dekorasi itu ia mendandani Petruk dengan segala atribut kekuasaannya, sambil memegang Gareng yang tertunduk menurut. Sementara Bagong menudingkan kapaknya, dan mengingatkan dia akan petuah: Aja kudung walulang macam, pepatah yang mengingatkan, agar orang tidak berlindung pada orang besar dan kuasa. Bagi orang-orang yang ramai dan ribut berebut kekuasaan, Subandi melukiskan Gareng dan Petruk di antara dua buah kerbau, berwarna putih dan biru. Dan mengingatkan Aja milih kebo gupak, artinya, janganlah memilih pimpinan yang penuh cacat, koruptor, dan mereka-mereka yang pernah dipenjara karena menyalahgunakan kuasanya. 

Subandi juga menyindir tentang kemakmuran yang tak bisa dinikmati orang kecil. Ia menggambarkan Petruk dan Gareng, berdandan layaknya orang kaya dan pejabat, sementara Gareng dalam gambar polosan wayang terkapar menggeletak. Itu potret bagi petuah Tikus mati ana ing lumbung, yang ingin disampaikan Subandi. Masih banyak lagi potret-potret jenaka dagelan Petruk, Gareng, Semar, Bagong, yang dipakai Subandi untuk menuturkan pitutur dan kritik sosialnya, seperti aja demen mangan liyan, jangan memanfaatkan kelemahan kaum lemah untuk kekuasaannya, atau aja mainke hukum isa diukum, janganlah hukum dipermainkan seenaknya, suatu saat hukum juga yang akan menghukum kamu.

Dengan medium kaca, Subandi juga melukis pawukon. Seperti diketahui, pawukon adalah perhitungan penanggalan Jawa berdasarkan hari kelahiran seseorang. Dengan perhitungan itu diketahui bagaimana watak orang yang bersangkutan. Juga untuk mengetahui manakah hari yang baik atau sial, agar orang mempunyai pegangan untuk menjauhi mara bahaya yang mungkin akan datang mengancam dirinya. Pawukon ini selalu melekat dalam terbitan almanak Jawa. Subandi membuat pawukon itu hidup dalam lukisan kacanya. Orang bisa mengoleksinya agar mudah teringat akan wuku-nya, hingga ia selalu sadar akan siapa dirinya, dan dengan demikian berhati-hati dalam hidupnya. Kreasi Subandi karena menggarap pawukon ini tentu makin menajamkan keahliannya dalam melukis kaca. Kemudian ia juga melukis pawukon itu di atas kanvas. Kanvas membuatnya makin leluasa dalam mengeksplorasi detail-detail yang harus keluar dari ciri-ciri setiap wuku yang digambarnya.

Memberontak bersama wayang

Seperti dikatakannya di atas, kejenuhan justru membuat Subandi untuk mencoba menjajagi kemungkinan-kemungkinan baru dengan lukisan wayangnya. Ini dibuatnya ketika ia melukis wayang beber. Ia melukis misalnya untuk lakon perjalanan Raden Gunungsari, yang sedang mencari Raden Remeng Mangunjoyo. Dengan lukisan itu, orang bisa memperoleh narasi dongeng-dongeng semacam kisah Panji dalam versi Yogyakartanya. Bagi Subandi, rasanya tak ada wilayah yang tak dapat dijelajahinya dengan tradisi lukisan wayangnya. Ketika menerima pesanan untuk menggarap wayang wahyu, dengan sigap ia menerimanya. Maka ia pun menata dan menyungging figur-figur wayang wahyu dari tuturan Kitab Suci, seperti Hagar, Ismel, Prabu Dawud, dan Betseba.

Kesetiaan Subandi pada tradisi wayang tak membuat dirinya terikat. Rupanya, ada saat di mana Subandi ingin “memberontak“. Mungkin itu disebabkan oleh kejenuhan dan rutinitas yang tak tertanggungkan lagi ketika ia menggarap wayang dengan kreasi itu-itu saja. Ia ingin menjadi liar dan nakal. Ciri-ciri wayang tidak ditinggalkannya, tapi gerak dan dinamika dibuatnya eksplosif, meledak-ledak. Ia lebih bermain dengan kontur-kontur warna, dan memasukkan tema-tema protes sosial ke dalam wayangnya. Maka di atas kanvasnya melukislah ia “Kresna Triwikrama“. Latar belakang kisahnya adalah Kresna Duta. Kresna berubah menjadi raksasa mengerikan. Ia mengayun-ayunkan pedangnya, sambil tangan lainnya memegang pistol. Di hadapannya ada seekor tikus, kecil sekali. Inilah gambar, bahwa jika marah, keadilan akan menjadi perkasa. Ia berani memedang dan menembak tikus-tikus koruptor itu. Dan apa artinya koruptor itu? Di depan raksasa keadilan, koruptor itu hanyalah tikus kecil yang mudah ditumpas. 

Tema yang sama dikemukan Subandi dalam lukisan “Penegak Keadilan“. Di sini ia menggambarkan Puntadewa yang juga bertiwikrama. Puntadewa adalah raja Pandawa yang lemah lembut dan dikenal baik. Tapi ada saat di mana kesabarannya habis. Ia berubah menjadi Dewa Amral, raksasa sebesar gunung. Pedang keadilan di tangannya. Dengan pedang keadilan itu, ia ingin memberantas ketidakadilan yang ada. Kapan keadilan boleh berubah menjadi dewa raksasa yang bisa menumpas ketidakadilan seperti korupsi? Kapan keadilan boleh bertriwikrama menjadi raksasa untuk menumpas tikus yang tidak berguna itu? Itulah kiranya pertanyaan-pertanyaan wayang Subandi dalam Kresna Triwikrama dan Dewa Maral, Penegak Keadilan itu?

Dengan wayang, Subandi juga bisa nakal. Dalam lukisannya “Hiburan“,  “Dua Sudut, dan “Kena Imbas“, digambarkannya Petruk memegang gitar, sementara Gareng dan Bagong berjoget ndhangdhutan. Dan Limbuk berdandan menor memegang mike. Demikian juga Cangik memakai rok sexy siap menyanyi. Suasananya jenaka dan gembira. Melihat lukisan-lukisan ini orang mesti menerima, di zaman ini tradisi wayang pun mau tak mau juga terkena segala gaya seni modern, yang mungkin tidak sesuai dengan tradisi itu sendiri. Tapi itulah imbas yang sudah menjadi kenyataan dalam seni pertunjukan wayang zaman sekarang.

Lari ke depan secepat kuda

Menjelang masa pensiunannya, Subandi dicekam pertanyaan, apa yang harus ia buat dalam hidup dan seninya? Meski ia percaya waktu berada di tangan Tuhan, ia merasa, waktu yang ia punya sudah tidak terlalu banyak lagi. Maka tiba-tiba ia berpikir, ia harus berlari secepat kuda. Bukan mau ngoyo, tapi mau menggunakan waktu yang ada untuk mengejar cita-cita yang masih mungkin diraihnya. Maka jauh hari menjelang pameran tunggalnya di Bentara Budaya Yogyakarta ini, ia memutuskan untuk mengambil kuda sebagai wadah bagi kemampuannya melukis motif-motif wayang selama ini. Inilah lompatan luar biasa dalam perjalanan seni Subandi. Ia benar-benar melompat seperti kuda dalam memutuskan corak dan gaya seni. Tak heran di sini seninya menampakkan kebaruan yang sangat berani. Ia memperlakukan kuda bagaikan kanvas yang menantang. Dan ia tumpahkan semua kemampuan dan pengalamannya melukis wayang selama ini pada tubuh kuda-kuda itu. 

Dalam lukisannya “Langkah Menuju Asa“, ia menggambari kudanya dengan wayang lakon perang Bharatayudha. Pelbagai figur wayang ada di dalam tubuh kuda itu. Sementara di luar tubuh kuda itu dihiaskannya pelbagai ornamen dekoratif yang selama ini ia punya, ketika ia menggarap Pawukon, wayang beber dan sebagainya. Pelbagai pernik-pernik keindahan tradisional ada di sekitar kuda yang kelihatan hendak berlari kencang itu. Inilah lambang, janganlah manusia menyerah, bertahanlah sampai garis akhir, walau di garis akhir ini biasanya terjadi banyak rintangan. Asa manusia harus seberani dan secepat lari seekor kuda. 

Dalam “Derap Langkah Kudaku“, Subandi menggambarkan binatang-binatang dunia wayang dalam pelbagai bentuk. Binatang-binatang itu seperti mau lari kencang. Ini menambah dinamika dan kegalakan kuda tersebut. Dipacu binatang-binatang wayang itu, kuda tersebut seperti mau lari kencang. Kuda itu kelihatan liar. Namun pada kuda itu Subandi juga menggambarkan wuku berlambang Dewi Sri, yang memancarkan ketenangan dan kelemahlembutan. Maksudnya, ketika orang dihadapkan pada tantangan, dan dikejar dengan waktu yang tak banyak lagi, ia haruslah tetap tenang. Lambang ini seperti mau mengendalikan kuda itu untuk tetap berhati-hati. Itulah lambang perjalanan hidup Subandi, lebih-lebih di masa pensiunnya ini. 

Dalam “Diamku Kudaku“, Subandi kembali kelihatan ingin lebih menahan diri. Ia melukis kuda yang berdiri dengan tenang. Kuda itu kelihatan diam, Ornamen-ornamen di sekitarnya juga bernada tenang dan menyejukkan. Banyak terlihat ornamen-ornamen wayang yang melukiskan alam dan tetumbuhan. Segar dan diam. Subandi kelihatan ingin tenang, tidak terburu-buru. Memang di masa ini, ia merasa tidak boleh larut dalam keramaian yang menyesatkan. Ia harus menimbang dan memilah-milah. Ia sadar banyaklah yang harus diolah lagi, setelah hidupnya berjalan sekian lama. Ada cinta, ada dendam, ada ketergesaan dan pemaksaan. Semuanya ini harus ditenangkan, karena itu kudanya juga berhiaskan dengan ornamen-ornamen yang menentramkan. Diam yang menenangkan inilah yang ingin ditumpahkannya dalam “Diamku Kudaku“ itu.

Subandi adalah anak desa. Sebagai anak desa, ia tentu akrab dengan sapi. Maka dalam eksperimen kreatifnya menjelang pameran tunggalnya ini, di samping kuda ia juga melukis sapi, sebagai tumpahan perasaan seni wayangnya. Kelihatan di sana seekor sapi subur dan besar yang berdiri dengan gagah dan tenang. Bagi Subandi, sapi itu adalah binatang yang hampir semua bagian dari dirinya bisa digunakan orang. Kotorannya bisa untuk pupuk. Kulitnya untuk wayang kulit dan produk lainnya. Kulitnya yang tersortir dan kelihatan tak berguna bisa untuk krecek. Tulangnya bisa untuk gegel  sambungan lengan wayang kulit. Juga bisa dibakar menjadi cat putih. Tanduknya untuk pegangan wayang, tulang kukunya untuk penjepit kipas tangan, kulit kakinya juga bisa dijadikan makanan. Dan tentu saja dagingnya jadi makanan yang lezat. 

Subandi ingin menjadi seperti sapi itu. Ia juga ingin agar Indonesia seperti sapi itu. Maka di tengah sekian banyak ornamen wayang, Subandi menggambarkan Kepulauan Indonesia pada tubuh sapi itu. Warna kepulauan itu adalah keemas-emasan. Sebuah kemegahan yang melekat pada badan sapi. Indonesia seperti sapi itu, Subandi yakin, tak mungkin Indonesia menjadi miskin. Ia ingin Indonesia tetap makmur dan berguna untuk siapa saja dan apa saja, seperti sapi yang dilukisnya. Dengan lukisan sapi berhiaskan wayang yang dijudulinya “Indonesia Emas“, Subandi ingin bukan hanya hidup pribadinya tapi juga Indonesia sendiri terus tumbuh, terus nunggak semi, berkembang tanpa meninggalkan tradisi dan kekayaan alamnya yang amat kaya raya. 

Demikian kiranya pelbagai kisah  dan nilai dari perjalanan Subandi bersama wayangnya. Hidup nyata dan perjalanan seninya bagaikan sebuah kisah wayang, yang sedang mengambil lakon Nunggak Semi. Hidup dan seninya terus berjalan dalam suka dan duka, bersemi dalam pelbagai kemungkinannya, namun dalam semuanya itu tetaplah tinggal dalam tunggaknya. Dan tunggak itu adalah wayang yang takkan pernah dikhianati atau tinggalkannya sepanjang hidupnya.