Pustaka Bentara Kisahan Hewan Rayni : Upaya Pelukisan Problematika Kita

Patut dipertanyakan mengapa setelah era Orde Baru yang represif tidak bermunculan karya – karya fiksi realis yang dengan tersurat menyuarakan isu – isu social di masyarakat. Meski demikian, sastra di setiap zaman, termasuk saat ini, tetap dipandang terlahir dari kompleksitas situasi yang terus menerus berkembang secara dinamis dan tentu saja tak tertolak bagi kehidupan kita. Itulah yang diungkapkan oleh DR. Nyoman Darma Putra, dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana, pada acara Diskusi Buku ‘Awas Kucing Hilang’ karya Rayni Massardi di Bentara Budaya Bali, Senin 28 Februari 2011 yang lalu. Sebelum dialog budaya berlangsung, penyair terkini Bali yakni Eka Pranita Dewi membacakan salah satu cerpen dalam buku ini sebagai pembuka.

Menurut Rayni, semua tulisan dalam buku ini bolehlah dianggap merupakan cerminan kejadian yang dilihatnya sehari – hari. Bagaimana hewan – hewan dalam tiap kisahan tersebut sesungguhnya menjalin hubungan sedemikian rupa dengan manusia. Timbal balik yang tak putus – putus yang di satu segi menunjukkan sisi humanis kita, tapi di sisi lain bisa juga menyiratkan ketakacuhan yang berbahaya pada lingkungan sekitar. “Ya, dapat juga dikatakan bahwa saya memilih kucing sebagai dedikasi atas kesetiaan mereka menemani keseharian manusia“, kata lulusan Universitas Paris III Sorbonne ini.

Darma Putra, yang juga seorang esais, berpandangan bahwa meski semua cerita menampilkan tokoh binatang, sebagian besar sebenarnya berkisah tentang perilaku manusia era kini berangkat dari peristiwa – peristiwa sederhana yang dialami manusia dan hewan tersebut. “Beberapa cerpen menampilkan banjir sebagai latar belakang. Ada pula kisah ‘Kutu Siap’ yang bagi saya dapat menggiring asosiasi pembaca pada musibah alam yang tidak dapat dibendung siapapun. Oleh karena itu, tidak berlebihan rasanya jika dikatakan bahwa buku ini adalah kumpulan cerita metafora mengenai bangsa yang acap kali dihantam bencana“, ujarnya.

Teknik berbahasa dalam buku ini memang sekilas terkesan sangat ringan, seakan ditulis tanpa sarat beban, bahkan boleh dikata jauh dari kata – kata njelimet yang perlu upaya sungguh – sungguh untuk mencerna maknanya. Di sisi lain, masyarakat telanjur mengamini bahwa sastra adalah karya – karya dengan bahasa yang sukar dipahami alih – alih kontemplatif. Pertanyaan lebih lanjut adalah apakah model fiksi macam ini tidak dapat dimasukkan dalam kategori sastra seperti yang kita kenal. Padahal esensi di dalamnya mengandung keluasan makna yang mesti dicermati bersama sebagai upaya pembelajaran dalam perkembangan dunia tulis menulis di nusantara.

Diskusi yang diikuti oleh kurang lebih 162 peserta dari kalangan akademisi, pelajar, mahasiswa dan penggiat budaya ini lebih jauh sampai pada persoalan sastra dan bahasa yang tidak tumbuh subur di generasi muda. Hadir pula Noorca Massardi, dramawan Abu Bakar, cerpenis Gde Aryantha Sutama, novelis Oka Rusmini, Iwan Darmawan, penyair Wayan ‘Jengki’ Sunarta serta penggiat budaya lainnya. Tidak salah kiranya, remaja tidak akrab sama sekali dengan karya – karya sastra. “Padahal apresiasi yang semarak membuka peluang lebih banyak untuk menumbuhkan sikap kritis memandang segala soal kekinian“, tambahnya.

Pendidikan mesti mengakomodasi kebutuhan pelajar terhadap karya sastra. Kesulitan – kesulitan yang dihadapi saat ini terutama dalam pembelajaran bahasa adalah salah asuh yang mengakibatkan pelajaran ini tidak disukai bahkan cenderung dianaktirikan oleh pelajar. Oleh karena itu, upaya memasyarakatkan sastra lewat kegiatan – kegiatan seni budaya sangat diperlukan.

“Bentara Budaya Bali akan terus berupaya menghadirkan agenda – agenda sastra, seni dan budaya untuk masyarakat khususnya Bali. Tentunya tujuan kami adalah membuka wawasan public terhadap kesenian dan kebudayaan sehingga terbuka pemikiran yang lebih kreatif. Apalagi dengan kehadiran anak – anak muda yang dengan aktif urun partisipasi“, ujar Juwita Lasut, staff Bentara Budaya Bali.

Ketika saat ini media massa dianggap oleh masyarakat memiliki keberpihakan terhadap suatu kepentingan politik tertentu, sudah seharusnya sastrawan menjadi penyambung suara rakyat yang sebenar-benarnya lewat inovasi kreatif macam apapun. (warih)