GM Sudarta Rasa Kemanusiaan dari Klaten

Semakin bertambah usia, semakin produktiflah GM Sudarta. Kartunis kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 20 September 1945, ini akan mengadakan pameran lukisan di Bentara Budaya Jakarta, 12-21 Agustus mendatang. Bulan berikutnya ia berencana meluncurkan kumpulan cerpen.

“Saya juga sedang menulis novel,“ kata Mas Darta, panggilannya, Jumat (5/8).

Kaki kirinya, yang patah setahun lalu akibat jatuh di kamar mandi dan masih terus dalam pengobatan, tak menghambat hasrat kerjanya. Mas Darta telah melahirkan 16 lukisan cat minyak dan sebagian akrilik sejak Maret 2011 hingga Juli lalu.

Tema pameran dia kali ini, “Cinta“, yang katanya merupakan cinta dalam arti luas, termasuk cinta kepada negara dan bangsa. Tak heran apabila ada kritik sosial di dalamnya.

“Ada satu potret diri yang saya kerjakan sewaktu dirawat di rumah sakit. Kali ini saya juga bikin satu instalasi. Pokoknya, kejutan,“ ujarnya.

Mungkin tempat tinggal Mas Darta di Klaten telah memberinya energi kreatif dan produktif. Dari rumah di tepi sawah yang juga menjadi galeri itu, dia menulis 10 cerpen bersuasana tahun 1965 yang diterbitkan Galang Press. Judulnya, Tabur Bunga Terakhir.

“Ini semacam pengingat pada rasa kemanusiaan kita yang sayangnya saat peristiwa 1965 sempat hilang,“ katanya. (NMP)

Artikel ini diunduh dari KOMPAS.