Emiria Soenassa, Pembuka Dunia Perupa Perempuan

oleh R. Toto Sugiharto

EMIRIA Soenassa adalah sebuah nama dari masa silam. Ia hidup pada 1891-1964. Ia menorehkan namanya pada 1940-an di sejumlah lukisannya hingga dikenal sebagai pelopor perupa perempuan Indonesia. Pada masanya, dia cukup dekat dengan sosok S. Soedjojono karena aktivitasnya di kelompok Persagi (Persatoean Achli Gambar). Nama itu bangkit kembali melalui lukisan-lukisannya yang disimpan dan dirawat dua kolektornya, dr Oei Hong Djien dan Iskandar. Dan, lebih-lebih selama sepekan (22-30 Oktober 2010) sejumlah 28 lukisan Emiria dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta.

Lukisan-lukisannya dikenal bergaya naif dan primitif. Emiria sengaja menerjang norma ala Eropa dalam berkarya yang berlaku kala itu. Beberapa karya seperti Pasar (April, 1943, cat minyak di atas kanvas, 103x122 cm) bernuansa kelam dan kusam. Juga, kurang detil. Namun, siapa sangka, karya ini pernah meraih penghargaan Saiko Sjiki Kah Sjo dari pemerintah Jepang. Sebagian besar lukisannya juga bernuansa kusam dan kelam.

Mungkin belum banyak perupa kontemporer mengenal Emiria lebih dalam. Dua perupa sepuh yang juga pasangan suami-istri, Sulebar M Soekarman dan Nunung WS termasuk yang mengenal beberapa karya Emiria Soenassa.

Sulebar mengisahkan, nama Emiria dan beberapa pelukis Indonesia sebenarnya sudah cukup dikenal di negeri manca pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Hal itu berkat jasa Presiden Soekarno ikut mempopulerkan karya mereka di sejumlah negara. Namun, suatu ketika dalam sebuah pameran di Washington, Sulebar menemukan lukisan Emiria, Pengantin Dayak ditumpuk di gudang. Ia sempat memotretnya dan memberitahukan panitia pameran tentang lukisan Emiria.

“Pada saat di Washington saya lihat karya Affandi dan lainnya dipasang di depan, tapi lukisan Emiria hanya ditumpuk di gudang. Mungkin karena ukurannya kecil. Saya katakan pada panitia pameran, lukisan itu seharusnya ditampilkan di depan. Saya tak tahu apakah lukisan itu dipasang tapi sempat saya potret dan saya katakan teman-teman bagaimana sosok Emiria bisa mewakili Nusantara,“ paparnya.

Sulebar mengurai, Emiria sebagai pembaharu dalam aliran. Style-nya tidak bisa diklasifikasikan begitu saja dengan yang ada di Barat. Sebab, Emiria baru mulai. Jangan tergesa memasukkannya ke kotak aliran tertentu. Keliaran Emiria tak seperti pelukis lain. Secara teknis kualitas karya sangat terjaga. Pada saat itu yang dijadikan subject matter justru bukan revolusi atau impresi lingkungan. Dia justru seperti ingin menggali kekuatan tradisi. Sehingga, ada totem dari Kalimantan dan segala macam corak etnis dari seantero nusantara yang menjadi sumber daya cipta.

Diunduh dari Indonesian Art News Minggu, 24 Oktober 2010 - 19:39