Ade Tanesia Menulis: Kelola Ruang Seni di Tangan Perempuan

Manajemen ruang seni merupakan persoalan yang tidak pernah selesai untuk dibicarakan. Yogyakarta yang menjadi kota seniman, merasa tidak pernah cukup dalam hal pemenuhan kebutuhan terhadap ruang seni. Jumlah seniman dengan ruang yang ada tidaklah sebanding. Beberapa memang telah bermunculan seperti Sangkring Art Space, Jogja Gallery, Langgeng. Namun, belajar dari beberapa ruang seni terdahulu, maka tata kelola ruang seni menjadi isu yang selalu menarik untuk dipelajari.

Pada acara Bincang Seni yang digelar oleh Bentara Budaya Yogyakarta, 2 April 2011, hadir dua narasumber perempuan yang telah cukup lama mengelola ruang seni, ialah Dyan Anggraini mantan Direktur Taman Budaya Yogyakarta, dan Mella Jaarsma pengelola dan pemilik Rumah Seni Cemeti. Melalui moderator Anggi Minarni, bincang seni yang dihadiri sekitar 70 pengunjung, ini sangat menarik karena tantangan bagi kedua pembicara perempuan tangguh itu sangat berbeda.

Mella Jaarsma yang selama 22 tahun telah mengelola Rumah Seni Cemeti  mengungkapkan bahwa dana bukanlah satu-satunya alasan sebuah ruang seni bisa bertahan atau tidak. Hal yang lebih dibutuhkan adalah disiplin terhadap komitmen. Hal yang menarik adalah kini Rumah Seni Cemeti lebih fokus pada program residensi seniman dari Indonesia dan mancanegara. Pilihan ini dilakukannya sejak tahun 2007 sebagai tanggapan atas gelora “pasar“ seni rupa yang begitu hebat. Kondisi saat itu berpengaruh besar pada kualitas karya seniman. Olah gagasan menjadi anak tiri dibanding nafsu mengejar permintaan pameran dari banyak galeri untuk tujuan komersial. Rumah Seni Cemeti justru mengambil jarak terhadap situasi itu, dan memberikan ruangnya untuk eksplorasi gagasan dan karya bagi seniman. Jarang pemikir seni yang menilai  bahwa pilihan ini merupakan “penyelamatan“ atau upaya mengembalikan seni pada hakikatnya semula.

Untuk mengelola Rumah Seni Cemeti, Mella Jaarsma masih harus “turun“ sendiri mengecek bahwa semua berjalan dengan baik. “Cemeti seperti tempat penggodokan manajer seni. Banyak yang sudah berproses di Cemeti kemudian akhirnya harus pergi karena mungkin tawaran di luar lebih baik yah. Oleh karena itu saya selalu masih harus mengajari orang baru. Dan entah mengapa, hampir semua pengelola Cemeti adalah perempuan,“ ungkap Mella. Untuk mendanai Rumah Seni Cemeti, Mella bersama suaminya Nindityo cukup lama harus membiayai dari kocek mereka sendiri. Tetapi sekarang sudah mulai ada kolektor setia Rumah Seni Cemeti, baik dari luar negeri maupun Indonesia. Cemeti juga mencari dana dari Lembaga Donor untuk membiayai proyek keseniannya, seperti residensi dan pertukaran seniman.

Sedang Dyan Anggraini tentu menghadapi tantangan yang berbeda.  Sejak tahun 2004, saat ia menjadi Kepala Taman Budaya, maka tantangan pertama yang harus dihadapi Dyan Anggraini adalah  mempertahankan masterplan ruang Taman Budaya yang sebenarnya sangat luas dan komplit. Artinya Taman Budaya seharusnya menempati ruang yang kini menjadi Taman Pintar. Dengan tanah yang begitu luas, maka awalnya Taman Budaya memiliki sebuah wisma seni, kafe seni, artshop, ruang workshop, dan lain-lain. Masterplan itu merupakan rancangan  dari pusat, lalu ketika terjadi otonomi daerah maka terjadi banyak perubahan.  Ruang luas yang sebenarnya diperuntukkan bagi Taman Budaya harus dipangkas begitu banyak. Awalnya Dyan Anggraini tidak mau menandatangani perubahan rencana itu, karena baginya ajang  berkesenian bagi masyarakat selayaknya diberikan seluas-luasnya. Namun akhirnya ia menyepakati pembagian ruang itu dan mengoptimalkan pemanfaatan ruang dengan berbagai program yang melibatkan seniman dan masyarakat.

“Bagi saya Taman Budaya Yogyakarta harus disangga oleh seniman dan budayawan. Oleh karena itu saya banyak melibatkan para seniman dalam merancang program TBY,“ ungkap Dyan Anggraini. Dengan sikap yang demikian terbuka, tidak heran jika Taman Budaya Yogyakarta menjadi tempat “pertemuan“ para seniman dari berbagai bidang.  Selama ini Dyan Anggraini mampu memadukan antara hak masyarakat atas ruang tersebut secara cuma-cuma dan tuntutan pemerintah atas target pendapatan TBY. Mengelola dua kebutuhan ini tentu tidak mudah, dibutuhkan fleksibilitas dan kekuatan untuk memutuskan bahwa ada pihak-pihak yang memang harus mengeluarkan sumber dayanya untuk menggunakan ruang di TBY.

Kini setelah Dyan Anggraini tidak lagi menjabat sebagai kepala TBY, maka banyak pihak khawatir terjadinya perubahan. Dyan Anggraini menganjurkan adanya sebuah dialog atau menggunakan media agar masyarakat bisa tetap melakukan monitoring terhadap pengelolaan Taman Budaya. Hal ini penting karena Taman Budaya Yogyakarta menggunakan uang dari rakyat, sehingga hak masyarakat untuk memperoleh layanan dan “ruang“ berkreasi yang terbaik.

Baik Mella maupun Dyan Anggraini yang juga sosok seniman yang aktif berkarya, itu juga menyinggung soal "bagi waktu". Bagaimana mereka bisa mengelola waktunya antara berkarya, mengelola ruang seni, dan untuk keluarga. Dyan Anggraini mensiasati waktu luangnya dengan berkarya di kantor. Terkadang ia juga membawa anaknya ke kantor agar tetap bisa bersama dengannya.

Sementara Mella Jaarsma yang asal Belanda itu merasa beruntung karena di Indonesia ada pembantu rumah tangga. Kebetulan ia juga berhasil mendidik pembantu rumah tangga yang mampu menerapkan aturan sama kepada anak-anaknya. Untuk berkarya, ia memang berusaha agar porsinya lebih banyak. “Pada awal pendirian Cemeti, memang hampir 60% waktu untuk Cemeti. Tetapi sekarang porsi saya lebih banyak ke karya. Saya sadar kalau tidak berkarya maka saya akan merasa susah, jadi perlu ada pengelolaan waktu yang disiplin,“ungkap Mella.

Bincang-bincang seni ini pun ditutup dengan acara “pelepasan“ Ibu Dyan Anggraini sebagai Kepala Taman Budaya yang kini bertugas di  Dinas Kebudayaan. 

*** (Ade Tanesia) Foto:mes56.com