WHEN I'M 64

Pameran Fotografi karya Agus Leonardus

18 Feb 2020 ~ 24 Feb 2020 Bentara Budaya Yogyakarta | 19.00 WIB

Pembukaan Pameran : Selasa, 18 Februari 2020 pukul 19.00 WIB
Pameran Berlangsung : 19 – 24 Februari 2020 pukul 09.00 – 21.00 WIB

Agus Leonardus, fotografer kenamaan kelahiran 11 November 1955, memamerkan sepilihan karya fotonya yang diprotret seiring puluhan tahun perjalanan karir fotografinya. Belum lama dia juga menerbitkan buku foto ‘When I’m 64’ (Nineart Publishing, 2019) yang memuat foto-foto yang diambil di berbagai lokasi, baik di dalam maupun luar negeri.

Fotografi di dunia digital memang menjanjikan sedemikian rupa kemudahan. Teknologi yang begitu maju memungkinkan fotografer mengeksplorasi teknik  demi menghasilkan foto terbaik. Akan tetapi, menurutnya, foto dengan kecakapan teknik saja tetaplah tidak cukup demi menghadirkan karya yang bernilai. Ada nilai maupun makna yang tetap penting dikedepankan.

Agus Leonardus memulai karir fotografinya pada tahu 1977. Pernah menjadi fotografer untuk Majalah TEMPO biro Yogyakarta, staf ahli di Majalah Fotomedia, mengajar fotografi di Akademi Desain Visi Yogyakarta dan Fakultas Media Rekam ISI Yogyakarta. Sejak tahun 2012, Agus Leonardus adalah salah seorang Fujifilm X-Photographer Indonesia.

agenda acara bulan ini
  • JOGJA KOTA TOLERAN

    Diskusi ini merupakan rangkaian dari peluncuran buku esai “Menangkis Intoleransi Melalui Bahasa dan Sastra“ yang belum lama diterbitkan oleh Balai Bahasa Yogyakarta sebagai respons atas munculnya berbagai peristiwa intoleransi di kota ini. Buku esai ini merangkum tulisan berbagai penulis muda yang menuangkan beragam perspektifnya atas fenomena sosial budaya di sekitarnya, dengan penyunting antara lain Ratun Untoro, Mulyanto, Latief S. Nugraha.

    Adapun diskusi yang diselenggarakan atas kerjasama dengan Asosiasi Tradisi Lisan DIY ini bertujuan untuk memahami lebih jauh kondisi sosial budaya di Yogya. Benarkah Jogja masih dianggap sebagai kota toleran? Apakah yang menyebabkan munculnya peristiwa-peristiwa intoleransi akhir-akhir ini dan bagaimana kita dapat kembali menciptakan ekuilibrium alias keseimbangan dalam berkehidupan sosial budaya?